Bookmark and Share

Launching Kumpulan Cerpen “Coretan di Langit Kapuas”

March 11, 2009 | Oleh : | Kategori : Photo dan Berita  

cerpen02.jpg

Penulis-penulis cerpen berfoto bersama Garuda Wiko, Sebastian, Ferry Hadary dan Pay Jarot. (foto by, Dian Prawira)

Langit cukup cerah siang itu. Matahari dengan panasnya menerangi bumi khatulistiwa yang membuat peluh bercucuran. Di sana, di parkiran gedung rektorat UNTAN telah berjejer kendaraan-kendaraan dari orang-orang yang ingin menyaksikan secara langsung suatu momen yang bersejarah dalam kehidupan 16 orang penulis asal Kalimantan Barat. Hari itu tepatnya tanggal 7 Maret 2009 Lentera Community sebagai salah satu lembaga yang mewadahi penulis di Kalimantan Barat mengadakan Launching dan Bedah Buku Kumpulan Cerpen “Coretan di Langit Kapuas”. Telah hadir di sana ke 16 orang penulis yang masing-masing dari mereka mengarang 1 buah cerpen antara lain: Tantra Nur Andi (Jejak langkah bocah rimba), Harmi Cahyani (Goresan untuk langit), Isma Resti Pratiwi (Plakat), Redia Yosianto (Undangan), Fitri Ushinawareta (Pengkang), Diani Ria (Ulang tahun terakhir), Rifai Rahman (Alis), Romi Advant (SMS atau cinta), Lucky Ashdika (Makhluk Tuhan yang terindah), Sana (Tak terbalas), Helda (Kenapa aku harus jadi riang), Acih Karlina (Maaf, ku harus pergi), Eka Mustika (Kena lu cape’ deh), Putri Septya (Kejutan Feri), Eva Salihati (Tinggal kenangan), Nuryani (Gejolak para dewa).

Pada siang itu acara launching secara simbolis dilakukan oleh Garuda Wiko selaku dekan fakultas hukum dan Sebastian selaku Ketua komisi C DPRD Kota Pontianak.

cerpen01.jpg

Garuda Wiko (Dekan Fak. Hukum Untan) dan Sebastian (Anggota Komisi C DPRD Kota Pontianak) meresmikan buku "Coretan di Langit Kapuas" (Foto by, Dian Prawira)

Setelah acara launching dilakukan dilanjutkan dengan bedah buku yang pada kali ini menghadirkan dua orang pembedah yaitu Dr. Ferry Hadary, S.T., M.Eng. , Penulis Buku Sapa Cinta Dari Negeri Sakura dan Nur Iskandar (Pimred Borneo Tribune).

Pada segmen pertama bedah buku yang diisi oleh Dr. Ferry Hadary, S.T., M.Eng., beliau menghargai semangat dari ke 16 penulis untuk dapat menuliskan karya sastra dengan baik. Namun beliau juga menyayangkan bahwa dalam buku kumpulan cerpen ini tulisan yang digunakan terlalu kecil. Dari ke 16 cerpen yang ada Dosen Fakultas Teknik ini mengatakan bahwa ada 2 cerpen yang baik, yaitu “Plakat” dan “Ulang tahun terakhir”, untuk cerpen dengan judul plakat Ferry mengutarakan kebingungannya terhadap penutup dari cerpen yang berjudul Plakat ini. Beliau menilai penutup dari cerpen ini kurang begitu pas.

cerpen03.jpg

Dr. Ferry Hadary, S.T., M.Eng. Dalam segmen bedah buku Coretan di Langit Kapuas (Foto by, Dian Prawira)

Sedangkan untuk cerpen “Ulang tahun terakhir” yang bercerita antara hidup dan mati beliau menhatakan bahwa ceritanya terlalu memutar-mutar untuk mencapai suatu ending.

Namun ia juga mengatakan penghargaannya atas usaha dari Lentera Community untuk mengumpulkan 16 penulis dari Kalimantan Barat ini, karena hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Ia juga mengatakan bahwa tulisan itu sangat penting pada bagian riset. Tulisan akan berkualitas apabila melalui riset.

Lain padang lain ilalang, lain Ferry Hadari lain pula Nur Iskandar dalam membedah buku kumpulan cerpen ini. Pada awal segmen kedua tersebut Pimred Borneo Tribune ini mengatakan bahwa ia cukup tertarik dengan pemberi kata pangantar yang banyak di buku ini. “Buku ini ada keunikannya dibandingkan buku yang lain. Kalau buku yang lain komentarnya 2 paling banter 3. Sedangkan ini cukup banyak. Artinya unik. Katanya, dari ilmu marketing kalau ada sesuatu yang unik, itu akan laku keras, jadi kita do’akan buku ini laku keras”. Serupa tapi tak sama dengan Ferry Hadary, Nur Iskandar juga memberi penilaian lebih untuk cerpen Plakat diantara ke 16 cerpen lainnya yang terdapat di buku tersebut. Dalam mengkritisi karya plakat ini ia mengatakan bahwa karena antagonis antara plakat dengan panen padi, ini sebenarnya bisa diuraikan bahwa plakat itu terbangun dari bahan apa? Sedangkan di cerpen tersebut tidak diceritakan. Ia juga menekankan bahwa jangan terburu-buru dalam menceritakan sesuatu, ceritakanlah step by step, bercerminlah pada Andrea Hirata. Deskripsinya memikat sehingga pembaca akan lengket dengan bacaan itu. Seakan tidak mau lari dari buku tersebut. Karena dengan membaca kita membangun theatre of mind dari pembaca. Oleh karena itu deskripsi tersebut sangat penting. Selain dari plakat yang kurang jelas terbuat dari bahan apa, juga karakter pak camat tidak jelas.

Pada intinya ia mengatakan dalam menghasilkan karya sastra jangan terlalu terburu-buru agar dapat menghasilkan karya yang lebih berkualitas sehingga dapat memberi nilai yang lebih.

Acara berakhir pukul 17.00 dengan ditutup dengan Do’a. Dari hari itu merupakan hari bersejarah bagi 16 orang penggores karya sastra di bumi khatulistiwa ini.

(D!@N)

cerpen04.jpg

Suasana di Rektorat Untan Saat Launching Buku (Photo by, Dian Prawira)

Tinggalkan komentar