Bookmark and Share

Danau Sebaddang

Konon, Danau Sebaddang adalah tempat bersantai yang disukai para Sultan Sambas dan keluarga mereka. Danau ini berada di Desa Sebaddang, Kabupaten Sambas. Berjarak lebih kurang 20 menit dari pusat kota Sambas. Sebelum melihat danau, kita akan disambut oleh pohon-pohon besar dan rindang yang tumbuh di dua sisi jalan. Jalan menuju danau memang terkesan hijau dan sejuk. (mumu/18/12)

 

borneo_photography___Danau_Sebaddang___Mumu___2_copy.jpg

Sepeda motor hanya dikenai biaya masuk sebesar Rp.10.000 (Foto : Mumu)

 

borneo_photography___Danau_Sebaddang___Mumu___4_copy.jpg

Selain bersantai, pengunjung juga dapat memancing di danau ini. (Foto : Mumu)

 

borneo_photography___Danau_Sebaddang___Mumu___5_copy.jpg

Luas danau lebih kurang 1 kilometer persegi. (Foto : Mumu)

 

borneo_photography___Danau_Sebaddang___Mumu___1_copy.jpg

Cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp.15.000, perahu milik Dinas Pariwisata Sambas ini bisa disewa pengunjung. (Foto : Mumu)

 

borneo_photography___Danau_Sebaddang___Mumu___6_copy.jpg

Salah satu objek wisata andalan Kabupaten Sambas. (Foto : Mumu)

 

borneo_photography___Danau_Sebaddang___Mumu___7_copy.jpg

Dari pondok-pondok yang berada di tepi danau ini, pengunjung dapat menikmati keindahan danau dan bersantai. (Foto : Mumu)

 

borneo_photography___Danau_Sebaddang___Mumu___3_copy.jpg

Warung dan tempat penyewaan perahu. (Foto : Mumu)

 

 

 

Sepok Laut Trip

Perjalanan menuju Sepok Laut dari Pelabuhan Sungai Kakap, waktu yang ditempuh lebih kurang 2 jam. 15 menit perjalanan, kapal nelayan yang kami tumpangi  harus singgah di Kampung Benteng untuk memuat balok es yang kemudian dibawa ke Sepok Laut. Otomatis hal ini menambah waktu perjalanan menjadi lebih lama. Jermal dan aktifitas nelayan serta hilir mudik kapal penumpang adalah pemandangan yang tersaji sepanjang  melewati Selat Karimata. Sinyal dari telfon seluler hilang saat kami melintas di Selat Sepok Laut.

Akhirnya kapal merapat pelan di bagian termuka Sepok Laut. Senyum dan sapa ramah warga seakan menyambut kedatangan Borneo Photography di daerah yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kubu Raya ini. Sepok laut adalah sebuah pulau yang di dalamnya terdapat 3 dusun. Dusun Tanjung Rejeki (Dusun 1), Dusun Lautan Tenang (Dusun2) dan Dusun Teluk Harapan (Dusun 3). Jumlah penduduk Sepok Laut hingga saat ini berjumlah 2600 jiwa. Listrik di Sepok Laut hanya menyala 12 jam. Dari pukul 6 petang dan kemudian mati pada pukul 6 pagi.

Hidup selaras dengan alam membuat masyarakat Sepok Laut menggantungkan hidup dari hasil laut. Saat para lelaki pulang membawa ikan, tibalah waktu bagi kaum perempuan mengolahnya menjadi ikan asin. Ikan asin Gelame, Layor, Buntal, Kocol-kocol dan Ronjeng adalah jenis ikan asin yang dipasarkan hingga ke  Pontianak.

Nama Sepok Laut diambil dari cerita masyarakat setempat. Menurut cerita, Wak Parek menggali lubang di tanah gambut (tanah sepok), hingga menjadi kolam, lalu menjadi parit yang kemudian menjadi sungai karena arus transportasi laut yang mulai ramai. (mumu/01/10/12)

 

borneo_photography_eko_sepok_laut_1.JPG

Selat Sepok Laut. Merupakan pintu masuk Pulau Sepok Laut. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

 

borneo_photography_Wisda_sepok_laot_1.JPG

Parit Wak Parek. Pusat aktifitas warga Sepok Laut. (Foto : Wisda Epri Javas)

 

borneo_photography_budi_sepok_laut_6.JPG

Kapal motor yang digunakan para nelayan untuk melaut. (Foto : Budimansyah Muhammad)

 

borneo_photography_olid_sepok_laut_1.JPG

Pohon Nipah. Lidi pohon nipah menjadi salah satu penghasilan tambahan bagi warga setempat. (Foto : Cholid Nugraha)

 

borneo_photography_budi_sepok_laut_4.JPG

Menganyam jala. Aktifitas warga setempat disela-sela waktu senggang. (Foto : Budimansyah Muhammad)

 

borneo_photography___jaya_sepok_laot_1.JPG

Bongkar tangkapan. Disini semua tangkapan dipisahkan sesuai dengan jenisnya untuk kemudian diolah menjadi berbagai jenis makanan, seperti ikan asin, kerupuk dan lainnya . (Foto : Bhunk Djaya)

 

borneo_photography_olid_sepok_laut_4.JPG

Aktifitas kaum perempuan Sepok Laut mengolah ikan asin. (Foto : Cholid Nugraha)

 

borneo_photography_eko_sepok_laut_5.JPG

Ikan yang sudah diolah menjadi ikan asin, dijemur hingga kering agar layak untuk dipasarkan. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

 

DSC_8231.JPG

Bermacam-macam olahan dari hasil tangkapan yang siap untuk dikemas dan dipasarkan. (Foto : Muhammad Zeinur Rasyikin)

 

borneo photography-tri-sepok laot 4 _1.JPG

Sungai surut adalah waktu bagi anak-anak mencari remis (kepah kecil). (Foto : Tri Doank)

 

borneo_photography_jaya_sepok_laot_6.JPG

Kraetfitas warga Sepok Laut membuat alat angkut hasil tangkapan yang disesuaikan dengan kondisi jalan yang menggunakan gertak (jembatan kayu). (Foto : Bhunk Djaya)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Banangar

AIR TERJUN BANANGAR

Air terjun Banangar dulunya lebih dikenal masyarakat luas dengan sebutan Air Terjun Melanggar. Merupakan salah satu objek pariwisata yang ada di Kabupaten Landak. Tepatnya berada di Dusun Perbuah, Desa Merayuh, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak.

Untuk menuju lokasi wisata tersebut dapat menggunakan jalur darat dari Pontianak menuju Ngabang. Lebih kurang 3 jam perjalanan. Setelah itu dilanjutkan dari Ngabang menuju Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar, kabupaten Landak lebih kurang 3 jam.

Dengan menggunakan pepet (sebutan masyarakat setempat untuk kapal motor), perjalanan dapat dilanjutkan dari Desa Serimbu menuju lokasi air terjun dengan menyusuri Sungai Landak. Dalam perjalanan, kita dapat menjumpai panorama alam yang memanjakan mata dan melihat kehidupan masyarakat di tepi Sungai Landak khususnya di Kecamatan Air Besar.

 

(Foto :Si_Bhunk)

 

(Foto :Si_Bhunk)

 

 

RIAM BANANGAR

Untuk wisatawan yang menyukai tantangan dan olah raga ekstrim, Riam Banangar yang berada tidak jauh dari Air Terjun Banangar dapat dijadikan referensi liburan. Riam ini dapat kita jumpai sebelum menuju Air Terjun Banangar. (Bhunk Djaya/26/9/12)

 

(Foto : Si_Bhunk )

 

(Foto : Si_Bhunk)

 

(Foto : Si_Bhunk)

Masjid Agung Jami’ Sultan Tsafiuddin II Sambas

Masjid Agung Jami’ Tsafiuddin II Sambas merupakan peninggalan Sultan Tsafiuddin II. Sultan Tsafiuddin II adalah mubalig agung yang menyebarkan para da’i ke berbagai pelosok dan mengirim ulama-ulama ke perguruan tinggi Al-Azhar di Kairo, Mesir.
Masjid yang didirikan pada tahun 10 Oktober 1885 ini berada di Desa Dalam Kaum RT 6/RW 1, Sambas. Dapat menampung lebih kurang 1.740 jemaah. Awalnya masjid hanya memiliki satu menara. Pada tahun 1925, penampilan masjid menjadi semakin artistik dengan ditambahkannya dua menara baru. (Mumu/28/03/12)

 

 

masjid_jami___sambas_1.JPG

Foto : Mumu

 

masjid_jami___sambas_2.JPG

Foto : Mumu

 

masjid_jami___sambas_3.JPG

Foto : Mumu

 

masjid_jami___sambas_4.JPG

Foto : Mumu

 

masjid_jami___sambas_5.JPG

Foto : Mumu

 

masjid_jami___sambas_6.JPG

Foto : Mumu

Festival Budaya Bumi Khatulistiwa X. Parade Budaya

Pontianak, Selasa (20/9) Dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur, Drs. Christiandy Sanjaya, SE, MM. Parade Budaya berlangsung di Jalan Rahadi Oesman, Pontianak.  Diikuti oleh Marching Band Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Tanjungpura dan peserta dari beberapa kabupaten dan kota di Kalimantan Barat seperti Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Landak, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Landak, Kabupaten Sambas, Kota Singkawang dan Kota Pontianak.

Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) merupakan  event utama Pariwisata Kalimantan Barat. Tahun 2011 merupakan tahun ke -10 diselenggarakannya FBBK. Sayang, pada penyelenggaraan tahun ini FBBK terkesan digarap tidak maksimal. Ini terlihat dari jumlah perserta dan pengunjung, tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. (mumu/21/9)

resize_mumu_2new.jpg

Tri_1.jpg

ian_2.jpg

berry_3.JPG

berry_2.JPG

berry.JPG

edit_5_resty_new.jpg

parodi_IP_KalBar_foto_1new.JPG

edit 1 resty new_1.jpg

olid_1.JPG

olid_2.JPG

resize_anton_1new.jpg

resize_anton_2new.jpg

resize_anton_3new.jpg

resize_anton_4new.jpg

resize_anton_5new.jpg

resize_anton_6new.jpg

resize_anton_7new.jpg

ian5.jpg

resize_anton_8new.jpg

resize_anton_9new.jpg

Tri_5.jpg

pokok_telok_SBS_foto2new.JPG

suling_MPW_foto3new.JPG

KAMPONG SAMPIT

Kampong Sampit terletak di tepian Sungai kapuas, Kecamatan Pontianak Timur, Kalimantan Barat. Kampong Sampit menarik dan unik karena keberadaannya. Kampong Sampit juga tidak kalah menarik sebagai tempat tujuan wisata. Kita dapat menyusuri gertak (jembatan panjang yang terbuat dari kayu belian), kehidupan sosial masyarakatnya yang ramah dan bersahabat yang membuat kita betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu menikmati indahnya Sungai kapuas di sore hari. (Indra Ae’/11/11)

kampong_sampit_1_webop.JPG

Kampong Sampit. Perkampungan di atas air. (Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_2.JPG

Salah satu kegiatan masyarakat di kampong Sampit ( Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_3.JPG

Kegiatan seperti ini masih dapat kita jumpai di Kampong Sampit. (Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_4.JPG

Salah satu sudut perkampungan di Kampong Sampit. (Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_5.JPG

Sebagai tujuan wisata budaya di Pontianak. (Foto : Indra Ae')

kampong_sampit_6.JPG

Gertak. Sarana utama dalam menyusuri perkampungan di atas air. (Foto: Indra Ae')

 

MERIAM KARBIT

Lokasi wawancara : Gang Kuantan dan Gang H Mursyid.
Lokasi foto : Gang H Mursyid dan Jalan Tanjung Raya 2, Gang Rizki
Tahun liputan : 2009

Jauh di masa teknologi tidak secanggih sekarang, meriam karbit digunakan sebagai alat untuk membangunkan orang sahur, penanda waktu untuk berbuka puasa dan imsyak. Konon, asal-usul berdirinya kota Pontianak juga di awali dengan dentuman meriam. Terlepas dari cerita-cerita itu, kini meriam karbit telah dianggap sebagai tradisi dan budaya oleh masyarakat Pontianak.
Masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas memiliki tradisi yang khas dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.
Secara gotong royong mereka mengangkat kembali meriam-meriam karbit yang mereka simpan di dalam sungai. Kegiatan ini biasanya mereka lakukan seminggu sebelum Ramadhan. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu kegiatan warga bersama keluarga saat hari pertama menyambut Ramadhan. Agar tidak mengganggu aktivitas warga yang bekerja di berbagai profesi, pengerjaan meriam karbit dilakukan pada malam hari setelah sholat terawih.

meriam2.jpg

Terbuat dari kayu yang tergolong keras. Meriam-meriamkarbit seperti ini dapat dipakai selama 5 hingga 15 tahun. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

meriam3.jpg

Setelah meriam diangkat dari sungai, meriam dibongkar dan dibersihkan.Rotan digunakan untuk mengikat meriam yang bagian dalamnya telah dibersihkan. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Beberapa meriam karbit yang “tertidur” lebih kurang setahun lamanya, kini “dibangunkan” kembali. Karena terbuat dari kayu yang tergolong keras, meriam karbit dapat digunakan 5 hingga 15 tahun.
“Biar awet, kami menggunakan kayu meranti batu atau kayu mabang,” terang Tarmiji yang mendapat keahlian membuat meriam secara turun temurun dari keluarganya ini.Karena menggunakan “stok kemarin”, Tarmiji dan kawan-kawan tidak perlu repot-repot lagi mencari kayu log. Sekarang mereka hanya membongkar dan membersihkan meriam lama yang kemudian kembali mereka rakit dan simpai (ikat) dengan menggunakan rotan.
Penggunaan rotan dalam proses pembuatan meriam karbit juga tidak bisa dibilang sedikit. 1 ton rotan baru bisa digunakan untuk tujuh atau delapan meriam. Jika harga untuk 1 kilo rotan saja harus merogoh kocek sebesar Rp 2.500,00 itu sama saja mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.500.000,00 untuk 1 ton rotan. Belum lagi biaya yang wajib dikeluarkan untuk membeli karbit.
Salah satu sumber mengatakan, mereka tidak bisa menentukan berapa banyak karbit yang harus mereka beli karena harus disesuaikan dengan dana yang terkumpul dari hasil swadaya masyarakat setempat. Ditambah lagi harga karbit yang selalu naik setiap tahun. Kini harga kayu log bisa mencapai harga 3 hingga 5 Juta per buahnya.
Jika setiap menjelang Ramadhan semua pelaku meriam karbit diharuskan memakai kayu baru, bayangkan dampaknya bagi lingkungan. Di lain sisi Pemerintah tengah giat memberantas illegal logging, tapi di sisi yang lain lagi banyak pihak yang merasa tradisi dan budaya meriam karbit sangat perlu dijaga kelestariannya.

meriam4.jpg

Dikerjakan secara gotong-royong. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

meriam5.jpg

Masyarakat berkumpul dan beramai-ramai membedah meriam setelah usai mengerjakan sholat tarawih. (Foto :Eko Suryanto Daulay)

Ukuran meriam bervariasi. Terpendek 4 meter dan yang terpanjang ada yang mencapai 8 meter. Sedangkan diameternya 40 cm untuk meriam karbit yang kecil, dan 70-80 cm untuk meriam karbit yang berukuran besar.
Sejarah meriam karbit juga pernah mengalami masa suram. Karena suara dentuman meriam karbit dianggap mengganggu, di era 90-an pernah terjadi razia meriam karbit yang digencarkan oleh aparat hukum. Barang siapa yang terbukti tengah membuat meriam karbit atau bahkan ada yang membunyikannya, meriam karbit tersebut akan segera di musnahkan.
“Makanya pada saat itu banyak warga yang membuat meriam jauh dari sungai,” kenang Mochtar yang menjabat sebagai RT di Gang Kuantan.
Razia meriam karbit tentu saja memancing reaksi dari warga yang menganggap meriam karbit adalah salah satu aset budaya Pontianak yang harus dilestarikan. Dibentuklah Persatuan Meriam Karbit se- Kalimantan Barat yang melayangkan protes ke Walikota. Walaupun memakan waktu yang cukup lama, akhirnya keluarlah peraturan dari pemerintah yang memperbolehkan meriam karbit kembali aktif di tiga hari menjelang hari raya dan tiga hari setelah malam takbiran. Cukup membanggakan saat meriam karbit pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia tahun 2007 silam.

meriam1.jpg

Masuk Museum Rekor Indonesia pada tahun 2007. (Foto : Mumu)

Puncaknya kawasan tepian Sungai Kapuas akan terlihat sesak dan padat saat malam takbiran tiba. Ribuan warga dari seluruh bagian kota Pontianak berduyun-duyun datang demi menyaksikan dentuman meriam dari dekat.
Bukan konser dangdut, bukan pula konser rock ‘n roll, tetapi budaya ini dapat menyedot perhatian ribuan warga Pontianak untuk datang ke tepian Sungai Kapuas. Sebuah tradisi yang telah mendarah daging, tradisi yang berbunga budaya yang semoga terus terlestarikan, terjaga dan dipatenkan agar tidak lagi diklaim bangsa lain yang mengaku serumpun. (mumu/22/08/)

Rumah Betang Desa Lingga

Desa Lingga adalah salah satu desa di Kecamatan Ambawang. Di desa ini terdapat sebuah rumah adat betang Dayak Kanayatn yang terletak di dekat Lapangan Petir, Jalan Trans Kalimantan.
Rumah adat ini tidak berpenghuni. Masyarakat menggunakan rumah betang ini sebagai pusat pertemuan adat dan berkesenian. (Eko Suryanto Daulay/14/8)

resize_1.jpg

Rumah Betang Desa Lingga. Berada di Jalan Trans Kalimantan, Desa Lingga, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_2.jpg

Rumah Betang suku Dayak Kanayatn ini didirikan dari hasil swadaya masyarakat pada tahun 1991. Pada tahun 1992 Naik Dango pertama kali digelar di rumah adat ini. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_3.jpg

Selain digunakan untuk pertemuan adat, rumah betang juga digunakan sebagai tempat berkesenian tari dan musik. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_4.jpg

Dibangun dengan menggunakan kayu mabang. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_5.jpg

Pintu dibuka dengan cara ditarik dan diikatkan pada tali. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_6.jpg

Lumbung padi. Hasil panen warga dikumpulkan di lumbung ini. Jika ada salah satu warga yang berhajat, padi-padi di lumbung dapat digunakan yang nantinya dapat diganti di lain hari. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_8.jpg

Lesung padi ini telah ada sejak rumah betang dibangun. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

resize_9.jpg

Fransiskus Kiling, salah satu pengurus rumah adat. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Masjid Abdullah

Diambil dari nama ayah Nabi Muhammad SAW, Masjid Abdullah didirikan pada tahun 2009 di Komplek Golf Permai, Siantan Hulu, Pontianak Utara. Sekilas mesjid yang dibangun dari dana swadaya masyarakat ini terlihat sangat kental arsitektur Tionghoa-nya. Sebagai perancang masjid, Maxie Andie Mendur (47) menerangkan beberapa bagian masjid memang terinspirasi dari bangunan Tionghoa seperti atap, jendela dan gerbang masjid.  ”Warna hijau menggambarkan nuansa Islam dan warna kuning menandakan nuansa Melayu”.

Memakan waktu pembangunan selama 8 bulan, Masjid Abdullah dapat menampung kapasitas sebanyak 120 hingga 150 jemaat. “Dalam seminggu, biasanya kita mengadakan 2 hingga 3 kali takziyah untuk anak-anak. Setiap hari besar Islam juga diperingati di masjid ini. Dana pembangunan masjid berasal dari swadaya masyarakat baik yang muslim maupun non muslim,” ujar ayah dari Irene Natasha Mendur dan Grace Nathania Mendur ini. (mumu/8/8)

web1new.jpg

Minaret Masjid Abdullah ditopang oleh lima tiang yang menandakan sholat lima waktu yang merupakan tiang agama Islam. (Foto : Anton Kopisiti)

web2new.jpg

Dibangun dari hasil swadaya masyarakat baik yang muslim maupun non muslim. Dapat menampung 120 hingga lebih kurang 150 jemaat. Didominasi warna hijau yang menggambarkan nuansa Islam dan warna kuning yang menggambarkan nuansa Melayu.(Foto : Anton Kopisiti)

web3new.jpg

Pintu gerbang masjid yang berarsitektur Tionghoa ini menyimbolkan kekuatan dan kekokohan Islam. Karena umat Islam dari etnis apapun tidaklah berbeda. Semuanya menyembah Allah SWT. (Foto : Anton Kopisiti)

web4new.jpg

Jendela berlafaskan kalimah Allah. Ditengahnya ada lingkaran yang menggambarkan dunia. Di sekeliling lingkaran tersebut ada 17 lekukan. Ini adalah simbol bahwa seluruh umat Islam di dunia melaksanakan sholat wajib sebanyak 17 rakaat. Desain jendela ini merupakan masukan dari pemangku adat Kesultanan Sambas.(Foto : Anton Kopisiti).

web5new.jpg

Maxie Andie Mendur, "dalam seminggu, biasanya kita mengadakan 2 hingga 3 kali takziyah untuk anak-anak. Setiap hari besar Islam juga diperingati di masjid ini." (Foto : Anton Kopisiti)

web6new.jpg

Didirikan pada tahun 2009. Nama Masjid Abdullah diambil dari nama ayah Nabi Muhammad SAW. (Foto : Anton Kopisiti)

Pernak Pernik Khatulistiwa

Pontianak, BOP. (31/7) Tugu Khatulistiwa merupakan salah satu ikon wisata di Indonesia. Tugu Khatulistiwa berada di jalan Khatulistiwa, Kelurahan Siantan, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

Di area sekitar Tugu yang telah berdiri sejak 1928 itu, terdapat salah satu tempat penjualan cinderamata khas Kalimantan Barat. Pengunjung yang telah berkeliling dan menikmati pesona Tugu Khatulistiwa dan Sungai Kapuas, dapat langsung mencari cinderamata yang diinginkan sebagai oleh-oleh dan bukti mereka telah mengunjungi ikon pariwisata tersebut.

Narasi oleh : Zeinur,M
Foto-foto : Ande, Eko Suryanto Daulay, Zeinur M

Toko Souvenir "Sapta Pesona" dahulu bernama "Warung PKK". (Photo: Ande, 2010)

Sejak berdiri tahun 1992, ruangan berukuran 6x4 meter ini, menampung segala jenis cinderamata yang dijual. (Photo: Zeinur M, 2010)

Amelia, 51 tahun (kiri)-Pemasok cinderamata, Samsidar, 34 tahun (kanan)-Pembina Toko "Sapta Pesona", "Penjualan cinderamata meningkat selama dua tahun belakangan", ujar mereka. (Photo: Ande, 2010)

Miniatur Tugu Khatulistiwa ini dijual berkisar antara Rp 20.000 sampai 350.000, tergantung ukuran miniatur tersebut.(Photo: Ande, 2010)

Kreativitas yang tinggi dari para pengrajin menjadikan produk cinderamata ini dinamis mengikuti perkembangan zaman. (Photo: Eko Suryanto Daulay & Ande, 2010)

"Harga cinderamata disini cukup terjangkau bagi orang kebanyakan", ujar Ibu Dedeh, 46 tahun asal Bekasi yang telah dua kali mengunjungi toko cinderamata ini. (Photo: Ande, 2010)

Semakin ramai acara-acara yang dilaksanakan di Kalimantan Barat baik yang berskala nasional maupun internasional ikut mempengaruhi tingkat penjualan. (Photo: Ande, 2010)

Corak dan simbol khas Kalimantan Barat menjadi daya tarik utama. (Photo: Eko Suryanto Daulay & Ande, 2010)

Cinderamata yang paling banyak digemari oleh pengunjung ini berkisar antara Rp. 5.000 hingga Rp. 100.000. (Photo: Eko Suryanto Daulay, 2010)

Beragam jenis cinderamata yang ada umumnya melambangkan simbol dan keanekaragaman budaya di Kalimantan Barat (Photo: Eko Suryanto Daulay & Ande, 2010)

PEMBUKAAN CAP GO MEH DI KOTA PONTIANAK OLEH MENTERI KEBUDAYAAN & PARIWISATA

Tabuhan gong oleh Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menjadi tanda dibukanya Festival Cap Go Meh 2561, di Kota Pontianak, 24 – 28 Pebruari 2010.

Bunyi berulang-ulang dari tabuhan gendang khas budaya Tiong Hua oleh Menbudpar Jero Wacik juga di ikuti oleh Gubernur Kalimantan Barat beserta Muspida yang hadir pada acara tersebut, Perayaan Cap Go Meh yang dipusatkan di Jalan Diponegoro dan Agus Salim, disaksikan ribuan warga kota itu.

Pembukaan Festival Cap Go Meh juga diawali dengan tarian tiga etnis, yaitu dari etnis Melayu, Dayak dan Tionghoa dengan tema “damai daerahku dan damai negeriku” yang dibawakan oleh beberapa anak muda dari ketiga etnis tersebut. Ini menunjukkan keharmonisan suku bangsa, dan agama di Kalimantan Barat umumnya dan Kota Pontianak khususnya. Ini juga membuktikan Kalbar sebagai daerah yang layak, aman dan nyaman untuk dikunjungi para tamu-tamu dari daerah lain, baik tamu nasional maupun turis dari manca negara.

Dalam kesempatan itu Jero Wacik juga menandatangani prangko edisi khusus Cap Go Meh 2010 dan menyematkan bola naga di miniatur naga yang terbuat dari ribuan bunga melati.

Jero Wacik dalam sambutannya, menyatakan sengaja datang ke Pontianak untuk menyaksikan secara langsung kemeriahan perayaan Cap Go Meh. “Sebenarnya saya juga dijadwalkan membuka Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang, berhubung, Kamis (25/2) ada agenda rapat kabinet bersama Presiden RI, rencana itu batal,” ujarnya.

Meskipun batal membuka Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Jero Wajik berharap tahun-tahun mendatang bisa hadir pada perayaan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Jero Wacik menyampaikan kekagumannya terhadap Perayaan Cap Go Meh di Pontianak yang berlangsung lancar dan meriah. “Apalagi perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak khususnya, dan Kalimantan Barat umumnya didukung oleh semua etnis,” katanya.

Dukungan semua etnis itu tampak, dari antusiasme semua masyarakat di kota Pontianak untuk menyukseskan Perayaan Cap Go Meh demi “Visit Kalbar 2010″. “Kami telah mengagendakan Visit Kalbar 2010 dalam agenda nasional,” ujarnya.

Jero Wacik berharap setelah kepulangannya iklim wisata di Kalbar lebih maju lagi karena didukung oleh semua pihak. “Biasanya setelah kehadiran saya di suatu kota, maka akan berdampak semakin menggeliatnya minat wisatawan mencanegara untuk berkunjung ke kota tersebut. Kami siap mempromosikan objek-objek wisata di Kalbar, baik tingkat nasional maupun internasional,” katanya. (24 /02/2010 Afdhal )

_MG_8873.jpg

Menteri Kebudayaan & Pariwisata dan Gubernur Kalimantan Barat beserta MUSPIDA KALBAR menabuh Gendang Khas Tiong Hua yang menandakan Festival Cap Go Meh resmi di buka (foto: b_dal)

_MG_8840.JPG

Gubernur Kalimantan Barat Drs.Cornelis, M.H memberikan sambutan dalam acara Pembukaan Festival Cap Go Meh. ( foto: b_dal)

_MG_8859.JPG

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata memberikan sambutan dalam acara Festival cap Go Meh. (foto:b_dal)

_MG_8812.jpg

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Gubernur kalimantan Barat dan MUSPIDA beserta tamu Undangan menyaksikan Tarian Tiga Etnis, yaitu dari etnis Melayu, Dayak dan Tionghoa dengan tema "damai daerahku dan damai negeriku" (foto: b_dal)

_MG_8712.jpg

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dan Gubernur Kalimantan Barat Memberi Ang Pao Kepada arak-arakan Naga. ( foto: b_dal)

_MG_8654.jpg

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata didampingi Oleh Gubernur Kalimantan Barat mengunjungi Stand Kue Keranjang. (foto: b_dal)

_MG_8959.jpg

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata menunjukan Perangko edisi khusus Cap Go Meh 2010 yang Telah di Syah kan. (foto: b_dal)

_MG_8629.JPG

Atraksi Musik Tradisional Budaya Tiong Hua (foto: b_dal)

_MG_8575.JPG

Atraksi Arak-arakan Naga oleh rombongan Pemadam Kebakaran Siaga Kubu Raya. ( foto: b_dal)

_MG_9000.jpg

Menteri kebudayaan & Pariwisata dan Gubernur Kalimantan Barat beserta MUSPIDA KALBAR foto bersama para Tatung (foto:b_dal)

_MG_9028.JPG

atraksi Sepasang Barongsai yang menghibur para Tamu Undangan dan Masyarakat Kalbar. (foto;b_dal)

Next Page »