Bookmark and Share

Latihan Membuat Sempurna

May 14, 2009 | Oleh : | Kategori : Segelas Kopi  

wawancara dengan:
Kalimanto Tulus Widodo

MUMU_Kalimanto_1.jpg

Siapakah yang mengibarkan bendera Indonesia di negara lain selain Presiden Indonesia? Saya harap jawaban anda adalah atlet. Mau atlet renang, balap sepeda atau catur, mereka adalah orang-orang yang mengibarkan Sang Merah Putih di negara luar. Selain kita mengenal ada pejuang kemerdekaan dan pahlawan revolusi, tentu tidak berlebihan jika atlet-atlet yang telah mengharumkan nama bangsa di mata dunia juga pantas kita sebut sebagai pahlawan. Sebagaimana dengan pahlawan-pahlawan yang lain, negara juga patut menghargai jasa-jasa para atlet
Semasa saya kecil, Indonesia sempat menjadi sorotan dunia karena ada seorang atlet asal Kalimantan Barat yang berlaga di Olympiade 1992. Cukup mencengangkan jika diingat saat itu belum ada fasilitas velodrom atau fasilitas-fasilitas lain yang mendukung cabang olah raga ini.

MUMU_Kalimanto3.jpg

Kalimanto memimpin perlombaan (photo: dok)

Sayangnya momen itu sangat bertolak belakang dengan kondisi olah raga balap sepeda di Kalimantan Barat saat ini. Jika dilihat secara umum, ternyata Kalimantan Barat hanya mampu berada di urutan bawah jika dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia.
Lahir pada tanggal 23 Agustus 1965. Ia diberi nama Kalimanto Tulus Widodo. Hanya di dukung dengan sepeda berteknologi minim, yang dibalut dengan semangat dan keinginan yang besar, pada tahun 1979-1980 Kalimanto mulai menekuni olah raga balap sepeda. Hari-harinya dihiasi dengan latihan membentuk fisik dan mental. Bimbingan dari sang pelatih juga punya efek yang tidak kecil dalam menentukan langkah-langkah Kalimanto berikutnya.
Usaha dan kerja keras suami dari Masita Lestari ini tidak sia-sia. Tahun 1985 Kalimanto berhasil menduduki posisi ke tiga di Pekan Olah Raga Nasional (PON). Setelah mengikuti kompetisi di kota Padang, Kalimanto memutuskan untuk vakum karena ingin kuliah. Jurusan Akutansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pontianak menjadi tempatnya menimba ilmu selama setahun.

MUMU_Kalimanto4.jpg

Kalimanto saat menjuarai perlombaan (photo: dok)

Tahun 1988 bersama Maruki dan Beny Van Aert, Kalimanto kembali menggenjot sepeda. Kali ini mengikuti kompetisi di Jakarta dan berhasil menduduki posisi ke empat. Di tahun yang sama, pada usia 22 tahun, ia dipanggil Pelatnas dan mengikuti Malaysia Open 1989 di kelas 1000 meter sprint. Emas pun berhasil diraih olehnya. Kalimanto juga berhasil menggapai emas di SEA Games Filipina di kelas 1000 meter massa start. “Latihan membuat sempurna,” kira-kira itulah ungkapan saya untuk sosok yang tergabung di klub sepeda Panther ini. Keseriusannya, sikap mau menerima nasehat dari senior, disiplin dan kemauan besar untuk maju, mengantarkannya meraih posisi 17 tingkat dunia di Amerika, posisi 4 tingkat dunia di Eropa, dan posisi 2 tingkat dunia di Australia. Karena kecintaannya pada olah raga balap sepeda, Ayah dari Muhammad Rizky (13), Ahmad Raditya (11), dan Rahmad Abizar (10) ini bergabung di komunitas sepeda TNT (Temen Nunggu Temen) yang bertujuan memotivasi insan olah raga balap sepeda untuk meraih prestasi.

MUMU_Kalimanto2.jpg
Faktor menurunnya prestasi olah raga balap sepeda Kalimantan Barat menurut Kalimanto disebabkan karena belum ada figur yang bisa memanajerial dan memanajemen ISSI secara baik. “jika ada sosok yang bisa berperan aktif membangun olah raga balap sepeda di Kalimantan Barat, saya pikir orang itu sangat tepat menjadi ketua ISSI. Selama ini kursi ketua ISSI masih kosong karena memang belum ada kader yang cocok,” jelas Kalimanto.
Bendahara TNT ini juga menyayangkan pembangunan velodrom yang salah dan tidak sesuai standar internasional. Ditambah lagi dengan sikap pembalap-pembalap muda yang bersikap kurang disiplin, tidak ada kemauan, tidak punya target, dan tidak latihan jika pelatih tidak datang . “Anak sekarang terlalu manja,” ujar Kalimanto.
Diantara kendala-kendala diatas, ada satu hal yang membuat Kalimanto optimis olah raga balap sepeda di Kalimantan Barat akan kembali bergeliat. Selain memiliki atlet balap sepeda putri seperti Tori (Pontianak), dan Fitri (Mempawah), Singkawang juga memiliki empat atlet balap sepeda putra yang dinilai Kalimanto cukup punya potensi. “Senang dan salut melihat mereka bertanding. Meski dilatih oleh pelatih yang tidak di level nasional, tapi mereka punya mental dan fisik yang baik. Sangat susah mencari atlet-atlet seperti mereka. Usaha mereka benar-benar maksimal meskipun pada akhirnya tidak menjadi juara.”
Kalimanto juga sering berpesan kepada junior-juniornya untuk selalu serius, disiplin, mau menerima nasehat dari senior, dan berkemauan besar. Hal itu selalu ditekankannya mengingat anak-anak zaman sekarang dinilai Kalimanto, kurang memiliki mental yang baik, tidak disiplin, kurang serius, dan cenderung malas.
Beberapa foto telah didapatkan. Dengan mengucapkan banyak terimak kasih, kami pamit dari rumah Kalimanto yang beralamat di Jalan Parit Haji Husein II, Perumahan Acisa Permai, no. 42, Pontianak. (mumu “pocket monster”/10/05/09)

Tinggalkan komentar

7 Responses to “Latihan Membuat Sempurna”

  1. peewee1984 on May 14th, 2009 9:45 am

    betul juga seperti pepatah orang sintang jaman dulu, “practice make perfect”

    [Balas Komentar]

  2. Satria Doank on May 14th, 2009 12:51 pm

    ini baru iy, sy berharap bkn bg kalimato aj yg pny prestasi terbaik. kwn2 BoP jg harus bisa
    SEMANGAT

    [Balas Komentar]

  3. Qnoy_Littlerascall on May 14th, 2009 11:56 pm

    Kembali Bersemangat……^_^

    [Balas Komentar]

  4. indra ae on May 15th, 2009 10:55 pm

    SEMANGAAAAAAAAAAAAAAAAT…

    [Balas Komentar]

  5. mumu on May 17th, 2009 12:53 am

    Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua warga BoP tanpa terkecuali. Maju same-same yok!

    [Balas Komentar]

  6. gumay on April 14th, 2011 11:32 am

    terus semangat pembalap muda KALBAR

    [Balas Komentar]

  7. qurais on July 25th, 2011 2:26 pm

    bapak ny abizar xmanto

    [Balas Komentar]