Bookmark and Share

FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA (FBBK) HARI KE DUA

November 13, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita  

Masyarakat kembali meramaikan Gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie, Pontianak, Rabu (12/11). Parade Tari Melayu yang digelar di gedung tersebut terbukti menyedot perhatian masyarakat yang berhasil membuat sesak suasana di depan panggung.
Salah satu agenda yang diselenggarakan pada hari kedua Festival Budaya Bumi Khatulistiwa ini diikuti oleh beberapa peserta dari Kota Singkawang, Kabupaten Sintang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sanggau dan Kabupaten landak.
Kriteria penjurian meliputi penataan tari, penataan musik, penataan rias dan busana, penampilan umum (penyajian) dan kekuatan etnik (rasa kedaerahan). Sayangnya pengumuman pemenang akan diumumkan pada hari ketiga Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. (mumu/12/11)

Parade_tari_melayu_FFBK_1.JPG

Materi tarian adalah tari garapan baru yang berpijak pada tari daerah atau seni budaya daerah dan belum pernah ditampilkan dalam event tari sebelumnya. Peserta dari Kabupaten Sekadau menampilkan tari berjudul " Baqah". Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_2.JPG

"Jepin Lompat Galah Kreasi" menggambarkan kebahagian gadis-gadis muda Melayu dalam pergaulan sehari-hari. Tarian ini menggunakan 4 batang bambu sepanjang 2 meter. Disuguhkan oleh peserta dari Kabupaten Kapuas Hulu. Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_3.JPG

Berhias dengan menggunakan cermin agar menjadi perhatian abo'-abo' di kampung adalah sekilas sinopsis "Inak Bacoromin" yang menjadi andalan peserta dari Kabupaten Sanggau. Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_4.JPG

Penyajian menggunakan iringan musik hidup. Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_5.JPG

Suasana penonton yang memadati area di depan panggung. Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_6.JPG

Peserta dari Kabupaten Landak menyuguhkan "Tari Colege Lempok Durian" yang menggambarkan gadis-gadis Melayu yang sangat mahir membuat lempok durian. Foto : Eko Suryanto Daulay

Tinggalkan komentar