masih dari artikel blog ayofoto.com oleh pak Bernard T Wahyu Wiryanta
link : http://www.ayofoto.com/blog/25…..dari-foto/
Kenapa saya post disini, ya supaya teman2 dapat info bahwa banyak cara untuk mendapatkan penghasilan dari dunia fotografi. saya berharap suatu saat karya foto anggota BoP bisa dimuat di media cetak atau elektronik dan mendapatkan penghasilan dari karya tersebut.
Maju BoPhians
Published 23 January 2007 21:00
belajar menghasilkan uang dari foto, dari sekedar hoby, jeprat-jepret menjadi sumber nafkah
MENCETAK UANG DARI FOTO
Fotografer Wildlife kawakan, Allain Compost pernah bilang ke seorang teman “jangan pernah motret kalau tidak bisa jual foto, kecuali kamu orang kaya!”.
Memang fotografi masih merupakan hoby yang ‘mahal’ untuk ukuran saya. Parameter ini mungkin berlaku pada masa saya masih sekolah di Jawa pada tahun 80an. Kebetulan Bapak saya adalah seorang jurnalis yang mempunyai senjata “Rikoh KR5”. Dengan lensa 50mm, waktu itu kamera tersebut sudah sangat gagah ketika saya bawa di acara perpisahan di SMA. Setelah gagah-gagahan di sekolah dengan kamera colongan tersebut berakhir, kemudian timbul masalah baru. Darimana biaya untuk memproses dan mencetak foto tadi?
Berbeda dengan kondisi sekarang, setelah kamera digital membanjir di pasaran, saya lihat anak-anak umur 4 tahun yang masih sekolah di TK pun sudah banyak yang petentenganJeprat-jepret, selesai tinggal transfer di komputer, ndak usah di cetak juga ndak apa-apa. Mau lihat tinggal buka ACDsee, selesai.
Selepas SMA, kebiasaan jeprat-jepret pun masih berlangsung. Waktu itu, begitu minggat ke Jakarta saya bekerja sebagai tukang kebun di kebun pembibitan di Cimanggis. Dengan gaji Rp 225.000,- per bulan sebagai kuli, agaknya mengeluarkan uang Rp 100.000,- untuk beli film, dan biaya cuci-cetak foto, merupakan sebuah pengeluaran yang tidak logis. Ketika menawarkan jasa untuk foto wedding pun, orang banyak yang ragu, “mosok tukang kebon kok mau motret nganten, emang bisa apa?” seloroh sekaligus penolakan yang pahit. Alhasil, kalimatnya Allain Compost pun kena juga di diri saya, tukang kebon aja hobynya fotografi, lha gaji sebulan bisa ndak cukup to buat menyalurkan hobynya. Selang beberapa tahun kemudian, kebetulan di lingkungan saya bekerja (sebagai tukang kebon tadi), banyak sekali jurnalis (yang masih satu institusi dengan tempat saya bekerja). Saya perhatikan kok fotonya juga biasa saja, foto saya pun tidak kalah bagus saya rasa, tapi mereka bisa hidup dari profesinya. Setelah saya perhatikan baru saya tahu, “foto harus berbicara” rupanya. Kemudian ketika mereka membutuhkan beberapa foto satwa untuk iklan, saya coba tawarkan beberapa foto yang saya ambil di kebun tempat saya bekerja. Saya masih ingat, waktu itu foto saya berupa foto domba marino. Domba ini merupakan domba penghasil wol yang bagus, persilangan antara domba sufolk dan ramboileet. Walaupun tidak dibayar, akhirnya foto pertama saya berhasil mejeng di majalah. Fotonya biasa saja, tapi mempunyai caption yang jelas. Data nama ilmiah dan asal-usulnya. ****
Hunting Foto=Hunting Uang
Di sela-sela liburan di tempat kerja, kebiasaan saya sejak kecil pun masih saya lakukan terus di Jakarta. Naik-turun gunung dan merambah hutan adalah hoby saya sejak kecil. Ketika liburan tiba tiap akhir pekan saya meluangkan waktu untuk mendaki gunung, tentu saja sambil membawa kamera (walaupun harus minjam kanan-kiri). Setelah pulang hunting ke hutan, baru saya bingung, mau diapakan foto ini? Padahal lebih dari separoh gaji sebulan saya habiskan untuk perjalanan ini. Tapi walau bagaimanapun, kebiasaan menghabiskan gaji ini tetap saya lanjutkan sampai bertahun-tahun.
Sampai akhirnya saya keluar sebagai tukang kebon dan beralih menjadi sopir angkot pun, saya masih tetap menenteng kamera.
Akhirnya tanpa sengaja saya membeli beberapa majalah dan melihat banyak sekali artikel perjalanan disitu. Sebagai seorang anak wartawan, tentu saja untuk menulis artikel bukan pekerjaan yang susah buat saya. Akhirnya saya pun mengeluarkan deposito saya, dalam bentuk ratusan lembar foto yang saya dokumentasikan, beserta catatan perjalanan yang saya lakukan.
Setelah foto-foto tersebut saya susun berdasarkan waktu perjalanan, disertai 2 lembar artikel perjalanan, kok ya jadi foto yang enak dinikmati ya. Akhirnya puluhan foto dan artikel hasil hunting selama beberapa tahun tadi saya kirimkan ke berbagai media. Hasilnya? Saya tidak perlu jadi tukang kebon atau sopir angkot lagi untuk tetap menenteng kamera dan keluyuran
Membuat Foto Berbicara
Selain foto dan artikel perjalanan, foto tunggal yang saya sertai 1 kalimat pun banyak yang menjadi duit. Kuncinnya adalah foto tersebut harus berbicara.
Coba simak foto ini:
Dengan kamera digital. masuk-keluar hutan.

Foto ini tergolong foto yang tidak mempunyai makna, dari sisi fotografi pun termasuk foto dengan kualitas yang jelek. Pertanyaannya: ada yang mau membayar foto ini? Coba begitu kita kasih caption di bawahnya seperti ini:
Bunga dan biji tanaman bakau atau mangrove di suaka margasatwa pulau rambut ini dimanfaatkan oleh penduduk. Buah mangrove ini disemai, kemudian tanamannya dijual atau dimanfaatkan untuk mencegah abrasi pantai.
Nah setelah kalimat tersbeut ditambahkan, foto ini bila dimuat di sebuah harian, paling tidak tabungan kita akan bertambah sekitar Rp 100.000,- sampai Rp 200.000,-. Foto ini bisa masuk kategori foto jurnalistik.
Berikut contoh foto yang dari sisi fotografi tidak mempunyai makna apa-apa, tapi begitu ditambah caption bisa mempunyai nilai jual.


Ananda Mikola dan pembalap A1 lainnya memasuki sirkuit dengan menaiki becak. Hari ini, 12 Februari 2006, di Sentul International Sircuit, Indonesia kembali mengikuti ajang balapan A1. Ananda Mikola, pembalap tuan rumah yang menyatakan akan naik podium akhirnya finish di urutan ke 7 dalam ajang ini.


Apel Rome Beauty milik petani apel di Selecta, Batu, Malang, Jawa timur. Pekebun apel di Selecta sekarang sudah beralih ke pertanian semi organik. Peralihan sistim pertanian ini untuk menekan biaya pupuk dan pestisida kimia yang semakin mahal.


Batang tanaman kentang yang terkena penyakit busuk batang. Phytoptora menjadi salah satu penyakit mematikan tanaman kentang. Pada musim panen ini, puluhan hektar petani kentang di Pangalengan, Bandung, salah satu sentra kentang terbesar di Indonesia mengalami gagal panen akibat penyakit ini. Foto diambil 24 Oktober 2005.


Buah merah, Pandanus conoideus Lamm. Setelah I Made Budi, dari Universitas Cendrawasih, Jayapura menguak khasiat dan manfaatnya, salah satu kerabat pandan wangi ini naik daun menjadi obat herbal. Buah yang tadinya tidak berharga ini sekarang diperjualbelikan penduduk seharga Rp 30.000 per buah.
Foto dengan caption ini pernah laku sebesar Rp 700.000,- ketika disewa/dibeli sebuah majalah. Foto ini juga sudah laku beberapa kali untuk iklan dan foto sticker produk herbal.
Bagaimana Membuat Foto Berbicara
Salah satu kelebihan saya (mungkin perasaan saya) adalah mengumpulkan data di lapangan. Nah, setiap kali hunting, saya selalu mengumpulkan data obyek foto saya. Misalnya kita menjerat sebuah bunga tembakau dengan kamera kita. Cari data tanaman tembakau tersebut dan data pendukungnya.
Misalnya seperti ini:
Nama Ilmiah : Nicotiana tobacum
Asal tanaman : Tanaman asli Amerika
Umur tanaman : 3 bulan
Keterangan lain :
Tembakau di daerah lereng gunung Sindoro dan Sumbing ternyata terkenal karena mempunyai kandungan nicotine yang sangat tinggi. Bahkan tertinggi di Indonesia.
Kenapa kandungan Nicotinenya tinggi? Karena proses bercocok tanamnya. Petani disini selalu memotong bunga tembakau yang keluar, hingga kadar nicotinenya terkumpul di daun.
Dari pekerjaan iseng-iseng ini kita bisa menghasilkan foto dengan keterangan seperti dibawah ini. Foto demikian bisa menghasilkan uang paling tidak Rp 150.000,- sampai Rp 250.000,- bila dimuat di majalah pertanian atau harian umum.


Bunga tembakau (Nicotiana tobacum L.) di lereng gunung Sindoro (000 m dpl) dan sumbing (000 m dpl) di Jawa Tengah, oleh para petani selalu dipotong dan dibuang. Sistim ini kemudian menghasilkan daun tembakau yang mempunyai kadar nicotine yang tinggi. Tembakau di daerah ini terkenal karena mempunyai kadar nicotine tertinggi.
Selain foto berbicara, kumpulan foto perjalanan juga bisa ditambah artikel dengan data yang lengkap. Misalnya artikel saya di my jurney yang berjudul “berburu burung di Pulau Seribu” disitu terdapat data-data yang lengkap tentang obyek wisata suaka margasatwa tersebut. Misalnya data tahun tentang status suaka margasatwa tersebut, data satwa penghuni pulau, luas pulau, dll. Data tersebut bisa kita peroleh dari petugas di sana atau dari BKSDA Jakarta di Jl Salemba. Foto dan artikel ini mempunyai nilai jual sebesar Rp 700.000,- di majalah. Lumayan untuk menganti ongkos ke sana bukan. Coba dihitung bila dalam sebulan kita melakukan kegiatan keluyuran sebanyak 4 kali dan semuanya dimuat!
Caranya? Yang pertama, belilah majalah dan koran (bekas mungkin lebih murah). Lihat beberapa foto dan artikel yang mungkin bisa kita masuki. Kedua, mulailah menggali harta karun berupa foto yang sudah terkumpul. Kalau belum punya, jika hunting mulailah belajar mengumpulkan data, baik dari penduduk setempat, petugas yang berkompeten, literatur, majalah, atau internet. Ketiga, mulailah kirim foto dan/atau foto perjalanan dengan artikelnya ke media. Contoh media: Kompas-kita bisa mengisi rubrik wisata, esai foto, atau rubrik muda (misalnya tentang hoby fotografi). Honornya + Rp 400.000,-; Flona-kita bisa mengirimkan artikel wisata jalan-jalan atau foto flora dan fauna langka atau unik. Honornya berkisar Rp 300.000,- sampai Rp 700.000,-. Selain itu jika kita kebetulan menemukan peristiwa unik di jalan atau di suatu tempat kita bisa juga mengirimkan foto tersebut dengan keterangan yang lengkap ke berbagai harian, seperti Pos Kota, Media Indonesia, Suara Pembaruan, dll. Contohnya, peristiwa orang bunuh diri yang berhasil kita rekam ketika loncat dari gedung, tabrakan, dll.
Nah setelah Anda mengirimkan berbagai foto dan foto perjalanan, yang Anda harus lakukan adalah, bersabar dan menguatkan hati ketika foto Anda ditolak puluhan kali. Hal ini juga yang saya alami ketika awal-awal mencari nafkah. Namun lama-kelamaan nama kita akan dilirik dan rekening kita makin lama makin membengkak. Jika rajin, tak ayal Nikon D2x pun akan kebeli juga.
Selamat mencoba!