Bookmark and Share

MERIAM KARBIT

August 22, 2010 | Oleh : | Kategori : Wisata dan Budaya  

Lokasi wawancara : Gang Kuantan dan Gang H Mursyid.
Lokasi foto : Gang H Mursyid dan Jalan Tanjung Raya 2, Gang Rizki
Tahun liputan : 2009

Jauh di masa teknologi tidak secanggih sekarang, meriam karbit digunakan sebagai alat untuk membangunkan orang sahur, penanda waktu untuk berbuka puasa dan imsyak. Konon, asal-usul berdirinya kota Pontianak juga di awali dengan dentuman meriam. Terlepas dari cerita-cerita itu, kini meriam karbit telah dianggap sebagai tradisi dan budaya oleh masyarakat Pontianak.
Masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas memiliki tradisi yang khas dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.
Secara gotong royong mereka mengangkat kembali meriam-meriam karbit yang mereka simpan di dalam sungai. Kegiatan ini biasanya mereka lakukan seminggu sebelum Ramadhan. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu kegiatan warga bersama keluarga saat hari pertama menyambut Ramadhan. Agar tidak mengganggu aktivitas warga yang bekerja di berbagai profesi, pengerjaan meriam karbit dilakukan pada malam hari setelah sholat terawih.

meriam2.jpg

Terbuat dari kayu yang tergolong keras. Meriam-meriamkarbit seperti ini dapat dipakai selama 5 hingga 15 tahun. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

meriam3.jpg

Setelah meriam diangkat dari sungai, meriam dibongkar dan dibersihkan.Rotan digunakan untuk mengikat meriam yang bagian dalamnya telah dibersihkan. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Beberapa meriam karbit yang “tertidur” lebih kurang setahun lamanya, kini “dibangunkan” kembali. Karena terbuat dari kayu yang tergolong keras, meriam karbit dapat digunakan 5 hingga 15 tahun.
“Biar awet, kami menggunakan kayu meranti batu atau kayu mabang,” terang Tarmiji yang mendapat keahlian membuat meriam secara turun temurun dari keluarganya ini.Karena menggunakan “stok kemarin”, Tarmiji dan kawan-kawan tidak perlu repot-repot lagi mencari kayu log. Sekarang mereka hanya membongkar dan membersihkan meriam lama yang kemudian kembali mereka rakit dan simpai (ikat) dengan menggunakan rotan.
Penggunaan rotan dalam proses pembuatan meriam karbit juga tidak bisa dibilang sedikit. 1 ton rotan baru bisa digunakan untuk tujuh atau delapan meriam. Jika harga untuk 1 kilo rotan saja harus merogoh kocek sebesar Rp 2.500,00 itu sama saja mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.500.000,00 untuk 1 ton rotan. Belum lagi biaya yang wajib dikeluarkan untuk membeli karbit.
Salah satu sumber mengatakan, mereka tidak bisa menentukan berapa banyak karbit yang harus mereka beli karena harus disesuaikan dengan dana yang terkumpul dari hasil swadaya masyarakat setempat. Ditambah lagi harga karbit yang selalu naik setiap tahun. Kini harga kayu log bisa mencapai harga 3 hingga 5 Juta per buahnya.
Jika setiap menjelang Ramadhan semua pelaku meriam karbit diharuskan memakai kayu baru, bayangkan dampaknya bagi lingkungan. Di lain sisi Pemerintah tengah giat memberantas illegal logging, tapi di sisi yang lain lagi banyak pihak yang merasa tradisi dan budaya meriam karbit sangat perlu dijaga kelestariannya.

meriam4.jpg

Dikerjakan secara gotong-royong. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

meriam5.jpg

Masyarakat berkumpul dan beramai-ramai membedah meriam setelah usai mengerjakan sholat tarawih. (Foto :Eko Suryanto Daulay)

Ukuran meriam bervariasi. Terpendek 4 meter dan yang terpanjang ada yang mencapai 8 meter. Sedangkan diameternya 40 cm untuk meriam karbit yang kecil, dan 70-80 cm untuk meriam karbit yang berukuran besar.
Sejarah meriam karbit juga pernah mengalami masa suram. Karena suara dentuman meriam karbit dianggap mengganggu, di era 90-an pernah terjadi razia meriam karbit yang digencarkan oleh aparat hukum. Barang siapa yang terbukti tengah membuat meriam karbit atau bahkan ada yang membunyikannya, meriam karbit tersebut akan segera di musnahkan.
“Makanya pada saat itu banyak warga yang membuat meriam jauh dari sungai,” kenang Mochtar yang menjabat sebagai RT di Gang Kuantan.
Razia meriam karbit tentu saja memancing reaksi dari warga yang menganggap meriam karbit adalah salah satu aset budaya Pontianak yang harus dilestarikan. Dibentuklah Persatuan Meriam Karbit se- Kalimantan Barat yang melayangkan protes ke Walikota. Walaupun memakan waktu yang cukup lama, akhirnya keluarlah peraturan dari pemerintah yang memperbolehkan meriam karbit kembali aktif di tiga hari menjelang hari raya dan tiga hari setelah malam takbiran. Cukup membanggakan saat meriam karbit pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia tahun 2007 silam.

meriam1.jpg

Masuk Museum Rekor Indonesia pada tahun 2007. (Foto : Mumu)

Puncaknya kawasan tepian Sungai Kapuas akan terlihat sesak dan padat saat malam takbiran tiba. Ribuan warga dari seluruh bagian kota Pontianak berduyun-duyun datang demi menyaksikan dentuman meriam dari dekat.
Bukan konser dangdut, bukan pula konser rock ‘n roll, tetapi budaya ini dapat menyedot perhatian ribuan warga Pontianak untuk datang ke tepian Sungai Kapuas. Sebuah tradisi yang telah mendarah daging, tradisi yang berbunga budaya yang semoga terus terlestarikan, terjaga dan dipatenkan agar tidak lagi diklaim bangsa lain yang mengaku serumpun. (mumu/22/08/)

Tinggalkan komentar

One Response to “MERIAM KARBIT”

  1. wiji on March 11th, 2011 4:42 pm

    ^_^ I like this

    [Balas Komentar]