Bookmark and Share

Sugeng Hendratno: Hijaukan Duniamu

October 4, 2009 | Oleh : | Kategori : Gaya  

Sugeng Hendratno (photo: ande, 2009)

Pontianak, BoP. Alam berserta isinya selalu menjadi inspirasi bagi seluruh orang baik dalam memanfaatkan dan mengolah hasil alam. Banyak aspek yang saling bersangkutan dan saling membutuhkan satu sama lainnya dalam alam ini, namun pemanfaatan alam yang jor-joran berdampak luas pada masyarakat juga lingkungan beserta isinya. Sugeng Hendratno adalah seorang fotografer yang telah banyak mengungkapkan kegundahannya terhadap keadaan lingkungan dan budaya dengan karya-karya fotonya, “Banyak terjadi perubahan lingkungan yang ada di Indonesia pada umumnya. Terlebih lagi di Kalimantan Barat khususnya. Sawit, Illegal Logging, dan PETI banyak merusak lingkungan. Cagar Alam, Monumen Sejarah, bahkan Taman Nasional pun menjadi korban, seakan-akan kegiatan tersebut tidak ada batas sampai munculnya kehancuran baik itu alam serta keragaman yang ada didalamnya, budaya, bahkan ekonomi masyarakat itu sendiri”. Ada dampak yang pelan-pelan mulai terlihat selain rusaknya alam akibat eksploitasi yang berlebihan, salah satunya mulai adanya perubahan budaya di masyarakat. Ada beberapa kebiasaan yang dahulu biasa dilakukan masyarakat tapi kini sudah jarang dilakukan. Seperti di daerah Semitau yang pernah beliau kunjungi, dahulu tradisi berburu babi sering dilakukan namun seiring dengan terganggunya habitat babi di hutan akibat ekploitasi alam, sehingga tradisi tersebut terancam punah. Begitu pula seperti suku Punan yang kehidupannya sangat bergantung terhadap hutan, jika hutan dieksploitasi habis-habisan bisa jadi suku tersebut akan punah. Tenun Ikat yang dahulu menggunakan pewarna alam namun pernah beliau lihat para penenun menggunakan pewarna kimia, para penenun beralasan sudah mulai sulit mencari bahan-bahan alami tersebut kalau pun ada, sangat jauh dari tempat mereka. Itu hanya sebagian contoh kecil dari dampak kerusakan lingkungan hidup terhadap masyarakat.
Sebagai seorang fotografer, Sugeng mengungkapkan ia lebih cenderung mengangkat dan mengabadikan tema budaya dan lingkungan, karena menurutnya di Kalimantan Barat khususnya masih minim yang mau mendokumentasikan secara intens tentang lingkungan dan budaya melalui media fotografi, sementara itu Kalimantan Barat memiliki keanekaragaman alam dan budaya yang selain perlu dilestarikan juga perlu diabadikan selain itu agar orang-orang mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi di alam Kalimantan Barat, baik itu yang indah atau yang sudah rusak. Minimnya hal ini bisa jadi dikarenakan faktor seperti biaya, waktu dan mental fotografer itu sendiri. “Foto lingkungan hidup dan budaya juga perlu investigasi yang mendalam dan ini harus dilakukan dengan benar. Kendala yang umum ditemui saat di lapangan salah satunya adalah kecurigaan warga sehingga menyulitkan investigasi, namun tidak semuanya seperti itu, ada masyarakat yang terbuka ada yang tertutup”, ujar Sugeng yang pernah menjadi Instruktur Photo Voices pada tahun 2008 di Kapuas Hulu ini. Sugeng juga memberikan sedikit gambaran kepada para pembaca yang ingin mendalami fotografi lingkungan hidup dan budaya yang dalam hal ini juga merupakan bagian dari Fotografi Travelling karena seorang fotografer melakukan perjalanan ketempat yang dituju kemudian mendokumentasikan apa yang ada di tempat tujuan. “Mental, riset terhadap tempat yang akan di kunjungi, membawa peralatan fotografi yang minimalis saat berada dilapangan dalam hal ini sesuai dengan apa yang akan di potret, pendekatan terhadap warga dan lingkungan, dan minta izinlah saat akan memotret”, ungkap pria yang sejauh ini sudah mengikuti empat pameran foto bertema lingkungan hidup ini. Sebagai akhir dari perbincangan singkat ini, beliau juga mengajak untuk mulai peduli dengan lingkungan dan budaya dengan segenap kemampuan yang kita miliki. “Hijaukan duniamu”, ujarnya.

Tinggalkan komentar