Bookmark and Share

Kalimantan Barat Terpuruk

May 22, 2009 | Oleh : | Kategori : Segelas Kopi  

Masih dalam upaya meningkatkan kembali prestasi olah raga balap sepeda Kalimantan Barat. Setelah beberapa waktu lalu mewawancarai Kalimanto, kini Borneo Photography kembali mengusung tema yang sama. Walaupun masih awam dengan cabang olah raga yang satu ini, saya tetap ngotot memberi dukungan lewat tulisan yang sedang anda baca sekarang ini.

Senin malam (18/05/09) saya tidak merasa kesulitan mencari kediaman Johnny Van Aert, SE, MM yang beralamat di Jalan Purnama, gang Purnama 8, no. 1A, Pontianak. Sambutan hangat tuan rumah membuat tubuh saya terasa ringan setelah seharian bekerja. Jujur, saya merasa begitu gugup di depan tokoh balap sepeda Kal-Bar yang juga salah satu dosen pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi “Indonesia” Pontianak ini. Pengalaman dikeluarkan dari kelas kembali terurai jelas di seluruh jaringan otak. Saya harus cepat menguasai keadaan dan menyusun semangat dengan modal nekat!

MUMU Van Ert 1.jpg

Johny Van Aert, salah satu mantan atlet balap sepeda Kalbar (photo: Mumu, Pontianak, 2009)

Awal Karir

Tahun 1974 adalah tahun dimana Johnny mengawali karirnya di olah raga balap sepeda. Karena baru menginjak usia 18 tahun, dia dianggap sebagai atlet muda bila dibandingkan dengan atlet-atlet yang lainnya pada masa itu. Berlatih, berlatih, dan berlatih, akhirnya mengantarkan Johnny ke Pelatnas dan meraih perunggu di PON (Pekan Olah Raga) X tahun 1977.

Mengikuti SEA Games 1977, ASIAN Games 1978 di Bangkok, Tour de ISSI 1978 (10 etape Jawa Timur-Bali dan berhasil meraih runner up),  SEA Games 1979 di Malaysia (medali perunggu),   SEA Games Jakarta (medali emas di kelas 180 km perorangan), dan Tour de ISSI Kal-Bar 1981 adalah sederet kompetisi yang dilahap oleh Johnny.

Pada tahun 1979 setelah menjuarai SEA Games, dimana jabatan Gubernur Kal-Bar pada saat itu masih diemban oleh Bapak Soedjiman, ayah dari Dova Van Aert (22) ini pernah mendapatkan beasiswa yang membebaskannya untuk kuliah di perguruan tinggi manapun di seluruh Indonesia. Pilihan jatuh pada Universitas Tanjungpura Pontianak.

Di satu sisi Johnny dapat meluluskan niatnya untuk kuliah, tapi di sisi lain, dia dihadapkan pada keabsenannya di beberapa kompetisi. “Di ujian semester satu saya dipanggil untuk mengikuti kejuaraan Asia di Bangkok. Tapi saya memutuskan untuk mengikuti ujian. SEA Games di Manila juga tidak pergi, karena bentrok sama ujian. Akhirnya saat ASEAN Games di New Delhi di India, nama saya dicoret dari daftar nama tim balap sepeda Indonesia,” kenang Johnny. Suami dari Briggita, SH yang sempat belajar di Sekolah Akademi  Bank di jakarta ini akhirnya menyudahi karir lebih awal.

Kalimantan Barat Terpuruk

Senada dengan yang dikatakan oleh kalimanto, Johnny menjelaskan kondisi balap sepeda di Kal-Bar saat ini berada di bawah. Dana memang masih menjadi masalah utama. Pembinaan dan kompetisi tidak akan berjalan lancar tanpa ada pembiayaan. Kenapa kita tidak mencontoh negara lain yang seluruh pembiayaan atletnya di dukung penuh oleh pemerintah? Karena pemerintah daerah ini tidak akan mendukung bidang olah raga tanpa ada kepentingan politik di dalamnya. Sesuatu yang penulis nilai sebagai hal yang sangat menyedihkan.

Jika ingin sedikit saja menyadari, sesungguhnya Kal-Bar memiliki atlet-atlet muda berbakat yang jika diberikan perhatian, bukan hal yang tidak mungkin beberapa tahun ke depan, atlet-atlet muda ini akan menunjukkan taringnya di kompetisi daerah, nasional, bahkan internasional.

MUMU Van Ert 2.jpg

Johny Van Aert bersama sepedanya (photo: Mumu, Pontianak, 2009)

Beruntung Pontianak memiliki TNT (Temen Nunggu Temen). Komunitas pecinta sepeda ini beberapa waktu lalu memberikan sebuah sepeda balap kepada seorang atlet balap sepeda putri asal Mempawah yang bernama Fitri sebagai motivasi untuk meraih prestasi. Dana yang terkumpul hampir mendekati Rp 50 juta rupiah berasal dari kocek pribadi para anggota TNT,  ini adalah bentuk kepedulian yang besar terhadap olah raga balap sepeda di Kal-Bar.

Sulitnya mencari ketua umum menyebabkan ISSI Kal-Bar berjalan tanpa dana dan ketua. Hal ini tentu saja berdampak tidak baik untuk denyut cabang olah raga ini. Kal-Bar tidak pernah lagi mengirimkan atlet-atletnya mengikuti kompetisi-kompetisi nasional.

Tidak ingin situasi ini semakin memburuk, di sela-sela kesibukannya sebagai staf dosen di Akademi Sekretaris Manajemen Indonesia (ASMI) Pontianak, setiap hari Kamis hingga Minggu Johnny berangkat ke Anjungan dan melatih sepuluh orang atlet muda di sana. “Namanya Persatuan Balap Sepeda Beruang Hitam. Saya melatih lima atlet putra dan lima atlet putri,” terangnya. Untuk ke depan kakak kandung Benny Van Aert ini mengharapkan dukungan untuk olah raga balap sepeda. “Memang perlu waktu untuk mengejar ketinggalan. ISSI Kal-Bar kini mencari Bapak angkat dan ketua yang benar-benar ingin memajukanprestasi balap sepeda melalui pembinaan serius, dan konsisten menjalankan program.” tutup Johnny Van Aert.

Tinggalkan komentar

4 Responses to “Kalimantan Barat Terpuruk”

  1. Murley_18 on May 27th, 2009 2:49 am

    Tragiiis……..!!!
    Banyak sekali atlet kita menuai prestasi..,, tapi sayang……hal ini tidak didukung penuh,,,.Saluut bwt Pak Johny dengan rasa kepeduliannya mendirikan PBS Beruang Hitam demi tumbuh kembangnya atlet-atlet Indonesia..MERDEKA…

    bravo mumu………it’s good posting…….!!!

    [Balas Komentar]

  2. sowan on May 31st, 2009 12:06 am

    semangat!!!
    maju terus pantang munduRRR
    dag usah baleg baleg ageg yeeeeeeeeee
    daaaaaaaaaaaaaaaaa…

    [Balas Komentar]

  3. sowan on May 31st, 2009 12:07 am

    umhhhh..mksud nje tag usah tepurug be
    harus naig terus prestasi nje
    !!!

    [Balas Komentar]

  4. rahman on March 15th, 2010 4:58 pm

    maju terus,,,,,,, sampai darah penghabisan,,,,,??????

    [Balas Komentar]