Bookmark and Share

Left For Dead

May 20, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Gaya  

Bicara tentang anak muda mau tidak mau kita akan menemui satu kata yang sangat universal, yaitu musik. Kita semua memang tidak bisa lepas dari satu hal yang satu ini. Jazz, Blues, Hip Hop, atau Pop adalah beberapa genre yang terdengar sangat “wajar” di telinga kabanyakan orang pada umumnya. Lalu bagaimana dengan Hard Core, Punk, atau Metal?

Bertempo cepat, mengusung distorsi yang “menyiksa telinga”, dan sarat akan tema sosial, humanis, dan bahkan politik yang dituangkan ke dalam lirik itulah sebagian hal kecil yang ditawarkan oleh musik metal. Jenis musik ini mungkin masih asing di pendengaran orang awam. Tapi bagi penikmatnya, metal seperti asupan gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh. “Musik metal itu bisa bikin semangat dan menghilangkan rasa sedih kalo aku lagi ada masalah,” jawab Iim (Mainstream Kiri) semangat. Indera pendengaran cowok yang berusia 16 tahun yang masih duduk di kelas 10 SMU Negeri 4 Pontianak ini memang selalu dihiasi dengan musik metal. Seringnya memutar musik metal saat di rumah, orang tua saya sering protes dan khawatir musik ini bisa “merusak” diri saya. Sebegitu hitamkah penilaian orang terhadap musik metal? Penilaian miring terhadap metal kerap membuat penikmat musik keras ini dinilai kurang baik. Tidak adil rasanya jika hanya menilai dari luar tanpa mengetahui isi dalamnya.

foto_1.jpg

salah satu penampilan band di acara Left For Dead (photo: Mumu, Pontianak, 2009)

foto_2.jpg

Suasana panggung acara Left For Dead (photo: Mumu, Pontianak, 2009)

Kreatifitas dan ekspresi adalah dua hal yang saya nilai sangat mahal. Kreatifitas seseorang bisa mati jika selalu dibenturkan dengan hal yang sifatnya komersil dan mengikuti selera pasar. Ekspresi juga tak berdaya dan hanya akan membohongi diri sendiri bila harus selalu menurut pada aturan-aturan baku yang sudah mapan. Di dalam hiruk pikuk dan bisingnya musik metal, tersedia ruangan luas tanpa sekat maupun batas untuk berkreatifitas dan berekspresi.

foto_3.jpg

Para penonton yang menikmati acara serta penampilan band-band di Left For Dead (photo; Mumu, Pontianak, 2009)

foto_4.jpg

Penonton yang bersemangat mendengarkan penampilan salah satu band di Left For Dead (photo: Mumu, Pontianak, 2009)

Left For Dead yang digelar di Gedung Teater Taman Budaya Pontianak pada hari Minggu (17/05/09) bisa dijadikan salah satu buktinya. Band-band seperi MFP, Martyrs Blood, Stupid Kids, Memory Of Tragedy, For People, Arch Theory, Amoth, BAOT, Hers Baby Doll, Mad Robbesy, Rebellious Voice, Gabriel, Morning Mist, Sabrina dan masih banyak lagi band-band yang lain silih berganti menghiasi panggung. “Kalo di festival pasti ada pressure-nya. Tapi di gigs kaya gini, mereka maen lepas, fun, bebas berekspresi dan nunjukin karakter mereka. We have something special,” ujar Jaco, salah satu panitia. Melanjutkan kalimat dari Jaco, Adi (Morning Mist) juga menyampaikan bahwa dengan adanya gigs ini selain menandakan eksistensi dari komunitas Metal Force, sekaligus juga ingin memberikan input positif bagi gerakan bawah tanah.

foto_5.jpg

Bloody Act Of Terror (BAOT) salah satu band cadas yang tampil di Left For Dead (photo: Mumu, Pontianak, 2009)

Gigs yang juga didukung oleh Ice Cream Metal Podomoro, Distro Anathema, Anti Heroes, dan Distro Dixxxie ini spontan dibanjiri oleh anak-anak muda penikmat musik cadas. Bukan hanya penikmat musik cadas, mereka juga anak-anak muda yang ingin memajukan Pontianak dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Komunitas seperti Metal Force dan komunitas-komunitas musik bawah tanah Pontianak lainnya bila terorganisasi dengan baik, tentunya akan menghasilkan hal yang baik pula untuk daerah ini. Bayangkan jika event musik metal seperti Left For Dead tercantum sejajar dengan event-event budaya lainnya di kalender kunjungan wisata Kalimantan Barat. Selama ini saya meyakini hal yang besar berawal dari hal yang kecil, sesuatu yang membanggakan berawal dari hal yang tadinya disepelekan atau bahkan sama sekali tidak dipandang. Kerja keras, kerjasama yang baik, konsistensi dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait adalah satu resep yang diharapkan membuat sektor pariwisata di daerah ini tidak tidur. (mumu pocketmonster /18/05/09)

Tinggalkan komentar

7 Responses to “Left For Dead”

  1. Murley_18 on May 21st, 2009 7:14 pm
    Murley_18

    metal abees………….!!!

    [Balas Komentar]

  2. ae on May 21st, 2009 11:18 pm
    ae

    balaxs e… dangdut abesssssss..

    [Balas Komentar]

  3. ande anjang on May 22nd, 2009 12:57 pm
    ande anjang

    bang ae ni tag nyambong..metal tu bang, buakn dangdut..emang la abg nihg

    [Balas Komentar]

  4. mumu on May 22nd, 2009 9:33 pm
    mumu iin

    Aaaaaaaaarrgghhh!!!!!!!!

    [Balas Komentar]

  5. Anton Kopisiti on May 24th, 2009 12:44 am
    Anton Kopisiti

    baleeeeeeeeeee …..maenye dari kunci ap tu???

    [Balas Komentar]

  6. mumu on May 26th, 2009 12:26 am
    mumu

    Tadang pake kunci bang. Pake sinyaaaaaal

    [Balas Komentar]

  7. seLii on September 11th, 2009 6:05 pm
    seLii

    beehhh jiwee .
    seP.seppppp .

    [Balas Komentar]