Bookmark and Share

Ketapang Big Year 2013

Big Year?. Terdengar seperti judul film ya?. Yap, Benar. Film yang dirilis tahun 2011 ini menceritakan tiga orang yang diperankan oleh Owen Wilson sebagai Kenny Bostick, Brad Harris sebagai Jack Black, dan Steve Martin sebagai Stu Presissler yang cinta bahkan tergila-gila pada dunia burung (Birding), yang meliputi dari mengamati habitat, ciri, mendengar suara, kemudian mengidentifikasi jenisnya. Film ini bercerita tentang Kompetisi 3 orang tersebut dalam pengamatan burung selama setahun di Amerika Serikat dan siapa yang berhasil mengidentifikasi jenis burung terbanyak dalam satu tahun. Trus hubungannya dengan Ketapang apa? Ayoooo, lanjut bacanya dibawah.

Segerombolan Calidris ruficollis mulai ramai di pantai menandakan dimulainya musim migrasi – Yopri

Chlidonias leucopterus – Abdurahman Al Qadrie

Sekedar informasi bagi pembaca, di Kabupaten Ketapang ini adalah merupakan salah satu surga bagi pengamatan burung di Kalimantan Barat, karena hampir 250 spesies dari total burung yang tercatat sebanyak sekitar 600 spesies untuk Pulau Kalimantan dapat ditemukan disini. Kabupaten Ketapang juga menjadi tempat migrasi bagi burung dari kawasan Siberia, Asia bagian utara (termasuk Jepang dan Korea), Alaska, dan juga dari Australia. Di Ketapang ini pula terdapat sebuah komunitas pengamat burung bernama Birding Society of Ketapang (BSyOK) atau juga di kenal dengan nama Kawan Burung Ketapang (KBK).

 

Orthotomus ruficeps – Doni

Kawan Burung Ketapang (KBK) dibentuk pada tanggal 9 Mei 2007 di kantor Informasi Budaya dan Pariwisata (INBUDPAR) Kabupaten Ketapang, dengan tiga orang penggagas Hudi DW, Yudo Sudarto, dan Ady Kristanto. Dengan Agenda seperti Sunday Bird Watching, Inventarisasi, Inventarisasi daerah pengamatan dan jenis burung di Kabupaten Ketapang, dan Kampanye tentang pelarangan perburuan burung di kawasan Pantai Air Mati dan daerah Pengamatan lainnya di Kabupaten Ketapang.

Bang Doi (Baju merah) bersama rekan-rekan BSyOK dan Ketapang Photographer Community di Pematang Gadung untuk mengamati Black Hornbill. (Dokumentasi BSyOK/KBK)

Nah, salah satu Pengamat Burung yang saya kenal adalah Abdurahman Al Qadrie atau biasa dipanggil Bang Doi atau Bang Dur, pria dengan rambut keriting ini mulai mencintai kegiatan pengamatan burung pada tahun pertengahan 2009 dimana ditahun ini pula ia bergabung dengan KBK. Sebelumnya beliau sempat memandu seorang Pengamat Burung asal Belanda, Bas Van Balen di Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang pada tahun 2008 yang kemudian menginspirasi Bang Doi sebagai orang lokal dan ia pun mulai mengamati Burung-burung Hutan Rawa-Gambut di Pematang Gadung. Sementara itu, Bas Van Balen juga merupakan salah satu penulis yang ikut menyusun buku bersama Lembaga Ilmu dan Penelitian Indonesia (LIPI) tentang “Seri Panduan Lapangan Burung-Burung di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan”, yang kemudian menjadi panduan bagi kawan-kawan BSyOK dalam mengidentifikasi burung yang ada di Ketapang.

Buku yang menjadi panduan dalam pengamatan burung. (Ande)

Dari hasil pengamatan dan identifikasi ternyata rekan BSyOK berhasil menemukan burung yang belum tercantum dalam buku tersebut di dalam pengamatan mereka di Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang ditemukan jenis seperti Tyto longimembris dan Gallirallus philippensis yang mana kedua jenis burung ini tercatat sebagai jenis burung kawasan Australasia (Sulawesi, Papua, dan Australia).

Anthracoceros malayanus – Edi

Selain Bang Doi, nama-nama seperti Erik, Doni, Yopri, Jephi, Edi, dan Zaki adalah anggota yang aktif di BSyOK. Tempat-tempat di Kabupaten Ketapang seperti Pantai Air Mati, Hutan Kota, Pematang Gadung, dan Pantai Sungai Besar menjadi favorit rekan-rekan dari BSyOK dalam mengamati dan memotret burung di Kabupaten Ketapang. Dalam kegiatan tersebut, rekan-rekan BSyOK ini sudah terbiasa dengan yang namanya berendam di air, nyaris di kejar beruang, merayap di pasir pantai, dan berjalan di lumpur pantai yang cukup dalam demi mengamati dan mendapatkan foto yang bagus. Penulis sendiri pernah merasakan saat hunting bersama mereka.

Dokumentasi BSyOK/KBK

Dalam pengamatan burung khususnya burung pantai yang bermigrasi, musim migrasi umumnya terjadi pada bulan Agustus sampai dengan bulan Maret. Karena di bulan tersebut di daerah asal burung-burung tersebut memasuki musim dingin sehingga burung-burung tersebut mencari daerah yang lebih hangat untuk mencari makanan. Tak heran jika di Pantai-pantai di Ketapang berjejer burung dengan jumlah banyak. Sedangkan untuk burung di Hutan tidak ada waktu khusus untuk pengamatannya.

Charadrius leschenaultii dan Heteroscelus brevipes – Abdurahman Al Qadrie

Lalu bagaimana dengan 2013? Apakah akan ada kompetisi serupa seperti di film Big Year di Ketapang atau bahkan Kalimantan Barat?. “Ya, semoga tidak ada halangan, kami berencana untuk membuat semacam kompetisi seperti itu, dan kami sedang menyusun list-list burung yang ada di Kalimantan Barat sebagai panduan dalam mengamati dan mendokumentasikan burung-burung tersebut”, ucap Bang Doi yang pernah mengalami kamera dan lensanya tercebur ke air saat memotret burung. “jikalau terdapat burung yang tidak terdapat di list tersebut tentu malah menjadi informasi yang bagus bukan hanya bagi pengamat saja tapi juga menjadi pengetahuan bagi masyarakat, semoga kompetisi ini bisa terwujud tahun depan”, ujar Bang Doi seraya menunjukkan foto-foto burung yang didapatnya selama ini.

Komunitas ini sendiri memiliki harapan dan tujuan agar menjadi orang-orang yang ikut peduli terhadap kelestarian habitat dan burung-burung yang ada di Ketapang khususnya bahkan Kalimantan pada umumnya. Bagaimana dengan pembaca sekalian? Tertarik ikut mengamati burung?.

*sumber foto: rekan-rekan BSyOK/KBK

Nusa Tenggara Timur Trip

KUPANG

Kupang berada di Pulau Timor. Nama Kupang sendiri diambil dari nama seorang Raja. Nai Kopan adalah raja yang memerintah Kupang sebelum Portugis tiba di Nusa Tenggara Timur. (Mumu/28/03/12)

 

patung_komodo_di_jalan_A_Yani__Strat_A___Kupang.JPG

Patung Komodo di Jalan A.Yani (Strat A), Kupang. (Foto : Mumu)

 

Taman_Nostalgia__jalan_El_Tari__Kupang.JPG

Taman Nostalgia, Jalan El Tari, Kupang. (Foto : Mumu)

 

 

Gong_Perdamaian__Kupang.jpg

Gong Perdamaian Nusantara. 8 Februari 2011 diresmikan Oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Gong Perdamaian Nusantara yang terletak di Taman Nostalgia, Jalan El Tari ini dianggap sebagai simbol pemersatu masyarakat Kupang yang terdiri dari berbagai etnis dan agama. Di Gong tersebut terdapat 33 logo provinsi se-Indonesia. (Foto : Mumu)

 

Kelurahan_Nun_Baun_Sabu.jpg

Kelurahan Nun Baun Sabu, Kupang. (Foto : Mumu)

 

Kelurahan_Nunhila.jpg

Kelurahan Nunhila, Kupang. (Foto : Mumu)

 

Monumen_Pahlawan_Sonbait__Jalan_Raya_Tompelo__Kupang.jpg

Monumen Pahlawan Sonbai. Sobe Sonbai III adalah Raja Timor yang berjuang melawan Belanda. Monumen Pahlawan ini berada di Jalan Urip Sumoharjo - Soekarno, Kupang. (Foto : Mumu)

 

LEMBATA

Saya berbaur dengan penumpang di dalam Ferry Jurusan Kupang – Lewoleba. Di sini saya menyewa matras untuk tidur. Posisi untuk beristirahat yang dipilih juga tidak terlalu jauh dari letak televisi. 12 jam berada di laut lepas tentu saja hiburan saya hanya televisi dan lagu-lagu Mp3 dari telfon genggam saya.

Pukul 5 pagi. Hanya rokok dan kopi susu hangat yang menemani setelah baterai dari telfon genggam saya benar-benar “tewas”. Matahari belum menunjukkan wujud. Tapi sinarnya sedikit demi sedikit menyapu lautan.Saya harus berdesak-desakan dengan penumpang lain untuk menyaksikan aksi ikan lumba-lumba yang berenang dan melompat di sisi kiri ferry. Saya tidak yakin dengan jumlah mereka. Cepat dan sulit ditebak kapan mereka melompat ke atas permukaan air, membuat saya kesulitan mengabadikan salah satu jenis ikan penghuni Laut Sawu tersebut.

 

Pelabuhan_Lewoleba__Kab._Lembata__1_.jpg

Lembata adalah sebuah kabupaten di Flores Timur. Pada zaman pemerintahan Belanda, Pulau ini dulu dikenal dengan nama Pulau Lomblen. Kabupaten Lembata berdiri sejak tahun 1999 dan ibu kotanya Lewoleba. (Foto : Mumu)

 

Pelabuhan_Lewoleba__Kab._Lembata__2_.jpg

Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata. (Foto : Mumu)

 

Pantai_Waijarang__Kabupaten_Lembata.jpg

Pantai Waijarang, Lembata. (Foto : Mumu)

 

Panen_Rumput_laut__Kec._Wangatoa__Lewoleba__Kab._Lembata.jpg

Panen rumput laut di Kecamatan Wangatoa. Panen seperti ini dilakukan sebulan sekali. Setelah dikeringkan, rumput laut lalu disetor ke penampung. (Foto : Mumu)

 

Tiba di pelabuhan Ferry Waijarang, di Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, pejalanan saya teruskan ke pelabuhan kapal motor Lewoleba di Kota Lewoleba. Kali ini tujuan saya adalah Kecamatan Waiwerang yang terletak di Pulau Adonara bagian timur. Jarak yang ditempuh hanya menghabiskan waktu lebih kurang 1 hingga 1,5 jam.

 

Lewoleba_waiwerang.jpg

Kapal motor adalah salah satu media transportasi yang paling sering digunakan masyarakat yang bepergian menuju Pulau Adonara dan Larantuka. (Foto : Mumu)

 

ADONARA.

Adonara adalah pulau yang saya kunjungi setelah Kota Kupang dan Kabupaten Lembata. Pulau ini masuk dalam wilayah di Kabupaten Flores Timur. Selain Waiwerang Kota, di Pulau Adonara ada beberapa desa yang juga saya datangi seperti Lamahala, Boleng, Terong, dan Waiburak.

Waiwerang Kota merupakan kelurahan yang berada di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan menggunakan kapal motor dari Lewoleba, lebih kurang menghabiskan waktu 1 hingga 1,5 jam.

Pelabuhan_Waiwerang.jpg

Pelabuhan Waiwerang, Pulau Adonara, Flores Timur. (Foto : Mumu)

 

Pelabuhan_waiwerang_2.jpg

Di pelabuhan ini, masyarakat menggunakan kapal motor untuk menyebrang ke Lembata, Larantuka, dan Pulau Solor. (Foto : Mumu)

 

Pelabuhan_Waiwerang_3.jpg

Suasana Pelabuhan Waiwerang di sore hari. (Foto : Mumu)

 

Pertokoan_di_Pusat_Kec._Waiwerang.jpg

Pertokoan di pusat Waiwerang. (Foto : Mumu)

 

Tugu_Waiwerang__Jalan_Kebun_Raya__Waiwerang.jpg

Tugu Waiwerang. Berada di Jalan Kebun Raya. (Foto : Mumu)

 

Gunung_Ila_Boleng_diambil_dari_Lapangan_Waiwerang.jpg

Lapangan Waiwerang dengan latar belakang Gunung Ila Boleng. (Foto : Mumu)

 

Pasar_Inpres_waiwerang_1.jpg

Pasar Inpres Waiwerang. Ikan laut segar berbagai jenis dan ukuran dapat dengan mudah didapatkan di pasar ini. (Foto : Mumu)

 

Pasar_Inpres_Waiwerang_3.jpg

Pasar inpres Waiwerang hanya dipadati pada hari Senin dan Kamis. Sedangkan di hari lain, pasar ini sepi aktivitas jual beli. (Foto : Mumu)

 

Pantai_Ina_Burak__Desa_Lewokeleng__Pulau_Adonara__Kab._Flores_Timur__NTT_.jpg

Pantai Ina Burak. Dalam Bahasa Indonesia, berarti Nona Putih. Pantai ini terletak di Desa Lewokeleng. Berjarak lebih kurang 20 menit dari pusat Waiwerang. (Foto : Mumu)

 

Pantai_Ina_Burak__Desa_Lewokeleng__Pulau_Adonara__Kab._Flores_Timur__NTT__2.jpg

Pada hari libur, Pantai Ina Burak menjadi pilihan masyarakat untuk berekreasi. Foto ini diambil pada hari Natal, 25 Desember 2011. (Foto : Mumu)

 

DESA  LAMAHALA

Salah satu desa terpadat di Adonara Timur.  Masyarakat Desa Lamahala sepenuhnya memeluk agama Islam. Di desa ini dikenal dengan adanya Suku Bela Telo. Dalam Bahasa Indonesia berarti Tiga Suku Besar. Tiga suku besar itu adalah Suku Atapukan, yang mengurus masalah adat, Suku Selolong yang mengatur pemerintahan, dan terakhir ada Suku Malakalo yang bertanggung jawab di sektor pertahanan dan keamanan.

 

Desa_Lamahala.jpg

Desa Lamahala. Dulu bernama Lamhala. Pada zaman penjajahan Belanda, diganti menjadi Lamahala agar lebih mudah diucapkan oleh tentara Belanda pada saat itu. (Foto : Mumu)

 

Bale_Adat_Lamahala_3.jpg

Bale Adat. Digunakan masyarakat Lamahala untuk bermusyawarah segala hal yang berkenaan dengan adat. (Foto : Mumu)

 

Bale_Adat_Lamahala_2.jpg

Simbol kepala kerbau. Kerbau dianggap satu-satunya hewan yang layak dikurbankan dalam kegiatan adat di Bale Adat Lamahala. (Foto : Mumu)

 

Makam_pahlawan_Ratu_Loly__Desa_Lamahala.jpg

Makam Pahlawan Ratu Loly. Ratu Loly adalah tokoh yang berjuang melawan penjajahan Portugis dan Belanda. (Foto : Mumu)

 

Meriam_peninggalan_Portugis_di_Lopo__Desa_Lamahala.JPG

Meriam peninggalan tentara Portugis di rumah kediaman Ratu Loly. (Foto : Mumu)

 

Rumah_Lopo__lango_Bela.jpg

Rumah kediaman Pahlawan Ratu Loly di Lopo, Lamahala. Rumah ini disebut sebagai rumah adat bagi klan Atamua dan Atasoge. (Foto : Mumu)

 

Muhammad_Azhari_Atapukang.jpg

Muhammad Azhari Atapukan. Seniman gambus asal Desa lamahala. Musik Gambus banyak mengandung lirik kepahlawanan, cerita rakyat dan sejarah. Liriknya menggunakan Bahasa Lamaholot. Memiliki banyak kemiripan dengan musik gambus yang berada di Pulau Solor. Dimainkan pada acara-acara adat dan pesta pernikahan. (Foto : Mumu)

 

Pengrajin_kain_tenun_ikat_Desa_Lamahala.jpg

Ibu Aminah. Salah satu pengrajin kain tenun ikat di Desa Lamahala. (Foto : Mumu)

 

 

DESA  BOLENG

 

Desa_Boleng_.jpg

Desa Boleng berada di Kecamatan Ila Boleng. (Foto : Mumu)

 

Gotong_Masyarakat_Desa_Boleng_2.JPG

Kaum Ibu di Desa Boleng. (Foto : Mumu)

 

Gotong_Royong_masyarakat_Desa_Boleng.jpg

Bergotong -royong mendirikan tenda yang akan digunakan untuk syukuran kepulangan jemaah haji asal Desa Boleng. (Foto : Mumu)

 

DESA WAIBURAK

Desa_Waiburak.jpg

Desa Waiburak ini berada dekat dengan pusat Waiwerang Kota. (Foto : Mumu)

 

Pantai_Desa_Waiburak_2.jpg

Pantai Desa Waiburak. (Foto : Mumu)

 

Pembuatan_kapal_ikan_secara_tradisional_di_Desa_Waiburak.jpg

Pembuatan kapal ikan secara tradisional di Desa Waiburak. (Foto : Mumu)

 

DESA TERONG 

bale_adat_desa_terong.jpg

Bale Adat Desa Terong. (Foto : Mumu)

 

meriam_desa_terong.jpg

Meriam peninggalan Jepang di Desa Terong. (Foto : Mumu)

 

Pantai_Dua__Desa_Trong.jpg

Pantai Dua, Desa Terong. (Foto : Mumu)

 

Pelabuhan_Desa_Trong.jpg

Pelabuhan Desa Terong. (Foto : Mumu)

 

LARANTUKA

Larantuka adalah Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.  Menggunakan kapal motor dari Waiwerang memakan waktu lebih kurang 1 jam untuk tiba di Larantuka.

Pelabuhan_Larantuka.jpg

Pelabuhan Larantuka. (Foto : Mumu)

 

Pertokoan_Larantuka.jpg

Kawasan Pertokoan Larantuka. (Foto : Mumu)

 

Monumen_Tugu_Pahlawan_Nasional__Herman_Joseph_Fernandes__Tangan_kirinya_mengangkat_Alex_Rumambi_.jpg

Monumen Tugu Pahlawan Nasional Herman Joseph Fernandes. Tangan kirinya mengangkat Alex Rumambi. (Foto : Mumu)

 

Dari Larantuka,  kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Alor. Perjalanan dengan menggunakan Kapal Sirimau memakan waktu hingga  7  jam.

 

ALOR

 

Kab._Alor._Foto_diambil_dari_kawasan_Kopidil__Kebun_Kopi___Kec._Teluk_Mutiara__Kab._Alor.jpg

Adalah Kabupaten yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur dimana Kalabahi adalah Ibu Kotanya. Sektor pertanian, kelautan dan perikanan merupakan sektor utama masyarakat Alor. (Foto : Mumu)

 

Kota_Kalabahi__Kab._Alor_1.jpg

Perjalanan menuju Kalabahi dapat menggunakan jalur udara melalui Bandara Mali. Sedangkan dari Larantuka dapat menempuh jalur laut. (Foto : Mumu)

 

Tugu_Selamat_Datang__Kec._Nirwala__Kab._Alor.jpg

Tugu Selamat Datang di Kecamatan Nirwala. (Foto : Mumu)

 

Pelabuhan_Kalabahi__Kab._Alor.jpg

Pelabuhan Kalabahi. (Foto : Mumu)

 

Teluk_Mutiara__Kec._Teluk_Mutiara__Kab._Alor.jpg

Teluk Mutiara. Berada di Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor. (Foto : Mumu)

 

Selat_Ombay__Kalabahi___Kab._Alor.jpg

Selat Ombay. (Foto : Mumu)

 

Pantai_Moimol__Kec._Kabola__Kab._Alor.JPG

Pantai Moimol, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor. (Foto : Mumu)

 

Pantai_Alor_Kecil__Kec._Alor_Barat_Laut__Kab.jpg

Pantai Alor Kecil, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor. (Foto : Mumu)

 

Lapangan_Terbang_Mali__Kel._Mali__Kec._Mali__Kab._Alor.jpg

Bandara Udara Mali, Kelurahan Mali, Kecamatan Mali, Kabupaten Alor. (Foto : Mumu)

 

Desa_Ampera__Kec._Alor_Barat_Laut__Kab._Alor.jpg

Desa Ampera, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor. (Foto : Mumu)

 

PULAU SOLOR 

 

Pulau_Solor.jpg

Pulau Solor terletak di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara. Berhadapan langsung dengan Pulau Adonara. (Foto : Mumu)

 

Desa_Lamakera__Kec._Solor_Timur__Kab._Flores_Timur__NTT._3.jpg

Masyarakat Solor Menjual hasil buminya ke Waiwerang, Adonara. (Foto : Mumu)

 

Desa_Lamakera__Kec._Solor_Timur__Kab._Flores_Timur__NTT._2.jpg

Desa Lamakera, Kecamatan Solor Timur. (Foto : Mumu)

 

Desa_Lamakera__Kec._Solor_Timur__Kab._Flores_Timur__NTT.jpg

Mayoritas beragama Islam. Selain Lamalera, Desa Lamakera juga terkenal dengan perburuan ikan paus. (Foto : Mumu)

 

Desa_Lamakera__Kec._Solor_Timur__Kab._Flores_Timur__NTT._4.jpg

Pantai Desa lamakera. (Foto : Mumu)

 

Desa_Labelen__Kec._Solor_Timur__Kab._Flores_Timur__NTT.jpg

Desa Labelen, Kecamatan Solor Timur. (Foto : Mumu)

 

Makam_Sultan_Boli_Mala_Kalu__Desa_Labelen__Kec._Solor_Timur__NTT.jpg

Makam Sultan Boli Mala Kalu, Desa Labelen, Kecamatan SolorTimur. (Foto : Mumu)

 

Pantai_Desa_Labelen__Kec._Solor_Timur__Kab._Flores_Timur__NTT.jpg

Pantai Desa Labelen, Kecamatan Solor Timur. (Foto : Mumu)

 

DESA MENANGA

 

Bale_Desa_Menanga.JPG

Bale Desa Menanga. Tempat tuan tanah menyampaikan informasi ke masyarakat desa. (Foto : Mumu)

 

Desa_Menanga.jpg

Desa Menanga. (Foto : Mumu)

 

Koker_Desa_Menanga__.jpg

Koker. Digunakan oleh tuan tanah untuk mengumpulkan pembesar-pembesar di Desa Menanga. Duduk bersama-sama bermusyawarah. (Foto : Mumu)

 

Makam_Sultan_Syachbudin_Bin_Ali_Bin_Salman_Al_Farisi__Desa_Menanga_.jpg

Makam Sultan Syachbudin Bin Ali Bin Salman Al Farisi di Desa Menanga. (Foto : Mumu)

 

Makam_Sultan__tepi_jalan_Desa_Menanga__pagar_kawat.jpg

Hingga kini, tidak diketahui siapa Sultan yang dikuburkan disini. Makamnya berada di tepi jalan Desa Menanga. Bagian tengah kuburan ditumbuhi pohon asam. (Foto : Mumu)

 

mancing_ikan_di_pelabuhan_Desa_Menang.jpg

Sore hari menjadi saat yang tepat bagi anak-anak Desa Menanga untuk memancing. (Foto : Mumu)

 

Pelabuhan_Desa_Menanga.jpg

Pelabuhan Desa Menanga. (Foto : Mumu)

 

Situs_sejarah_Desa_Menanga_1.jpg

Situs sejarah di Desa Menanga. Tempat ini adalah cikal bakal penyebaran agama Islam dan berdirinya kesultanan di Desa Menanga. (Foto : Mumu)

 

DESA LOHAYONG

 

Desa_Lohayong__Kec.jpg

Salah satu desa yang berada di Pulau Solor. Letaknya berdekatan dengan Desa Menanga. (Foto : Mumu)

 

Pasar_Botang__Desa_Lohayong.jpg

Pasar Botang, Desa Lohayong. (Foto : Mumu)

 

Benteng_Lohayong_2.jpg

Benteng Lohayong. Dibangun pada abad 15, tahun 1559 oleh Portugis. Namanya berubah menjadi Fort Of Heinrich pada zaman penjajahan Belanda. Setelah kemerdekaan, namanya berganti lagi menjadi Benteng Lohayong. (Foto : Mumu)

 

batu_ular__benteng_lohayong.jpg

Dinamakan Batu Ular karena terdapat motif seperti ular di permukaan batu. Batu ini terletak di belakang Benteng Lohayong. (Foto : Mumu)

 

 

BORNEO FRESH, “SELAMATKAN BUMI”

Borneo Fresh didirikan pada tahun 2006. Bersama-sama Borneo Photography (BoP), Rumah Belajar Teater Gelombang (RBTG), Kalimantan Komunitas Film (KAKAF) dan Pelangi Borneo (kelompok baca dan menulis) yang sama-sama terangkul di dalam KOMBI (Komunitas BIDAR).

OPERASI SEMUT (2006)

Dilatar belakangi keinginan untuk melihat lingkungan sekitar yang segar dan tindak tandus, kelompok peduli lingkungan ini mengadakan kegiatan OPERASI SEMUT pada tahun 2006. Kegiatan ini berupa membersihkan paku, tali dan bahkan kawat yang digunakan untuk memasang iklan di pohon. Karena pohon berfungsi untuk memperindah dan menyegarkan suasana kota. Pemasangan iklan di pohon tentu saja hanya membuatnya terlihat kotor dan tidak fresh

MENANAM MANGROVE (2009)

Borneo Fresh bersama kawan-kawan  WWF, STKIP Jurusan Sejarah, POLAIR, PAPELING, SAKAWANA dan masyarakat setempat. Dalam rangka menyambut Hari Bumi, melakukan penanaman mangrove di sepanjang pesisir Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.

Foto : Qnoi

 

borneofresh 2.JPG

Foto : Qnoi

 

borneofresh 3.JPG

Foto : Qnoi

 

PAMERAN FOTOGRAFI “SELAMATKAN BUMI” (2010)

Dalam rangka menyambut Hari Bumi, Gedung Pancasila Jalan Apang Semangai, Kota Sintang menjadi lokasi Pameran Fotografi yang karya – karya di dalamnya bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk lebih peduli lingkungan.

DSCN9177.JPG

Foto : Mumu

DSC_0147.jpg

Foto : Gumay

_DSC8351.jpg

Foto : Eko Suryanto Daulay

 

EKSPEDISI POTRET TANAH KAYONG (27 APRIL – 2 MEI 2011)

Pontianak menuju Ketapang dengan menggunakan sepeda, menyebarkan pamflet sadar lingkungan dan mengajak kawan-kawan di Kota Ketapang konvoi sepeda keliling kota adalah agenda Borneo Fresh di Kota yang terkenal dengan kuliner Ale -alenya ini.

IMG_0249.JPG

Foto : Hendry Tama

fr6.jpg

Foto : Hendry Tama

_MG_0277.JPG

Foto : Febrianto Gunawan

 

SELAMATKAN BUMI. 22 MEI 2011
mengadakan kegiatan Berkerete dengan rute Pontianak-Punggur-Pontianak.

PUNGGUR1.jpg

Foto : Dedeng DDP

PUNGGUR2.jpg

Foto : Sherly

PUNGGUR 4_1.jpg

Foto : Sherly

 

BEKERETE YOK! (30 JULI 2011)

Kembali menggunakan sepeda sebagai media kampanye sadar lingkungan. Rute dari Kota Pontianak menuju Kota Singkawang. Agenda dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan 1432 H ini mengajak masyarakat untuk berpuasa selamanya merusak lingkungan.

1.JPG

Foto : Cholid Nugraha

bf4.JPG

Foto : Cholid Nugraha

bf5.JPG

Foto : Cholid Nugraha

SEMOGA APA YANG KAMI LAKUKAN INI DAPAT BERMANFAAT BAGI SIAPA SAJA. “SELAMATKAN BUMI”

Fixie di Pontianak

Setahun terakhir, bisa kita lihat semakin banyak orang-orang bermain sepeda di jalanan kota Pontianak. Dari sekian banyak pengendara sepeda di Pontianak, mungkin anda pernah melihat sekelompok anak muda mengayuh sepeda dengan rangka (frame) balap, velg dan ban warna warni, stang pendek, dan tanpa kabel rem. Bisa jadi itu adalah sepeda fixie.

Fixie__1_.jpg

Manda, salah satu penggemar fixie di Pontianak. Foto: Ihsan

Sepeda fixie atau fixed gear adalah sepeda dengan gear mati. Ini berarti selama ban belakang sepeda berputar, pedal juga ikut berputar. Begitu pula bila pedal diengkol mundur, maka sepeda juga akan berjalan mundur. Itulah yang membedakan sepeda jenis ini dengan sepeda lainnya. Sepeda fixie biasanya juga warna warni, pemilik dapat sesuka hati mewarnai sepedanya sesuai selera.

Fixie__2_.jpg

Salah satu trick yang biasa dilakukan pengguna fixie. Foto: Ihsan

Ditanya mengenai munculnya sepeda fixie di Pontianak, Manda, salah satu pemuda Pontianak yang biasa ngumpul bareng pengendara sepeda fixie lainnya, mengatakan bahwa pertama kali fixie mulai ramai di Pontianak sekitar setahun lalu. “Mulai rame dan banyak anak-anak yang ngumpul sih baru di awal tahun 2011 ini,” kata Manda. Menurutnya, bukan Cuma anak muda, tapi semua kalangan sudah mulai menggemari fixie di Pontianak. “Yang paling muda kalau tidak salah ada anak SMP, yang sudah berkeluarga pun ada,” kata Manda.

Fixie__3_.jpg

Untuk mengurangi kecepatan sepeda, salah satunya dapat dengan menahan perputaran pedal, mencondongkan badan ke depan, atau menahan ban dengan kaki. Foto: Ihsan

“Sepeda fixie itu unik, beda dengan sepeda freewheel, dan kita pun bebas mewarnai sepeda kita sesuai selera” jawab Manda mengenai alasannya memilih sepeda fixie. “Karena selain diengkol, sepeda fixie juga bisa buat trick,” lanjutnya. “Kalau masalah budget, yang 2 jutaan udah dapat sepeda yang bagus, bisa juga kurang dari itu. Fixie yang mahal saya pernah lihat yang 50 jutaan” kata Manda.

Pengendara fixie di Pontianak biasanya ngumpul di jus di Jl. Setia Budi, bundaran Untan, dan pada saat car free day hari minggu, biasanya para pengendara sepeda ngumpul di sekitar areal Masjid Mujahiddin. “Kita ada basecamp di Jl. Perdana, Komp. Anugerah Perdana Permai, No. 3. Di situ juga bengkel bersama para pengguna fixie, kalau mau perbaiki sepeda, pemesanan barang, ataupun keperluan lainnya juga bisa di situ,” paparnya.

Fixie__4_.jpg

Pengguna fixie di Pontianak yang biasa gowes bersama. Foto: Ihsan

CHOCO PASTA RILIS PONTIANAK FUNTERNATIVE

Sepanjang tahun 2010 Choco Pasta udah melepas 4 single yang mereka pajang di Youtube. Belum merasa puas, Februari 2011 ini mereka ngerilis mini album yang diberi tajuk Pontianak Funternative.

AWAL BERDIRI

Sampe sekarang nggak ada satupun anak-anak Choco Pasta yang ingat dengan tepat kapan resminya band ini didirikan. “Pertengahan Oktober atau November 2009 gitu deh,” menurut Alvin. Dan saya yakin, pendapat ini pasti beda lagi menurut Vita, Mumu dan Qnoi.

Merasa nggak ada perkembangan, awal 2009 Qnoi sama Mumu mutusin cabut dari band lama mereka. Fotografi dan Jurnalistik pelan-pelan menjadi bidang yang mereka geluti.

Keadaan ini terus berjalan hingga pada suatu hari Qnoi mengutarakan keinginannya untuk ngeband lagi. Mumu yang diam-diam udah nulis beberapa lagu, otomatis aja setuju. Biar suasananya beda dengan band-band mereka terdahulu, dua cowok yang ternyata masih sodaraan ini ngotot pengen nyari vokalis cewek dan bikin band yang ngebawain lagu-lagu ciptaan sendiri.

DSC08844.JPG

_DSC0178.jpg

Alvin yang dulunya sempet ngejam bareng Qnoi diajak gabung dan ngepos di sektor bas. Berkat Alvin pula, Qnoi sama Mumu akhirnya bisa ketemu sama vokalis cewek, yang akrab disapa Vita.

Meski udah punya beberapa lagu ciptaan sendiri, mereka tetap aja kebingungan nyari nama yang bagus buat band ini. PERMEN KARET, CHITCHATCHUT dan ZWEEP yang diajukan sama Mumu langsung ditolak mentah-mentah sama Qnoi yang menganggap bandnya kali ini berhak punya nama yang jauh lebih keren.
“Mumu tu suka asal kalo ngasi nama. Band sekolahnya aja Phinokio. Trus, band kampusnya dikasi nama Bella Chan!” ujar Qnoi.

img_31800.jpg

“Gimana kalo Choco Pasta?’

Nama Choco Pasta keluar begitu aja dari mulut Vita pas mereka lagi nyantai di sebuah warkop di Jalan Gajah Mada. Selang beberapa menit resmi memakai nama Choco Pasta, band ini langsung nampil di panggung akustik yang kebetulan digelar dalam rangka memperkenalkan sebuah merk rokok terbaru di warkop tersebut. Disini pula “Apa Kabar Diary?“, “Teman (?)” dan “Pacarku…Titik…Titik…” diperdengarkan di telinga publik.

img_31812.jpg

Kampanye AIDS dan Lingkungan.

Hal ini bukannya tanpa sebab. Vita yang pernah beberapa kali menjadi pembicara dalam penyuluhan AIDS untuk remaja, akhirnya bikin anak-anak Choco Pasta yang lain ikutan nambah wawasannya tentang bahaya penyakit yang satu ini.

Menanam bakau, hunting foto ke luar daerah, pameran fotografi bertema Hari Bumi di Sintang, sampe menyusuri sungai hingga ke pedalaman Sambas dan Ketapang adalah beberapa program Borneo Photography dalam rangka mengkampanyekan budaya dan lingkungan hidup yang pernah diikuti Qnoi dan Mumu.
Berangkat dari kegiatan-kegiatan tersebut, jangan heran kalo kalian akan selalu melihat tulisan STOP AIDS! dan BORNEO FRESH “KEEP IT CLEAN, KEEP IT GREEN” di setiap video Choco Pasta.

DSCN7107.JPG

Rasa percaya diri sebagai band yang mengawali langkahnya dengan lagu-lagu ciptaan sendiri semakin kebentuk. Alvin langsung bikin grup Choco Pasta di Facebook, Mumu membuat semua art work dan video, Qnoi mengatur semua jadwal latihan dan Vita menyebarkan lagu Choco Pasta via bluetooth ke teman-temannya. (Tri Anto)

Kerajinan Tangan dari Keladi Air

Tahun Liputan : 2009

Jalan Trans Kalimantan, Desa Kuala Ambawang, Gang Manunggal, no. 6, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Ibu Novita dan beberapa rekannya yang sama-sama ibu rumah tangga, secara swadaya membeli bahan baku, dan menganyamnya menjadi hiasan seperti kipas, gantungan kunci, piring, kotak tisu, cincin, vas bunga, tas, topi dan masih banyak lagi varian kreasi yang lain. Sayangnya, belum ada koperasi yang dapat membantu pemasaran hasil olah tangan ibu-ibu rumah tangga ini. (mumu/29/08)

Di saat senggang, ibu-ibu rumah tangga ini berkumpul membuat beraneka bentuk kreasi dari bahan keladi air. Foto : Eko S Daulay

Ibu Novita juga memberikan pelatihan membuat kerajinan. Foto : Eko S Daulay

keladi_air3.jpg

Keladi air yang menjadi bahan pokok terhitung masih mudah dijumpai. Foto : Eko S. Daulay

keladi_air4.jpg

Keladi air yang telah melalui proses pembersihan dan siap dianyam. Foto : Eko S. Daulay

keladi_air5.jpg

Dapat dibuat tas, kipas, piring, tempat tisu, vas bunga, gantungan kunci, dan masih banyak yang lain. Foto : Eko S. Daulay

Keladi_air6.jpg

Sering dicari saat eksibisi di luar Kalbar. Sayangnya, belum ada koperasi yang bisa banyak membantu penjualan di pasar lokal. Foto : Eko S. Daulay

Tarung Derajat, Seni Bela Diri Anak Negeri

Pertahanan diri merupakan tindakan dari setiap individu dalam mempertahankan diri dari keadaan tertentu. Berbagai pengalaman hidup dalam tindakan untuk mempertahankan diri tersebut menjadikan Agus Drajat, pria asal Bandung, Indonesia, menciptakan seni pertahanan diri yang mulai dikenal pada tahun 1972 dengan nama Tarung Derajat.

Tingkatan dalam seni bela diri ini dimulai dari 8 Tingkatan :

1.Sabuk Putih

2. Sabuk Hijau 1 dan 2

3. Sabuk Biru 1 dan 2

3. Sabuk Merah 1 dan 2

4. Hitam ( Zat )

Untuk pelatih Tarung Derajat itu sendiri dikenal dengan sebutan Akang.

Ian_3new.jpg

Tarung Derajat mulai masuk ke Pontianak Tahun 1989 oleh Dedi Indarto, S.sos ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Eko_1new.jpg

Kini Tarung Derajat memiliki kurang lebih 1000 anggota yang tersebar diseluruh Kalimantan Barat ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Eko_2new.jpg

Anggota Tarung Derajat Kalimantan Barat terdiri dari satuan militer,umum dan mahasiswa (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Eko_3new.jpg

Tahun 2005, atlet Tarung Derajat Kalimantan Barat berhasil meraih medali emas putra pada Kejuaraan Nasional ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Eko_4new.jpg

Pada tahun 2007 atlet Tarung Derajat kembali meraih medali emas putra. ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Eko_5new.jpg

Pada tahun berikutnya, atlet Tarung Derajat Kalimantan Barat mengumpulkan 1 Emas, 2 Perak, dan 2 Perunggu ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Ian_1new.jpg

Pada Kejuaraan Piala Presiden 2009, atlet Tarung Derajat yang dikirim untuk mengikuti kompetisi tersebut berhasil mencatatkan prestasi yang gemilang yaitu memperoleh 2 emas, 1 perak dan 2 perunggu (Foto : Ianimaru)

Ian_4new.jpg

Disiplin serta sikap rendah hati untuk tidak menggunakan kemampuan seni bela diri ini kepada hal-hal yang merugikan orang lain yang diajarkan dalam seni bela diri Tarung Derajat ( Foto : Ianimaru )

Ian_2new.jpg

Jadwal Latihan Tarung Derajat untuk wilayah Pontianak dibagi menjadi 2 tempat yaitu, satuan Untan dan Komplek Masjid Mujahidin pada hari Rabu, Jumat dan Minggu ( Foto : Ianimaru )

Pameran Fotografi “Photo Borneo” & Sintang Photography Trip 2010

Sinar matahari pagi bersinar dan menembus jendela bis Pontianak-Sintang. AC dingin terus saja menyelimuti semua penumpang yang sebagian masih betah memejamkan mata. Photography Trip yang digelar bersamaan dengan Pameran Fotografi “Photo Borneo” dalam rangka menyambut Hari Bumi, tentunya bertujuan untuk menyebar kesadartahuan akan lingkungan dan salah satu wujud eksistensi kepedulian sebagai manusia.

Pameran Fotografi “Photo Borneo”
Gedung Pancasila yang terletak di Jalan Apang Semangai, Sintang dipilih menjadi tempat digelarnya pameran fotografi dari tanggal 24-26 April 2010.

_MG_8540.JPG
DSCN9236.JPG
Gedung pancasila, Jalan Apang semangai sebagai tampat berlangsungnya pameran “Photo Borneo”. (foto : mumu)
IMG_8247.JPG

Salah satu paniti sedang mengerjakan instalasi lighting pameran. (foto : mumu)

DSCN9119.JPG

Pameran fotografi "Photo Borneo" menghimpun sebanyak 80 karya. (Foto : mumu)

DSCN9126.JPG

"Photo Borneo" adalah tema besar yang merangkap menjadi program tahunan di tubuh Borneo Photography. (Foto : mumu)

DSCN9177.JPG

Display pameran yang telah selesai dikerjakan oleh panitia. (foto : mumu)

DSC_0147.jpg

Dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Sintang, Jarot Winarno. (Foto : Gumay DBlur)

_DSC8351.jpg

Salah satu sarana edukasi untuk siswa sekolah. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

DSCN9230.JPG

Dwi Karunia Syaputri (10) tercatat sebagai fotografer termuda yang mengikutsertakan sebuah karyanya berjudul "Cerdas" di pameran Photo Borneo" (Foto : mumu)

_DSC0321.jpg

Acara penutupan pameran dan lounching Gemar Photography Sintang (GPS). (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Photography Trip
Hunting foto memang menjadi harga mati yang tidak dapat ditawar. disela-sela pameran, beberapa BoPhian menggelar hunting kecil. berjalan kaki dari Gedung Pancasila menuju tepian Sungai Kapuas, Pasar Inpres dan kembali lagi ke Gedung Pancasila.
Hunting dilanjutkan pada hari Minggu (24/04). Kali ini BoPhians dipandu oleh teman-teman dari Gemar Photography Sintang (GPS). Hutan Wisata Baning, Kobus, Kawasan Jinora dan pada sore harinya susur sungai mengitari Sungai Kapuas. Kehidupan masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas merupakan objek yang sungguh sayang jika tidak dibadikan.

DSCN9193.JPG

Kawasan Hutan Baning, Sintang salah satu tujuan lokasi hunting. (foto : mumu)

_MG_8965.JPG

Di kaki Bukit Kelam. (foto : mumu)

_MG_8499.JPG

Galeri tenun ikat. Sangat disayangkan tidak bisa memotret kain tenun, karena pada saat hunting, galeri ini tidak ada kegiatan. (Foto : mumu)

_MG_8540.JPG

Bujang Beiji. Tokoh cerita rakyat dari Sintang yang diabadikan menjadi tugu. (Foto : mumu)

_MG_8922.JPG

Air terjun Bukit Rentap. (Foto : mumu)

Borneo Photograophy mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada CERDAS Grup, Gemar Photography Sintang, seluruh masyarakat Sintang dan siapa saja, dimana saja atas doa dan dukungan yang telah diberikan. (mumu/16/05)

Fotografer-fotografer yang berpartisipasi dalam “Photo Borneo” Sintang 24-26 April 2010 :

Adi Sulistyanto

Afif Reffyandi

Agus Djuli Handoko

Agus Fitri Andri

Alberta Noviany

Anderi Purnomo

Andreas Cicco

Andy Saputra

Anton Widiarmo S.E

Apriansyah Firdaus

Aris Suhendra

Cholid Nugraha

Dwi Kurnia Syaputri

Eko Suryanto Daulay

Erwin Setiadi

Eru Ahmadia

Evy P. Susanti

Fami Hazdan

Gumay DBlur

Iip Yulfahmi

Indra Ae’

M. Firdaus

M. Mu’min

M. Alfian Nurzi

M. Zeinur Rasyikin

Lukas B. Wijanarko

Sabda Agung

Sinatrya Ananda

Suriansyah A.Md

Sy. Afdhal Ghalib

Teguh Panglima

Tri Anto

Vidi Sitarda

Bandit Rangers

Pada tahun 70-an, olah raga atau permainan air soft pertama kali dimulai dari negara Jepang. Permainan ini menirukan kegiatan polisi atau bahkan militer dalam berperang.
Senjata yang digunakan tentu saja bukan senjata yang digunakan militer atau polisi, melainkan menggunakan senjata replika yang terbagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Jenis elektrik
2. Gas blow back
3. Bolt action (kokang)
Selain populer di Amerika dan Eropa, air soft juga populer di Asia. Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Macau, Korea Selatan, dan juga menyebar ke Filipina dan Indonesia.

Bandit Rangers

Bandit Rangers adalah tim air soft yang didirikan di Pontianak pada tahun 2008. Minimnya anggota pada saat itu kini telah berubah menjadi 43 orang (menurut data)
Anggotanya terdiri dari anak sekolah, mahasiswa, hingga karyawan. Semua anggotanya berpedomankan kepada kode etik airsoft dengan 3 acuan keselamatan :
1. Keselamatan Umum
2. Keselamatan Pribadi
3. Keselamatan Permainan

Singkawang, Pemangkat dan Sintang adalah beberapa nama kota yang pernah menjadi tur Bandit Rangers. Rencana untuk menggelar agenda air soft se-Kalimantan Barat juga tengah mereka persiapkan.(mumu/16/05)

Facebook :     http://www.facebook.com/group.php?gid=110485991558

_MG_9444.JPG

Peralatan yang paling penting dalam permainan airsoft adalah pelindung mata dan wajah. (foto : mumu)

_MG_9474.JPG

Bandit Rangers bermarkas di Jalan Media, Pontianak. (foto : mumu)

_MG_9530.JPG

Sportifitas yang tinggi merupakan prinsip utama ditanamkan pada seluruh anggota Bandit Rangers. (foto : mumu)

_MG_9542.jpg

Selain pakaian, perlengkapan lain seperti rompi, helm, sepatu boot, dan sarung tangan juga diusahakan mirip dengan yang dipakai oleh militer dan kepolisian. Penggunaan replika seragam militer ini tidaklah bermaksud untuk meniru suatu kesatuan militer. (foto : mumu)

_MG_9546.JPG

Tidak hanya lelaki, Bandit Rangers juga beranggotakan wanita. (foto : mumu)

_MG_9548.jpg

VISI MISI BANDIT RANGER Airsoft Team Pontianak – Kalimantan Barat V I S I : MELAWAN MUSUH DENGAN BERCERMIN SEBAGAI BANDIT LEBIH BAIK MATI DARI PADA PULANG TANPA KEMENANGAN DITANGAN MUNDUR DAN MENYERAH BUKAN SIFAT SEORANG BANDIT. M I S I : MENJADIKAN PERSONIL SEBAGAI MANUSIA YANG BERJIWA PATRIOT BERLANDASKAN KEPADA KETUHANAN YANG MAHA ESA DENGAN MEMEGANG TEGUH PRINSIP PANCASILA DAN MENJUNJUNG TINGGI SPORTIFITAS BERDASARKAN KODE ETIK AIRSOFT. (foto : mumu)

_MG_9568.JPG

Pakaian yang dipakai biasanya juga tebal agar mengurangi cedera atau rasa sakit. (foto : mumu)

_MG_9599.JPG

Peluru yang dipergunakan berbentuk bulat berbahan plastik padat dan biasa disebut BB (Ball Bearing). Ukuran butiran peluru berdiameter 6 mm dengan berat bervariasi dari 0.12 gram sampai 0.25 gram. (foto : mumu)

_MG_9622.jpg

Kawasan Universitas Tanjungpura kerap menjadi lahan perang Bandit Rangers di akhir pekan. (foto : mumu)

Ketapang Trip 2010

Angin sore berhembus lembut dan matahari masih memberi sinarnya di sisa hari. Suara canda beberapa anak kecil yang bermain di pelabuhan seakan mengubur suara-suara bising kendaraan beroda empat yang dinaikkan ke atas feri tujuan Teluk Batang. usaha pencarian petugas loket hanya berbuah ruangan kosong yang ditambahi tulisan, Loket Tutup.
Kami memang terlambat dan pilihan terakhir menuju Ketapang adalah dengan menggunakan kapal kelotok. KM Melano Khatulistiwa memang masih menunggu penumpang. Beberapa pekerjanya terlihat sibuk menaikkan satu persatu sepeda motor ke atas kelotok. Penjaja makanan juga masih menggelar dagangannya, ditambah lagi dengan seorang pengamen wanita yang menjual suara di dalam KM Melano Khatulistiwa. Entah lagu apa yang dia nyanyikan. Yang pasti konser tunggalnya sore ini berhasil mempesona seorang anak kecil yang selalu memeluk erat sang ibu setiap kali pengamen itu menggoyang-goyangkan tubuhnya.

Tenang arus Kapuas mengalir, sunset yang di tunggu-tunggu juga telah hadir. Bukit Ambawang yang seperempat tubuhnya pernah kami daki membagi pesonanya seakan ingin mengundang kami untuk mendakinya lagi. Empat ekor ikan kembung goreng, dua telur asin, empat bungkus nasi putih, paceri nenas, dan sambal yang dibeli dari rumah makan Lestari milik Ibu Syawal adalah menu kami malam ini. Sebenarnya Eko melarang kami makan sebelum pukul 19.00. Tentu saja amarannya kami langgar. Perut saya, Indra Ae’ dan Q-Noi tidak pernah terlatih mengikuti jam makan yang dianut Eko.

Bintang begitu indah dilihat dari sini. Tak ada satupun dari mereka yang enggan atau malu memamerkan sinarnya. Sedangkan di sisi kiri dan kanan kami hanya tersaji hutan bakau terbungkus gelap. Dari jauh terlihat lampu-lampu dari sampan atau kapal motor para pencari ikan. Eko dan Q-Noi tertidur lelap diantara tubuh-tubuh lelah penumpang KM Melano Khatulistiwa yang lain. Indra Ae’ terlibat dialog santai dengan seseorang penumpang yang hingga kini tidak saya ketahui namanya. Sedangkan saya…membuat tulisan ini sambil menghisap rokok dan menggenggam handphone yang dari tadi tidak ada sinyalnya.

Pelabuhan Teluk Batang kami jejaki pada pukul 04.00 pagi. Perlahan kami meninggalkan pelabuhan dan meluncur santai di awal fajar. Jalan Teluk Batang ternyata tidak seluruhnya mulus. Sekarang kami harus berhadapan dengan jalan tanah yang rusak parah dan piting yang menghisap rupiah demi rupiah benar-benar membuat saya dongkol. Kenapa kami harus membayar untuk berjalan di atas jalan yang rusak?

Tugu Ale-ale menjadi sasaran lensa pocket saya saat kami berada di tengah Kota Ketapang. Hingga kini telah ada enam Tugu Ale-ale yang saya abadikan. Di setiap perempatan, Tugu Ale-ale memang selalu ada. Hal ini sempat membuat saya berpikir, apakah kami berjalan di jalan yang sama? Dan saya yakin pikiran saya akan sama dengan orang-orang yang baru pertama kali datang ke Ketapang. Indra Ae’ mengusulkan untuk istirahat sejenak di sebuah warung kopi di Jalan Merdeka.

tugu.jpg

Tugu Ale-ale. Foto : mumu

Tito P Indrawan, staf Yayasan Palung juga akhirnya bergabung dan mengajak kami ke kantornya. Orang yang di tempatkan di Program Perlindungan Satwa dan Habitat ini juga banyak bercerita tentang beberapa lokasi yang dapat kami gunakan untuk memotret burung. Di kantor Yayasan Palung juga kami bertemu dengan Dedeng, salah satu fotografer asal Ketapang yang namanya tercantum di daftar Ketapang Fotografer Community.

Kabupaten Ketapang memiliki pantai yang memanjang dari selatan ke utara dan sebagian pantai, yang merupakan muara sungai, berupa rawa – rawa terbentang mulai dari Kecamatan Teluk Batang, Simpang Hilir, Sukadana, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan dan Pulau Maya Karimata, Sedangkan daerah hulu umumnya berupa daratan yang berbukit – bukit dan diantaranya masih merupakan hutan. Ditambah lagi dengan pantai-pantai yang pada umumnya berlumpur, sehingga menjadi tempat persinggahan untuk burung lokal dan burung migran.

Di ruangannya, Yudo Sudarto, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga menyambut positif agenda Photography Trip Pengamatan Burung yang kami usung. Agenda yang bertujuan mensukseskan Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat 2010 ini akan sangat baik digelar mengingat Ketapang memiliki kawasan-kawasan dimana terdapat banyak jenis burung endemik.

HUTAN KOTA

Berjarak sekitar 2 Km dari pusat kota Ketapang, Lufti Faurusal Hasan dan seorang rekannya membawa kami ke hutan kota. Ada beberapa jenis tanaman hutan yang dilindungi disini seperti, mensira, bungor, ubah, pangal dan melinsum. Kami juga bertemu dengan orangutan. Kami sepakat memberinya nama Putri, karena orangutan tersebut berjenis kelamin betina. Putri sangat jinak sehingga memudahkan kami memotretnya.


hutan kota mumu copy.jpg

Hutan Kota. Foto : mumu

PANTAI AIR MATI

Seperti yang telah direncanakan, setelah dari hutan kota dan istirahat makan siang, ditemani oleh Tito P Indrawan dan Dedeng, kami berangkat ke Pantai Air Mati. Di pantai yang berjarak 15 Km dari pusat Kota Ketapang ini, jenis burung seperti Kedidi, Dara Laut dan Gajahan banyak ditemui di sekitar pantai. Meski sore itu mendung, kami cukup puas menikmati pesona Pantai Air Mati yang berada di Desa Sungai Awan.

pantai air mati.jpg

Pantai Air Mati. Foto : mumu

DESA SUNGAI PELANG

Desa Sungai Pelang adalah sebuah kawasan pertanian yang terletak di kecamatan Matan Hilir Selatan. Pada hari ketiga, saya, Indra Ae’, Q-Noi dan Eko sengaja bangun pagi dan pergi ke Desa Sungai Pelang setelah sebelumnya dikabari oleh Dedeng, kawasan ini tempat yang tepat untuk membuat karya landscape.

pelang copy.jpg

Desa Sungai Pelang. Foto : mumu

PANTAI CELINCING

Pantai ini terletak di Desa Suka Baru, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang. Berjarak kurang lebih 10 Km dari Kota Ketapang, selain potensi wisata pantai, Celincing juga berpotensi besar menjadi objek wisata mancing dan pengamatan burung.

celincing.jpg

Dermaga Pantai Celincing. Foto : mumu

burung_2.jpg

(1) Kendidi (2) Raja Udang (3) Ashy tilorbird. Foto : Indra Ae'

Kabupaten Ketapang merupakan salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat yang terletak di antara garis 0º 19’00” – 3º 05’ 00” Lintang Selatan dan 108º 42’ 00” – 111º 16’ 00” Bujur Timur. Ketapang memiliki pantai yang memanjang dari Selatan ke Utara. Ditambah lagi Ketapang memiliki banyak jenis burung endemik. Dua potensi ini tentu sangat berdampak positif bagi perkembangan di sektor pariwisata. Dalam rangka mensukseskan Visit Kal-Bar 2010, Photography Trip Pengawasan Burung yang nantinya akan digelar tentunya akan menjadi media promosi pariwisata di Kabupaten Ketapang. (mumu/26/01)

10 Foto Terbaik Hunting Foto Kompetisi Panjat Dinding Sakawana Se-Kalbar 2009

Sakawana, komunitas pencinta alam terbuka menggelar even Hunting Foto Kompetisi Panjat Dinding Se-Kalimantan Barat. Tanggal 18-20 Desember 2009, kemarin.

10 foto terbaik Kompetisi Panjat Dinding Sakawana se Kalbar 2009

Ari_Agung.JPG

Foto Karya : Ari Agung

Arya_Dwipangga.jpg

Foto Karya : Arya Dwipangga

Arya_Dwipangga_1.jpg

Foto Karya : Arya Dwipangga 1

Ma__ruf.JPG

Foto Karya : Ma'ruf

Safuandi.jpg

Foto Karya : Safuandi

Sinatrya_Ananda_1.Jpg

Foto Karya : Sinatrya Ananda

Sinatrya_Ananda.JPG

Foto Karya : Sinatrya Ananda 1

Tjhai_Wi_Tiang.JPG

Foto Karya : Tjhai Wi Tiang

jose.JPG

Foto Karya : Jose

lanag_B.jpg

Foto Karya : Lanang B

Selamat untuk para peserta yang terpilih dalam 10 foto terbaik. Untuk seluruh para peserta hunting foto panitia memberikan penghargaan setinggi-tinggi terhadap partisipasi nya dalam kegiatan tersebut.
Salam Jepret…

Next Page »