Bincang Santai

Pak Salim, Warga Sui Berembang (photo : eko suryanto daulay 2009)
Sui Berembang (26/03/09), perbincangan saya di mulai dengan sekedar beramah tamah dengan salah satu warga Sui Berembang sambil berniat melepaskan lelah setelah beberapa perjalanan menyusuri sungai dari arah Jeruju. Berawal dari situlah perbincangan saya dengan pak Salim ternyata begitu memberikan suatu cerita suatu keingintahuan saya akan kehidupan masyarakat Sui Berembang, mulai dari aktivitas warganya seperti apa hingga berkenaan dengan pemilu yang akan semakin dekat. Walaupun Sui Berembang ini kalau dilihat dari lokasi, tidak terlalu jauh dari kota Pontianak. Namun akses jalan menuju kesana cukup terkesan lama dan banyak jalan berlubang maupun yang tergenang air, hal ini disebabkan jalannya hanya jalan tanah. Padahal kalaupun jalan itu sudah beraspal, tentu ini dapat membangkitkan nadi kehidupan Sui Berembang.
Pak salim sendiri banyak bercerita mengenai politik khususnya pemilu, kalau kita menyusuri jalan Sui Berembang ini baik itu jalan masuk maupun jalan keluar, disitu terlihat atribut-atribut partai peserta pemilu. Bendera-bendera partai menghiasi tepi jalan, kadangkala beberapa bendera partai yang ukurannya agak besar tertancap di depan rumah warga. Bagaimana cara memilih itu sendiri juga banyak tetempel dirumah-rumah warga. Hal ini bisa terlihat bagaimana geliat pesta demokrasi tersebut juga tidak luput bagi partai-partai peserta pemilu yang masuk ke Sui Berembang.
Nah bagaimana dengan para calon legislatifnya itu sendiri?
Inilah salah satu cara para caleg untuk memikat hati warga Sui Berembang, mereka pada umumnya lebih sering memakai cara pendekatan secara langsung ke warga. Jadi para caleg ini bersosialisasi dengan warga dengan cara bersilahturahmi berkunjung kerumah-rumah warga sambil memberikan pamflet ataupun kalender yang berisi info program-program caleg itu sendiri. Dan bukan hanya itu saja, mereka juga memperkenalkan diri serta memberikan janji-janji kepada warga Sui Berembang guna mendapatkan suara di pemilihan nantinya.
Namun Pak Salim tidak terlalu memusingkan segala apapun cara mereka guna memikat hati warga, Pak Salim hanya berharap siapapun nantinya yang terpilih itu, bisa mewujudkan harapan cita-cita warga Sui Berembang. Contohnya perbaikan jalan, penambahan lampu-lampu guna menerangi pada malam hari, dan perwujudan fasilitas publik itu sendiri seperti sekolah, puskesmas, tempat ibadah.
Yah sebenarnya harapan cita-cita warga Sui Berembang juga tidak terlalu dibilang mewah. Tapi disitulah antusias warga Sui Berembang terhadap pemerintah.
Yah semoga saja itu bisa terwujud……..
Terimakasih untuk Pak Salim.
Ruang Publik Yang Multikultur

photo: Iyep 2009
Obrolan ketika itu kami mulai dengan bercanda saling ejek (Besakat kata orang Pontianak) banyak macam yang kami bicarakan dari hal Dunia dan akhirat sampai Negara, pembicaraan tersebut cukup seru dan asik tak ada yang mau mengalah dengan Argumennya masing-masing, wajar saja karena obrolan itu tak ada moderatornya, kami tetap asik obralan terus mengalir tanpa tema yang jelas, padahal meja tempat kami ngobrol tidaklah terlalu besar hanya seukuran 60×90 cm.
Cuaca cukup panas pada hari itu yang membuat kami semakin panas berargumen sepanas suhu politik ditanah air. Sangat bebas dan merdeka rasanya kita berbicara apa saja di warung kopi, bukan hanya satu atau dua warung kopi saja yang ada di Kota Pontianak mungkin ratusan jumlahnya bahkan ada warung kopi yang buka 24jam, kesemuanya itu mempunyai ciri khas yang hampir sama bebas-bebas saja.

photo: Anton 2009
Dulu orang-orang bilang warung kopi tempat kumpulan orang-orang penganggur yang isinya para kaum adam …itu kan dulu… Kini zaman telah berubah semuanya serba cepat ternyata di warung kopi sekarang banyak dikunjungi orang-orang dengan latar belakang dan profesi yang beragam (multikultur), para pengunjung di warung kopi tak pernah merasa risih atau gengsi, mereka tetap enjoy melakukan bermacam-macam aktivitas di warung kopi bukan itu saja, suasana yang tercipta pun memberikan kesan kekeluargaan, yang kenal jadi lebih akrab yang belum kenal jadi kenal, tanpa sengaja silahturahmi juga tercipta disini.
Warung kopi bukan hanya menjadi ciri khas daerah ini saja, tapi juga telah menjadi ruang publik yang komunikatif dan multikultur bagi masyarakat Kota Pontianak. (ae/24/03/09)
Diskusi Jurnalistik Borneo Photography
Para pembicara dalam diskusi jurnalistik Borneo Photography (photo : mumu)
Sabtu (21/03/09) pukul 3 sore pelataran Museum Provinsi Kalimantan Barat di jalan A. Yani kembali menjadi saksi geliat anak-anak Borneo Photography untuk terus belajar dan berkarya. Kali ini mereka menggelar acara Diskusi Jurnalistik yang menghadirkan Bapak Pradono selaku pemimpin redaksi majalah dua mingguan RADAR, dan Andi Fahrizal.
Bapak Pradono atau lebih sering dikenal dengan nama Don Akar banyak menceritakan pengalaman juga pengetahuannya selama menjadi jurnalis. Penikmat rokok kretek ini terlihat begitu bersemangat meskipun usianya udah lumayan uzur.
Andi Fahrizal yang namanya terdaftar sebagai wartawan di Harian Jurnal Nasional Jakarta juga tampil sebagai pembicara di acara ini. Pria yang mengaku pemalu ini nyatanya tidak malu-malu menerima pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman saya dari Borneo Photography.
“YANG MENENTUKAN BERUBAH TIDAKNYA ANDA DALAM LIMA TAHUN KE DEPAN ADALAH SEBERAPA BANYAK KARYA YANG ANDA HASILKAN MULAI HARI INI SAMPAI LIMA TAHUN KE DEPAN.”
Demikian kata-kata penutup dari Andi Fahrizal di akhir diskusi.
(mumu/22/03/09)
Suasana diskusi jurnalistik Borneo Photography (mumu)
Ketangguhan Kamera Digital Pocket pada Situasi Ekstrim

Suatu malam di rumah ianimaru (foto oleh, afdhal; komik oleh, Dian Prawira)
Dalam suatu malam yang kelam. Beberapa dari anggota Borneo Photography berkumpul di rumah ianimaru sang webmaster untuk membicarakan masalah web, dan hunting ke depan. Setelah topik web selesai, bang ae’ yang hadir di sana pun mulai angkat bicara. Agenda ke depan rencananya akan diadakan hunting ke afghanistan dan afrika. Karena apa, karena di sana tantangannya dan yang akan dikomunikasikan lewat bahasa gambar lebih bermakna. Melihat hasil upload foto oleh mumu yang menampilkan tema foto makro seekor ngengat hanya dengan kamera digital pocket, kami pun berencana mengambil tema foto makro dengan pocket. Sehingga dalam pembukaan pendaftaran hunting bersama nanti, peserta hunting diwajibkan menggunakan kamera digital pocket, dilarang menggunakan kamera DSLR. Hal ini tentu menjadi daya tarik bagi penggemar foto makro. Sebab, dalam hunting tersebut cukup memacu adrenalin yang berlebih. Betapa tidak, dalam hunting makro tersebut peserta tentu harus mengambil objek dalam jarak yang sangat dekat. Contohnya jika ke afghanistan, maka foto rudal sebelum meledak harus diambil makro dalam jarak yang sangat dekat. Saat orang-orang berlarian menghindari rudal tersebut, sang fotografer dituntut untuk mengambil gambar ke objek. Foto tidak boleh shake, jadi mengambilnya harus tenang dan santai. Begitu pula dengan hunting di afrika. Foto yang diambil adalah foto binatang liar seperti singa, dan cheetah. Tuntutan bagi fotofgrafer adalah mengambil foto makro gigi taring singa pada waktu sedang kelaparan. Sama hal nya dengan foto cheetah, fotografer dituntut mengambil foto makro taring cheetah saat sedang berlari.
Nilai tertinggi bukan berdasarkan hasil foto yang cerah, detail dan ketajaman foto, namun berdasarkan kondisi fotografer. Apakah masih selamat, berikut dengan foto serta kameranya. Itulah ketangguhan dari fotografer kamera pocket yang diuji saat kondisi ekstrim. Tanpa menggunakan lensa tele. Tapi dengan kamera pocket untuk mengambil foto makro. Mendengar hal tersebut kami hanya bisa mencibir dan garuk-garuk kepala. Ini orang kayaknya terlalu mengantuk sehingga “ngeracau tak tentu rudu”. Itulah bual-bualan dari orang-orang BOP yang sedang dilanda ngantuk dan mumet, ditambah koneksi internet kala itu yang super lelet. Afdhal dengan kesibukannya menelpon seseorang berlama-lama; mumu dengan liputan tempenya; eru dan saya (D!@N) yang kelaparan; megy, tomy dan handoko yang mau sekolah esok hari; kinoy, eko, ianimaru, dan anton yang makin mengantuk, menutup cerita bualan orang-orang BOP. Saya harap pembaca jangan terlalu serius menanggapi bacaan ini. Namanya juga bualan. Malam tetaplah malam, dingin menyelimuti jalan tebu malam itu, larut tak dapat ditepis, detik jam tak mau berhenti, mata tak mau kompromi, dan perut seperti sedang demontrasi, bang ae’ menutup pertemuan malam itu dengan, “salam BOP”, “Jepret!!!!!!”
(D!@N)


