BORNEO FRESH, “SELAMATKAN BUMI”
Borneo Fresh didirikan pada tahun 2006. Bersama-sama Borneo Photography (BoP), Rumah Belajar Teater Gelombang (RBTG), Kalimantan Komunitas Film (KAKAF) dan Pelangi Borneo (kelompok baca dan menulis) yang sama-sama terangkul di dalam KOMBI (Komunitas BIDAR).
OPERASI SEMUT (2006)
Dilatar belakangi keinginan untuk melihat lingkungan sekitar yang segar dan tindak tandus, kelompok peduli lingkungan ini mengadakan kegiatan OPERASI SEMUT pada tahun 2006. Kegiatan ini berupa membersihkan paku, tali dan bahkan kawat yang digunakan untuk memasang iklan di pohon. Karena pohon berfungsi untuk memperindah dan menyegarkan suasana kota. Pemasangan iklan di pohon tentu saja hanya membuatnya terlihat kotor dan tidak fresh
MENANAM MANGROVE (2009)
Borneo Fresh bersama kawan-kawan WWF, STKIP Jurusan Sejarah, POLAIR, PAPELING, SAKAWANA dan masyarakat setempat. Dalam rangka menyambut Hari Bumi, melakukan penanaman mangrove di sepanjang pesisir Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.
PAMERAN FOTOGRAFI “SELAMATKAN BUMI” (2010)
Dalam rangka menyambut Hari Bumi, Gedung Pancasila Jalan Apang Semangai, Kota Sintang menjadi lokasi Pameran Fotografi yang karya – karya di dalamnya bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk lebih peduli lingkungan.
EKSPEDISI POTRET TANAH KAYONG (27 APRIL – 2 MEI 2011)
Pontianak menuju Ketapang dengan menggunakan sepeda, menyebarkan pamflet sadar lingkungan dan mengajak kawan-kawan di Kota Ketapang konvoi sepeda keliling kota adalah agenda Borneo Fresh di Kota yang terkenal dengan kuliner Ale -alenya ini.
SELAMATKAN BUMI. 22 MEI 2011
mengadakan kegiatan Berkerete dengan rute Pontianak-Punggur-Pontianak.
BEKERETE YOK! (30 JULI 2011)
Kembali menggunakan sepeda sebagai media kampanye sadar lingkungan. Rute dari Kota Pontianak menuju Kota Singkawang. Agenda dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan 1432 H ini mengajak masyarakat untuk berpuasa selamanya merusak lingkungan.
SEMOGA APA YANG KAMI LAKUKAN INI DAPAT BERMANFAAT BAGI SIAPA SAJA. “SELAMATKAN BUMI”
Fixie di Pontianak
Setahun terakhir, bisa kita lihat semakin banyak orang-orang bermain sepeda di jalanan kota Pontianak. Dari sekian banyak pengendara sepeda di Pontianak, mungkin anda pernah melihat sekelompok anak muda mengayuh sepeda dengan rangka (frame) balap, velg dan ban warna warni, stang pendek, dan tanpa kabel rem. Bisa jadi itu adalah sepeda fixie.
Sepeda fixie atau fixed gear adalah sepeda dengan gear mati. Ini berarti selama ban belakang sepeda berputar, pedal juga ikut berputar. Begitu pula bila pedal diengkol mundur, maka sepeda juga akan berjalan mundur. Itulah yang membedakan sepeda jenis ini dengan sepeda lainnya. Sepeda fixie biasanya juga warna warni, pemilik dapat sesuka hati mewarnai sepedanya sesuai selera.
Ditanya mengenai munculnya sepeda fixie di Pontianak, Manda, salah satu pemuda Pontianak yang biasa ngumpul bareng pengendara sepeda fixie lainnya, mengatakan bahwa pertama kali fixie mulai ramai di Pontianak sekitar setahun lalu. “Mulai rame dan banyak anak-anak yang ngumpul sih baru di awal tahun 2011 ini,” kata Manda. Menurutnya, bukan Cuma anak muda, tapi semua kalangan sudah mulai menggemari fixie di Pontianak. “Yang paling muda kalau tidak salah ada anak SMP, yang sudah berkeluarga pun ada,” kata Manda.

Untuk mengurangi kecepatan sepeda, salah satunya dapat dengan menahan perputaran pedal, mencondongkan badan ke depan, atau menahan ban dengan kaki. Foto: Ihsan
“Sepeda fixie itu unik, beda dengan sepeda freewheel, dan kita pun bebas mewarnai sepeda kita sesuai selera” jawab Manda mengenai alasannya memilih sepeda fixie. “Karena selain diengkol, sepeda fixie juga bisa buat trick,” lanjutnya. “Kalau masalah budget, yang 2 jutaan udah dapat sepeda yang bagus, bisa juga kurang dari itu. Fixie yang mahal saya pernah lihat yang 50 jutaan” kata Manda.
Pengendara fixie di Pontianak biasanya ngumpul di jus di Jl. Setia Budi, bundaran Untan, dan pada saat car free day hari minggu, biasanya para pengendara sepeda ngumpul di sekitar areal Masjid Mujahiddin. “Kita ada basecamp di Jl. Perdana, Komp. Anugerah Perdana Permai, No. 3. Di situ juga bengkel bersama para pengguna fixie, kalau mau perbaiki sepeda, pemesanan barang, ataupun keperluan lainnya juga bisa di situ,” paparnya.
CHOCO PASTA RILIS PONTIANAK FUNTERNATIVE
Sepanjang tahun 2010 Choco Pasta udah melepas 4 single yang mereka pajang di Youtube. Belum merasa puas, Februari 2011 ini mereka ngerilis mini album yang diberi tajuk Pontianak Funternative.
AWAL BERDIRI
Sampe sekarang nggak ada satupun anak-anak Choco Pasta yang ingat dengan tepat kapan resminya band ini didirikan. “Pertengahan Oktober atau November 2009 gitu deh,” menurut Alvin. Dan saya yakin, pendapat ini pasti beda lagi menurut Vita, Mumu dan Qnoi.
Merasa nggak ada perkembangan, awal 2009 Qnoi sama Mumu mutusin cabut dari band lama mereka. Fotografi dan Jurnalistik pelan-pelan menjadi bidang yang mereka geluti.
Keadaan ini terus berjalan hingga pada suatu hari Qnoi mengutarakan keinginannya untuk ngeband lagi. Mumu yang diam-diam udah nulis beberapa lagu, otomatis aja setuju. Biar suasananya beda dengan band-band mereka terdahulu, dua cowok yang ternyata masih sodaraan ini ngotot pengen nyari vokalis cewek dan bikin band yang ngebawain lagu-lagu ciptaan sendiri.

Alvin yang dulunya sempet ngejam bareng Qnoi diajak gabung dan ngepos sektor bas. Berkat Alvin pula, Qnoi sama Mumu akhirnya bisa ketemu sama vokalis cewek, yang akrab disapa Vita.
Meski udah punya beberapa lagu ciptaan sendiri, mereka tetap aja kebingungan nyari nama yang bagus buat band ini. PERMEN KARET, CHITCHATCHUT dan ZWEEP yang diajukan sama Mumu langsung ditolak mentah-mentah sama Qnoi yang menganggap bandnya kali ini berhak punya nama yang jauh lebih keren.
“Mumu tu suka asal kalo ngasi nama. Band sekolahnya aja Phinokio. Trus, band kampusnya dikasi nama Bella Chan!” ujar Qnoi.

“Gimana kalo Choco Pasta?’
Nama Choco Pasta keluar begitu aja dari mulut Vita pas mereka lagi nyantai di sebuah warkop di Jalan Gajah Mada. Selang beberapa menit resmi memakai nama Choco Pasta, band ini langsung nampil di panggung akustik yang kebetulan digelar dalam rangka memperkenalkan sebuah merk rokok terbaru di warkop tersebut. Disini pula “Apa Kabar Diary?“, “Teman (?)” dan “Pacarku…Titik…Titik…” diperdengarkan di telinga publik.

Kampanye AIDS dan Lingkungan.
Hal ini bukannya tanpa sebab. Vita yang pernah beberapa kali menjadi pembicara dalam penyuluhan AIDS untuk remaja, akhirnya bikin anak-anak Choco Pasta yang lain ikutan nambah wawasannya tentang bahaya penyakit yang satu ini.
Menanam bakau, hunting foto ke luar daerah, pameran fotografi bertema Hari Bumi di Sintang, sampe menyusuri sungai hingga ke pedalaman Sambas dan Ketapang adalah beberapa program Borneo Photography dalam rangka mengkampanyekan budaya dan lingkungan hidup yang pernah diikuti Qnoi dan Mumu.
Berangkat dari kegiatan-kegiatan tersebut, jangan heran kalo kalian akan selalu melihat tulisan STOP AIDS! dan BORNEO FRESH “KEEP IT CLEAN, KEEP IT GREEN” di setiap video Choco Pasta.
Rasa percaya diri sebagai band yang mengawali langkahnya dengan lagu-lagu ciptaan sendiri semakin kebentuk. Alvin langsung bikin grup Choco Pasta di Facebook, Mumu membuat semua art work dan video, Qnoi mengatur semua jadwal latihan dan Vita menyebarkan lagu Choco Pasta via bluetooth ke teman-temannya. (Tri Anto)
Kerajinan Tangan dari Keladi Air
Tahun Liputan : 2009
Jalan Trans Kalimantan, Desa Kuala Ambawang, Gang Manunggal, no. 6, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Ibu Novita dan beberapa rekannya yang sama-sama ibu rumah tangga, secara swadaya membeli bahan baku, dan menganyamnya menjadi hiasan seperti kipas, gantungan kunci, piring, kotak tisu, cincin, vas bunga, tas, topi dan masih banyak lagi varian kreasi yang lain. Sayangnya, belum ada koperasi yang dapat membantu pemasaran hasil olah tangan ibu-ibu rumah tangga ini. (mumu/29/08)

Di saat senggang, ibu-ibu rumah tangga ini berkumpul membuat beraneka bentuk kreasi dari bahan keladi air. Foto : Eko S Daulay

Dapat dibuat tas, kipas, piring, tempat tisu, vas bunga, gantungan kunci, dan masih banyak yang lain. Foto : Eko S. Daulay

Sering dicari saat eksibisi di luar Kalbar. Sayangnya, belum ada koperasi yang bisa banyak membantu penjualan di pasar lokal. Foto : Eko S. Daulay
Tarung Derajat, Seni Bela Diri Anak Negeri
Pertahanan diri merupakan tindakan dari setiap individu dalam mempertahankan diri dari keadaan tertentu. Berbagai pengalaman hidup dalam tindakan untuk mempertahankan diri tersebut menjadikan Agus Drajat, pria asal Bandung, Indonesia, menciptakan seni pertahanan diri yang mulai dikenal pada tahun 1972 dengan nama Tarung Derajat.
Tingkatan dalam seni bela diri ini dimulai dari 8 Tingkatan :
1.Sabuk Putih
2. Sabuk Hijau 1 dan 2
3. Sabuk Biru 1 dan 2
3. Sabuk Merah 1 dan 2
4. Hitam ( Zat )
Untuk pelatih Tarung Derajat itu sendiri dikenal dengan sebutan Akang.

Tarung Derajat mulai masuk ke Pontianak Tahun 1989 oleh Dedi Indarto, S.sos ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Kini Tarung Derajat memiliki kurang lebih 1000 anggota yang tersebar diseluruh Kalimantan Barat ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Anggota Tarung Derajat Kalimantan Barat terdiri dari satuan militer,umum dan mahasiswa (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Tahun 2005, atlet Tarung Derajat Kalimantan Barat berhasil meraih medali emas putra pada Kejuaraan Nasional ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Pada tahun 2007 atlet Tarung Derajat kembali meraih medali emas putra. ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Pada tahun berikutnya, atlet Tarung Derajat Kalimantan Barat mengumpulkan 1 Emas, 2 Perak, dan 2 Perunggu ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Pada Kejuaraan Piala Presiden 2009, atlet Tarung Derajat yang dikirim untuk mengikuti kompetisi tersebut berhasil mencatatkan prestasi yang gemilang yaitu memperoleh 2 emas, 1 perak dan 2 perunggu (Foto : Ianimaru)

Disiplin serta sikap rendah hati untuk tidak menggunakan kemampuan seni bela diri ini kepada hal-hal yang merugikan orang lain yang diajarkan dalam seni bela diri Tarung Derajat ( Foto : Ianimaru )

Jadwal Latihan Tarung Derajat untuk wilayah Pontianak dibagi menjadi 2 tempat yaitu, satuan Untan dan Komplek Masjid Mujahidin pada hari Rabu, Jumat dan Minggu ( Foto : Ianimaru )
Pameran Fotografi “Photo Borneo” & Sintang Photography Trip 2010
Sinar matahari pagi bersinar dan menembus jendela bis Pontianak-Sintang. AC dingin terus saja menyelimuti semua penumpang yang sebagian masih betah memejamkan mata. Photography Trip yang digelar bersamaan dengan Pameran Fotografi “Photo Borneo” dalam rangka menyambut Hari Bumi, tentunya bertujuan untuk menyebar kesadartahuan akan lingkungan dan salah satu wujud eksistensi kepedulian sebagai manusia.
Pameran Fotografi “Photo Borneo”
Gedung Pancasila yang terletak di Jalan Apang Semangai, Sintang dipilih menjadi tempat digelarnya pameran fotografi dari tanggal 24-26 April 2010.
- _MG_8540.JPG
- Gedung pancasila, Jalan Apang semangai sebagai tampat berlangsungnya pameran “Photo Borneo”. (foto : mumu)
"Photo Borneo" adalah tema besar yang merangkap menjadi program tahunan di tubuh Borneo Photography. (Foto : mumu)
Dwi Karunia Syaputri (10) tercatat sebagai fotografer termuda yang mengikutsertakan sebuah karyanya berjudul "Cerdas" di pameran Photo Borneo" (Foto : mumu)
Photography Trip
Hunting foto memang menjadi harga mati yang tidak dapat ditawar. disela-sela pameran, beberapa BoPhian menggelar hunting kecil. berjalan kaki dari Gedung Pancasila menuju tepian Sungai Kapuas, Pasar Inpres dan kembali lagi ke Gedung Pancasila.
Hunting dilanjutkan pada hari Minggu (24/04). Kali ini BoPhians dipandu oleh teman-teman dari Gemar Photography Sintang (GPS). Hutan Wisata Baning, Kobus, Kawasan Jinora dan pada sore harinya susur sungai mengitari Sungai Kapuas. Kehidupan masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas merupakan objek yang sungguh sayang jika tidak dibadikan.
Galeri tenun ikat. Sangat disayangkan tidak bisa memotret kain tenun, karena pada saat hunting, galeri ini tidak ada kegiatan. (Foto : mumu)
Borneo Photograophy mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada CERDAS Grup, Gemar Photography Sintang, seluruh masyarakat Sintang dan siapa saja, dimana saja atas doa dan dukungan yang telah diberikan. (mumu/16/05)
Fotografer-fotografer yang berpartisipasi dalam “Photo Borneo” Sintang 24-26 April 2010 :
Adi Sulistyanto
Afif Reffyandi
Agus Djuli Handoko
Agus Fitri Andri
Alberta Noviany
Anderi Purnomo
Andreas Cicco
Andy Saputra
Anton Widiarmo S.E
Apriansyah Firdaus
Aris Suhendra
Cholid Nugraha
Dwi Kurnia Syaputri
Eko Suryanto Daulay
Erwin Setiadi
Eru Ahmadia
Evy P. Susanti
Fami Hazdan
Gumay DBlur
Iip Yulfahmi
Indra Ae’
M. Firdaus
M. Mu’min
M. Alfian Nurzi
M. Zeinur Rasyikin
Lukas B. Wijanarko
Sabda Agung
Sinatrya Ananda
Suriansyah A.Md
Sy. Afdhal Ghalib
Teguh Panglima
Tri Anto
Vidi Sitarda
Bandit Rangers
Pada tahun 70-an, olah raga atau permainan air soft pertama kali dimulai dari negara Jepang. Permainan ini menirukan kegiatan polisi atau bahkan militer dalam berperang.
Senjata yang digunakan tentu saja bukan senjata yang digunakan militer atau polisi, melainkan menggunakan senjata replika yang terbagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Jenis elektrik
2. Gas blow back
3. Bolt action (kokang)
Selain populer di Amerika dan Eropa, air soft juga populer di Asia. Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Macau, Korea Selatan, dan juga menyebar ke Filipina dan Indonesia.
Bandit Rangers
Bandit Rangers adalah tim air soft yang didirikan di Pontianak pada tahun 2008. Minimnya anggota pada saat itu kini telah berubah menjadi 43 orang (menurut data)
Anggotanya terdiri dari anak sekolah, mahasiswa, hingga karyawan. Semua anggotanya berpedomankan kepada kode etik airsoft dengan 3 acuan keselamatan :
1. Keselamatan Umum
2. Keselamatan Pribadi
3. Keselamatan Permainan
Singkawang, Pemangkat dan Sintang adalah beberapa nama kota yang pernah menjadi tur Bandit Rangers. Rencana untuk menggelar agenda air soft se-Kalimantan Barat juga tengah mereka persiapkan.(mumu/16/05)
Facebook : http://www.facebook.com/group.php?gid=110485991558
Peralatan yang paling penting dalam permainan airsoft adalah pelindung mata dan wajah. (foto : mumu)
Sportifitas yang tinggi merupakan prinsip utama ditanamkan pada seluruh anggota Bandit Rangers. (foto : mumu)

Selain pakaian, perlengkapan lain seperti rompi, helm, sepatu boot, dan sarung tangan juga diusahakan mirip dengan yang dipakai oleh militer dan kepolisian. Penggunaan replika seragam militer ini tidaklah bermaksud untuk meniru suatu kesatuan militer. (foto : mumu)

VISI MISI BANDIT RANGER Airsoft Team Pontianak – Kalimantan Barat V I S I : MELAWAN MUSUH DENGAN BERCERMIN SEBAGAI BANDIT LEBIH BAIK MATI DARI PADA PULANG TANPA KEMENANGAN DITANGAN MUNDUR DAN MENYERAH BUKAN SIFAT SEORANG BANDIT. M I S I : MENJADIKAN PERSONIL SEBAGAI MANUSIA YANG BERJIWA PATRIOT BERLANDASKAN KEPADA KETUHANAN YANG MAHA ESA DENGAN MEMEGANG TEGUH PRINSIP PANCASILA DAN MENJUNJUNG TINGGI SPORTIFITAS BERDASARKAN KODE ETIK AIRSOFT. (foto : mumu)
Peluru yang dipergunakan berbentuk bulat berbahan plastik padat dan biasa disebut BB (Ball Bearing). Ukuran butiran peluru berdiameter 6 mm dengan berat bervariasi dari 0.12 gram sampai 0.25 gram. (foto : mumu)

Kawasan Universitas Tanjungpura kerap menjadi lahan perang Bandit Rangers di akhir pekan. (foto : mumu)
Ketapang Trip 2010
Angin sore berhembus lembut dan matahari masih memberi sinarnya di sisa hari. Suara canda beberapa anak kecil yang bermain di pelabuhan seakan mengubur suara-suara bising kendaraan beroda empat yang dinaikkan ke atas feri tujuan Teluk Batang. usaha pencarian petugas loket hanya berbuah ruangan kosong yang ditambahi tulisan, Loket Tutup.
Kami memang terlambat dan pilihan terakhir menuju Ketapang adalah dengan menggunakan kapal kelotok. KM Melano Khatulistiwa memang masih menunggu penumpang. Beberapa pekerjanya terlihat sibuk menaikkan satu persatu sepeda motor ke atas kelotok. Penjaja makanan juga masih menggelar dagangannya, ditambah lagi dengan seorang pengamen wanita yang menjual suara di dalam KM Melano Khatulistiwa. Entah lagu apa yang dia nyanyikan. Yang pasti konser tunggalnya sore ini berhasil mempesona seorang anak kecil yang selalu memeluk erat sang ibu setiap kali pengamen itu menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Tenang arus Kapuas mengalir, sunset yang di tunggu-tunggu juga telah hadir. Bukit Ambawang yang seperempat tubuhnya pernah kami daki membagi pesonanya seakan ingin mengundang kami untuk mendakinya lagi. Empat ekor ikan kembung goreng, dua telur asin, empat bungkus nasi putih, paceri nenas, dan sambal yang dibeli dari rumah makan Lestari milik Ibu Syawal adalah menu kami malam ini. Sebenarnya Eko melarang kami makan sebelum pukul 19.00. Tentu saja amarannya kami langgar. Perut saya, Indra Ae’ dan Q-Noi tidak pernah terlatih mengikuti jam makan yang dianut Eko.
Bintang begitu indah dilihat dari sini. Tak ada satupun dari mereka yang enggan atau malu memamerkan sinarnya. Sedangkan di sisi kiri dan kanan kami hanya tersaji hutan bakau terbungkus gelap. Dari jauh terlihat lampu-lampu dari sampan atau kapal motor para pencari ikan. Eko dan Q-Noi tertidur lelap diantara tubuh-tubuh lelah penumpang KM Melano Khatulistiwa yang lain. Indra Ae’ terlibat dialog santai dengan seseorang penumpang yang hingga kini tidak saya ketahui namanya. Sedangkan saya…membuat tulisan ini sambil menghisap rokok dan menggenggam handphone yang dari tadi tidak ada sinyalnya.
Pelabuhan Teluk Batang kami jejaki pada pukul 04.00 pagi. Perlahan kami meninggalkan pelabuhan dan meluncur santai di awal fajar. Jalan Teluk Batang ternyata tidak seluruhnya mulus. Sekarang kami harus berhadapan dengan jalan tanah yang rusak parah dan piting yang menghisap rupiah demi rupiah benar-benar membuat saya dongkol. Kenapa kami harus membayar untuk berjalan di atas jalan yang rusak?
Tugu Ale-ale menjadi sasaran lensa pocket saya saat kami berada di tengah Kota Ketapang. Hingga kini telah ada enam Tugu Ale-ale yang saya abadikan. Di setiap perempatan, Tugu Ale-ale memang selalu ada. Hal ini sempat membuat saya berpikir, apakah kami berjalan di jalan yang sama? Dan saya yakin pikiran saya akan sama dengan orang-orang yang baru pertama kali datang ke Ketapang. Indra Ae’ mengusulkan untuk istirahat sejenak di sebuah warung kopi di Jalan Merdeka.
Tito P Indrawan, staf Yayasan Palung juga akhirnya bergabung dan mengajak kami ke kantornya. Orang yang di tempatkan di Program Perlindungan Satwa dan Habitat ini juga banyak bercerita tentang beberapa lokasi yang dapat kami gunakan untuk memotret burung. Di kantor Yayasan Palung juga kami bertemu dengan Dedeng, salah satu fotografer asal Ketapang yang namanya tercantum di daftar Ketapang Fotografer Community.
Kabupaten Ketapang memiliki pantai yang memanjang dari selatan ke utara dan sebagian pantai, yang merupakan muara sungai, berupa rawa – rawa terbentang mulai dari Kecamatan Teluk Batang, Simpang Hilir, Sukadana, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan dan Pulau Maya Karimata, Sedangkan daerah hulu umumnya berupa daratan yang berbukit – bukit dan diantaranya masih merupakan hutan. Ditambah lagi dengan pantai-pantai yang pada umumnya berlumpur, sehingga menjadi tempat persinggahan untuk burung lokal dan burung migran.
Di ruangannya, Yudo Sudarto, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga menyambut positif agenda Photography Trip Pengamatan Burung yang kami usung. Agenda yang bertujuan mensukseskan Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat 2010 ini akan sangat baik digelar mengingat Ketapang memiliki kawasan-kawasan dimana terdapat banyak jenis burung endemik.
HUTAN KOTA
Berjarak sekitar 2 Km dari pusat kota Ketapang, Lufti Faurusal Hasan dan seorang rekannya membawa kami ke hutan kota. Ada beberapa jenis tanaman hutan yang dilindungi disini seperti, mensira, bungor, ubah, pangal dan melinsum. Kami juga bertemu dengan orangutan. Kami sepakat memberinya nama Putri, karena orangutan tersebut berjenis kelamin betina. Putri sangat jinak sehingga memudahkan kami memotretnya.
PANTAI AIR MATI
Seperti yang telah direncanakan, setelah dari hutan kota dan istirahat makan siang, ditemani oleh Tito P Indrawan dan Dedeng, kami berangkat ke Pantai Air Mati. Di pantai yang berjarak 15 Km dari pusat Kota Ketapang ini, jenis burung seperti Kedidi, Dara Laut dan Gajahan banyak ditemui di sekitar pantai. Meski sore itu mendung, kami cukup puas menikmati pesona Pantai Air Mati yang berada di Desa Sungai Awan.
DESA SUNGAI PELANG
Desa Sungai Pelang adalah sebuah kawasan pertanian yang terletak di kecamatan Matan Hilir Selatan. Pada hari ketiga, saya, Indra Ae’, Q-Noi dan Eko sengaja bangun pagi dan pergi ke Desa Sungai Pelang setelah sebelumnya dikabari oleh Dedeng, kawasan ini tempat yang tepat untuk membuat karya landscape.
PANTAI CELINCING
Pantai ini terletak di Desa Suka Baru, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang. Berjarak kurang lebih 10 Km dari Kota Ketapang, selain potensi wisata pantai, Celincing juga berpotensi besar menjadi objek wisata mancing dan pengamatan burung.
Kabupaten Ketapang merupakan salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat yang terletak di antara garis 0º 19’00” – 3º 05’ 00” Lintang Selatan dan 108º 42’ 00” – 111º 16’ 00” Bujur Timur. Ketapang memiliki pantai yang memanjang dari Selatan ke Utara. Ditambah lagi Ketapang memiliki banyak jenis burung endemik. Dua potensi ini tentu sangat berdampak positif bagi perkembangan di sektor pariwisata. Dalam rangka mensukseskan Visit Kal-Bar 2010, Photography Trip Pengawasan Burung yang nantinya akan digelar tentunya akan menjadi media promosi pariwisata di Kabupaten Ketapang. (mumu/26/01)
10 Foto Terbaik Hunting Foto Kompetisi Panjat Dinding Sakawana Se-Kalbar 2009
Sakawana, komunitas pencinta alam terbuka menggelar even Hunting Foto Kompetisi Panjat Dinding Se-Kalimantan Barat. Tanggal 18-20 Desember 2009, kemarin.
10 foto terbaik Kompetisi Panjat Dinding Sakawana se Kalbar 2009
Foto Karya : Ari Agung

Foto Karya : Arya Dwipangga

Foto Karya : Arya Dwipangga 1
Foto Karya : Ma'ruf

Foto Karya : Safuandi
Foto Karya : Sinatrya Ananda
Foto Karya : Sinatrya Ananda 1
Foto Karya : Tjhai Wi Tiang
Foto Karya : Jose

Foto Karya : Lanang B
Selamat untuk para peserta yang terpilih dalam 10 foto terbaik. Untuk seluruh para peserta hunting foto panitia memberikan penghargaan setinggi-tinggi terhadap partisipasi nya dalam kegiatan tersebut.
Salam Jepret…
KEANEKARAGAMAN HAYATI dan BUDAYA KALIMANTAN BARAT
Keanekaragaman Hayati dan Budaya Kalimantan Barat adalah tema yang diangkat dalam pameran foto yang digelar di Grand Mahkota Hotel, Jalan Sidas, Pontianak. Pameran foto yang telah berlangsung pada tanggal 19-21 Desember ini bertujuan menyampaikan informasi dan meningkatkan kepedulian masyarakat akan konservasi dan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi nilainya di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat.
Ada 200 karya foto yang terpajang manis di ruangan Ball Room. Karya-karya foto tersebut dibagi menjadi dua tempat yaitu, lantai 1 memuat karya-karya foto budaya dan flora, sedangkan lantai 2 didaulat menjadi ruangan yang menampung karya-karya foto flora dan fauna.
Untuk mengoptimalkan tersampaikannya informasi lingkungan hidup dan budaya ini ke masyarakat luas, WWF mengundang siswa-siswi hampir dari seluruh sekolah di Pontianak (tingkat SD, SMP dan SMA). Pemberitahuan lewat media cetak dan radio juga diberlakukan.
Sugeng Hendratno mengatakan, karya-karya foto yang dipamerkan di sini diambil dari lokasi Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum. Pontianak menjadi kota kedua setelah pameran yang sama telah digelar di Putusibau. Dalam rangka kampanye peduli orangutan, karya-karya foto hasil jepretan Sugeng Hendratno, Jimmy, Ngurah Pradnyana dan Albertus juga akan kembali dipamerkan di Bali 5 Mei 2010 mendatang.
“Kita punya banyak kekayaan alam, budaya, flora dan fauna yang belum banyak diketahui masyarakat. Sengaja dipilih foto dan film karena visual memiliki kekuatan yang memudahkan kita menyampaikan pesan bahwa Kalimantan Barat sangat kaya akan budaya, flora dan fauna. Dari kegiatan ini diharapkan akan tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk melindungi. Kami ingin menggugah hati yang paling dalam dan membuat banyak orang untuk peduli lingkungan,” ujar Jimmy yang juga salah satu fotografer yang karyanya dipamerkan.
KAMPANYE ORANGUTAN
Dalam acara ini World Wildlife Fund (WWF) juga mengkampanyekan penyelamatan dan kesadartahuan masyarakat terhadap orangutan. Kalimantan Barat memiliki dua sub spesies orangutan yaitu, Pongo Pygmaeus Wurmbil dan Pongo Pygmaeus Pygmaeus. Dari dua spesies tersebut Pongo Pygmaeus Pygmaeus lebih mengkhawatirkan. Karena hanya tersisa 1330-2000 individu di Taman Nasional Betung Kerihun dan 500-1090 individu di Taman Nasional Danau Sentarum. (mumu/21/12)

Pameran dimulai pada hari Sabtu 19 Desember dan berkhir pada hari Senin 21 Desember 2009. Foto oleh : Sabda Agung

200 buah karya foto yang dipamerkan. Karya -karya foto tersebut meliputi keanekaragaman budaya, flora dan fauna. Foto oleh : Sabda Agung

Pemasangan pin sebagai simbol partisipasi mendukung kelestarian lingkungan dan orangutan. Foto oleh : Sabda Agung

Sugeng Hendratno salah seorang fotografer yang karyanya di pamerkan di pameran ini. Foto oleh : Sabda Agung

“Kita punya banyak kekayaan alam, budaya, flora dan fauna yang belum banyak diketahui masyarakat. Sengaja dipilih foto dan film karena visual memiliki kekuatan yang memudahkan kita menyampaikan pesan bahwa Kalimantan Barat sangat kaya akan budaya, flora dan fauna. Dari kegiatan ini diharapkan akan tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk melindungi. Kami ingin menggugah hati yang paling dalam dan membuat banyak orang untuk peduli lingkungan,” ujar Jimmy yang juga salah satu fotografer yang karyanya dipamerkan. Foto oleh : Sabda Agung

Pengunjung yang merupakan murid-murid sekolah diberikan sebuah tantangan oleh penyelenggara pameran untuk menuliskan nama tumbuhan dari foto-foto yang dipamerkan. Salah satu bentuk edukasi pengenalan lingkungan. Foto oleh : Sabda Agung

Murid-murid sekolah akan selalu didampingi oleh seorang pemandu pameran. Karena sarat akan ilmu pengetahuan, banyak pihak sekolah yang menginginkan diadakannya workshop lingkungan hidup dan budaya di sekolah. Foto oleh : Sabda Agung

Pemutaran film tentang orangutan. Visual memiliki kekuatan untuk memudahkan menyampaikan informasi ke banyak orang. Foto oleh : Sabda Agung

Karya-karya foto di pameran ini akan kembali dipamerkan di Bali, 5 Mei 2010 mendatang. Foto oleh : Mumu
Susur Galor ( Pameran Tunggal “Pelangi Khatulistiwa” 25-27 Oktober 2009 )
Namanya singkat, Bearing. Ia kelahiran Pontianak pada tanggal 29 Juli 1976. ia memiliki obsesi yang terus melekat di dalam dirinya, yaitu belajar dan terus belajar. Seorang Bearing teramat sulit dipisahkan dengan etos kerja yang digelutinya sampai sekarang. Ia menyelesaikan sekolah menengah atas pada tahun 1995 silam. Namun ia tak segera berpuas diri. Ia kemudian melanjutkan pendidikan formalnya di Universitas Widya Dharma. Sayangnya hanya bertahan hingga semester IV. Ia menyadari tuntutan hidup sangat tinggi sehingga ia memutuskan untuk kuliah sambil bekerja di Varia Foto Pontianak.

Total 30 karya foto yang ditampikan dalam Pameran Tunggal karya Bearing (Istimewa)
Berawal dari titik inilah seorang Bearing kemudian tertarik dengan dunia fotografi. Ia bertanya ke sana-kemari mengenai tempat belajar fotografi secara formal. Dan Kota Yogyakarta menjadi satu-satunya pilihan yang tepat untuk urusan itu. Ia berangkat ke Yogyakarta pada tahun 1998 dan mempelajari ilmu fotografi di Modern School of Design (MSD). Selama setahun mempelajari ilmu fotografi di MSD, Bearing merasa ilmu yang telah digenggamnya masih kurang. Ia pun melanjutkan perburuannya ke Akademi Desain Visi (ADV) Yogyakarta, Jurusan Desain Grafis, dan Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Jurusan Broadcasting. Pada tahun 2001 ia kembali ke kampung halaman dan melamar di Harian Pontianak Post. Awalnya ia diterima sebagai tenaga layouter (pracetak). Bearing kemudian dipindahkan ke Kapuas Post. Sebagai layouter yang notabene bekerja malam hari, ia mengaku punya banyak waktu luang di siang hari. Waktu luangnya dimanfaatkan untuk kembali menuntut ilmu di STIE Indonesia sambil berburu foto. Hasilnya kemudian ia perlihatkan kepada redaktur Kapuas Post. Pada saat itulah foto-foto Bearing sering menghiasi halaman Kapuas Post. Karena keterampilannya ini pula, Bearing diangkat menjadi fotografer di Pontianak Post Grup hingga saat ini. Berbagai pengalaman telah dilaluinya, baik mengikuti seminar maupun menjadi pembicara di berbagai pelatihan jurnalistik terutama foto jurnalistik. Pameran bersama sudah sering kali diikuti. Namun baru saat ini Bearing menggelar karyanya sendiri dalam sebuah pameran tunggal yang dibarengi dengan resepsi pernikahan.

Tim sedang mempersiapkan karya foto (foto oleh : Eko Suryanto Daulay)

Tim sedang mempersiapkan karya foto (foto oleh : Eko Suryanto Daulay)
Pameran yang dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2009 sampai tanggal 28 Oktober 2009 lalu, Bertempat di Selasar Museum Provinsi Kalimantan Barat. Tema yang dipilih adalah “Pelangi Khatulistiwa”. Sebuah foto pelangi menjadi latar belakang pemilihan tema ini, selain itu pelangi menurut Bearing sendiri memiliki makna yang berbeda dari orang pada umumnya. Ia membandingkan pelangi dengan Kalimantan Barat. Apakah persamaan yang ada di antara keduanya? Kalimantan Barat (Kalbar) adalah sebuah entitas dengan identitas yang penuh ragam. Sebuah tempat di mana orang dapat menyaksikan berbagai keindahan, baik alam maupun perilaku kehidupan manusia dengan segala kemapanan tradisi dan budayanya. Inilah yang membuat belahan barat Pulau Kalimantan tetap hidup dan mengalir. Kekuatan Kalbar berdiri di atas pilar kehidupan budaya yang sangat kukuh. Alam melengkapi kekuatan itu sebagai sebuah cakra kembarnya. Kolaborasi dua dimensi tersebut kemudian melahirkan berbagai varian, karakter, garis, corak, dan warna. Namun tak dimungkiri pula masih ada seribu satu macam persoalan yang membuat daerah ini seperti kehilangan cermin hidupnya, Infrastruktur, promosi, dan manajemen pengelolaan tata ruang yang tidak terintegrasi menyebabkan Kalbar hanya bisa merangkak setengah hati. Daya tariknya pun tidak bisa memancar keluar. Lewat media fotografi, keterpurukan itu diharapkan sedikit terobati.

Proses penyelesaian persiapan pameran tunggal di lakukan di Rumah Kombi (Foto oleh : Eko)
Ada 30 karya foto yang berhasil menangkap realita itu, dan mengomunikasikannya kepada publik dalam bahasa bisu. Penuh intuisi, dan rasional. Karya-karya ini kemudian dilebur dalam sebuah bingkai bernama Pelangi Khatulistiwa. Laiknya roda kehidupan yang penuh warna, demikianlah karya fotografi ini hendak menyampaikan sejumlah pesan. Lalu mengalir seperti air atau mengalun laksana tembang. Tak jarang pula ia menghentak keras, protes, bahkan demonstrasi. Ibarat pelangi dengan aneka warna yang terpancar indah, demikianlah karya-karya fotografi ini hadir dan bercerita dengan segala pesonanya. Gerak intuitif penyatuan berbagai macam warna yang berbeda, telah melahirkan sebuah mahakarya yang tiada tertandingi keindahannya. Mungkin, karya-karya fotografi ini sekadar lewat sebagai tamu, atau pisau lipat yang tergolek di sudut ruangan setelah habis digunakan. Tapi di sini pulalah sebuah sikap terpatri kuat: betapa besar makna dari kata beda.

Penyerahan secara simbolis kepada pembeli. (foto oleh : Mumu)
Selama Pameran tersebut,karya foto yang berhasil terjual sebanyak 3 karya foto.Foto dengan judul “Open gates” menjadi koleksi nya Sutarmidji (Walikota Pontianak), dan “Pulang” serta “Wajah Desa” menarik perhatian kolektor Hasjim Oesman untuk membeli foto tersebut.
(Rohani Syawaliah)






















