Selamat Ulang Tahun Pontianak
October 25, 2009 | Oleh : trie | Kategori : Segelas Kopi
Ulang tahun mungkin memberikan makna yang sangat berarti, begitu juga bagi warga Pontianak pada tanggal 23 Oktober 2009 Kota Pontianak merayakan ulang tahun yang ke 238 tahun.
Ulang tahun Kota Pontianak kali ini bukan saja momen untuk berpesta pora dengan even-even yang diselenggarakan oleh pemerintah Kota Pontianak yang justru banyak masalah yang terabaikan, air bersih, sampah, jalan yang berlubang dan belum lagi banjir yang datang disetiap musim hujan serta tata kota yg agak semberaut yang mestinya hal tersebut telah dapat diatasi dengan usia Kota Pontianak yang sudah tua, seharusnya koreksi serta intrsopeksi yang harus dilakukan untuk melihat masalah-masalah yang di hadapi Kota Pontianak sebagai kota yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan, sehingga menjadikan kota ini tempat yang nyaman dan aman bagi warganya.

TPS Liar yang terdapat di dekat pasar siantan (Photo : Trie, Pontianak 2009)

Jalan becek dan berlubang di pasar puring siantan(Photo : Trie, Pontianak 2009)

anak-anak usia sekolah di jalan tanjung pura berkeliaran menjalankan aktifitas sebagai pengemis atau peminta-minta(Photo : Trie, Pontianak 2009)

trotoar di dalam kota telah berubah fungsi menjadi tempat berjualan oleh pedagang kaki lima(Photo : Trie, Pontianak 2009)

Pedangan kaki lima yang berjualan, hampir menutupi badan jalan di pasar tengah(Photo : Trie, Pontianak 2009)
Susur Sungai Pedalaman Sambas
June 20, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Segelas Kopi
Photo oleh : Mumu
Text oleh : Mumu
Sambas. BoP. KM Todak Dinas Perikanan dan Kelautan Sambas yang ditumpangi oleh Borneo Photography, teman-teman Pramuka Saka Bahari, dan turut serta Drs, Dailami Msi, (Kadis Perikanan dan Kelautan sekaligus Pembina Pramuka Saka Bahari Sambas) merapat tepat di depan sebuah rumah. “Ini rumah kepala desa,” ujar Suriawan.
Sayangnya kepala desa yang sangat ingin kami temui sedang tidak ada di rumah. Akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling Desa Semanga’ sekalian hunting. Sayang rasanya momen-momen bagus ini kami abaikan.
Sungguh merupakan sebuah pengalaman yang menakjubkan berada di desa ini. Suasana desa yang sangat tenang dan bersahaja yang kami rasakan secara instan memancing mata hati dan mata lensa kami untuk segera beroperasi. Disambut pemandangan Sungai Besar Sambas, ladang, aktifitas penduduk bercocok tanam, membelah kayu bakar, senyum ramah dan lembut tutur sapa warga membuat kami ingin rasanya tinggal di desa yang berpopulusi 3000 jiwa dari 800 kepala keluarga ini.
Kepala desa akhirnya dapat kami temui setelah lebih kurang satu setengah jam kami berkeliling di Desa Semanga’.Bapak Arifuddin mempersilahkan kami masuk dan spontan saja ruang tamu telah sesak dipadati anak-anak Borneo Photography. Tentu saja Gunung Senujoh menjadi topik utama. Pesona, misteri, dan potensi wisata yang terdapat di dalamnya mengelitik rasa kami untuk mengkaji lebih dalam. Gunung Senujoh dikelilingi oleh tiga desa utama seperti, Perigilimus, Semanga’ dan Senujoh. Menurut kepala desa, gunung yang sejak dulu berstatus hutan lindung ini bebas dari aktifitas eksploitasi hutan. “Karena bebas dari eksploitasi hutan, kualitas air di Gunung Senujoh sangat baik. Sekitar jam 5-6 pagi sering terdengar suara lempiau, monyet, burung ruai dan rangkong,” terang kepala desa yang memang telah beberapa kali ke gunung tersebut. Karena berpotensi menjadi objek wisata, Bapak Arifuddin bercerita bahwa dulu pernah dilakukan musyawarah dengan beberapa desa di sekitar gunung. Sayangnya, wacana untuk membuat Gunung Senujoh menjadi objek wisata terbentur beberapa kendala seperti, akses yang hanya menggunakan transportasi laut, ditambah lagi dengan pembangunan villa atau penginapan yang tentunya akan merusak lingkungan kawasan tersebut.
sebuah speedboat melintasi kawasan gunung senujoh
Titik koordinat Gunung Senujoh dari Kecamatan Sejangkung berada di Longitude 109 derajat 26’ 37.62” E dan Latitude 1 derajat 25’ 25.18” N ini sungguh memikat mata siapapun yang memandangnya. Bukan sesuatu yang tidak mungkin jika terus ditindak lanjuti secara konsisten oleh pihak-pihak terkait dan peduli, Gunung Senujoh tentunya akan memberikan efek yang sangat positif bagi warga sekitar. Mengingat Sambas berada di dekat perbatasan, bukankah itu satu hal yang bias kita manfaatkan? “Jika Gunung Senujoh benar-benar menjadi objek wisata, maka sangat perlu kita menjaga nilai-nilai tradisi dan budaya yang ada disini,” harap Bapak Arifuddin. Memang benar apa yang dikatakan oleh Ayah dari Rofifah (16), Aulia Rahmi (8) dan Geza Syafira (2,5) ini. Kami dari Borneo Photography juga mengharapakan hal yang sama dengan Bapak Arifuddin. Konon ceritanya, di Gunung Senujoh terdapat sebuah batu tulis peninggalan Belanda, dan masih banyak legenda-legenda lain yang hingga saat ini masih menjadi misteri. Menarik jika kawasan Gunung Senujoh dijadikan objek wisata alam dan desa-desa yang berada di sekelilingnya dijadikan kampung wisata budaya.
Perjalanan kami menyusuri sungai dari Muara Ulakan menuju Gunung Senujoh disuguhi pemandangan hilir mudik arus lalu lintas sungai yang padat. Hilir mudik kapal motor yang mengantar anak-anak sekolah, ibu-ibu yang ingin pergi berbelanja, rumah lanting dan beragam aktifitas penduduk perkampungan di sepanjang sungai. Sungguh menarik karena penuh akan struktur sosial, dan budaya yang khas karena belum tentu dapat kita temui di daerah-daerah yang lain di Indonesia. Harapan kami kawasan Gunung Senujoh juga menjadi proiritas utama bagi pemerintah setempat khususnya di bidang pariwisata. (mumu pocketmonster/17/06/09)
Salah satu kegiatan warga Desa Semanga
Bergesernya Ruang Publik Di Kota Pontianak
June 5, 2009 | Oleh : Borneo Photography | Kategori : Segelas Kopi
Oleh : Deman Huri Gustira

Alun-Alun Kapuas (photo: qnoy, pontianak, 2009)
Pontianak, merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Barat, sebagai ibu kota provinsi sudah dipastikan, Kota ini akan menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan segala aktivitas.
Salah satu untuk memahami citra lingkungan perkotaan dengan menata ruang dengan baik,sehingga mudah dipahami citranya, sehingga kota mempunyai krakter dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Sebagaimana kota-kota besar diseluruh Indonesia, selalu menjadi pusat berbagai aktivitas kegiatan, pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi. Kota akan terdapat satu aktivistas saling terintegrasi satu sama lainya, masyarakat dari berbagai latar belakang akan berdatangan ke kota, sesuai dengan kepentingan masing masyarakat.
Tak pelak lagi, akan dibutuhkan sebuah ruang publik untuk membangun komunikasi antara masyarakat untuk berintekraksi satu sama lainya baik untuk memecahakan masalah-masalah yang sedang dihadapi atau untuk sekedar untuk menghilangkan kepenatan selama beraktivitas. Sehingga kota akan akan menjadi sumber inspirasi.
Ruang publik, selain sebagai obyek persepsi juga merupakan tempat berperilaku warga yang beraneka ragam, sehingga muncul hubungan timbal balik dengan lingkungan yang merupakan proses konstruktif.
Untuk mengkonstruksi hubungan timbal balik tersebut, kota harus tampil dengan ciri yang khusus dan memiliki ruangan publik yang cukup. Ruang publik sebagai sebuah dalam dua pengertian, pertama; sebagai tempat wilayah. kedua; sebagai sebuah ruang bagi perkembangan ide, pikiran dan artikulasi berbagai kepentingan. Dengan dialetika antara Negara, publik dan pasar. Maka ruang publik memiliki kekuatan aspek kehidupan keseharian.
Isu ruang publik, telah menjadi salah satu kajian yang menarik. Di ruang publik akan terbangun budaya baru, akibat terintegrasinya berbagi kebudayaan dan kepentingan masyarakat yang memunculkan.
Namun, akhir-akhir ini ruang publik di Kota Pontianak makin berkurang, karena adanya intervensi berbagai kepentiangan terutama kebijakan dan pemodal. Yang mengakibatkan hilangnya ruang publik yang tadinya sebagai tempat berkumpul masyarakat menjadi hilang bahkan berubah fungsi.
Ruang publik di kota ini sedang dilanda bancana besar, ruang publik dihilangkan oleh bangunan-bangunan baru. Hal ini tidak terlepas kebijakan pemerintah, yang hanya mengutamakan kepentingan pemodal dari pada publik.
Adanya pergeseran ruang publik di kota Pontianak, yang semakin tidak jelas. Membuat masyarakat kota kehilangan ciri khasnya.
Pengeseran ini, merupakan manivestasi dari bergesernya kepentingan penguasa, pasar dan masyarakat dari berbagai kepentingan di kota Pontianak.
Akhir-akhir ini, sering terjadi konflik antar masyarakat dan pemerinta di berbagai kota di Indonesia termasik di kota Pontianak. Terutama dengan pedagan kaki lima. Kekeransan yang dilakukan oleh aparat terhadapat masyarakat, selalu kita dengar di penjuru Indonesia, Bahkan ada beberapa orang yang sampai meninggal dunia. Ini tidak terlepas konflik antar ruang publik yang telah mengalami pergeseran yang sangat besar.
Sebuah kewajaran terjadi konflik, kepentingan yang terjadi di lapangan selama ini. Kerana pemerintah tidak berdaya(Govemernability crisis), dalam menghadapi permasalahan sedang dihadapi. Ketidaksiapan itu dimanepestasikan dengan kekerasan pembersihkan pedagan kaki liman di beberapa tempat.
Karena pergeseran ruang publik yang tidak disikapi oleh pengambil kebijakan. Secara berkeadilan dan berkelanjutan. Apalagi strategi pengembangan kota dilepaskan begitu saja kepada mekanisme yang berorientasi pada kepentingan pasar. Sementara hajat bersama malah diabaikan. Akibatnya,kota tumbuh secara tidak teratur yang mengabaikan kepentingan publik dan menghilangkan citra khusus kota!
Pemerintah harus menyikapi pergeseran ini harus berbasiskan keadilan dan berkelanjutan dalam menyikapi dan jangan melepas begitu saja kepada kepentingan pasar, ini yang akan menjadi basis pemicu konflik berbagai kepentingan di Kota.
Kita sepakat bahwa kota harus bersih,indah sehingga akan menjadi sebuah sumber inspirasi berbagai kepentiangan. Pengambil kebijakan harus menyediakan ruang publik secara berkeadilan dan berkelanjutan yang mengakomodir semua yang berkepentingan di Kota ini.
Deman Huri Gustira : Direktur LPS-AIR
Mantap Ndak Tu
May 30, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Segelas Kopi
Wawancara Bersama
H. Mulyono Maruki Matsum, SE
Pontianak, BoP. Sepeda! Itulah yang dijanjikan oleh Ibu jika saya berhenti untuk tidak mencoret-coret dinding rumah lagi. Sambil menyiapkan sarapan, Ibu juga bercerita tentang atlet-atlet yang sepeda yang dia tahu pernah mengharumkan nama negara. Tentu saja saya tidak memperhatikan cerita Ibu, karena saya lebih tertarik membaca komik smbil menghabiskan sarapan.
Tidak menyangka juga jika akhirnya cerita di meja makan belasan tahun lalu membawa saya bertemu dan mewawancarai beberapa tokoh balap sepeda Kalimantan Barat seperti, Kalimanto Tulus Widodo, Johnny Van Aert,SE, MM dan H. Mulyono Maruki Matsum, SE. Asing dengan nama terakhir yang saya tuliskan? Jika iya, tentu saja tulisan ini akan membuat anda bisa mengenal sosok lebih dalam.

Maruki adalah salah satu pembalap sepeda terbaik yang pernah di miliki Kalimantan Barat (photo: Qnoy, Pontianak, 2009)
BERAWAL DARI SEPEDA MINI CROSS
Lahir dari keluarga yang sederhana tidak menghalangi Maruki kecil berteman dengan siapapun. Pergaulan serta pengaruh lingkungan yang positif, membentuk pribadi Maruki yang berkemauan besar dan tinggi akan semangat. Dari dua hal inilah kelak Maruki dapat mengharumkan nama Kalimantan Barat dan Indonesia.
Tahun 1978, saat masih bergabung di klab sepeda Funky, Maruki berhasil keluar menjadi juara di kejuaraan sepeda mini cross (Sekarang kita kenal dengan BMX atau MTB) yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Pemda Kal-Bar. Berangkat dari prestasi ini pula, pria kelahiran Pontianak 5 September 1965 silam ini perlahan membuka pintu awal karirnya sebagai atlet balap sepeda.
Karena suka main sepeda di SMP Negeri 3 Pontianak, akhirnya Maruki diajak bergabung di Perkumpulan Balap Sepeda Garuda, yang memang menjadikan sekolah tersebut sebagai centre latihan mereka. Di klab sepeda yang diasuh oleh Bapak Taufik Sabri ini, Maruki berhasil menjuarai kompetisi sepeda junior pada tahun 1980.
Johnny Van Aert yang lebih dulu bersinar lewat balap sepeda, membuat Maruki termotivasi dan bergabung di klab sepeda Panther, yang saat itu dicap sebagai pabrik pencetak atlet balap sepeda berprestasi. Tahun 1983 Maruki resmi diasuh oleh Bapak Erwin Anwar.

Maruki bersama sepedanya (photo: Qnoy, Pontianak, 2009)
PRESTASI
1978 : Juara sepeda mini cross HUT Pemda Kal-Bar
1983 : -Tour Jawa (Surabaya-Jakarta), ranking 3 besar junior di Indonesia.
-Dipanggil Pelatnas dan masuk daftar tim inti Kejuaraan Asia di Filipina.
-Juara 1 Kejuaraan Alpen Trophy, Tangkuban Perahu.
-Juara Sepeda Bunga Tulip, Bandung.
1984 : -Turun di kelas velodrom, point race 30 km.
-Tour de ISSI Sulawesi Selatan, 2 medali emas
1985 : Juara 2 di Sea Games Bangkok.
1986 : Juara di Kejuaraan Balap Sepeda Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Jakarta.
1987 : -Menjalani pembinaan dan mengikuti kompetisi sepeda di Alkmar, Belanda.
-Kejuaraan Asia di Jakarta dan mendapat medali perunggu.
-Sea Games di Jakarta, menghasilkan 2 medali emas, dan 1 medali perak.
1988 : Tour de ISSI. Juara 1 di kelasemen umum dan 1 medali emas, 5 medali perak, dan 3 medali perunggu di per-orangan.
1989 : -Tour de Indonesia (Jakarta-Surabaya-Solo) Juara umum di kelas beregu, dan 3 medali emas, 5 medali perak, serta 3 medali perunggu per-etape.
-PON di Jakarta, meraih 1 medali perak dan 2 perunggu.
-Sea Games Kuala Lumpur mendulang 1 medali perunggu.
1990 : Tour de ISSI (Jakarta-Medan) Juara 4 di kelasemen perorangan, juara 2 beregu, dan 7 medali emas, 5 medali perak, juga 5 medali perunggu.
1991 : Tour de Indonesia (Jakarta-Bali) di kelas beregu mendapat 3 medali perak dan 2 medali perunggu.
1992 : PON XIII Jakarta, 1 medali perunggu.
Setelah mengikuti PON XIII di Jakarta, Maruki memutuskan untuk berhenti. Tidak hanya dunia balap sepeda yang dia geluti. Lari marathon dan balap motor juga pernah dijajal oleh oleh pemilik zodiak Virgo ini. Tahun 1982 dia berhasil menjuarai Kejuaraan Marathon Kal-Bar. Juara 2 marathon Kejurnas pra PON, Jakarta. Sedangkan di balap motor beberapa prestasi juga pernah ditorehkannya seperti, juara 3 kelas bebek Motor Grass Track 1982, Singkawang. Menjuarai kelas Sport Tune Up dan mewakili Kal-Bar di Sentul pada tahun 1994.

Maruki (tengah) berfoto bersama BoPhians (ki-ka, mumu dan eko) sesudah wawancara (photo: Qnoy, Pontianak, 2009)
PENTINGNYA PEMBINAAN DAN KOMPETISI
Menurunnya prestasi balap sepeda Kal-Bar menurut Maruki dikarenakan minimnya pembinaan dan kompetisi. Kepengurusan ISSI Kal-bar yang belum solid juga dinilai sebagai faktor utama menurunnya prestasi balap sepeda di Bumi Khatulistiwa. “Atlet-atlet muda akan banyak bermunculan jika banyak diadakan kompetisi. Bila ada atlet yang dinilai baik, tentunya akan dilakukan pembinaan lanjutan guna mengikuti kompetisi di daerah, nasional, dan bahkan internasional,” terangnya. Sebagai contoh, Maruki menyebutkan beberapa nama balap sepeda Kal-bar yang muncul dari penyelenggaraan kompetisi. Dimana nama-nama besar tersebut adalah para seniornya. (Ismail Marzuki, Jamaludin, Ahmad Gapuri, Edi Prawoto, Johnny Van Aert, dan Kalimanto.)
Salah satu cara untuk menggali potensi baru balap sepeda, Maruki kerap melakukan kejuaraan balap sepeda tahunan bersama Bank Kal-Bar. “Diperlukan waktu dan proses selain kemauan besar dari atlet itu sendiri. Pembinaan dan kompetisi itu wajib. Dari pembinaan, atlet ditempa untuk memiliki fisik, mental, dan semangat yang baik. Lewat kompetisi, atlet dapat mengevaluasi hasil latihan dan dirinya, juga menambah jam terbang. Jika sudah seperti itu, saya yakin Johnny Van aert-Johnny Van Aert baru, Kalimanto-Kalimanto baru, atau Maruki-Maruki baru akan kembali memantapkan prestasi balap sepeda Kal-Bar. Saya juga mengharapkan kepada semua orang tua agar jangan salah mendidik anak. Arahkanlah ke olah raga sepeda. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat! Mantap ndak tu!? Hahaha,” ujar Maruki dengan gaya bercanda menyampaikan fakta.
Ayah dari Dimas Jordy Fadli (15), Faris Fathur Rifqi (11), Muhammad Marciano Ramadhani (6), dan Siti Cahaya Umairah (12 bulan) ini juga punya keinginan yang besar untuk membangun Pontianak yang sehat. “Biasakanlah bersepeda jika tidak terlalu buru-buru. Dengan begitu keringat akan keluar. Keringat yang keluar tersebut dapat membuang racun yang kita dapatkan dari gas kendaraan, asap pabrik dan bahkan dari makanan dan minuman yang mengandung zat-zat yang tidak baik untuk tubuh. Jika kita rajin berolah raga, tentunya tubuh akan menjadi sehat. Karena kualitas tidur akan baik (nyenyak) dan pada saat bangun pagi, tubuh juga terasa ringan,” terang Maruki.
MARUKI’S FACT
1. Kepala Biro Roda Empat, Ikatan Motor Indonesia Kalimantan Barat.
2. 1 Mei 1999, mendirikan MOTORHEAD
3. Mendapat Penghargaan Bintang Kelas 3 Presiden Soeharto dari Menpora Akbar Tanjung.
4. Pimpinan Bank Kalimantan Barat, Sui. Pinyuh.
(mumu pocketmonster/29/05/09)
Kalimantan Barat Terpuruk
May 22, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Segelas Kopi
Masih dalam upaya meningkatkan kembali prestasi olah raga balap sepeda Kalimantan Barat. Setelah beberapa waktu lalu mewawancarai Kalimanto, kini Borneo Photography kembali mengusung tema yang sama. Walaupun masih awam dengan cabang olah raga yang satu ini, saya tetap ngotot memberi dukungan lewat tulisan yang sedang anda baca sekarang ini.
Senin malam (18/05/09) saya tidak merasa kesulitan mencari kediaman Johnny Van Aert, SE, MM yang beralamat di Jalan Purnama, gang Purnama 8, no. 1A, Pontianak. Sambutan hangat tuan rumah membuat tubuh saya terasa ringan setelah seharian bekerja. Jujur, saya merasa begitu gugup di depan tokoh balap sepeda Kal-Bar yang juga salah satu dosen pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi “Indonesia” Pontianak ini. Pengalaman dikeluarkan dari kelas kembali terurai jelas di seluruh jaringan otak. Saya harus cepat menguasai keadaan dan menyusun semangat dengan modal nekat!

Johny Van Aert, salah satu mantan atlet balap sepeda Kalbar (photo: Mumu, Pontianak, 2009)
Awal Karir
Tahun 1974 adalah tahun dimana Johnny mengawali karirnya di olah raga balap sepeda. Karena baru menginjak usia 18 tahun, dia dianggap sebagai atlet muda bila dibandingkan dengan atlet-atlet yang lainnya pada masa itu. Berlatih, berlatih, dan berlatih, akhirnya mengantarkan Johnny ke Pelatnas dan meraih perunggu di PON (Pekan Olah Raga) X tahun 1977.
Mengikuti SEA Games 1977, ASIAN Games 1978 di Bangkok, Tour de ISSI 1978 (10 etape Jawa Timur-Bali dan berhasil meraih runner up), SEA Games 1979 di Malaysia (medali perunggu), SEA Games Jakarta (medali emas di kelas 180 km perorangan), dan Tour de ISSI Kal-Bar 1981 adalah sederet kompetisi yang dilahap oleh Johnny.
Pada tahun 1979 setelah menjuarai SEA Games, dimana jabatan Gubernur Kal-Bar pada saat itu masih diemban oleh Bapak Soedjiman, ayah dari Dova Van Aert (22) ini pernah mendapatkan beasiswa yang membebaskannya untuk kuliah di perguruan tinggi manapun di seluruh Indonesia. Pilihan jatuh pada Universitas Tanjungpura Pontianak.
Di satu sisi Johnny dapat meluluskan niatnya untuk kuliah, tapi di sisi lain, dia dihadapkan pada keabsenannya di beberapa kompetisi. “Di ujian semester satu saya dipanggil untuk mengikuti kejuaraan Asia di Bangkok. Tapi saya memutuskan untuk mengikuti ujian. SEA Games di Manila juga tidak pergi, karena bentrok sama ujian. Akhirnya saat ASEAN Games di New Delhi di India, nama saya dicoret dari daftar nama tim balap sepeda Indonesia,” kenang Johnny. Suami dari Briggita, SH yang sempat belajar di Sekolah Akademi Bank di jakarta ini akhirnya menyudahi karir lebih awal.
Kalimantan Barat Terpuruk
Senada dengan yang dikatakan oleh kalimanto, Johnny menjelaskan kondisi balap sepeda di Kal-Bar saat ini berada di bawah. Dana memang masih menjadi masalah utama. Pembinaan dan kompetisi tidak akan berjalan lancar tanpa ada pembiayaan. Kenapa kita tidak mencontoh negara lain yang seluruh pembiayaan atletnya di dukung penuh oleh pemerintah? Karena pemerintah daerah ini tidak akan mendukung bidang olah raga tanpa ada kepentingan politik di dalamnya. Sesuatu yang penulis nilai sebagai hal yang sangat menyedihkan.
Jika ingin sedikit saja menyadari, sesungguhnya Kal-Bar memiliki atlet-atlet muda berbakat yang jika diberikan perhatian, bukan hal yang tidak mungkin beberapa tahun ke depan, atlet-atlet muda ini akan menunjukkan taringnya di kompetisi daerah, nasional, bahkan internasional.

Johny Van Aert bersama sepedanya (photo: Mumu, Pontianak, 2009)
Beruntung Pontianak memiliki TNT (Temen Nunggu Temen). Komunitas pecinta sepeda ini beberapa waktu lalu memberikan sebuah sepeda balap kepada seorang atlet balap sepeda putri asal Mempawah yang bernama Fitri sebagai motivasi untuk meraih prestasi. Dana yang terkumpul hampir mendekati Rp 50 juta rupiah berasal dari kocek pribadi para anggota TNT, ini adalah bentuk kepedulian yang besar terhadap olah raga balap sepeda di Kal-Bar.
Sulitnya mencari ketua umum menyebabkan ISSI Kal-Bar berjalan tanpa dana dan ketua. Hal ini tentu saja berdampak tidak baik untuk denyut cabang olah raga ini. Kal-Bar tidak pernah lagi mengirimkan atlet-atletnya mengikuti kompetisi-kompetisi nasional.
Tidak ingin situasi ini semakin memburuk, di sela-sela kesibukannya sebagai staf dosen di Akademi Sekretaris Manajemen Indonesia (ASMI) Pontianak, setiap hari Kamis hingga Minggu Johnny berangkat ke Anjungan dan melatih sepuluh orang atlet muda di sana. “Namanya Persatuan Balap Sepeda Beruang Hitam. Saya melatih lima atlet putra dan lima atlet putri,” terangnya. Untuk ke depan kakak kandung Benny Van Aert ini mengharapkan dukungan untuk olah raga balap sepeda. “Memang perlu waktu untuk mengejar ketinggalan. ISSI Kal-Bar kini mencari Bapak angkat dan ketua yang benar-benar ingin memajukanprestasi balap sepeda melalui pembinaan serius, dan konsisten menjalankan program.” tutup Johnny Van Aert.
Kantor Baru
May 14, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Segelas Kopi
Sebuah rumah yang beralamat di Jalan Parit Haji Husein II, Komplek Mitra Indah Utama 4 no. A6 Pontianak, resmi menjadi kantor sekretariat Komunitas BIDAR (Bangun Insan dan Budaya Rakyat) yang baru. Penghuni-penghuninya antara lain, Kelompok Rumah Belajar Teater Gelombang, KAKAF (Kalimantan Komunitas Film), Borneo Fresh (kelompok lingkungan hidup) dan kami, Borneo Photography.

markas baru (photo: mumu, 2009)
Minggu (09/05) beberapa teman menggelar aksi Cleaning out Da House. Bagian belakang sampe teras berhasil dibikin kinclong bin rapi. Kamar mandi dan kaca jendela juga nggak luput dari aksi mereka. Dinding ruang tamu yang tadinya hanya merupakan ruang kosong membosankan bercat putih nan pucat, kini tampil lebih berwarna setelah dihiasi beberapa foto hasil jepretan fotografer-fotografer yang dulu pernah ngepos di Yayasan BIDAR. Kami yang member-member baru jelas nggak mau ketinggalan. Ruang belakang yang merangkap sebagai ruangan yang paling gede di kantor ini, sukses dibikin semarak dengan ditampilkannya karya-karya foto yang lahir dari mata hati dan mata lensa laskar-laskar barunya Borneo Photography.

lelah setelah membersihkan rumah, jadinya laper trus makan deh (photo: mumu, 2009)
Cuaca mendung yang ditemani gerimis, menggoda perut untuk segera diisi. Hidangan yang memang telah disiapkan sejak tadi pagi cepat kami amini dengan semangat berapi-api. (Dibaca: Lapaaaaar). Trus, abis makan enaknya ngapain? Nyantai sambil ngopi, chuy!
Nggak terasa sore udah datang. Beberapa teman minta diri untuk pulang. Beberapa yang tersisa masih asyik ngobrol ngalur-ngidul membahas rencana-rencana ke depan yang ditambah senda gurau khas Borneo Photography.
Tak lupa mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami juga berharap dengan adanya kantor baru ini, kami bisa lebih termotivasi dan giat melahirkan ide, karya, dan kegiatan-kegiatan yang berguna bagi Bumi Khatulistiwa. (mumu “pocket monster”/10/05/09)
Acara Bedah Foto BoP
May 14, 2009 | Oleh : Yaya | Kategori : Segelas Kopi

Suasana Bedah Foto (photo: Dok)
Sabtu,9 Mei 2009, Borneophotography (BoP) mengadakan bedah foto yang isinya membahas tentang karya foto para member BoP yang bertema sosial budaya. Tujuan acara tersebut adalah bagaimana cara kita memahami konsep foto kita sendiri. Intinya suatu pembelajaran bagi kita untuk melihat kekurangana dari foto kita dan menerima komentar serta kritikan foto yang dipresentasikan oleh tiap member dari orang lain. Bedah foto ini dihadiri sekitar 20 orang member BoP dan membahas sekitar 20 karya dari 12 peserta. Seperti member kita, Abeth. Menampilkan karya foto nya berjudul “TILANG”. Foto itu menggambarkan seorang polisi yang sedang menilang pengendara yang melanggar aturan lalu-lintas. Kemudian dengan karya yang berbeda Dani menampilkan seorang polisi yang sedang menertibkan pengendara mobil yang menggunakan huruf jepang pada plat nomor kendaraan nya. Acara ini juga dihadiri oleh salah satu fotografer yang aktif di FN (Fotografer Net) dan milis PENTAX Indonesia, Muhammad Rizky.

Pak rizky (baju putih) sedang memberikan masukan terhdapa karya salah satu anak BoP (photo: Dok)
Beliau juga mempresentasikan karya-karya nya hasil perjalanan dibeberapa provinsi di Indonesia. Karya-karya beliau lebih mengarah kepada kategori Human Interest. Komposisi yang menarik serta karakterisitik dari foto beliau menjadikan sebuah pembelajaran baru bagi peserta bedah foto.(yaya/11/05/09)
Latihan Membuat Sempurna
May 14, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Segelas Kopi
wawancara dengan:
Kalimanto Tulus Widodo

Siapakah yang mengibarkan bendera Indonesia di negara lain selain Presiden Indonesia? Saya harap jawaban anda adalah atlet. Mau atlet renang, balap sepeda atau catur, mereka adalah orang-orang yang mengibarkan Sang Merah Putih di negara luar. Selain kita mengenal ada pejuang kemerdekaan dan pahlawan revolusi, tentu tidak berlebihan jika atlet-atlet yang telah mengharumkan nama bangsa di mata dunia juga pantas kita sebut sebagai pahlawan. Sebagaimana dengan pahlawan-pahlawan yang lain, negara juga patut menghargai jasa-jasa para atlet
Semasa saya kecil, Indonesia sempat menjadi sorotan dunia karena ada seorang atlet asal Kalimantan Barat yang berlaga di Olympiade 1992. Cukup mencengangkan jika diingat saat itu belum ada fasilitas velodrom atau fasilitas-fasilitas lain yang mendukung cabang olah raga ini.

Kalimanto memimpin perlombaan (photo: dok)
Sayangnya momen itu sangat bertolak belakang dengan kondisi olah raga balap sepeda di Kalimantan Barat saat ini. Jika dilihat secara umum, ternyata Kalimantan Barat hanya mampu berada di urutan bawah jika dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia.
Lahir pada tanggal 23 Agustus 1965. Ia diberi nama Kalimanto Tulus Widodo. Hanya di dukung dengan sepeda berteknologi minim, yang dibalut dengan semangat dan keinginan yang besar, pada tahun 1979-1980 Kalimanto mulai menekuni olah raga balap sepeda. Hari-harinya dihiasi dengan latihan membentuk fisik dan mental. Bimbingan dari sang pelatih juga punya efek yang tidak kecil dalam menentukan langkah-langkah Kalimanto berikutnya.
Usaha dan kerja keras suami dari Masita Lestari ini tidak sia-sia. Tahun 1985 Kalimanto berhasil menduduki posisi ke tiga di Pekan Olah Raga Nasional (PON). Setelah mengikuti kompetisi di kota Padang, Kalimanto memutuskan untuk vakum karena ingin kuliah. Jurusan Akutansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pontianak menjadi tempatnya menimba ilmu selama setahun.

Kalimanto saat menjuarai perlombaan (photo: dok)
Tahun 1988 bersama Maruki dan Beny Van Aert, Kalimanto kembali menggenjot sepeda. Kali ini mengikuti kompetisi di Jakarta dan berhasil menduduki posisi ke empat. Di tahun yang sama, pada usia 22 tahun, ia dipanggil Pelatnas dan mengikuti Malaysia Open 1989 di kelas 1000 meter sprint. Emas pun berhasil diraih olehnya. Kalimanto juga berhasil menggapai emas di SEA Games Filipina di kelas 1000 meter massa start. “Latihan membuat sempurna,” kira-kira itulah ungkapan saya untuk sosok yang tergabung di klub sepeda Panther ini. Keseriusannya, sikap mau menerima nasehat dari senior, disiplin dan kemauan besar untuk maju, mengantarkannya meraih posisi 17 tingkat dunia di Amerika, posisi 4 tingkat dunia di Eropa, dan posisi 2 tingkat dunia di Australia. Karena kecintaannya pada olah raga balap sepeda, Ayah dari Muhammad Rizky (13), Ahmad Raditya (11), dan Rahmad Abizar (10) ini bergabung di komunitas sepeda TNT (Temen Nunggu Temen) yang bertujuan memotivasi insan olah raga balap sepeda untuk meraih prestasi.

Faktor menurunnya prestasi olah raga balap sepeda Kalimantan Barat menurut Kalimanto disebabkan karena belum ada figur yang bisa memanajerial dan memanajemen ISSI secara baik. “jika ada sosok yang bisa berperan aktif membangun olah raga balap sepeda di Kalimantan Barat, saya pikir orang itu sangat tepat menjadi ketua ISSI. Selama ini kursi ketua ISSI masih kosong karena memang belum ada kader yang cocok,” jelas Kalimanto.
Bendahara TNT ini juga menyayangkan pembangunan velodrom yang salah dan tidak sesuai standar internasional. Ditambah lagi dengan sikap pembalap-pembalap muda yang bersikap kurang disiplin, tidak ada kemauan, tidak punya target, dan tidak latihan jika pelatih tidak datang . “Anak sekarang terlalu manja,” ujar Kalimanto.
Diantara kendala-kendala diatas, ada satu hal yang membuat Kalimanto optimis olah raga balap sepeda di Kalimantan Barat akan kembali bergeliat. Selain memiliki atlet balap sepeda putri seperti Tori (Pontianak), dan Fitri (Mempawah), Singkawang juga memiliki empat atlet balap sepeda putra yang dinilai Kalimanto cukup punya potensi. “Senang dan salut melihat mereka bertanding. Meski dilatih oleh pelatih yang tidak di level nasional, tapi mereka punya mental dan fisik yang baik. Sangat susah mencari atlet-atlet seperti mereka. Usaha mereka benar-benar maksimal meskipun pada akhirnya tidak menjadi juara.”
Kalimanto juga sering berpesan kepada junior-juniornya untuk selalu serius, disiplin, mau menerima nasehat dari senior, dan berkemauan besar. Hal itu selalu ditekankannya mengingat anak-anak zaman sekarang dinilai Kalimanto, kurang memiliki mental yang baik, tidak disiplin, kurang serius, dan cenderung malas.
Beberapa foto telah didapatkan. Dengan mengucapkan banyak terimak kasih, kami pamit dari rumah Kalimanto yang beralamat di Jalan Parit Haji Husein II, Perumahan Acisa Permai, no. 42, Pontianak. (mumu “pocket monster”/10/05/09)
Suara Kecil
May 11, 2009 | Oleh : Yaya | Kategori : Segelas Kopi
Bapak Abdul Hakim (40) seorang kepala keluarga yang tinggal di Gg. Jeruju 3 Dalam, adalah potret salah seorang pekerja keras yang berusaha menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai seorang pemulung. Sudah 6 tahun Bapak Abdul Hakim menjalani pekerjaannya ini. Setiap hari, bapak dari 3 orang anak ini mulai bekerja dari pukul 5 pagi. Beliau menyusuri sepanjang jalan, berusaha mencari barang bekas ataupun sampah yang masih dapat dijual guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, tetapi beliau mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai). Namun demikian, beliau tidak pernah putus asa mendorong gerobaknya meski hanya mendapatkan penghasilan berkisar 30-40 Ribu Rupiah perhari, dan itupun harus dicarinya sampai pukul 20.00 WIB.

Pak Abdul Hakim, Potret salah satu warga kecil Pontianak (photo: sinatrya ananda, 2009)
Terkadang penyakitpun menghampirinya, seperti radang paru-paru yang kerap membuatnya merasa sakit di bagian dada. Untuk mengobatinya, Bapak Abdul Hakim berobat ke puskesmas. Walaupun sakit, beliau tetap melakukan aktifitasnya tanpa lelah. “Saya berharap agar pemerintah lebih memperhatikan rakyat kecil seperti saya,” ujrarnya. Itulah keinginan sederhana dari salah satu diantara rakyat Indonesia, yang hanya ingin menjalani kehidupan yang layak.(yaya/11/05/09)

Pak Abdul Hakim saat menjalani perkerjaannya sebagai pemulung (photo: sinatrya ananda, 2009)
Pelatihan Jurnalistik
April 6, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Segelas Kopi

"Suasana pelatihan jurnalistik" (foto: Erru)
Minggu (05/04/09) di gelar pelatihan jurnalistik yang bertempat di ruangan D8-D9 Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak. Acara ini di selenggarakan berkat kerjasama Borneo Photography dan HIMAJEN (Himpunan Mahasiswa Manajemen.)
Pelatihan jurnalistik yang menghadirkan Bapak Pradono sebagai pembicara, terpaksa harus mengalami pengunduran waktu selama lebih kurang dua jam dari waktu yang telah di tentukan. Di samping karena faktor cuaca yang kurang bersahabat, kemunduran waktu ini juga di karenakan figur Bapak Pradono yang memang terkenal sibuk di bidangnya. Meski mengaku baru kehilangan jas hujan, pemimpin redaksi majalah RADAR yang akrab disapa Bang Don Akar ini tetap semangat menyampaikan materi kepada seluruh peserta pelatihan.
Materi yang di sampaikan mulai dari dasar-dasar jurnalistik, kode etik wartawan, keakuratan menulis berita, dan lain-lain. Jurnalistik yang memang selalu dikaitkan dengan media massa seperti koran, tabloid, dan majalah membuat Bapak Pradono tidak segan-segan berbagi pengalaman. Bapak yang lebih sering di kantor daripada di rumah ini selalu menyelipkan kelakar dan banyolan di sela-sela materi yang dia sampaikan.
Baik dari peserta maupun pembicara, pelatihan yang hanya digelar dalam satu hari ini ternyata dirasakan masih kurang. “Sebenarnya pelatihan jurnalistik tidak cukup dalam satu hari. Tapi idealnya dua hari. Hari pertama di isi dengan teori, dan hari berikutnya bisa langsung praktek,” ujar Bapak Pradono.
Pelatihan Jurnalistik di tutup dengan pemberian kenang-kenangan berupa pelakat dari HIMAJEN kepada Bapak Pradono dan Borneo Photography yang di wakili oleh Indra Ae’. Tidak hanya HIMAJEN yang memberikan kenang-kenangan untuk Bapak Pradono. Terbukti ada gambar hasil olah tangan dari dua peserta pelatihan yang turut menyemarakkan akhir acara. Beberapa peserta yang lain juga turut mengabadikan momen tersebut dengan kamera mereka.(mumupocketmonster/06/04/09)
Bincang Santai
March 28, 2009 | Oleh : Eko Suryanto DAULAY | Kategori : Segelas Kopi

Pak Salim, Warga Sui Berembang (photo : eko suryanto daulay 2009)
Sui Berembang (26/03/09), perbincangan saya di mulai dengan sekedar beramah tamah dengan salah satu warga Sui Berembang sambil berniat melepaskan lelah setelah beberapa perjalanan menyusuri sungai dari arah Jeruju. Berawal dari situlah perbincangan saya dengan pak Salim ternyata begitu memberikan suatu cerita suatu keingintahuan saya akan kehidupan masyarakat Sui Berembang, mulai dari aktivitas warganya seperti apa hingga berkenaan dengan pemilu yang akan semakin dekat. Walaupun Sui Berembang ini kalau dilihat dari lokasi, tidak terlalu jauh dari kota Pontianak. Namun akses jalan menuju kesana cukup terkesan lama dan banyak jalan berlubang maupun yang tergenang air, hal ini disebabkan jalannya hanya jalan tanah. Padahal kalaupun jalan itu sudah beraspal, tentu ini dapat membangkitkan nadi kehidupan Sui Berembang.
Pak salim sendiri banyak bercerita mengenai politik khususnya pemilu, kalau kita menyusuri jalan Sui Berembang ini baik itu jalan masuk maupun jalan keluar, disitu terlihat atribut-atribut partai peserta pemilu. Bendera-bendera partai menghiasi tepi jalan, kadangkala beberapa bendera partai yang ukurannya agak besar tertancap di depan rumah warga. Bagaimana cara memilih itu sendiri juga banyak tetempel dirumah-rumah warga. Hal ini bisa terlihat bagaimana geliat pesta demokrasi tersebut juga tidak luput bagi partai-partai peserta pemilu yang masuk ke Sui Berembang.
Nah bagaimana dengan para calon legislatifnya itu sendiri?
Inilah salah satu cara para caleg untuk memikat hati warga Sui Berembang, mereka pada umumnya lebih sering memakai cara pendekatan secara langsung ke warga. Jadi para caleg ini bersosialisasi dengan warga dengan cara bersilahturahmi berkunjung kerumah-rumah warga sambil memberikan pamflet ataupun kalender yang berisi info program-program caleg itu sendiri. Dan bukan hanya itu saja, mereka juga memperkenalkan diri serta memberikan janji-janji kepada warga Sui Berembang guna mendapatkan suara di pemilihan nantinya.
Namun Pak Salim tidak terlalu memusingkan segala apapun cara mereka guna memikat hati warga, Pak Salim hanya berharap siapapun nantinya yang terpilih itu, bisa mewujudkan harapan cita-cita warga Sui Berembang. Contohnya perbaikan jalan, penambahan lampu-lampu guna menerangi pada malam hari, dan perwujudan fasilitas publik itu sendiri seperti sekolah, puskesmas, tempat ibadah.
Yah sebenarnya harapan cita-cita warga Sui Berembang juga tidak terlalu dibilang mewah. Tapi disitulah antusias warga Sui Berembang terhadap pemerintah.
Yah semoga saja itu bisa terwujud……..
Terimakasih untuk Pak Salim.


