Bookmark and Share

Terus Diburu, Satu Demi Satu Orangutan Tewas

June 21, 2010 | Oleh : | Kategori : Photo dan Berita  

INDUK orangutan tengah asyik menggendong sang anak ketika sebuah peluru tiba-tiba menyasar tubuhnya. Ia tak dapat mengelak. Orangutan sub-spesies Pongo pygmaeus pygmaeus pun tewas akibat ulah tiga pemburu dari Dusun Ukit-Ukit, Desa Labian, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar).
Mengenaskan. Si induk primata ini tewas saat menggendong bayi yang masih berusia sekitar dua bulanan. Saat meregang nyawa, induk tersangkut di cabang pohon. Anaknya dilempar ke bawah dan terjerembab di tebing Sungai Jelia‘ yang berbatu. Beruntung, sang bayi orangutan masih dapat diselamatkan oleh pemburu lain.
Kini, bayi orangutan itu sudah berada di kediaman David Kiat (47), pemburu penyelamat itu, di Dusun Ukit-Ukit dalam keadaan memprihatinkan. Tangan kanannya terluka gores cukup parah. Di bagian paha hingga kaki kiri juga penuh luka. Ia hanya bisa meringis laiknya bayi manusia yang sedang menderita kesakitan.

Orangutan_new1.jpg

David Kiat (47) berhasil menemukan anak orangutan di tubir jurang dan membawanya pulang. (foto : Andi Fachrizal)

Dalam suatu kesempatan berbincang, Jumat (11/6/2010) petang, David mengaku hanya berusaha menyelamatkan bayi orangutan itu. “Begitu mendengar informasi orangutan yang ditembak itu punya anak, saya langsung ke lokasi dan mencari anaknya. Sehari semalam saya baru bisa temukan di tubir jurang.”
Dia membawa dan memberikan pertolongan dengan obat kampung serta minuman susu sapi kental manis. “Rencananya saya pelihara sampai bisa cari makan sendiri. Kalau pemerintah atau LSM mau ambil, silakan. Biaya pemeliharaannya sangat tinggi,” ujar dia.

Orangutannew_2.jpg

Untuk kepentingan konsumsi, perburuan orangutan masih lazim dilakukan oleh kelompok masyarakat yang gemar mengkonsumsi daging orangutan. (Foto : Andi Fachrizal)

David menjelaskan, pada 4 Juni lalu, dia bersama lima orang rekannya, masing-masing Zakariah, Fendi, Kaping, Jubang, dan Stave hendak berburu ke Sungai Jelia’. Ketika tiba di lokasi, mereka membagi diri dalam dua kelompok. “Saya bertiga dengan Zakariah dan Fendi. Sedangkan Kaping sekelompok dengan Jubang dan Stave.”
David telah mengingatkan rekan-rekannya agar tidak menembak orangutan. Namun peringatan itu tidak diindahkan. Mereka tetap menembaki hingga mati. Perburuan seperti ini lazim dilakukan warga untuk kepentingan konsumsi. Masih ada kelompok masyarakat yang gemar mengonsumsi daging orangutan.

Orangutannew_3.jpg

Betung Kerihun dan Danau Sentarum adalah dua taman nasional yang merupakan kantong habitat utama orangutan sub-jenis pongo pygmaues pygmaeus. (Foto : Andi Fachrizal)

Koordinator Spesies WWF Indonesia Program Kalbar, Albertus Tjiu mengatakan, peristiwa yang terjadi di Sungai Jelia’ merupakan pelajaran berharga bagi semua pihak betapa terancamnya satwa dilindungi itu. “Sub-jenis Pongo pygmaeus pygmaeus ini paling terancam di Kalbar dan hanya tersisa 14 persen dari total keseluruhan di Pulau Kalimantan,” katanya Sabtu (12/6/2010).
Albert mengatakan, kantong habitat utama orangutan jenis ini ada di dua taman nasional di Kapuas Hulu, yakni Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. “Kampanye lingkungan hidup guna membangun kesadaran masyarakat telah dilaksanakan oleh WWF ID sejak tiga tahun lalu. Kita libatkan Balai KSDA, jajaran kepolisian, TNI, kecamatan, dan aparat desa,” jelasnya. (Andi Fachrizal)

Tinggalkan komentar

One Response to “Terus Diburu, Satu Demi Satu Orangutan Tewas”

  1. ande anjang on June 21st, 2010 10:57 pm

    apa sih maunya para pemburu itu, udah tau spesies langka masih juga di tembaki.

    [Balas Komentar]