Pameran Seni Visual “Indonesia Refleksi”
Pameran Seni Visual “Indonesia Refleksi Untuk Generasi…Indonesia Ku”
Catatan 7, 8 dan 9 Agusutus 2009 di Selasar Museum Prov. Kal-Bar
Oleh : mumu
Disamping ingin memotivasi para pelaku seni untuk tetap berkarya dengan apa saja yang mereka punya, Pameran Seni Visual juga ingin mengajak orang untuk berpikir dan berbuat lebih baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, seni, budaya, dan juga lingkungan.
Tema Indonesia Refleksi Untuk Generasi…Indonesia Ku dirasa sangat penting untuk di usung mengingat kita adalah bangsa yang besar dan sangat pintar membanggakan karya dan budaya bangsa lain. Indonesia banyak terdapat jenis makanan yang beraneka ragam, sampai-sampai hampir seluruh stasiun televisi di negara ini punya acara kuliner. Tetapi tetap saja Indonesia lapar. Derasnya arus informasi yang masuk nyaris tanpa filter perlahan melunturkan identitas ke-merah putih-an kita.
Persiapan selama lebih kurang 30 hari di rumah KOMBI (Komunitas BIDAR) akhirnya melahirkan sebuah event pameran seni yang memang sangat jarang diadakan di Kalimantan Barat. Karya-karya seperti lukisan, sketsa, desain grafis, karikatur, kartun, fotografi dan bahkan film indie di daulat menjadi tamu kehormatan selama tiga hari berturut-turut di selasar Museum Prov. Kalimantan Barat, jalan Ahmad Yani, Pontianak.
DAY 1
PEMBUKAAN PAMERAN SENI VISUAL YAYASAN BIDAR TAHUN KE SEPULUH
Asap rokok keluar dari mulutnya saat puluhan pasang mata menatap lekat 117 buah karya dari berbagai media yang terpajang rapi di selasar museum. Beberapa pelajar SMP yang baru pulang sekolah menyerbu salah satu panitia dengan banyak pertanyaan.
“Kak, lukisan yang ini bikinnya gimana?”
“Aku tahu tempat ini. Kakak motretnya di Singkawang khan?”
“Ada Mbah Surip! Kak! Yang bikin ini siapa? Trus bikinnya pake apa?”
“Kenapa mau lihat foto aja harus pake luv?”
“Ini pake crayon ya kak?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas banyak dilontarkan bahkan sebelum acara Pameran Seni Visual ini resmi dibuka. Setelah mendapatkan jawaban, mereka kembali mengamati karya-karya lain.
Benar-benar tidak disangka. Pada hari kedua pameran, pelajar-pelajar SMP itu kembali datang. Kali ini dalam jumlah yang lebih besar dan bahkan ada yang membawa orang tua mereka. Melihat banyaknya pelajar SMP yang memenuhi selasar museum, saya jadi ingat dulu saya juga pernah seperti mereka. Guru SMP saya pernah menyuruh kami membuat karya tulis tentang museum. Apa museum itu? Apa-apa saja yang ada di dalamnya? Hmmm…Sedikit kenangan putih biru yang kembali terangkat.

Suasana pembukaan pameran seni visual, foto 1: Muhammad Zeinur Rasyikin (Q-Noi), koordinator Pameran Seni Visual Yayasan BIDAR tahun ke sepuluh. 2: Indra Ae’, ketua Yayasan BIDAR. 3: H Halim AR, yang turut di undang dalam acara pembukaan pameran. 4.Penampilan kelompok paduan suara dari Rumah Belajar Teater Gelombang. 5. H Halim AR, Indra Ae’, beberapa seniman dan para undangan sedang menyaksikan penampilan dari kelompok paduan suara Rumah Belajar Teater Gelombang. 6. Para undangan yang hadir dalam acara pembukaan Pameran seni Visual. 7. Jamuan makan setelah Pameran Seni Visual resmi di buka. (foto.dok)
Para undangan telah menempati tempat yang telah di sediakan oleh panitia. Pelukis, fotografer, kartunis, dan pelaku-pelaku seni yang lain bercampur baur dengan para penikmat seni di selasar museum.
Jumat (7/8) pukul 16.00 WIB, Pameran Seni Visual Yayasan BIDAR tahun ke sepuluh resmi di buka. Penampilan paduan suara teman-teman dari Rumah Belajar Teater Gelombang (RBTG) menjadi suguhan pertama dalam acara pembukaan.
Muhammad Zeinur Rasyikin yang bertanggung jawab sebagai koordinator dalam Pameran Seni Visual tahun ini juga tampil sebagai pembicara yang menyampaikan laporan pameran. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura yang akrab di sapa Q-Noi dan sekaligus member dari Borneo Photography ini banyak mengisahkan kegiatan-kegiatan para panitia seperti membuat panel, mendesain baliho, katalog dan lain-lain.
H. Halim AR juga diundang sebagai pembuka acara. Tokoh seniman Kalimantan Barat yang pernah menjadi wartawan dan redaktur Harian Akcaya (kini Pontianak Post) ini dianggap sebagai senior oleh seniman-seniman seni rupa di Pontianak.
Acara kembali dilanjutkan dengan jamuan makan. Pisang rebus, singkong, dan ubi rambat yang dicampur dengan gula merah dan sambal ikan teri memang di jadikan menu utama dalam acara ini karena dinilai sebagai panganan yang sangat dikenal dan mudah di jumpai di sekian banyak daerah di Indonesia.
DAY 2
PERFORMANCE ART
Performance art menjadi agenda di hari kedua dalam Pameran Seni Visual. Sabtu malam (8/8) lima anak dari Yayasan BIDAR di dandani sesuai karakter yang mereka bawakan. Otoy yang bertanggung jawab penuh di sektor artistik pameran berdandan ala teroris yang membawa banyak bom di rompinya. Icha, Dani, Yaya dan Daoez kompak berdandan horor. Penampilan mereka berempat menggambarkan korban yang tewas akibat bom yang diledakkan teroris.
Karena dianggap memiliki make up yang paling menyeramkan, Daoez sempat membuat beberapa pengunjung pameran ketakutan. Tetapi setelah tahu ini hanya rangkaian kegiatan performance art, pengunjung-pengunjung tadi kembali tenang dan akhirnya ikut larut menikmati suguhan yang diberikan Daoez dan kawan-kawan.
DAY 3
PEMUTARAN FILM INDIE LOKAL
Q-Noi memarkirkan motor dan berlari menuju selasar museum guna mengontrol semua karya yang terpajang di sana. Eko Daulay dan Andre yang juga telah datang mempersiapkan buku tamu dan mengoperasikan video streaming.
Semuanya lancar. Pengunjung berdatangan, beberapa panitia yang berjaga terlibat obrolan ngalor-ngidul-ngetan. Beberapa yang lain lebih suka berjalan sambil melihat karya dan kadang-kadang menjadi pemandu pameran saat pengunjung menanyakan salah satu kaya yang terpajang di sana.
Salah seorang pengunjung pameran yang belakangan diketahui memiliki nama Dwi Syafrianti menanyakan adakah panitia yang bisa di wawancara? Mbak Dwi datang ke orang yang tepat. Karena yang ditanyainya adalah orang yang bertanggung jawab penuh di bagian display pameran dan data karya.
Ternyata Mbak Dwi tidak datang sendirian. Dia datang bersama dua orang temannya. Clarisse Annabelle J.S dan Christian Kleissle sengaja datang ke museum mengingat hari ini hari terakhir di gelarnya Pameran Seni Visual. Setelah mengeluarkan alat tulisnya, Clarisse banyak menanyakan hal-hal menyangkut pameran, Yayasan BIDAR beserta divisi-divisi yang ada di dalamnya.
Sayangnya, Christian yang ternyata menyukai Sungai Kapuas, dan Clarisse tidak bisa datang di acara pemutaran film indie lokal karena harus menghadiri acara di tempat lain.
Proyektor, DVD Player, laptop, dan sound system telah kami siapkan di salah satu sisi pelataran museum. Film-film dari teman-teman movie maker juga telah kami susun. Sekedar ingin mengecek kondisi peralatan, saya iseng memutar video konser Silverchair dan video dokumentasi Susur Sungai ke Pedalaman Sambas.
“OK Sip,” ujar Otoy. Semua memang sudah “OK Sip.” Hingga pada suatu saat kami merasa dongkol dan harus menerima kenyataan yang sangat jauh dari apa yang kami inginkan. Museum Prov. Kalimantan Barat ternyata masuk dalam daftar pemadaman listrik bergilir!
Kami jelas tidak ingin mengecewakan pengunjung pameran maupun para movie maker yang telah berpartisipasi dalam acara ini. Terima kasih super gede kami persembahkan kepada Cholid Nugraha. Mahasiswa Akutansi sekaligus fotografer yang ngepos di Borneo Photography inilah yang gensetnya berhasil kami “culik.”
Meski dalam keadaan yang terbatas dalam hal lighting, acara pemutaran film indie lokal sukses diselenggarakan. “Bukankah Aku Kapuas?” karya Tiga Kacamata, “Indonesia Refleksi” karya Kalimantan Komunitas Film (KAKAF), “Coklat Terasi”, “Cinta Chuwy”, “Ada Apa Dengan Kamek”, dan “Super Star” karya Chris Duamdes dinyatakan sukses menutup acara Pameran Seni Visual Yayasan BIDAR tahun ke sepuluh dengan manis.

Suasana pemutaran film di Pameran Seni Visual yang juga sekaligus menutup pameran seni visual (foto.dok)
Pameran Seni Visual “Indonesia Refleksi Untuk Generasi…Indonesia Ku” adalah wujud eksistensi kita sebagai pelaku seni. Mudah-mudahan dari apa yang kita suguhkan menjadi renungan kita bersama. Semoga apa yang kita cita-citakan dapat terwujud menuju makmur, adil, aman dan sejahtera untuk negara tercinta Indonesia. Terima kasih kepada seluruh seniman dari berbagai media karya yang telah berpartisipasi dan seluruh pihak yang telah membantu demi terselenggaranya acara Pameran Seni Visual ini. SALUT!






mantep.,.,.,.,.,tahun depan diadakan lagi ya.,.,.,.!!!
[Balas Komentar]
Bismillahirrhmnirrhiiimmmm…..SIAP!!!
[Balas Komentar]
harus ada!!! siap menjadi jugun lanfu buat BOP!!!
[Balas Komentar]