Bookmark and Share

Parade Lampion Kota Singkawang

Singkawang ( Bop.)  Singkawang yang biasanya juga disebut Kota Amoy selama bulan februari ini ramai dibicarakan mulai dari imlek hingga perayaan Cap Go Meh 2010. Satu lagi yang membuat kota singkawang benerang dimalam hari adalah parade Lampion yang mengelilingi kota Singkawang. Berbagai rombongan hadir memeriahkan pesta lampion, mulai dari drum band hingga masyarakat sekitar. perayaan yang dimulai pukul 20.00 Wib ini dilepas oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat  Bapak Cristiandy. parade yang memakan panjang hingga 1 Km ini semakin menyemarakan pelaksanaan Cap Go meh terbesar di Indonesia.

keamanan membuka jalan_1.JPG

Perlu tenaga ekstra yang dilakukan panitia Cap Go Meh untuk membuka jalan parade lampion dikota Singkawang (Photo : Sabda )

watercannon.jpg

Watercanon milik Porlres Singkawang turut hadir untuk membuka jalan iring-iringan Wakil Gubernur (Photo ; Sabda )

marcingband.jpg

Seluruh warga Singkawang tidak hanya disuguhkan penampilan lampion yang menarik dari peserta parade, tampil pula drum band SMP bruder untuk memeriahkan acara (Photo : Sabda )

STIE.jpg

Dengan menggunakan motor lebih dari 50 orang mahasiswa STIE singkawang berpartisipasi disertai menghiasi kendaraan yang digunakan ( Photo : Sabda )

Sibuk.JPG

Panitia harus berlari-lari agar patung macan yang dibawa tidak tersangkut dengan rendahnya lampion yang menghiasi kota Singkawang ( Photo : Sabda )

shio.JPG

Seluruh ikon Shio penanggalan tahun china juga ditampilkan dalam parade ini ( Photo : Sabda )

WNI.jpg

Decak kagum tidak hanya turis Lokal tetapi mancanegara pun dibuat terpukau selama perayaan Cap Go meh 2010 di Kota Singkawang (Photo : Sabda )

kodim.JPG

Hadir pula mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen (Purn) kiki Syahnakri dalam iring-iringan parade (Photo : Sabda )

cristiandi.JPG

Walikota singkangan Hasan karman dan Wakil Gubernur turut hadir mengikuti parade lampion yang dimulai dari stadion Kridasana Singkawang (Photo : Sabda )

DSC_0089.JPG

Ritual budaya dapat digunakan sebagai pemersatu bangsa (Photo : Sabda )

DSC_0093.JPG

lebih dari 100 ribu orang hadir dalam perayaan Cap Go meh 2010 (Photo : Sabda )

DSC_0102.JPG

Semua berhak menikmati perayaan ini tanpa terkecuali (Photo : Sabda )

DSC_0109.JPG

Tanpa batasan menyatukan masyarakat berbagai etnis dan budaya untuk menjunjung bineka tungga Ika (Photo : Sabda )

Malam Imlek Kota Pontianak

Pontianak  (BOP).  Kalimantan Barat tak ada habisnya, mungkin itu yang bisa dijabarkan, budaya yang beraneka ragam membuat provinsi yang terkenal dengan ikan arwana menjadi provinsi multikultur. Pontianak yang merupakan ibukota provinsi menyala ditengah malam.  Hingar bingar dentuman kembang api yang disulut oleh kaum Tiongha ini membuat kota menjadi terang benerang dimalam hari.   Tanggal 20/02 bertepatan dengan malam imlek di seluruh dunia, dimana perayaan ini dilakukan oleh kaum Tiongha. Pergantian tahun baru china yang memasuki Tahun Macan memberikan kesan yang sangat mendalam. Vihara yang terletak diberbagai penjuru kotapun tak ketinggalan pula. Pada malam imlek masyarakat Tiongha berbondong-bondong ke Vihara untuk melakukan sembahyang terhadap Tuhan, Dewa Bumi dan Dewi-dewi yang telah memberikan kehidupan, sebagai ucapan syukur kaum yang banyak berdomisilin di daerah Kota Singkawang dengan membakar Xin Tia ( Uang kertas-red).

DSC_0116.JPG

beribadah disaat malam imlek ramai dilakukan diseluruh vihara di kota Pontianak (Photo : Sabda)

DSC_0199.JPG

bersama-sama pemuda tiongha memanjatkan doa kepada dewa dan leluhur untuk kehidupan yang lebih baik dan diberikan berkah ditahun macan (Photo :ian)

DSC_0193.JPG

Sisi lain kota Pontianak, Jl. Gajah Mada berubah menjadi lautan manusia (photo : Sabda )

DSC_0199.JPG

Sebuah mobil hingga rela berhenti disaat kembang api dinyalakan ditengah-tengah trotoar agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan (Photo :Sabda)

DSC_0202.JPG

kendaraan terbuka seperti Pick up, memudahkan pengunjung untuk melihat gemerlap kota Pontianak (Photo : Sabda )

DSC_4965.jpg

Warna merah mendominasi tiap vihara yang artinya melambangkan suka cita dan kemakmuran. ( Photo : Eko S. Daulay )

asd

Imlek merupakan momen paling sakral bagi semua umat Tionghoa karena berbagai harapan mereka gantung untuk menyambut tahun baru yang akan datang ( Photo : Eko S. Daulay )

Hio disediakan bagi pengurus vihara sebagai salah satu peralatan sembahyang guna melengkapi prosesi ritual sembahyang (Photo : Eko S. Daulay )

DSC_5013.jpg

Api yang menyala di atas lilin merupakan bentuk dari penerangan yang nantinya dalam menjalankan hidup bisa dimudahkan jalannya (Photo : Eko S. daulay)

DSC_0209.JPG

Warna-warni kembang api menghiasi kota Pontianak (Photo : Sabda )

LAMS INTERNATIONAL BEDAR BOAT RACE 2009

Tidak seperti hari-hari biasa, Gertak Sabbo’ dan tepian Sungai Sambas dipenuhi umbul-umbul warna-warni bertuliskan “LAMS” dan baliho event berukuran besar terpajang rapi di dekat water front city. Pedagang-pedagang dadakan bermunculan memanfaatkan keramaian guna menoreh rejeki.
Keramaian ini bukan tanpa sebab. Sambas kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) International Bedar Race 2009. Olah raga tradisional yang telah ada sejak jaman kesultanan Sambas ke-1 kali ini diikuti oleh peserta dari Malaysia ( Sarawak, Kuala Lumpur, Sabah, Labuan, Johor dan Penang), Brunai Darussalam serta Indonesia (DKI Jakarta, Kabupaten Palalawan, Kabupaten Siak Sri Indrapura, Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Melawi dan Kabupaten Kubu Raya.)
Dengan mengusung motto “Kembangkan Budaya, Lestarikan Tradisi, Jelajahi Nusantara” diadakannya lomba sampan bedar ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar masyarakat Melayu dan memberikan input positif dalam pelaksanaan program Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat 2010. (mumu/24/12)

ian_3.jpg

Sehari sebelum lomba (Sabtu/19/12), peserta lomba sampan bedar melakukan latihan. Foto : Ianimaru

sabda_resize_2.jpg

Kedatangan H. Morkes Effendi, SPd., MH sebagai Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Serantau beserta istri dan Dato Petinggi Abdi Nurkamil Mawardi selaku Ketua Pelaksana Lomba Sampan Nusantara disambut dengan tabuhan rebana. Foto : Sabda Agung

Olid_4_resize.jpg

Suasana malam pembukaan LAMS International Bedar Race 2009. Foto : Cholid Nugraha

Ilham_resize_5.jpg

LAMS International Bedar Race pertama kali digelar pada tahun 2001. 2009 adalah tahun kedua penyelenggaraan lomba sampan yang diangkat dari olah raga rakyat yang kaya akan nuansa budaya. Foto : Ilham Chandra

sabda_resize_1.jpg

Kesenian rebana salah satu agenda yang disajikan setelah para tamu dihibur dengan lagu-lagu tradisional Sambas. Foto : Sabda Agung

Sabda_resize_9.jpg

Tari Rumba, Jepin Redap dan Tanda' Sambas persembahan dari beberapa rumah budaya di Kabupaten Sambas. Foto : Sabda Agung

Q_Noi_2_resize.jpg

Pemukulan gong oleh Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Serantau yang menandakan LAMS International Bedar Race 2009 telah resmi dibuka. Foto : Q-Noi

ian_1.jpg

Kembang api turut memeriahkan malam pembukaan LAMS International Bedar Race 2009. Foto : Ianimaru

Q_Noi_1_resize.jpg

Pengguntingan pita sebagai simbol peresmian pameran Lembaga Adat Melayu Serantau. Foto : Q-Noi

Tri_resize_1.jpg

Meriam kecil. Foto : Tri Anto

ian_2.jpg

Barang-barang yang dipamerkan adalah koleksi Lembaga Adat Melayu Serantau. Foto : Ianimaru

sabda_resize_7.jpg

Stand ini menyediakan berbagai varian merchandise Lembaga Adat Melayu Serantau. Foto : Mumu

Ilham_resize_1.jpg

Pencabutan undian nomor peserta. Foto : Ilham Chandra

Ridwan_2_resize.jpg

Di masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim (Sultan Sambas ke- 15) sampan bedar pertama kali dilombakan pada tahun 1931. Foto : Ridwan A.

Olid_1_resize.jpg

Jarak tempuh Lomba Sampan Nusantara adalah 1000 meter. Foto : Cholid Nugraha

Q_Noi_3_resize.jpg

8 orang pendayung,, panjang sampan lebih kurang 13 meter dan lebar sampan 50 hingga 60 cm. Foto : Q-Noi

mumu_2_resize.jpg

Kembangkan budaya, lestarikan tradisi, jelajahi nusantara. Foto : Mumu

sabda_resize_6.jpg

Mengangkat kembali khasanah budaya agar terus lestari dan tidak terlupakan. Foto : Sabda Agung

Ilham_resize_2.jpg

Bisa dijadikan agenda tetap wisata daerah, bahkan nasional mengingat 2010 adalah Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat. Foto : Ilham Chandra

Olid_2_resize.jpg

LAMS International Bedar Race hanya mempertandingkan kategori sampan 8 orang pendayung. Foto : Cholid Nugraha

mumu_1_resize.jpg

Agar tidak mengganggu jalan menuju tempat perlombaan, area Istana Alwatzikhoebillah dan Mesjid Jami' dibuka untuk tempat parkir kendaraan bermotor. Foto : Mumu

DSC02622.JPG

LAMS International Bedar Race 2009 menjadi pusat perhatian masyarakat Kota Sambas dan bahkan mampu menyedot perhatian masyarakat dari luar Kota Sambas. Foto : Kathian

PEMBUKAAN FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA KE IX TAHUN 2009

Rabu (11/11) Depan Makorem 121/ABW, Jalan Rahadi Oesman Pontianak dibanjiri masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung acara pembukaan Festival Budaya Bumi Khatulistiwa ke IX. Agenda yang bertujuan menggali, melestarikan sekaligus mempromosikan seni dan budaya Kalimantan Barat, meningkatkan kunjungan wisata lokal maupun mancanegara dan mendorong berkembangnya sektor wisata ini, dihadiri kontingen dari beberapa daerah seperti Ketapang, Sintang, Kubu Raya, Singkawang, Landak, Sambas dan masih ada beberapa yang lain. Setiap kontingen menampilkan kesenian dari daerahnya masing-masing. Mulai dari musik, tarian hingga pakaian dan aksesoris tradisional.
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa diselenggarakan mulai tanggal 11 hingga 15 November 2009. Adapun acaranya meliputi pawai budaya, pemilihan bujang dare wisata khatulistiwa, parade lagu daerah, parade tari daerah, lomba makanan khas daerah, lomba layang-layang hias, lomba merias pengantin melayu, lomba tanjidor, festival barongsai, lomba merancang busana pengantin dayak, lomba syair dan pantun, lomba gasing dan menyumpit, terakhir ada acara penutupan.
“Melestarikan seni budaya daerah sebagai perekat dan pemersatu antar etnis untuk menuju Kalimantan Barat terbuka” diangkat menjadi sub tema dalam festival Budaya Bumi khatulistiwa yang diikuti oleh kabupaten/kota se- Kalimantan Barat, instansi terkait, kalangan usahawan bidang pariwisata, organisasi profesi/asosiasi yang bergerak di bidang pariwisata dan masyarakat luas. (mumu/12/11)

Pembukaan_FBBK_ian_1.JPG

Persiapan Paguyuban Jawa Barat dan Banten untuk melakukan pawai budaya. Foto Oleh : Ianimaru

Pembukaan_FBBK_ian_2.JPG

Keanekaragaman seni budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Kalimantan Barat merupakan sumber daya tarik wisata dan modal yang tidak kecil untuk membangun sektor pariwisata. Foto : Ianimaru

Pembukaan_FBBK_ian_3.JPG

Mempersiapkan Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah tujuan wisata unggulan yang lebih siap sebagaimana program Visit Kalbar 2010. Foto : Ianimaru

_sabda_._keriuhan_FBBK_2009_menarik_minat_penonton_hingga_ribuan..JPG

kali ini perhatian ribuan masyarakat terpusat di Jalan Rahadi Oesman, Pontianak. Foto : Sabda Agung.

_sabda__penampilan_tari_persembahan_kab_sanggau.JPG

Penampilan kontingen dari Sanggau. Foto : Sabda Agung

pembukaan_festival_bumi_budaya_khatulistiwa_1.JPG

Seni dan budaya daerah juga merupakan sarana untuk dikembangkan hingga menjadi suguhan menarik yang dapat dinikmati wisatawan lokal maupun mancanegara. Foto : mumu

pembukaan_festival_bumi_budaya_khatulistiwa_3.JPG

Kontingen dari Flobamora, Nusa Tenggara Timur. Foto : mumu

pembukaan_festival_bumi_budaya_khatulistiwa_4.JPG

Festival Budaya Bumi Khatulistiwa diselenggarakan mulai tanggal 11 hingga 15 November 2009. Foto : mumu

Buka Puasa Dengan Botok Mini (BONI)

Menjelang berbuka puasa, warga Pontianak memadati Taman Alun Kapuas untuk berbelanja keperluan berbuka puasa. Di antara sekian banyak pilihan yang di tersedia di tempat ini, kita dapat menemui salah satu jenis makanan unik yaitu botok mini (boni).

Disebut Botok mini karena bentuknya yang mungil.  Makanan ini memang cukup menggugah selera karena rasanyayang  sangat khas Pontianak, yaitu antara manis, pedas, asin, gurih dan sedikit rasa pahit. Semuanya menyatu menjadi sentuhan rasa yang enak.

100_4011.JPG

Hanya di temui di bulan Ramadhan, menjelang Idul Fitri dan Idul Adha. (Foto oleh : Tri)

Tidak hanya rasa yang menjadi daya tarik. Menurut kepercayaan masyarakat, boni berkhasiat mengobati maag dan darah tinggi. Makanan ini bisa dibilang hampir punah. Sebab bahannya  mulai sulit ditemukan seperti daun mengkudu, daun simpur, daun salam dan daun kunyit. Sedangkan untuk kelapa,  rempah, cumi, ikan tenggiri, pedak kembung dan santan kelapa masih bisa ditemukan dengan mudah. Dikarenakan  sulitnya mencari sebagian bahan tersebut, kini para pedagang  hanya menjual boni pada saat-saat tertentu saja seperti bulan Ramadhan, menjelang Idul Fitri dan Idul Adha.

Ernita, salah seorang pedagang boni mengatakan, untuk membuat boni harus mempunyai keahlian khusus dan kesabaran. Sehingga hasilnya betul-betul sempurna. Selain harus memberikan ramuan bumbu yang pas,  juga dibutuhkan kesabaran dalam pembuatannya. Dari meracik bumbu, mengikat dan merebus.

DSC_1459.JPG

Salah seorang warga Pontianak yang tengah bertransaksi membeli boni. (Foto : Eko Daulay)

“Untuk merebus Boni  butuh waktu sekitar dua jam. Karena kalau cuma sebentar, rasanya jadi kurang enak. Untuk mencampurkan kelapa dan rempah harus pas. Jangan sampai isi didalamnya ada yang keluar. Kesabaran juga menjadi satu hal yang sangat penting,” tutur Ernita.

Harga yang ditawarkan juga tidak mahal. Tergantung dari rasa dan isi botok.  Harga boni berkisar dari Rp 1000.00 hingga Rp 2500.00. Boni sangat wajib dicoba bagi anda yang gemar akan wisata kuliner lokal.  (Tri Yanto/4/9/09)

SOTONG PANGKONG. KULINER KHAS RAMADHAN

sotong_2.jpg

Berkisar dari 5.000 hingga 25.000 Rupiah

Pontianak, BOP, Bulan Ramadhan memang banyak mendatang berkah bagi kita semua dan di   setiap Bulan Ramadhan, sotong pangkong adalah salah satu ciri khas yang selalu ada di Kota Pontianak.

Kawasan Jalan Merdeka Barat memang kerap dipadati warga Pontianak yang ingin merasakan sotong pangkong. Dengan aromanya yang khas, setelah dibakar, cumi kering ini dapat disantap dengan air cabai dengan dua pilihan rasa yaitu, rasa ebi dan kacang,  lidah anda tentu saja akan merasakan sensasi yang jarang anda dapatkan di tempat lain.

sotong_8.jpg

Selalu ramai dikunjungi di setiap Bulan Ramadhan

Menjelang berbuka puasa, Dita warga Gang Kasuari telah siap melayani pembeli. Dengan ditemani 2 karyawannya, Dita yang meneruskan usaha keluarganya ini memang  selalu berjualan soto pangkong setiap Bulan Ramadhan tiba.

“Saya meneruskan usaha dari Ibu yang telah berjualan sotong pangkong selama 20 tahun,” ujar Dita yang ternyata memiliki  lima saudara yang  juga berprofesi sebagai pedagang sotong pangkong.

sotong_1.jpg

Kawasan Jalan Merdeka Barat yang dipenuhi pedagang sotong pangkong


sotong_5.jpg

Salah satu ciri khas Pontianak yang perlu dijaga dan dijadikan primadona

Sayangnya sotong pangkong hanya bisa kita temui di Bulan Ramadhan. Tak heran jika banyak penikmat yang memanfaatkan momen ini untuk  menyantap sotong pangkong sambil berkumpul bersama teman-teman, rekan kerja maupun keluarga.

“Saya jualan hingga pukul 1 atau 2 pagi. Alhamdulillah pembeli memang selalu ramai. Semoga pembeli terus ramai hingga akhir Bulan Ramadhan,” ujar Dita. Tentu saja harapan Dita diamini oleh pedagang-pedagang sotong pangkong yang lain.

Alangkah baiknya jika kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata kuliner yang dapat dijadikan kebanggaan warga Kota Pontianak. Di saat banyak orang yang bangga karena telah menghabiskan banyak rupiah hanya untuk merasakan makanan impor, mengapa kita tidak mengangkat makanan ciri khas daerah ini menjadi primadona yang salah satunya adalah sotong pangkong. (mumu. 24/8/09)

Pengalaman Susur Sungai Ke Pedalaman Sambas

Agenda Borneo Photography kali ini banyak menorehkan kesan-kesan mendalam bagi semua anggota BoP yang mengikutinya. Mau tahu bagaimana komentar dan cerita mereka?

Cholid Nugraha.
Pengalaman hunting ke pedalaman sambas menyusuri sungai menggunakan Kapal Todak milik Dinas Kelautan dan Perikanan sangat menyenangkan. Ditambah huntingnya bersama rekan – rekan dari Borneo Photography. Walaupun yang bisa ikut hanya sekitar belasan orang saja, tetapi tidak menyurutkan niat kami untuk hunting. Selama hidup ku, baru kali ini menyusuri sungai sambas untuk hunting menggunakan kapal. Selama perjalanan, banyak sekali hal–hal menarik yang aku lihat. Mulai dari aktivitas masyarakat di pagi hari, jamban berjejer sampai dengan pemandangan alam yang indah yaitu Gunung Senujoh. Dibalik kesenangan ini, juga terdapat hal yang tidak menyenangkan. Pada saat di perjalanan menyusuri sungai, tiba2 kapal yang kami tumpangi ada sedikit masalah, sehingga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana. Untuk keseluruhan, Hunting ke pedalaman sambas Top Banget. Nyesal deh bagi yang tidak ikut. Salam BOP…!

Anton Kopisiti
Dari awal udah niat pergi, walaupun harus ijin dari kantor untuk kerja setengah hari. Begitu agenda ini tercetus, awalnya saya ragu. Karena tugas masih menumpuk di kantor. Tapi ujung-ujungnya pergi juga meski tidak bersama yang lain. Saya baru bisa menyusul pada sore harinya. Sekedar info nih, baru kali ini saya menunggangi motor selama 6 jam dari Pontianak menuju Sambas. Alhamdulillah tiba dengan selamat dan kegiatan yang dijalankan sangat berkesan. Ternyata Sambas memiliki potensi yang sangat luar biasa. Khususnya Gunung Senujoh yang menjadi tujuan kami.

Ianimaru
Akhirnya kami tiba di Sambas!!! Sebuah kota di ujung utara Kalimantan Barat. Sebelas tahun yang lalu adalah kali terakhir saya menginjakkan kaki di Sambas. Walaupun sedikit berbeda dengan sebelas tahun yang lalu, Kota Sambas tetap menyimpan beragam keunikan. Apalagi keunikan kehidupan di tepi sungai, yang kali ini menjadi misi saya untuk kembali ke Kota Sambas. Beruntungnya saya dapat menikmati kehidupan di tepian sungai. Dimulai dari Muara Ulakan, Istana Alwatzikhoebillah sampai ke Desa Semanga’ dan akhirnya melewati Gunung Senujoh. Benar-benar pemandangan yang masih alami yang tidak akan ditemukan setiap hari dant tidak akan terlupakan. Saat matahari mulai meninggi, kami pun beranjak pulang ke Muara Ulakan. Akhir kata, SAMBASSSS TOPPP BANGETTTZ..ZZZ…..!!!

Eko DAULAY
Bicara tentang Sambas, yang terlintas dikepala saya adalah jeruk. Berawal dari itu juga saya sangat terpikat untuk pergi ke sebuah kota di ujung Kal-Bar tersebut. Kebetulan saya sendiri bukan orang asli Kal-Bar yang yang terobsesi yang mengelilingi provinsi ini suatu hari nanti. Dengan modal hobii fotografi, ditambah lagi dengan saya bernaung di BoP yang mudah-mudahan bisa menjadi jalan menuju obsesi saya tersebut. Berawal dari rasa kecewa saya yang gagal hunting ke Ketapang, tidak membuat Borneo Photography berdiam diri. Kali ini kami memutuskan untuk pergi ke pedalaman Sambas, dan hal ini membuat saya bersemangat kembali. Setelah menempuh perjalanan darat lebih kurang 6 jam, akhirnya kami tiba di Sambas dan saya tidak merasa capek sama sekali. Terlebih lagi saat kami menyusuri sungai Sambas dengan menggunakan KM. Todak 01. Sungai, gertak, rumah Lanting, orang memancing dan anak-anak kecil yang berenang adalah pemandangan yang kami dapatkan dalam agenda “Susur sungai ke pedalaman Sambas”. Ada satu hal yang membuat mata hati ini berbicara dan bersyukur akan keindahan dan eksotisme panorama yang Tuhan berikan, yaitu Gunung Senujoh (kata Senujoh berasal dari kata tujuh). Asri, magis dan imajinasi berpadu di indera penglihatan saya yang akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan tentang asal usul gunung yang satu ini. Saya sangat terkesima dengan cerita yang diberikan oleh Bapak Arifuddin selaku Kepala Desa Semanga’. Takjub, satu kata ini cukup menggambarkan pengalaman saya dalam menyusuri pedalaman Sambas. Ternyata selain jeruk, Sambas masih menyimpan potensi wisata alam yang masih terjaga keasliannya. Ditambah lagi aktivitas warga disepanjang sungai. Benar-benar rugi bagi member Borneo Photography yang tidak turut serta. Menyedihkan………!

Mumu
Ini hunting luar kota pertama saya bareng BoP. Awesome!!! So excited and more than we expected!!! Capek, bokong panas dan ngantuk selama diperjalanan nggak jadi trouble. Terima kasih banyak atas sambutan dari Drs. Dailami MSi sekeluarga, Suriawan dan teman-teman dari Pramuka Saka Bahari Sambas. Buat Bapak / Ibu yang berada di dinas terkait, kita punya potensi maju di sektor pariwisata lho. Hingga tulisan ini anda baca, saya masih ingat dengan kegiatan-kegiatan kami di Sambas, Gunung Senujoh, masyarakat Desa Semanga’, pengrajin kain tenun Sambas di desa Jirak, kejadian-kejadian di hotel, bikin foto narsis di jembatan, nongkrong di warkop depan hotel, and many more. Sayangnya kita cuma tiga hari di Sambas. Coba kalau tiga minggu, bakal kita kupas habis Sambas dari hilir sampai ke hulunya. Biar kayak National Geographic Adventure gitu. Borneo Photography = kick ass!!!

Nabila
Kali ini kami mendapat kesempatan menelusuri Sungai Sambas. Ketika embun pagi masih menyelimuti perairan, kami pun langsung berangkat. Tak hanya melihat-lihat, kami juga mengabadikan pemandangan-pemandangan yang tersaji di tepian sungai.
Dengan menggunakan KM TODAK 01 milik Dinas Perikanan dan Kelautan Sambas, kami memasuki daerah pedalaman. Saya dan teman-teman BoP yang lain sungguh terkesan dengan kegiatan-kegiatan masyarakat yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah kami temui di Pontianak. Petani, nelayan, dan pengrajin kain tenun Sambas.
Disini kami juga terkesima akan cagar budaya Kalimantan Barat yang sangat beragam. Masyarakat di pedalaman Sambas mayoritas masih menggunakan sampan, speed boat, dan kapal motor sebagai sarana transportasi utama untuk berangkat ke sekolah dan bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Solidaritas mereka juga sangat tinggi. Terbukti dengan ditunjukkannya sikap ramah-tamah yang hangat menyapa kami.

Ridwan
Udara yang segar, pagi yang cerah dan ditemani dinginnya udara pagi menambah rasa kantuk saya. Tapi petualangan adalah petualangan. Hal inilah yang memacu saya untuk memompakan darah ke seluruh tubuh agar lebih bersemangat. Pedalaman Sambas…yang terlintas di kepala saya adalah, tempatnya indah, sejuk, sederhana, dan bla…bla…
Ada lima poin yang ingin saya ceritakan disini. Lima poin yang seru.
Pertama. Istana Alwatzikhoebillah Sambas terlihat begitu menyilaukan. Karena tepat di belakang istana, matahari memancarkan sinar kehidupannya. Keren!!! Seperti di film-film. Bedanya di film-film itu hanya fiksi. Tapi Borneo Photography Susur Sungai ke Pedalaman Sambas IS REAL!!!
Kedua. Melihat gertak/jembatan Sabbo’. Dulunya jembatan ini pernah hancur karena dihantam rumah lanting dari Simbarang. Urang Sabbo’ kebabangan. Nak bejalan kepayahan. Kini jembatan Sabbo’ sudah dapat digunakan. Beberapa kendaraan terlihat sedang melintas diatasnya.
Ketiga. Jamban yang banyak terdapat di tepian sungai, merangkai nada-nada indah yang tentu saja tidak saya lewatkan untuk mengabadikannya.
Keempat. Antusias anak-anak kecil yang menyaksikan tim petualangan Borneo Photography dengan perangkatnya masing-masing. Sudah seperti artis saja. Mereka melambai-lambaikan tangan dan ada yang langsung bergaya narsis saat kami memotret mereka. Yang saya rasa aneh adlah, tak satupun saya melihat ada anak gadis disini. Dari tadi yang terlihat hanya ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak kecil yang berenang di sungai.
Kelima. Hati saya benar-benar damai dan pikiran menjadi jernih saat kami tiba di Desa Semanga’. (Meskipun sebenarnya saya sangat meras haus dan letih)
Di desa ini ibu-ibunya sangat perkasa. Mereka membelah kayu bakar dalam jumlah yang sangat banyak sambil ditemani anak-anak mereka yang masih kecil. Sekian

Qnoi

Susur sungai pedalaman sambas merupakan perjalanan terjauh saya dengan borneophotography. Kota ini sebenarnya sudah sering saya kunjungi,tetapi menyusuri sungai sambas bersama tim,sangat berkesan.Sungai yang tenang,pemukiman yang masih sederhana,serta gagahnya gunung senujoh.
Hanya keinginan yang kuat membuat kami bersama menyusuri sungai sambas,disini kami belajar untuk selalu berdampingan,berbagi,dan tertawa bersama.12-13-14 juni 2009 catatan sejarah penting tertulis dalam kertas kehidupan saya.salam bophians!!.

Abeth
Jum’at, 12 Juni 2009
09.30 WIB. Pontianak
Nabila datang jemput aku dan kami memulai perjalan menuju Sambas dengan dihiasi kemacetan. Banyak kendaraan yang memadati jalan dari segala penjuru menuju jembatan tol. Dari arah Imam Bonjol macet, dari Pasar Flamboyan macet juga. Tanjungpura juga macet. Bahkan kemacetan tersebut juga melanda Jalan A. Yani tepatnya di depan Gedung Kartini.
Ok… Lalu aku dan Nabila memutuskan untuk melewati Warkop Winnie, dan melalui Pasar Flamboyan. Menghindar dari macet, ternyata tetap juga kena macet. Biasa… Rupanya karena proyek pemkot yang tak kunjung selesai yg menyebabkan kemacetan.
Dalam perjalanan, kecepatan kami di atas 80 km. Sampai-sampai, 2 kali kami hampir aja bersilahturahmi dengan mobil dari arah berlawanan. Lagian mobil-mobil itu juga sih yg o’on. Masa mereka mau melewati kendaraan di depan mereka tanpa memperhitungkan kendaraan dari arah berlawanan.
Dari Pontianak sampai Purun Kecil, Nabila yang membawa motor dan aku navigatornya. Kami singgah di Purun Kecil untuk beli air botol 1,5 ltr. Lalu kami pergi mengisi bensin. Dari situ kami bergantian membawa motor. Selanjutnya aku yang bawa motor. Trus melewati Sungai Pinyuh, trus masuk ke Gerbang Mempawah. Horeee..
Kami udah nyampai mempawah, soalnya tinggal melewati Sungai Duri, singgah di Singkawang, langsung lanjut ke Sambas. Pas kami di Mempawah, aku sebenarnya sudah merasakan ada yang aneh dengan ban belakang…Yippieee….
Akhirnya ban motor Nabila kempes. Kecepatan motor waktu itu sekitar 70 km/jam. Untungnya di belakang kami tidak ada kendaraan. Kalau ada, kami pasti udah di tabrak dari belakang. Pupus dong goes to Sambas. Tapi keberuntungan masih di pihak kami. Syukur ban motor bocor, motor oleng, sempat berhenti di tengah jalan, untung tidak ada kendaraan dari belakang, langsung menepi. Dan… kami kebingungan mencari tampat tambal ban…
“Oiya, Nabila ingat.. Setelah Masjid, ada tambal ban. Soalnya Nabila juga pernah bocor ban di sini,” ujar Nabila.
“Rupanya Nabila sudah 2 kali bocor ban di tempat yg sama,” aku bilang gitu.
Trus motor dihidupkan dan tetap dibawa Nabila dalam keadaan ban kempes ke tempat tambal ban itu. Dan… aku… JALAN KAKI. Serasa 2 matahari diatas kepala aku.. Asli! Panas cuiii…. Kira2 jauhnya ±500 meter. Lumayan menguras keringat, hmmm… Mungkin sekitar 5 ons lah lemak aku berkurang.. :D hehehee. Setelah selesai ganti ban bocor, kami melanjutkan perjalanan.
Akhirnya sampai juga di Sungai Duri. Itu berarti sebentar lagi tiba Singkawang. Pas sampai gerbang SELAMAT DATANG di Singkawang, hmmmppfff… Akhirnya kami sampai juga di Singkawang.
“Bil, ada di sini yang namanya Bukit Emas, dari atas sana, kamu bisa lihat kota Singkawang. Kata kakak aku sih keren. Aku sih belum pernah ke sana. Singgah di sana yok…” ajak ku.
Motor sambil aku bawa ke arah Bukit Emas. Sampai di pertengahan jalan menanjak Bukit Emas, Nabila bilang, “
“Kenapa nggak kita sama-sama anak-anak yang lain aja? Kita tanya dulu mereka di mana,”
Ok…
Aku menelfon Bang Ae’, menanyakan mereka dimana. Lalu kami nyusul mereka di rumah makan padang. Apa ya nama jalannya…. Pokoknya, dekat kelenteng dan Masjid Raya…
Jam 3 sore lewat, kami semua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Sambas. Tapi…. Sebelumnya singgah sebentar beli kue mochi… Uuhh…. My fav….Kalau aku ke Singkawang, pasti beli si mochi… Murah lho… Rp 1000,-/pcs :D
Jum’at, 12 Juni 2009
18.10 WIB. Sambas, A8 dan Udang.
Perjalanan menuju Sambas, cukup membuat lelah, menguras tenaga, menguras emosi, tapi… Semuanya lenyap begitu merebahkan badan di kamar A8 Hotel Wella. Ada 4 kamar yg ditawarkan sama Ozzy…
3 diantaranya letaknya di lantai 2, sisanya di lantai 1. Sebenarnya aku tahu, Nabila cukup menyesal kenapa aku memilih di kamar A8 itu. Karna letak kamar A8 itu di bawah, mojok, gelap, lembab, dan tidak ada teman-teman lain yang di bawah. Semuanya di lantai 2. Tapi… Ternyata asyik juga di kamar A8. Walaupun kamarnya cukup lembab, tapi banyak nilai plusnya dibanding kamar teman2 yg lain di atas.
1. AC-nya berfungsi dengan sangat baik dan membuat kamar kami diiingiiinnn.
2. Tempat tidurnya empuk.
3. TV-nya jernih walaupun channelnya cuma 1 aja, karena diparalel dari depan. Tapi jauh lebih jernih donk dibanding TV di kamar Bang Ae’ yang seperti kamera LOMO! Hahahahahahha
4. Di kamar mandinya memakai bak besar. Airnya mengalir deras jika dibandingkan dengan kamar Bang Eko. Di kamar mandinya cuma memakai ember kecil dan mandinya antri.
5. Cuma aku sama Nabila yang tidur. Jadi tempat tidurnya luas banget dibanding dengan kamar Kinoy yang 1 tempat tidur berbagi dengan 3 orang! Hehehehehehe
Aku sama Nabila pikir kami tidak kemana-mana lagi setelah sampai. Jadi kami sedikit berleha-leha. Menunda mandi, memilih mengemaskan barang-barang untuk disusun di lemari pakaian. Tapiiiii…. Tok.. tok.. tok..
“Bet, Bil, cepat!… Kita ke rumah Ozzy sekarang… Makan malam di sana..!!”
“Hah????!!!! Beneran Bang…???? Iya. Tunggu bentar yaaa……!!”
“Bil…. Cepat ganti baju, cuci muka, sikat gigi, pakai bedak, pakai parfum! (baca: gak mandi) teman-teman udah nuggu kita. Nggak enak lama-lama!”
Tahu nggak??? Aku sama Nabila sama-sama tidak membawa handuk lho, hahahaha…. Udah gitu sama-sama nggak bawa sikat gigi, odol, dan sabun. Kami ke mini market depan Hotel Eella untuk membeli sikat gigi, sabun, odol, cemilan dan air minum.
Ada yang mau bertanya kami habis mandi ngelapnya pakai apa??? Hehehheee…. Pakai kain Bali punya Nabila. Syukurnya dia bawa 2 kain Bali. Jadi pas lah satu-satu, hahahahahahaaa…..
Goes to Ozzy’s home…
Yang tak pernah terlupakan di Sambas, kami dijamu rang tua Ozzy. Wowww…. Lauknya ada Sop, Ikan, dan…. UDANG…. Wuiihh… udangnya gede2…. Kapan lagi makan udang segede itu… kalau di Pontianak, tunggu ada acara keluarga besar, baru makan udang segede itu… Dapat dipastikan anak-anak BOP yang tidak ikut, NYESSEL ABISSSS!!! (dibaca : hahahahahhahaaaaaaaaa)
Habis makan di rumah Ozzy, aku, Nabila dan Bang Ae’ pulang ke Hotel Wella. Yang lainnya pergi hunting. Sesampainya di A8, aku mandi, sikat gigi, ganti baju tidur, dan… TIDUR…
Sabtu, 13 Juni 2009
05.00am. Hotel Wella, Gunung Senujoh
Tok… Tok… Tok…Entah siapa yang mengetuk pintu membangunkan aku. Trus aku membangunkan Nabila untuk segera mandi. Kami pun bergegas sarapan di depan hotel ada Warkop Wella.
Lalu kami segera pergi. Karena Ozzy sudah menunggu kami. Kalau tidak salah, kami start menggunakan kapal KM.Todak 01 sekitar jam 07.00 WIB. Waktu itu aku memakai handycam. Jujur, cukup sedih. Karna aku tidak ada kamera. Tapi perjalanan air waktu itu membuat aku cukup menghilangkan segala kepenatan. Perkampungan, jamban-jamban yg berderet, rumah lanting, dan…. GUNUNG SENUJOH!! Wooooooow!!!! Speechless dan semua orang kota pasti kagum setelah melihat pemandangan yang ajib-ajib…
Kami melewati Gunung Senujoh lalu berbalik arah, dan nyinggah di rumah Kepala Desa…. Lupa nama Desanya…
Ya di sana banyak ngobrol-ngobrol dengan beliau, dan istirahat sebentar sebelum melanjutkan kembali ke Sambas.
Perjalanan pulang ke sambas cukup membuat aku letih, lemah, lesu…Dan aku duduk di samping kapal. Melihat-lihat perkampungan-perkampungan.
Lalu kami singgah di Kampung… Kampung apa ya namanya?… Mmmmm….. Jirak!!! Iya, Kampung Jirak tuw…. Ha’ah.. Benarrrr….. Di sana ada kerajinan kain sambas. Setelah melihat-lihat, kami melanjutkan kembali pertualangan kami menelusuri sungai, melewati kembali Gunung Senujoh, melewati kembali perkampungan-perkampungan, rumah lanting, jamban-jamban yang berderet-deret, walaupun sempat kapal Todak yang kami tumpangi beberapa kali mendapat kendala. Dan tak sebentar kemudian, kami sampai di Alun-alun Sambas.
Kami singgah di Istana “…..” >>> Lupa nama Istananya. Itulah pokoknya. Di depan Istana, ada banyak orang jualan makanan, minuman. Dari Es Sanghai, Es Buah, Es Teller, hingga Es Teh. Kami semua memesan gado-gado. Laparrrr….
Puji Tuhan, yang jualan gado-gadonya kehabisan stock… Itu artinya,jualan gado-gadonya laris manis dan kami bersantap ria gado-gado… Setelah kampung tengah terisi, kami bernarsis ria di depan Masjid yg dekat Istana itu… Seruuu…
Tepatnya di luar pagar Masjid, ada komunitas motor Sambas sedang berkumpul dengan banyak pohon di mobil pick up. Rupanya salah satu diantara mereka ada teman Bang Ae’…
Kami diajak ikut menanam pohon di beberapa sekolah dasar. Pertamanya Bang Ae’ meng-Iyakan, tapi… Bang Ae’ mungkin prihatin melihat muka kami yg lusuh, bau keringat, bau matahari, rambut sudah acak adul, berantakan mirip gembel pokoknya. Dan finally Bang Ae’ memutuskan untuk tidak mengikuti acara mereka. Jadi kami bisa pulang dengan tenang, karena aku merindukan kamar A8…
Tapi sebelum mereka pergi dan kami pulang ke Hotel Wella, kami sempatkan waktu bernarsis ria. Borneo Photography & Komunitas Motor Sambas (kalo tidak salah itu nama komunitas motornya) membuat sesi foto bareng.
Malamnya teman-teman pada pergi hunting, aku juga ikut. Sudah selesai hunting, pulang ke A8, dan…. Bobok…. :D
Minggu, 14 Juni 2009
09.00 WIB Sambas, Singkawang dan Pontianak.
Kami tiba di pertemuan dengan anak-anak SMA Sambas, anak-anak Pramuka Saka Bahari Sambas, fotografer Sambas, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Sambas.
Disana kami berdiskusi masalah perjalanan kami menuju Gunung Senujoh, tentang photografi, banyak hal lah yang kami bahas, dari tanya-jawab juga. Waktu menunjukkan pukul 11 lewat, diskusi itu pun disudahi.
Kami melanjutkan makan siang, uuhhh…Makanannya maknyus2 deh…Pasadap sekali kata orang Manado, hehehe…
Kami foto bersama, dan sekitar jam 13.00 WIB, kami memutuskan kembali ke Pontianak. Waktu itu agak gerimis, dan….. HUJAN!!!! Uhhhh.. Nabila tidak membawa mantel, jadi kami singgah di emperan toko, dan hanya bisa melihat Cholid dan Mumu lewat pake mantel, begitu pula dengan Bang Eko, Bang Ae’, Bang Anton…
Aku berdiskusi dengan Nabila. Bagaimana kalau kita terobos hujan, kita beli mantel??
“Ok,” kata Nabila..
Kami ke mini market di depan Hotel Wella dan melanjutkan perjalanan, dan… Pas sudah mau dekat rumah Ozzy, hujan lebat jadi gerimis yang mau mereda!!!! Benciiiii!!!! Uhhh…..
Ternyata teman-teman lagi makan udang dan mi gorang buatan Mama-nya Ozzy. Kenapa makan udang lagi??? Karena eh karena keinginan dari Bang Andre, Bang Anton dan Bang Ianimaru yang belum kebagian jatah makan udang,,,,Hihihihihi
Jam 14.00 WIB, kami berpamitan dengan Bapak Drs. Dailami MSi sekeluarga. Kami mengucapkan banyak terima kasih karena sudah di terima dengan baik di Sambas, dan sudah dijamu makan udang…
Waktu perjalanan keluar dari Sambas. Tahu nggak?? Aku sama Nabila ngeliat Gunung Senujoh dari kejauhan. Dan… Ternyata di sisi gunung itu ada berderetan anak gunung yang setelah aku sama Nabila hitung-hitung ada 7. Nah lho.. Berarti Gunung Senujoh itu berarti punya 7 anak gunung kalo gitu….Keren lhooo….
Kami singgah di Pemangkat, teman-teman mau motret kelenteng di sisi bukit. Ok… Lanjut…. Kami sampai di Taman Burung Singkawang.
Sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan, dan janjian bertemu dengan calon anggota BOP baru, seorang wanita dewasa, umurnya sekitar 30’an gitu deh…Beliau tertarik banget kayaknya ikutan gabung BOP.
Ehmmmm….. Kapan pulang??? Jam 4, Beth…Ho’oh, jam 4 mau jam 4.30 ternyata kami langsung cekedot.
Eiittt… Saya beli kue mochi dulu… :P Aku beli 10 pcs, Nabila beli 20 pcs.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Aku ikut menemani teman-teman sholat di Masjid terdekat.
Lalu Nabila berinisiatif memberikan 10 mochi untuk dimakan bersama-sama sebelum melanjutkan perjalanan. Lanjut lagiiii…..
Mmmm… sekitar jam 20.00 WIB, kami tiba di Sungai Pinyuh, rehat sebentar di warkop sambil nonton GP… Ehhh.. Tak lama kemudian, kami tiba di Batu Layang.
Thx GoD…Akhirnya sampai di Pontianak. Tak terasa melewati 2 jembatan tol. Pas di tol 1, cowok aku nelpon. Aku minta jemput aja sama dia di depan batagor Imbon. Jadi Nabila bisa langsung pulang. Kasihan dia daripada bolak-balik mengantar aku. SPas di lampu merah, aku menegur Bang Ae’. Aku bilang, “Balek Bang..”
Lalu Bang Ae’ bilang “Kita ngopi dulu yuk.”
Waduh…. Tak sanggup aku mau ngopi lagi. Badan ini udah capek aaaaaaa….Aku juga udah bilang minta dijemput. Nabila mengantar aku di dekat batagor. Kami pun membagi kue mochi yg ada 20 buah.
Ehhh… Pas plastiknya dibuka, keadaan kue mochi sangat mengecewakan. Bentuk beserta isinya berantakan. Hahahhahaa…Kami bagi kue mochi dengan rata. Tak lama kemudian aku sudah di motor dan menuju rumah…
Habis simpan tas, aku langsung mandi biar tidurnya enak…
Tak banyak yang aku ucapkan selain kata terima kasih kepada Tuhan Yesus. Jika tanpa campur tangan-Nya, aku tidak bisa merasakan perjalanan di Sambas selama 3 hari 2 malam. Dan hanya karena perlindungan dan penyertaan-Nya lah aku bisa sampai kembali di Pontianak dengan selamat dan tanpa kekurangan satu apa pun. Thx a lot GoD…
Selain itu, tanpa ada dukungan dari Bapak Drs. Dailami MSi selaku orang tua Ozzy, mungkin perjalanan kami tidak seseru ini. Apa lagi dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan. Dan semua teman-teman yang menemani perjalanan expedisi Sambas ini. Dan.. orang tua yang telah mengizinkan kami pergi ke Sambas. Hmmmm…..Perjalanannya cukup membuat terkesan. Tapi kalau ada Expedisi Goes to Sambas episode yg ke-2, aku harus pegang kamera!!! Hihihihihiihiii……

Ande Anjang
Awalnya bête juga hunting ke sintang gak jadi, ke ketapang juga gak jadi, arrrrggghhhh. Akhirnya berunding dan berindung dengan para BoPhians tercetus ide ke sambas, kemudian kami pun menghubungi salah satu BoPhians, Fakhrozi Daeriza, taaaaaraaaaaaaaaaaa akhirnya sip sudah agenda hunting kesana. Menjelang hari H persiapan sudah kulakukan mulai dari check motor, nyiapin baju, kamera, laptop, n tentunya internet buat disana. Tepat hari jumat 13 Juni 2009, setelah ijin kerja dengan bos dikantor, lepas jumatan langsung pulang, ngecek barang-barang lagi, trus ke rumah KomBi, nungguin bang Anton n bang Ian, sementara yang lain sudah pergi duluan pada pagi harinya. Brummmmmmm, jam setengah 4 pun meluncur ke Sambas dari Pontianak, tiada halangan berarti kami bertiga kami pun sampai ke Pinyuh, ngisi bensin, trus ngisi kopi kedalam tenggorokan ini biar gak ngantuk, setelah selama kurang lebih 30 menit, kami bertiga pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di kota amoy, Singkawang kurang lebih jam 8.30 malam, aku pun mengisi minum motor ku yang berkurang selama perjalanan, kemudian menuju jalan Diponegoro untuk mengisi perut yang lapar selama perjalanan tadi sambil beristirahat sejenak. Ah..terisi sudah perut ini kemudian kami pun melanjutkan perjalanan ke Sambas, aduh sempat bingung juga keluar dari Singkawang karna sudah malam ditambah agak2 lupa jalan di Singkawang, hehehehehehehe. Akhirnya ketemu juga penunjuk jalan menuju pemangkat yang menuju ke sambas. Motor pun melaju menembus malam (mane dingin agik tu), yang membuat was was adalah sepanjang jalan ada beberapa yang tidak ada lampu di tambah gak ada marka, bingung juga liat arah jalan terutama tikungan. Akhirnya sampai sudah di Pemangkat, ahhhhh kejadian lagi seperti di Singkawang, bingung cari jalan ke Sambas, mana udah malam ditambah baru pertama kali ke Pemangkat, gak tau jalan lagi, di tambah peta GPS gak lengkap. Akhirnya mampir ke pos TNI, bang Ian pun bertanya ke penjaga pos, setelah dijelaskan, kami pun melanjutkan perjalanan kami, tapi…….ahhhhh masih bingung juga, sempat kelewatan tikungan yang dimaksud (maklum makin malam makin rabun). Yeahhh akhirnya ketemu juga penunjuk jalan menuju Sambas, motor pun di pacu kencang ke Sambas, sekitar jam 10 kurang kami pun sudah memasuki Kabupaten Sambas. Kami berhenti di dekat salah satu bank swasta di Sambas, sambil melepas lelah ditambah gak tau dimana hotel tempat kami menginap, kami pun menghubungi bang ae untuk menyusul kami dan kemudian setelah bang ae datang, kami pun menuju ke hotel. Senang rasanya melihat tempat tidur di tambah AC yang sejuk. Tapi temen2 yang lain mana ya? Rupanya mereka hunting memotret Sambas saat malam hari. Di hotel bang ae bikin hal, bikin iri dengan bilang dirumah ozy ada pesta udang. Huaaaaaaaaaaaaaa… tau gitu bakalan ngebut abis dari Singkawang, gila udang galah bo.., 3 piring gede lagi, bang ian n bang anton juga bête mendengarnya, kompor iri pun bertambah saat temen2 yang lain menunjukkan foto udang yang tadi ada dirumah ozy, asli dah ngences ngeliatnya. Tapi sudahlah, makin malam nih, esok musti bangun pagi buat hunting susur sungai, akhirnya mata ini pun terlelap. Jam 6 pagi kami semua pun berangkat dari hotel menuju Waterfront Muare Ullakan Sambas, KM Todak sudah menunggu disana. Para BoPhians naik ke KM Todak dan kapal pun mulai bergerak menyusuri sungai. Waahhh ternyata pagi di Sambas sungguh mengasikkan bagi saya apa lagi berada di atas kapal ini sambil menyusuri sungai, kamera pun terus merekam moment yang ada, kapal klotok yang penuh dengan penumpang, rumah lanting, tepian sungai sambas yang menurut saya masih alami. Kami pun berhenti di desa Semanga’, memotret dan berinteraksi dengan warga sekitar. Kami juga singgah dirumah Pak Kades. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai-sungai. Walau panas terik dan kantuk karna lelah menyerang mulai menyerang, tapi tetap tak henti memotret. Kami juga berhenti di desa Sejirak, dimana mayoritas masyarakatnya adalah penun kain tenun sambas, mereka menenun dengan alat yang tradisional. Setelah dari desa Sejirak, kami pun kembali ke Water Front City Muare Ullakan Sambas dan kemudian beristirahat kembali di hotel. Malam harinya kami semua bersantai menikmati suasana malam kota Sambas. Sungguh tenang di banding riuh ramai kota kelahiranku yang terkadang membuat ku penat. Pada hari minggu kami bertemu dengan para anggota pramuka Saka Bahari Sambas. Antusiasme mereka membuat saya senang, mereka tertarik untuk melihat foto-foto yang telah kami dapatkan sepanjang perjalanan. Tak terasa acara pun usai, kami pun berpamitan dan foto bersama. Saat akan pulang ke Pontianak, hujan turun memaksa kami untuk berhenti sejenak dirumah teman kami Fakhrozi, setelah hujan reda kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke Pontianak. Sambas, sungguh berkesan, suatu hari aku akan kesana lagi.

Mulya
Ini pertama kalinya aku bergabung dengan sebuah komunitas fotografi (Borneo Photography). Lebih kurang aku menunggu teman-teman dari Pontianak dari daerah asalku, Singkawang. Karena fantasiku sudah tidak sabar untuk menginjakkan kakiku ke Serambi Makkah, Sambas. Susur sungai ke pedalaman Sambas adalah pengalaman pertama kalinya bagiku. Niat dan mental kusiapkan walaupun aku harus meraba dan banyak bertanya dengan teman-teman BoP yang lain . Maklum, aku baru belajar motret. Pengalaman ini sangat membuatku terkesan dan tidak akan pernah terlupakan. Asyik, keren, indah dan LUAR BIASA. Terima kasih Borneo Photography yang telah menambah pengalamanku.

Indra Ae’
Religi, kuat akan tradisi yang menyatu dalam budaya khas sepanjang jalan yang aku rasakan. Masyarakat yang bersahabat dan senyum hangat yang membuat aku merasa betah untuk berlama-lama dalam perjalanan susur sungai ke pedalaman Sambas. Saying sekali momen di sepanjang jalan untuk aku lewatkan, tetap menjadi sasarn empuk di mata lensa untuk aku abadikan. Panas, letih tak menjadi halangan memeruskan perjalanan bersama teman-teman BoP. Canda dan tawa mungkin menjadi ciri khas teman-teman dalam perjalanan kali ini. Mungkin itu juga yang membuat kami tetap semangat , walaupun di sela-sela perjalanan tersebut selalu saja ada kekurangan. Mau itu perlengkapan yang kami bawa, atau konsep yang sudah kami susun dari awal tidaklah bisa diterapkan 100% ketika di lapangan. Ya, memang aku akui. Improvisasi adalah salah satu kunci utama untuk mengatasi segala permasalahan yang ada. Faktor keberuntungan hamper berpihak hampir ke seluruh peserta perjalanan. Ternyata potensi yang ada di Sambas sangatlah banyak. Khususnya pariwisata. Tapi sayang, potensi tersebut tidak tergarap dengan maksimal..Bahkan terkesan dibiarkan begitu saja. Ayo Sambas! Kapan lagi?! Manfaatkan potensi yang ada di daerahmu.
Berkesan! Sangat berkesan! Hal tersebut menjadi pengalaman yang menarik bagiku. Mungkin aku akan kembali untuk melakukan perjalanan yang sama. Tentunya dengan jalur yang berbeda. Tunggu kami Sambas! Dalam perjalanan susur sungai yang kedua.

« Previous Page