Bookmark and Share

Festival Budaya Bumi Khatulistiwa X. Parade Budaya

Pontianak, Selasa (20/9) Dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur, Drs. Christiandy Sanjaya, SE, MM. Parade Budaya berlangsung di Jalan Rahadi Oesman, Pontianak.  Diikuti oleh Marching Band Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Tanjungpura dan peserta dari beberapa kabupaten dan kota di Kalimantan Barat seperti Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Landak, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Landak, Kabupaten Sambas, Kota Singkawang dan Kota Pontianak.

Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) merupakan  event utama Pariwisata Kalimantan Barat. Tahun 2011 merupakan tahun ke -10 diselenggarakannya FBBK. Sayang, pada penyelenggaraan tahun ini FBBK terkesan digarap tidak maksimal. Ini terlihat dari jumlah perserta dan pengunjung, tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. (mumu/21/9)

resize_mumu_2new.jpg

Tri_1.jpg

ian_2.jpg

berry_3.JPG

berry_2.JPG

berry.JPG

edit_5_resty_new.jpg

parodi_IP_KalBar_foto_1new.JPG

edit 1 resty new_1.jpg

olid_1.JPG

olid_2.JPG

resize_anton_1new.jpg

resize_anton_2new.jpg

resize_anton_3new.jpg

resize_anton_4new.jpg

resize_anton_5new.jpg

resize_anton_6new.jpg

resize_anton_7new.jpg

ian5.jpg

resize_anton_8new.jpg

resize_anton_9new.jpg

Tri_5.jpg

pokok_telok_SBS_foto2new.JPG

suling_MPW_foto3new.JPG

KAMPONG SAMPIT

Kampong Sampit terletak di tepian Sungai kapuas, Kecamatan Pontianak Timur, Kalimantan Barat. Kampong Sampit menarik dan unik karena keberadaannya. Kampong Sampit juga tidak kalah menarik sebagai tempat tujuan wisata. Kita dapat menyusuri gertak (jembatan panjang yang terbuat dari kayu belian), kehidupan sosial masyarakatnya yang ramah dan bersahabat yang membuat kita betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu menikmati indahnya Sungai kapuas di sore hari. (Indra Ae’/11/11)

kampong_sampit_1_webop.JPG

Kampong Sampit. Perkampungan di atas air. (Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_2.JPG

Salah satu kegiatan masyarakat di kampong Sampit ( Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_3.JPG

Kegiatan seperti ini masih dapat kita jumpai di Kampong Sampit. (Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_4.JPG

Salah satu sudut perkampungan di Kampong Sampit. (Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_5.JPG

Sebagai tujuan wisata budaya di Pontianak. (Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_6.JPG

Gertak. Sarana utama dalam menyusuri perkampungan di atas air. (Foto: Indra Ae')

 

MERIAM KARBIT

Lokasi wawancara : Gang Kuantan dan Gang H Mursyid.
Lokasi foto : Gang H Mursyid dan Jalan Tanjung Raya 2, Gang Rizki
Tahun liputan : 2009

Jauh di masa teknologi tidak secanggih sekarang, meriam karbit digunakan sebagai alat untuk membangunkan orang sahur, penanda waktu untuk berbuka puasa dan imsyak. Konon, asal-usul berdirinya kota Pontianak juga di awali dengan dentuman meriam. Terlepas dari cerita-cerita itu, kini meriam karbit telah dianggap sebagai tradisi dan budaya oleh masyarakat Pontianak.
Masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas memiliki tradisi yang khas dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.
Secara gotong royong mereka mengangkat kembali meriam-meriam karbit yang mereka simpan di dalam sungai. Kegiatan ini biasanya mereka lakukan seminggu sebelum Ramadhan. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu kegiatan warga bersama keluarga saat hari pertama menyambut Ramadhan. Agar tidak mengganggu aktivitas warga yang bekerja di berbagai profesi, pengerjaan meriam karbit dilakukan pada malam hari setelah sholat terawih.

meriam2.jpg

Terbuat dari kayu yang tergolong keras. Meriam-meriamkarbit seperti ini dapat dipakai selama 5 hingga 15 tahun. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

meriam3.jpg

Setelah meriam diangkat dari sungai, meriam dibongkar dan dibersihkan.Rotan digunakan untuk mengikat meriam yang bagian dalamnya telah dibersihkan. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Beberapa meriam karbit yang “tertidur” lebih kurang setahun lamanya, kini “dibangunkan” kembali. Karena terbuat dari kayu yang tergolong keras, meriam karbit dapat digunakan 5 hingga 15 tahun.
“Biar awet, kami menggunakan kayu meranti batu atau kayu mabang,” terang Tarmiji yang mendapat keahlian membuat meriam secara turun temurun dari keluarganya ini.Karena menggunakan “stok kemarin”, Tarmiji dan kawan-kawan tidak perlu repot-repot lagi mencari kayu log. Sekarang mereka hanya membongkar dan membersihkan meriam lama yang kemudian kembali mereka rakit dan simpai (ikat) dengan menggunakan rotan.
Penggunaan rotan dalam proses pembuatan meriam karbit juga tidak bisa dibilang sedikit. 1 ton rotan baru bisa digunakan untuk tujuh atau delapan meriam. Jika harga untuk 1 kilo rotan saja harus merogoh kocek sebesar Rp 2.500,00 itu sama saja mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.500.000,00 untuk 1 ton rotan. Belum lagi biaya yang wajib dikeluarkan untuk membeli karbit.
Salah satu sumber mengatakan, mereka tidak bisa menentukan berapa banyak karbit yang harus mereka beli karena harus disesuaikan dengan dana yang terkumpul dari hasil swadaya masyarakat setempat. Ditambah lagi harga karbit yang selalu naik setiap tahun. Kini harga kayu log bisa mencapai harga 3 hingga 5 Juta per buahnya.
Jika setiap menjelang Ramadhan semua pelaku meriam karbit diharuskan memakai kayu baru, bayangkan dampaknya bagi lingkungan. Di lain sisi Pemerintah tengah giat memberantas illegal logging, tapi di sisi yang lain lagi banyak pihak yang merasa tradisi dan budaya meriam karbit sangat perlu dijaga kelestariannya.

meriam4.jpg

Dikerjakan secara gotong-royong. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

meriam5.jpg

Masyarakat berkumpul dan beramai-ramai membedah meriam setelah usai mengerjakan sholat tarawih. (Foto :Eko Suryanto Daulay)

Ukuran meriam bervariasi. Terpendek 4 meter dan yang terpanjang ada yang mencapai 8 meter. Sedangkan diameternya 40 cm untuk meriam karbit yang kecil, dan 70-80 cm untuk meriam karbit yang berukuran besar.
Sejarah meriam karbit juga pernah mengalami masa suram. Karena suara dentuman meriam karbit dianggap mengganggu, di era 90-an pernah terjadi razia meriam karbit yang digencarkan oleh aparat hukum. Barang siapa yang terbukti tengah membuat meriam karbit atau bahkan ada yang membunyikannya, meriam karbit tersebut akan segera di musnahkan.
“Makanya pada saat itu banyak warga yang membuat meriam jauh dari sungai,” kenang Mochtar yang menjabat sebagai RT di Gang Kuantan.
Razia meriam karbit tentu saja memancing reaksi dari warga yang menganggap meriam karbit adalah salah satu aset budaya Pontianak yang harus dilestarikan. Dibentuklah Persatuan Meriam Karbit se- Kalimantan Barat yang melayangkan protes ke Walikota. Walaupun memakan waktu yang cukup lama, akhirnya keluarlah peraturan dari pemerintah yang memperbolehkan meriam karbit kembali aktif di tiga hari menjelang hari raya dan tiga hari setelah malam takbiran. Cukup membanggakan saat meriam karbit pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia tahun 2007 silam.

meriam1.jpg

Masuk Museum Rekor Indonesia pada tahun 2007. (Foto : Mumu)

Puncaknya kawasan tepian Sungai Kapuas akan terlihat sesak dan padat saat malam takbiran tiba. Ribuan warga dari seluruh bagian kota Pontianak berduyun-duyun datang demi menyaksikan dentuman meriam dari dekat.
Bukan konser dangdut, bukan pula konser rock ‘n roll, tetapi budaya ini dapat menyedot perhatian ribuan warga Pontianak untuk datang ke tepian Sungai Kapuas. Sebuah tradisi yang telah mendarah daging, tradisi yang berbunga budaya yang semoga terus terlestarikan, terjaga dan dipatenkan agar tidak lagi diklaim bangsa lain yang mengaku serumpun. (mumu/22/08/)

Rumah Betang Desa Lingga

Desa Lingga adalah salah satu desa di Kecamatan Ambawang. Di desa ini terdapat sebuah rumah adat betang Dayak Kanayatn yang terletak di dekat Lapangan Petir, Jalan Trans Kalimantan.
Rumah adat ini tidak berpenghuni. Masyarakat menggunakan rumah betang ini sebagai pusat pertemuan adat dan berkesenian. (Eko Suryanto Daulay/14/8)

resize_1.jpg

Rumah Betang Desa Lingga. Berada di Jalan Trans Kalimantan, Desa Lingga, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_2.jpg

Rumah Betang suku Dayak Kanayatn ini didirikan dari hasil swadaya masyarakat pada tahun 1991. Pada tahun 1992 Naik Dango pertama kali digelar di rumah adat ini. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_3.jpg

Selain digunakan untuk pertemuan adat, rumah betang juga digunakan sebagai tempat berkesenian tari dan musik. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_4.jpg

Dibangun dengan menggunakan kayu mabang. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_5.jpg

Pintu dibuka dengan cara ditarik dan diikatkan pada tali. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_6.jpg

Lumbung padi. Hasil panen warga dikumpulkan di lumbung ini. Jika ada salah satu warga yang berhajat, padi-padi di lumbung dapat digunakan yang nantinya dapat diganti di lain hari. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_8.jpg

Lesung padi ini telah ada sejak rumah betang dibangun. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_9.jpg

Fransiskus Kiling, salah satu pengurus rumah adat. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Masjid Abdullah

Diambil dari nama ayah Nabi Muhammad SAW, Masjid Abdullah didirikan pada tahun 2009 di Komplek Golf Permai, Siantan Hulu, Pontianak Utara. Sekilas mesjid yang dibangun dari dana swadaya masyarakat ini terlihat sangat kental arsitektur Tionghoa-nya. Sebagai perancang masjid, Maxie Andie Mendur (47) menerangkan beberapa bagian masjid memang terinspirasi dari bangunan Tionghoa seperti atap, jendela dan gerbang masjid.  ”Warna hijau menggambarkan nuansa Islam dan warna kuning menandakan nuansa Melayu”.

Memakan waktu pembangunan selama 8 bulan, Masjid Abdullah dapat menampung kapasitas sebanyak 120 hingga 150 jemaat. “Dalam seminggu, biasanya kita mengadakan 2 hingga 3 kali takziyah untuk anak-anak. Setiap hari besar Islam juga diperingati di masjid ini. Dana pembangunan masjid berasal dari swadaya masyarakat baik yang muslim maupun non muslim,” ujar ayah dari Irene Natasha Mendur dan Grace Nathania Mendur ini. (mumu/8/8)

web1new.jpg

Minaret Masjid Abdullah ditopang oleh lima tiang yang menandakan sholat lima waktu yang merupakan tiang agama Islam. (Foto : Anton Kopisiti)

web2new.jpg

Dibangun dari hasil swadaya masyarakat baik yang muslim maupun non muslim. Dapat menampung 120 hingga lebih kurang 150 jemaat. Didominasi warna hijau yang menggambarkan nuansa Islam dan warna kuning yang menggambarkan nuansa Melayu.(Foto : Anton Kopisiti)

web3new.jpg

Pintu gerbang masjid yang berarsitektur Tionghoa ini menyimbolkan kekuatan dan kekokohan Islam. Karena umat Islam dari etnis apapun tidaklah berbeda. Semuanya menyembah Allah SWT. (Foto : Anton Kopisiti)

web4new.jpg

Jendela berlafaskan kalimah Allah. Ditengahnya ada lingkaran yang menggambarkan dunia. Di sekeliling lingkaran tersebut ada 17 lekukan. Ini adalah simbol bahwa seluruh umat Islam di dunia melaksanakan sholat wajib sebanyak 17 rakaat. Desain jendela ini merupakan masukan dari pemangku adat Kesultanan Sambas.(Foto : Anton Kopisiti).

web5new.jpg

Maxie Andie Mendur, "dalam seminggu, biasanya kita mengadakan 2 hingga 3 kali takziyah untuk anak-anak. Setiap hari besar Islam juga diperingati di masjid ini." (Foto : Anton Kopisiti)

web6new.jpg

Didirikan pada tahun 2009. Nama Masjid Abdullah diambil dari nama ayah Nabi Muhammad SAW. (Foto : Anton Kopisiti)

Pernak Pernik Khatulistiwa

Pontianak, BOP. (31/7) Tugu Khatulistiwa merupakan salah satu ikon wisata di Indonesia. Tugu Khatulistiwa berada di jalan Khatulistiwa, Kelurahan Siantan, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

Di area sekitar Tugu yang telah berdiri sejak 1928 itu, terdapat salah satu tempat penjualan cinderamata khas Kalimantan Barat. Pengunjung yang telah berkeliling dan menikmati pesona Tugu Khatulistiwa dan Sungai Kapuas, dapat langsung mencari cinderamata yang diinginkan sebagai oleh-oleh dan bukti mereka telah mengunjungi ikon pariwisata tersebut.

Narasi oleh : Zeinur,M
Foto-foto : Ande, Eko Suryanto Daulay, Zeinur M

Toko Souvenir "Sapta Pesona" dahulu bernama "Warung PKK". (Photo: Ande, 2010)

Sejak berdiri tahun 1992, ruangan berukuran 6x4 meter ini, menampung segala jenis cinderamata yang dijual. (Photo: Zeinur M, 2010)

Amelia, 51 tahun (kiri)-Pemasok cinderamata, Samsidar, 34 tahun (kanan)-Pembina Toko "Sapta Pesona", "Penjualan cinderamata meningkat selama dua tahun belakangan", ujar mereka. (Photo: Ande, 2010)

Miniatur Tugu Khatulistiwa ini dijual berkisar antara Rp 20.000 sampai 350.000, tergantung ukuran miniatur tersebut.(Photo: Ande, 2010)

Kreativitas yang tinggi dari para pengrajin menjadikan produk cinderamata ini dinamis mengikuti perkembangan zaman. (Photo: Eko Suryanto Daulay & Ande, 2010)

"Harga cinderamata disini cukup terjangkau bagi orang kebanyakan", ujar Ibu Dedeh, 46 tahun asal Bekasi yang telah dua kali mengunjungi toko cinderamata ini. (Photo: Ande, 2010)

Semakin ramai acara-acara yang dilaksanakan di Kalimantan Barat baik yang berskala nasional maupun internasional ikut mempengaruhi tingkat penjualan. (Photo: Ande, 2010)

Corak dan simbol khas Kalimantan Barat menjadi daya tarik utama. (Photo: Eko Suryanto Daulay & Ande, 2010)

Cinderamata yang paling banyak digemari oleh pengunjung ini berkisar antara Rp. 5.000 hingga Rp. 100.000. (Photo: Eko Suryanto Daulay, 2010)

Beragam jenis cinderamata yang ada umumnya melambangkan simbol dan keanekaragaman budaya di Kalimantan Barat (Photo: Eko Suryanto Daulay & Ande, 2010)

PEMBUKAAN CAP GO MEH DI KOTA PONTIANAK OLEH MENTERI KEBUDAYAAN & PARIWISATA

Tabuhan gong oleh Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menjadi tanda dibukanya Festival Cap Go Meh 2561, di Kota Pontianak, 24 – 28 Pebruari 2010.

Bunyi berulang-ulang dari tabuhan gendang khas budaya Tiong Hua oleh Menbudpar Jero Wacik juga di ikuti oleh Gubernur Kalimantan Barat beserta Muspida yang hadir pada acara tersebut, Perayaan Cap Go Meh yang dipusatkan di Jalan Diponegoro dan Agus Salim, disaksikan ribuan warga kota itu.

Pembukaan Festival Cap Go Meh juga diawali dengan tarian tiga etnis, yaitu dari etnis Melayu, Dayak dan Tionghoa dengan tema “damai daerahku dan damai negeriku” yang dibawakan oleh beberapa anak muda dari ketiga etnis tersebut. Ini menunjukkan keharmonisan suku bangsa, dan agama di Kalimantan Barat umumnya dan Kota Pontianak khususnya. Ini juga membuktikan Kalbar sebagai daerah yang layak, aman dan nyaman untuk dikunjungi para tamu-tamu dari daerah lain, baik tamu nasional maupun turis dari manca negara.

Dalam kesempatan itu Jero Wacik juga menandatangani prangko edisi khusus Cap Go Meh 2010 dan menyematkan bola naga di miniatur naga yang terbuat dari ribuan bunga melati.

Jero Wacik dalam sambutannya, menyatakan sengaja datang ke Pontianak untuk menyaksikan secara langsung kemeriahan perayaan Cap Go Meh. “Sebenarnya saya juga dijadwalkan membuka Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang, berhubung, Kamis (25/2) ada agenda rapat kabinet bersama Presiden RI, rencana itu batal,” ujarnya.

Meskipun batal membuka Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Jero Wajik berharap tahun-tahun mendatang bisa hadir pada perayaan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Jero Wacik menyampaikan kekagumannya terhadap Perayaan Cap Go Meh di Pontianak yang berlangsung lancar dan meriah. “Apalagi perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak khususnya, dan Kalimantan Barat umumnya didukung oleh semua etnis,” katanya.

Dukungan semua etnis itu tampak, dari antusiasme semua masyarakat di kota Pontianak untuk menyukseskan Perayaan Cap Go Meh demi “Visit Kalbar 2010″. “Kami telah mengagendakan Visit Kalbar 2010 dalam agenda nasional,” ujarnya.

Jero Wacik berharap setelah kepulangannya iklim wisata di Kalbar lebih maju lagi karena didukung oleh semua pihak. “Biasanya setelah kehadiran saya di suatu kota, maka akan berdampak semakin menggeliatnya minat wisatawan mencanegara untuk berkunjung ke kota tersebut. Kami siap mempromosikan objek-objek wisata di Kalbar, baik tingkat nasional maupun internasional,” katanya. (24 /02/2010 Afdhal )

_MG_8873.jpg

Menteri Kebudayaan & Pariwisata dan Gubernur Kalimantan Barat beserta MUSPIDA KALBAR menabuh Gendang Khas Tiong Hua yang menandakan Festival Cap Go Meh resmi di buka (foto: b_dal)

_MG_8840.JPG

Gubernur Kalimantan Barat Drs.Cornelis, M.H memberikan sambutan dalam acara Pembukaan Festival Cap Go Meh. ( foto: b_dal)

_MG_8859.JPG

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata memberikan sambutan dalam acara Festival cap Go Meh. (foto:b_dal)

_MG_8812.jpg

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Gubernur kalimantan Barat dan MUSPIDA beserta tamu Undangan menyaksikan Tarian Tiga Etnis, yaitu dari etnis Melayu, Dayak dan Tionghoa dengan tema "damai daerahku dan damai negeriku" (foto: b_dal)

_MG_8712.jpg

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dan Gubernur Kalimantan Barat Memberi Ang Pao Kepada arak-arakan Naga. ( foto: b_dal)

_MG_8654.jpg

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata didampingi Oleh Gubernur Kalimantan Barat mengunjungi Stand Kue Keranjang. (foto: b_dal)

_MG_8959.jpg

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata menunjukan Perangko edisi khusus Cap Go Meh 2010 yang Telah di Syah kan. (foto: b_dal)

_MG_8629.JPG

Atraksi Musik Tradisional Budaya Tiong Hua (foto: b_dal)

_MG_8575.JPG

Atraksi Arak-arakan Naga oleh rombongan Pemadam Kebakaran Siaga Kubu Raya. ( foto: b_dal)

_MG_9000.jpg

Menteri kebudayaan & Pariwisata dan Gubernur Kalimantan Barat beserta MUSPIDA KALBAR foto bersama para Tatung (foto:b_dal)

_MG_9028.JPG

atraksi Sepasang Barongsai yang menghibur para Tamu Undangan dan Masyarakat Kalbar. (foto;b_dal)

Parade Lampion Kota Singkawang

Singkawang ( Bop.)  Singkawang yang biasanya juga disebut Kota Amoy selama bulan februari ini ramai dibicarakan mulai dari imlek hingga perayaan Cap Go Meh 2010. Satu lagi yang membuat kota singkawang benerang dimalam hari adalah parade Lampion yang mengelilingi kota Singkawang. Berbagai rombongan hadir memeriahkan pesta lampion, mulai dari drum band hingga masyarakat sekitar. perayaan yang dimulai pukul 20.00 Wib ini dilepas oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat  Bapak Cristiandy. parade yang memakan panjang hingga 1 Km ini semakin menyemarakan pelaksanaan Cap Go meh terbesar di Indonesia.

keamanan membuka jalan_1.JPG

Perlu tenaga ekstra yang dilakukan panitia Cap Go Meh untuk membuka jalan parade lampion dikota Singkawang (Photo : Sabda )

watercannon.jpg

Watercanon milik Porlres Singkawang turut hadir untuk membuka jalan iring-iringan Wakil Gubernur (Photo ; Sabda )

marcingband.jpg

Seluruh warga Singkawang tidak hanya disuguhkan penampilan lampion yang menarik dari peserta parade, tampil pula drum band SMP bruder untuk memeriahkan acara (Photo : Sabda )

STIE.jpg

Dengan menggunakan motor lebih dari 50 orang mahasiswa STIE singkawang berpartisipasi disertai menghiasi kendaraan yang digunakan ( Photo : Sabda )

Sibuk.JPG

Panitia harus berlari-lari agar patung macan yang dibawa tidak tersangkut dengan rendahnya lampion yang menghiasi kota Singkawang ( Photo : Sabda )

shio.JPG

Seluruh ikon Shio penanggalan tahun china juga ditampilkan dalam parade ini ( Photo : Sabda )

WNI.jpg

Decak kagum tidak hanya turis Lokal tetapi mancanegara pun dibuat terpukau selama perayaan Cap Go meh 2010 di Kota Singkawang (Photo : Sabda )

kodim.JPG

Hadir pula mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen (Purn) kiki Syahnakri dalam iring-iringan parade (Photo : Sabda )

cristiandi.JPG

Walikota singkangan Hasan karman dan Wakil Gubernur turut hadir mengikuti parade lampion yang dimulai dari stadion Kridasana Singkawang (Photo : Sabda )

DSC_0089.JPG

Ritual budaya dapat digunakan sebagai pemersatu bangsa (Photo : Sabda )

DSC_0093.JPG

lebih dari 100 ribu orang hadir dalam perayaan Cap Go meh 2010 (Photo : Sabda )

DSC_0102.JPG

Semua berhak menikmati perayaan ini tanpa terkecuali (Photo : Sabda )

DSC_0109.JPG

Tanpa batasan menyatukan masyarakat berbagai etnis dan budaya untuk menjunjung bineka tungga Ika (Photo : Sabda )

Malam Imlek Kota Pontianak

Pontianak  (BOP).  Kalimantan Barat tak ada habisnya, mungkin itu yang bisa dijabarkan, budaya yang beraneka ragam membuat provinsi yang terkenal dengan ikan arwana menjadi provinsi multikultur. Pontianak yang merupakan ibukota provinsi menyala ditengah malam.  Hingar bingar dentuman kembang api yang disulut oleh kaum Tiongha ini membuat kota menjadi terang benerang dimalam hari.   Tanggal 20/02 bertepatan dengan malam imlek di seluruh dunia, dimana perayaan ini dilakukan oleh kaum Tiongha. Pergantian tahun baru china yang memasuki Tahun Macan memberikan kesan yang sangat mendalam. Vihara yang terletak diberbagai penjuru kotapun tak ketinggalan pula. Pada malam imlek masyarakat Tiongha berbondong-bondong ke Vihara untuk melakukan sembahyang terhadap Tuhan, Dewa Bumi dan Dewi-dewi yang telah memberikan kehidupan, sebagai ucapan syukur kaum yang banyak berdomisilin di daerah Kota Singkawang dengan membakar Xin Tia ( Uang kertas-red).

DSC_0116.JPG

beribadah disaat malam imlek ramai dilakukan diseluruh vihara di kota Pontianak (Photo : Sabda)

DSC_0199.JPG

bersama-sama pemuda tiongha memanjatkan doa kepada dewa dan leluhur untuk kehidupan yang lebih baik dan diberikan berkah ditahun macan (Photo :ian)

DSC_0193.JPG

Sisi lain kota Pontianak, Jl. Gajah Mada berubah menjadi lautan manusia (photo : Sabda )

DSC_0199.JPG

Sebuah mobil hingga rela berhenti disaat kembang api dinyalakan ditengah-tengah trotoar agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan (Photo :Sabda)

DSC_0202.JPG

kendaraan terbuka seperti Pick up, memudahkan pengunjung untuk melihat gemerlap kota Pontianak (Photo : Sabda )

DSC_4965.jpg

Warna merah mendominasi tiap vihara yang artinya melambangkan suka cita dan kemakmuran. ( Photo : Eko S. Daulay )

asd

Imlek merupakan momen paling sakral bagi semua umat Tionghoa karena berbagai harapan mereka gantung untuk menyambut tahun baru yang akan datang ( Photo : Eko S. Daulay )

Hio disediakan bagi pengurus vihara sebagai salah satu peralatan sembahyang guna melengkapi prosesi ritual sembahyang (Photo : Eko S. Daulay )

DSC_5013.jpg

Api yang menyala di atas lilin merupakan bentuk dari penerangan yang nantinya dalam menjalankan hidup bisa dimudahkan jalannya (Photo : Eko S. daulay)

DSC_0209.JPG

Warna-warni kembang api menghiasi kota Pontianak (Photo : Sabda )

LAMS INTERNATIONAL BEDAR BOAT RACE 2009

Tidak seperti hari-hari biasa, Gertak Sabbo’ dan tepian Sungai Sambas dipenuhi umbul-umbul warna-warni bertuliskan “LAMS” dan baliho event berukuran besar terpajang rapi di dekat water front city. Pedagang-pedagang dadakan bermunculan memanfaatkan keramaian guna menoreh rejeki.
Keramaian ini bukan tanpa sebab. Sambas kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) International Bedar Race 2009. Olah raga tradisional yang telah ada sejak jaman kesultanan Sambas ke-1 kali ini diikuti oleh peserta dari Malaysia ( Sarawak, Kuala Lumpur, Sabah, Labuan, Johor dan Penang), Brunai Darussalam serta Indonesia (DKI Jakarta, Kabupaten Palalawan, Kabupaten Siak Sri Indrapura, Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Melawi dan Kabupaten Kubu Raya.)
Dengan mengusung motto “Kembangkan Budaya, Lestarikan Tradisi, Jelajahi Nusantara” diadakannya lomba sampan bedar ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar masyarakat Melayu dan memberikan input positif dalam pelaksanaan program Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat 2010. (mumu/24/12)

ian_3.jpg

Sehari sebelum lomba (Sabtu/19/12), peserta lomba sampan bedar melakukan latihan. Foto : Ianimaru

sabda_resize_2.jpg

Kedatangan H. Morkes Effendi, SPd., MH sebagai Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Serantau beserta istri dan Dato Petinggi Abdi Nurkamil Mawardi selaku Ketua Pelaksana Lomba Sampan Nusantara disambut dengan tabuhan rebana. Foto : Sabda Agung

Olid_4_resize.jpg

Suasana malam pembukaan LAMS International Bedar Race 2009. Foto : Cholid Nugraha

Ilham_resize_5.jpg

LAMS International Bedar Race pertama kali digelar pada tahun 2001. 2009 adalah tahun kedua penyelenggaraan lomba sampan yang diangkat dari olah raga rakyat yang kaya akan nuansa budaya. Foto : Ilham Chandra

sabda_resize_1.jpg

Kesenian rebana salah satu agenda yang disajikan setelah para tamu dihibur dengan lagu-lagu tradisional Sambas. Foto : Sabda Agung

Sabda_resize_9.jpg

Tari Rumba, Jepin Redap dan Tanda' Sambas persembahan dari beberapa rumah budaya di Kabupaten Sambas. Foto : Sabda Agung

Q_Noi_2_resize.jpg

Pemukulan gong oleh Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Serantau yang menandakan LAMS International Bedar Race 2009 telah resmi dibuka. Foto : Q-Noi

ian_1.jpg

Kembang api turut memeriahkan malam pembukaan LAMS International Bedar Race 2009. Foto : Ianimaru

Q_Noi_1_resize.jpg

Pengguntingan pita sebagai simbol peresmian pameran Lembaga Adat Melayu Serantau. Foto : Q-Noi

Tri_resize_1.jpg

Meriam kecil. Foto : Tri Anto

ian_2.jpg

Barang-barang yang dipamerkan adalah koleksi Lembaga Adat Melayu Serantau. Foto : Ianimaru

sabda_resize_7.jpg

Stand ini menyediakan berbagai varian merchandise Lembaga Adat Melayu Serantau. Foto : Mumu

Ilham_resize_1.jpg

Pencabutan undian nomor peserta. Foto : Ilham Chandra

Ridwan_2_resize.jpg

Di masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim (Sultan Sambas ke- 15) sampan bedar pertama kali dilombakan pada tahun 1931. Foto : Ridwan A.

Olid_1_resize.jpg

Jarak tempuh Lomba Sampan Nusantara adalah 1000 meter. Foto : Cholid Nugraha

Q_Noi_3_resize.jpg

8 orang pendayung,, panjang sampan lebih kurang 13 meter dan lebar sampan 50 hingga 60 cm. Foto : Q-Noi

mumu_2_resize.jpg

Kembangkan budaya, lestarikan tradisi, jelajahi nusantara. Foto : Mumu

sabda_resize_6.jpg

Mengangkat kembali khasanah budaya agar terus lestari dan tidak terlupakan. Foto : Sabda Agung

Ilham_resize_2.jpg

Bisa dijadikan agenda tetap wisata daerah, bahkan nasional mengingat 2010 adalah Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat. Foto : Ilham Chandra

Olid_2_resize.jpg

LAMS International Bedar Race hanya mempertandingkan kategori sampan 8 orang pendayung. Foto : Cholid Nugraha

mumu_1_resize.jpg

Agar tidak mengganggu jalan menuju tempat perlombaan, area Istana Alwatzikhoebillah dan Mesjid Jami' dibuka untuk tempat parkir kendaraan bermotor. Foto : Mumu

DSC02622.JPG

LAMS International Bedar Race 2009 menjadi pusat perhatian masyarakat Kota Sambas dan bahkan mampu menyedot perhatian masyarakat dari luar Kota Sambas. Foto : Kathian

PEMBUKAAN FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA KE IX TAHUN 2009

Rabu (11/11) Depan Makorem 121/ABW, Jalan Rahadi Oesman Pontianak dibanjiri masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung acara pembukaan Festival Budaya Bumi Khatulistiwa ke IX. Agenda yang bertujuan menggali, melestarikan sekaligus mempromosikan seni dan budaya Kalimantan Barat, meningkatkan kunjungan wisata lokal maupun mancanegara dan mendorong berkembangnya sektor wisata ini, dihadiri kontingen dari beberapa daerah seperti Ketapang, Sintang, Kubu Raya, Singkawang, Landak, Sambas dan masih ada beberapa yang lain. Setiap kontingen menampilkan kesenian dari daerahnya masing-masing. Mulai dari musik, tarian hingga pakaian dan aksesoris tradisional.
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa diselenggarakan mulai tanggal 11 hingga 15 November 2009. Adapun acaranya meliputi pawai budaya, pemilihan bujang dare wisata khatulistiwa, parade lagu daerah, parade tari daerah, lomba makanan khas daerah, lomba layang-layang hias, lomba merias pengantin melayu, lomba tanjidor, festival barongsai, lomba merancang busana pengantin dayak, lomba syair dan pantun, lomba gasing dan menyumpit, terakhir ada acara penutupan.
“Melestarikan seni budaya daerah sebagai perekat dan pemersatu antar etnis untuk menuju Kalimantan Barat terbuka” diangkat menjadi sub tema dalam festival Budaya Bumi khatulistiwa yang diikuti oleh kabupaten/kota se- Kalimantan Barat, instansi terkait, kalangan usahawan bidang pariwisata, organisasi profesi/asosiasi yang bergerak di bidang pariwisata dan masyarakat luas. (mumu/12/11)

Pembukaan_FBBK_ian_1.JPG

Persiapan Paguyuban Jawa Barat dan Banten untuk melakukan pawai budaya. Foto Oleh : Ianimaru

Pembukaan_FBBK_ian_2.JPG

Keanekaragaman seni budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Kalimantan Barat merupakan sumber daya tarik wisata dan modal yang tidak kecil untuk membangun sektor pariwisata. Foto : Ianimaru

Pembukaan_FBBK_ian_3.JPG

Mempersiapkan Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah tujuan wisata unggulan yang lebih siap sebagaimana program Visit Kalbar 2010. Foto : Ianimaru

_sabda_._keriuhan_FBBK_2009_menarik_minat_penonton_hingga_ribuan..JPG

kali ini perhatian ribuan masyarakat terpusat di Jalan Rahadi Oesman, Pontianak. Foto : Sabda Agung.

_sabda__penampilan_tari_persembahan_kab_sanggau.JPG

Penampilan kontingen dari Sanggau. Foto : Sabda Agung

pembukaan_festival_bumi_budaya_khatulistiwa_1.JPG

Seni dan budaya daerah juga merupakan sarana untuk dikembangkan hingga menjadi suguhan menarik yang dapat dinikmati wisatawan lokal maupun mancanegara. Foto : mumu

pembukaan_festival_bumi_budaya_khatulistiwa_3.JPG

Kontingen dari Flobamora, Nusa Tenggara Timur. Foto : mumu

pembukaan_festival_bumi_budaya_khatulistiwa_4.JPG

Festival Budaya Bumi Khatulistiwa diselenggarakan mulai tanggal 11 hingga 15 November 2009. Foto : mumu

Next Page »