Keriang Bandong Di Ramadhan Kali Ini
September 12, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Memasuki malam ke 21 dalam bulan Ramadhan, dan berawal dari keinginan untuk menghidupkan kembali keriang bandong, komunitas Sepeda Onte Kalimantan Barat (SEPOK), menggelar sebuah kegiatan yang sarat akan budaya dan tradisi Pontianak. “Konvoi sambil membawa keriang bandong juga sudah kita lakukan pada tahun lalu. Ini acara kita yang kedua kalinya,” terang Jayus selaku ketua Sepeda Onte Kalimantan Barat.
Apa keriang bandong itu?
Meski sejarahnya tidak jelas diketahui, tetapi menurut cerita orang-orang tua dulu, di era tahun 60-an, keriang bandong banyak terdapat di daerah Wajok, Jungkat dan sekitarnya. Karena masih sulit akan fasilitas penerangan di masa itu, maka digunakanlah keriang bandong sebagai media penerangan. Pada malam Lailatul Qadar (malam 21 Ramadahan), keriang bandong banyak di pasang di pekarangan rumah warga yang tinggal di pelosok-pelosok desa. Pada waktu itu, keriang bandong terbuat dari damar, getah kayu, tempurung kelapa dan minyak kelapa sebagai bahan bakarnya.
Kata keriang bandong di ambil dari kata Keriang yang merupakan sejenis serangga yang sangat menyukai cahaya. Sedangkan kata Bandong di ambil dari kata berbondong-bondong yang juga merupakan kebiasaan dari keriang yang selalu datang mengerumuni cahaya secara berbondong-bondong.
Komunitas Sepeda Onte Kalimantan Barat (SEPOK), membawa kembali tradisi keriang bandong. (Foto : Eko Suryanto Daulay)
Tradisi terus berkembang dan keriang bandong pun mengalami perubahan. Karena terakulturasi budaya Tionghoa, Tanglong hadir di tengah-tengah masyarakat kita dengan bentuk yang lebih bervariasi tetapi masih memiliki fungsi yang sama dengan keriang bandong.
Pada tahun 80-an di dalam bulan Ramadhan tepatnya di malam Lailatul Qadar, keriang bandong menjadi salah satu permainan tradisional anak-anak yang sangat ditunggu-tunggu. Dengan cara di arak, pemain keriang bandong di bagi menjadi 2 kelompok yang akan beradu. Setelah di adu, keriang bandong siapa yang masih dalam keadaan baik dan tidak hancur, maka dialah pemenangnya. Permainan ini juga diselingi sebuah lagu yang khas permainan keriang bandong. “ E…mantoyo mane musoh, ago go…” Kini permainan ini sangat susah di temukan. Bisa jadi karena perubahan budaya, permainan keriang bandong menjadi tidak populer dan akhirnya di tinggalkan.
Terakulturasi oleh budaya Tionghoa sehingga menciptakan bentuk keriang bandong yang lebih bervariasi (foto : mumu)
Pamor keriang bandong juga dirasakan kian menipis. Itu di tandai dengan di gantinya lampu seri atau lampu hias warna-warni yang di pasang di pekarangan rumah warga. Pergeseran itu bukan tanpa alasan. Karena bahan bakar minyak tanah yang semakin mahal, banyak warga yang berpindah menggunakan “keriang bandong listrik” (mumu/12/09)



Tinggalkan komentar