Ketapang Trip 2010
Angin sore berhembus lembut dan matahari masih memberi sinarnya di sisa hari. Suara canda beberapa anak kecil yang bermain di pelabuhan seakan mengubur suara-suara bising kendaraan beroda empat yang dinaikkan ke atas feri tujuan Teluk Batang. usaha pencarian petugas loket hanya berbuah ruangan kosong yang ditambahi tulisan, Loket Tutup.
Kami memang terlambat dan pilihan terakhir menuju Ketapang adalah dengan menggunakan kapal kelotok. KM Melano Khatulistiwa memang masih menunggu penumpang. Beberapa pekerjanya terlihat sibuk menaikkan satu persatu sepeda motor ke atas kelotok. Penjaja makanan juga masih menggelar dagangannya, ditambah lagi dengan seorang pengamen wanita yang menjual suara di dalam KM Melano Khatulistiwa. Entah lagu apa yang dia nyanyikan. Yang pasti konser tunggalnya sore ini berhasil mempesona seorang anak kecil yang selalu memeluk erat sang ibu setiap kali pengamen itu menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Tenang arus Kapuas mengalir, sunset yang di tunggu-tunggu juga telah hadir. Bukit Ambawang yang seperempat tubuhnya pernah kami daki membagi pesonanya seakan ingin mengundang kami untuk mendakinya lagi. Empat ekor ikan kembung goreng, dua telur asin, empat bungkus nasi putih, paceri nenas, dan sambal yang dibeli dari rumah makan Lestari milik Ibu Syawal adalah menu kami malam ini. Sebenarnya Eko melarang kami makan sebelum pukul 19.00. Tentu saja amarannya kami langgar. Perut saya, Indra Ae’ dan Q-Noi tidak pernah terlatih mengikuti jam makan yang dianut Eko.
Bintang begitu indah dilihat dari sini. Tak ada satupun dari mereka yang enggan atau malu memamerkan sinarnya. Sedangkan di sisi kiri dan kanan kami hanya tersaji hutan bakau terbungkus gelap. Dari jauh terlihat lampu-lampu dari sampan atau kapal motor para pencari ikan. Eko dan Q-Noi tertidur lelap diantara tubuh-tubuh lelah penumpang KM Melano Khatulistiwa yang lain. Indra Ae’ terlibat dialog santai dengan seseorang penumpang yang hingga kini tidak saya ketahui namanya. Sedangkan saya…membuat tulisan ini sambil menghisap rokok dan menggenggam handphone yang dari tadi tidak ada sinyalnya.
Pelabuhan Teluk Batang kami jejaki pada pukul 04.00 pagi. Perlahan kami meninggalkan pelabuhan dan meluncur santai di awal fajar. Jalan Teluk Batang ternyata tidak seluruhnya mulus. Sekarang kami harus berhadapan dengan jalan tanah yang rusak parah dan piting yang menghisap rupiah demi rupiah benar-benar membuat saya dongkol. Kenapa kami harus membayar untuk berjalan di atas jalan yang rusak?
Tugu Ale-ale menjadi sasaran lensa pocket saya saat kami berada di tengah Kota Ketapang. Hingga kini telah ada enam Tugu Ale-ale yang saya abadikan. Di setiap perempatan, Tugu Ale-ale memang selalu ada. Hal ini sempat membuat saya berpikir, apakah kami berjalan di jalan yang sama? Dan saya yakin pikiran saya akan sama dengan orang-orang yang baru pertama kali datang ke Ketapang. Indra Ae’ mengusulkan untuk istirahat sejenak di sebuah warung kopi di Jalan Merdeka.
Tito P Indrawan, staf Yayasan Palung juga akhirnya bergabung dan mengajak kami ke kantornya. Orang yang di tempatkan di Program Perlindungan Satwa dan Habitat ini juga banyak bercerita tentang beberapa lokasi yang dapat kami gunakan untuk memotret burung. Di kantor Yayasan Palung juga kami bertemu dengan Dedeng, salah satu fotografer asal Ketapang yang namanya tercantum di daftar Ketapang Fotografer Community.
Kabupaten Ketapang memiliki pantai yang memanjang dari selatan ke utara dan sebagian pantai, yang merupakan muara sungai, berupa rawa – rawa terbentang mulai dari Kecamatan Teluk Batang, Simpang Hilir, Sukadana, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan dan Pulau Maya Karimata, Sedangkan daerah hulu umumnya berupa daratan yang berbukit – bukit dan diantaranya masih merupakan hutan. Ditambah lagi dengan pantai-pantai yang pada umumnya berlumpur, sehingga menjadi tempat persinggahan untuk burung lokal dan burung migran.
Di ruangannya, Yudo Sudarto, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga menyambut positif agenda Photography Trip Pengamatan Burung yang kami usung. Agenda yang bertujuan mensukseskan Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat 2010 ini akan sangat baik digelar mengingat Ketapang memiliki kawasan-kawasan dimana terdapat banyak jenis burung endemik.
HUTAN KOTA
Berjarak sekitar 2 Km dari pusat kota Ketapang, Lufti Faurusal Hasan dan seorang rekannya membawa kami ke hutan kota. Ada beberapa jenis tanaman hutan yang dilindungi disini seperti, mensira, bungor, ubah, pangal dan melinsum. Kami juga bertemu dengan orangutan. Kami sepakat memberinya nama Putri, karena orangutan tersebut berjenis kelamin betina. Putri sangat jinak sehingga memudahkan kami memotretnya.
PANTAI AIR MATI
Seperti yang telah direncanakan, setelah dari hutan kota dan istirahat makan siang, ditemani oleh Tito P Indrawan dan Dedeng, kami berangkat ke Pantai Air Mati. Di pantai yang berjarak 15 Km dari pusat Kota Ketapang ini, jenis burung seperti Kedidi, Dara Laut dan Gajahan banyak ditemui di sekitar pantai. Meski sore itu mendung, kami cukup puas menikmati pesona Pantai Air Mati yang berada di Desa Sungai Awan.
DESA SUNGAI PELANG
Desa Sungai Pelang adalah sebuah kawasan pertanian yang terletak di kecamatan Matan Hilir Selatan. Pada hari ketiga, saya, Indra Ae’, Q-Noi dan Eko sengaja bangun pagi dan pergi ke Desa Sungai Pelang setelah sebelumnya dikabari oleh Dedeng, kawasan ini tempat yang tepat untuk membuat karya landscape.
PANTAI CELINCING
Pantai ini terletak di Desa Suka Baru, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang. Berjarak kurang lebih 10 Km dari Kota Ketapang, selain potensi wisata pantai, Celincing juga berpotensi besar menjadi objek wisata mancing dan pengamatan burung.
Kabupaten Ketapang merupakan salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat yang terletak di antara garis 0º 19’00” – 3º 05’ 00” Lintang Selatan dan 108º 42’ 00” – 111º 16’ 00” Bujur Timur. Ketapang memiliki pantai yang memanjang dari Selatan ke Utara. Ditambah lagi Ketapang memiliki banyak jenis burung endemik. Dua potensi ini tentu sangat berdampak positif bagi perkembangan di sektor pariwisata. Dalam rangka mensukseskan Visit Kal-Bar 2010, Photography Trip Pengawasan Burung yang nantinya akan digelar tentunya akan menjadi media promosi pariwisata di Kabupaten Ketapang. (mumu/26/01)
10 Foto Terbaik Hunting Foto Kompetisi Panjat Dinding Sakawana Se-Kalbar 2009
December 31, 2009 | Oleh : Borneo Photography | Kategori : Gaya
Sakawana, komunitas pencinta alam terbuka menggelar even Hunting Foto Kompetisi Panjat Dinding Se-Kalimantan Barat. Tanggal 18-20 Desember 2009, kemarin.
10 foto terbaik Kompetisi Panjat Dinding Sakawana se Kalbar 2009
Foto Karya : Ari Agung

Foto Karya : Arya Dwipangga

Foto Karya : Arya Dwipangga 1
Foto Karya : Ma'ruf

Foto Karya : Safuandi
Foto Karya : Sinatrya Ananda
Foto Karya : Sinatrya Ananda 1
Foto Karya : Tjhai Wi Tiang
Foto Karya : Jose

Foto Karya : Lanang B
Selamat untuk para peserta yang terpilih dalam 10 foto terbaik. Untuk seluruh para peserta hunting foto panitia memberikan penghargaan setinggi-tinggi terhadap partisipasi nya dalam kegiatan tersebut.
Salam Jepret…
KEANEKARAGAMAN HAYATI dan BUDAYA KALIMANTAN BARAT
Keanekaragaman Hayati dan Budaya Kalimantan Barat adalah tema yang diangkat dalam pameran foto yang digelar di Grand Mahkota Hotel, Jalan Sidas, Pontianak. Pameran foto yang telah berlangsung pada tanggal 19-21 Desember ini bertujuan menyampaikan informasi dan meningkatkan kepedulian masyarakat akan konservasi dan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi nilainya di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat.
Ada 200 karya foto yang terpajang manis di ruangan Ball Room. Karya-karya foto tersebut dibagi menjadi dua tempat yaitu, lantai 1 memuat karya-karya foto budaya dan flora, sedangkan lantai 2 didaulat menjadi ruangan yang menampung karya-karya foto flora dan fauna.
Untuk mengoptimalkan tersampaikannya informasi lingkungan hidup dan budaya ini ke masyarakat luas, WWF mengundang siswa-siswi hampir dari seluruh sekolah di Pontianak (tingkat SD, SMP dan SMA). Pemberitahuan lewat media cetak dan radio juga diberlakukan.
Sugeng Hendratno mengatakan, karya-karya foto yang dipamerkan di sini diambil dari lokasi Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum. Pontianak menjadi kota kedua setelah pameran yang sama telah digelar di Putusibau. Dalam rangka kampanye peduli orangutan, karya-karya foto hasil jepretan Sugeng Hendratno, Jimmy, Ngurah Pradnyana dan Albertus juga akan kembali dipamerkan di Bali 5 Mei 2010 mendatang.
“Kita punya banyak kekayaan alam, budaya, flora dan fauna yang belum banyak diketahui masyarakat. Sengaja dipilih foto dan film karena visual memiliki kekuatan yang memudahkan kita menyampaikan pesan bahwa Kalimantan Barat sangat kaya akan budaya, flora dan fauna. Dari kegiatan ini diharapkan akan tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk melindungi. Kami ingin menggugah hati yang paling dalam dan membuat banyak orang untuk peduli lingkungan,” ujar Jimmy yang juga salah satu fotografer yang karyanya dipamerkan.
KAMPANYE ORANGUTAN
Dalam acara ini World Wildlife Fund (WWF) juga mengkampanyekan penyelamatan dan kesadartahuan masyarakat terhadap orangutan. Kalimantan Barat memiliki dua sub spesies orangutan yaitu, Pongo Pygmaeus Wurmbil dan Pongo Pygmaeus Pygmaeus. Dari dua spesies tersebut Pongo Pygmaeus Pygmaeus lebih mengkhawatirkan. Karena hanya tersisa 1330-2000 individu di Taman Nasional Betung Kerihun dan 500-1090 individu di Taman Nasional Danau Sentarum. (mumu/21/12)

Pameran dimulai pada hari Sabtu 19 Desember dan berkhir pada hari Senin 21 Desember 2009. Foto oleh : Sabda Agung

200 buah karya foto yang dipamerkan. Karya -karya foto tersebut meliputi keanekaragaman budaya, flora dan fauna. Foto oleh : Sabda Agung

Pemasangan pin sebagai simbol partisipasi mendukung kelestarian lingkungan dan orangutan. Foto oleh : Sabda Agung

Sugeng Hendratno salah seorang fotografer yang karyanya di pamerkan di pameran ini. Foto oleh : Sabda Agung

“Kita punya banyak kekayaan alam, budaya, flora dan fauna yang belum banyak diketahui masyarakat. Sengaja dipilih foto dan film karena visual memiliki kekuatan yang memudahkan kita menyampaikan pesan bahwa Kalimantan Barat sangat kaya akan budaya, flora dan fauna. Dari kegiatan ini diharapkan akan tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk melindungi. Kami ingin menggugah hati yang paling dalam dan membuat banyak orang untuk peduli lingkungan,” ujar Jimmy yang juga salah satu fotografer yang karyanya dipamerkan. Foto oleh : Sabda Agung

Pengunjung yang merupakan murid-murid sekolah diberikan sebuah tantangan oleh penyelenggara pameran untuk menuliskan nama tumbuhan dari foto-foto yang dipamerkan. Salah satu bentuk edukasi pengenalan lingkungan. Foto oleh : Sabda Agung

Murid-murid sekolah akan selalu didampingi oleh seorang pemandu pameran. Karena sarat akan ilmu pengetahuan, banyak pihak sekolah yang menginginkan diadakannya workshop lingkungan hidup dan budaya di sekolah. Foto oleh : Sabda Agung

Pemutaran film tentang orangutan. Visual memiliki kekuatan untuk memudahkan menyampaikan informasi ke banyak orang. Foto oleh : Sabda Agung

Karya-karya foto di pameran ini akan kembali dipamerkan di Bali, 5 Mei 2010 mendatang. Foto oleh : Mumu
Susur Galor ( Pameran Tunggal “Pelangi Khatulistiwa” 25-27 Oktober 2009 )
October 31, 2009 | Oleh : Rohani Syawaliah | Kategori : Gaya
Namanya singkat, Bearing. Ia kelahiran Pontianak pada tanggal 29 Juli 1976. ia memiliki obsesi yang terus melekat di dalam dirinya, yaitu belajar dan terus belajar. Seorang Bearing teramat sulit dipisahkan dengan etos kerja yang digelutinya sampai sekarang. Ia menyelesaikan sekolah menengah atas pada tahun 1995 silam. Namun ia tak segera berpuas diri. Ia kemudian melanjutkan pendidikan formalnya di Universitas Widya Dharma. Sayangnya hanya bertahan hingga semester IV. Ia menyadari tuntutan hidup sangat tinggi sehingga ia memutuskan untuk kuliah sambil bekerja di Varia Foto Pontianak.

Total 30 karya foto yang ditampikan dalam Pameran Tunggal karya Bearing (Istimewa)
Berawal dari titik inilah seorang Bearing kemudian tertarik dengan dunia fotografi. Ia bertanya ke sana-kemari mengenai tempat belajar fotografi secara formal. Dan Kota Yogyakarta menjadi satu-satunya pilihan yang tepat untuk urusan itu. Ia berangkat ke Yogyakarta pada tahun 1998 dan mempelajari ilmu fotografi di Modern School of Design (MSD). Selama setahun mempelajari ilmu fotografi di MSD, Bearing merasa ilmu yang telah digenggamnya masih kurang. Ia pun melanjutkan perburuannya ke Akademi Desain Visi (ADV) Yogyakarta, Jurusan Desain Grafis, dan Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Jurusan Broadcasting. Pada tahun 2001 ia kembali ke kampung halaman dan melamar di Harian Pontianak Post. Awalnya ia diterima sebagai tenaga layouter (pracetak). Bearing kemudian dipindahkan ke Kapuas Post. Sebagai layouter yang notabene bekerja malam hari, ia mengaku punya banyak waktu luang di siang hari. Waktu luangnya dimanfaatkan untuk kembali menuntut ilmu di STIE Indonesia sambil berburu foto. Hasilnya kemudian ia perlihatkan kepada redaktur Kapuas Post. Pada saat itulah foto-foto Bearing sering menghiasi halaman Kapuas Post. Karena keterampilannya ini pula, Bearing diangkat menjadi fotografer di Pontianak Post Grup hingga saat ini. Berbagai pengalaman telah dilaluinya, baik mengikuti seminar maupun menjadi pembicara di berbagai pelatihan jurnalistik terutama foto jurnalistik. Pameran bersama sudah sering kali diikuti. Namun baru saat ini Bearing menggelar karyanya sendiri dalam sebuah pameran tunggal yang dibarengi dengan resepsi pernikahan.

Tim sedang mempersiapkan karya foto (foto oleh : Eko Suryanto Daulay)

Tim sedang mempersiapkan karya foto (foto oleh : Eko Suryanto Daulay)
Pameran yang dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2009 sampai tanggal 28 Oktober 2009 lalu, Bertempat di Selasar Museum Provinsi Kalimantan Barat. Tema yang dipilih adalah “Pelangi Khatulistiwa”. Sebuah foto pelangi menjadi latar belakang pemilihan tema ini, selain itu pelangi menurut Bearing sendiri memiliki makna yang berbeda dari orang pada umumnya. Ia membandingkan pelangi dengan Kalimantan Barat. Apakah persamaan yang ada di antara keduanya? Kalimantan Barat (Kalbar) adalah sebuah entitas dengan identitas yang penuh ragam. Sebuah tempat di mana orang dapat menyaksikan berbagai keindahan, baik alam maupun perilaku kehidupan manusia dengan segala kemapanan tradisi dan budayanya. Inilah yang membuat belahan barat Pulau Kalimantan tetap hidup dan mengalir. Kekuatan Kalbar berdiri di atas pilar kehidupan budaya yang sangat kukuh. Alam melengkapi kekuatan itu sebagai sebuah cakra kembarnya. Kolaborasi dua dimensi tersebut kemudian melahirkan berbagai varian, karakter, garis, corak, dan warna. Namun tak dimungkiri pula masih ada seribu satu macam persoalan yang membuat daerah ini seperti kehilangan cermin hidupnya, Infrastruktur, promosi, dan manajemen pengelolaan tata ruang yang tidak terintegrasi menyebabkan Kalbar hanya bisa merangkak setengah hati. Daya tariknya pun tidak bisa memancar keluar. Lewat media fotografi, keterpurukan itu diharapkan sedikit terobati.

Proses penyelesaian persiapan pameran tunggal di lakukan di Rumah Kombi (Foto oleh : Eko)
Ada 30 karya foto yang berhasil menangkap realita itu, dan mengomunikasikannya kepada publik dalam bahasa bisu. Penuh intuisi, dan rasional. Karya-karya ini kemudian dilebur dalam sebuah bingkai bernama Pelangi Khatulistiwa. Laiknya roda kehidupan yang penuh warna, demikianlah karya fotografi ini hendak menyampaikan sejumlah pesan. Lalu mengalir seperti air atau mengalun laksana tembang. Tak jarang pula ia menghentak keras, protes, bahkan demonstrasi. Ibarat pelangi dengan aneka warna yang terpancar indah, demikianlah karya-karya fotografi ini hadir dan bercerita dengan segala pesonanya. Gerak intuitif penyatuan berbagai macam warna yang berbeda, telah melahirkan sebuah mahakarya yang tiada tertandingi keindahannya. Mungkin, karya-karya fotografi ini sekadar lewat sebagai tamu, atau pisau lipat yang tergolek di sudut ruangan setelah habis digunakan. Tapi di sini pulalah sebuah sikap terpatri kuat: betapa besar makna dari kata beda.

Penyerahan secara simbolis kepada pembeli. (foto oleh : Mumu)
Selama Pameran tersebut,karya foto yang berhasil terjual sebanyak 3 karya foto.Foto dengan judul “Open gates” menjadi koleksi nya Sutarmidji (Walikota Pontianak), dan “Pulang” serta “Wajah Desa” menarik perhatian kolektor Hasjim Oesman untuk membeli foto tersebut.
(Rohani Syawaliah)
Zul MS dan Alam Borneo
October 4, 2009 | Oleh : ande anjang | Kategori : Gaya

Zul MS dan Gallerynya (photo: ande, 2009)
Pontianak, BoP. Zulkiflie MS, atau yang biasa di sapa dengan Bang Zul ini merupakan salah satu dari sekian seniman lukis yang dimiliki Kalimantan Barat. Berkat hobinya mencorat-coret dinding sejak TK ini, ia pun didukung kedua orang tuanya hingga berkuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia Minat Utama Seni Lukis. Sebagai seorang seniman beragam pameran pun telah ia ikuti sehingga karya-karyanya telah dikenal luas. Saat dijumpai di Gallerynya yang berada di Jalan Camar no 48 ini, Pria kelahiran Pontianak yang berumur 37 tahun ini menyambut saya dengan dengan ramah. Tampak beragam jenis lukisan, sketsa, ilustrasi, dan foto terpampang di gallery yang bernama Zul MS Gallery ini. “Gallery ini sudah 2 tahun berjalan”, ujarnya. “saya juga pernah menerima tamu dari dalam dan luar negeri seperti Australia, Spanyol, Belanda, Prancis, dan Amerika untuk melihat gallery saya, karena gallery juga berfungsi sebagai suatu ruang publik sebagai perwakilan gambaran keadaan Kalimantan Barat jika orang belum sempat berkunjung ke suatu wilayah yang kemudian bisa memancing orang-orang tersebut untuk datang langsung melihat wilayah tersebut”. Saya pun mulai berbincang-bincang singkat bersama Bang Zul sambil sesekali menikmati kue lebaran yang ia suguhkan, sambil juga memandang karya-karya Beliau.

Zul MS dengan ruang kerja di gallerynya (photo: ande, 2009)
Lingkungan hidup menjadi topik yang kami perbincangkan di Gallery bang Zul karena menurut saya karya-karya beliau cukup banyak yang bersinggungan dengan hal tersebut, suatu isu yang selalu tak habis-habisnya diperbincangkan. “Lingkungan hidup itu sudah menjadi bom waktu bagi manusia karena banyaknya kerusakan yang telah terjadi. Sebagai seorang seniman saya berusaha membantu lingkungan hidup melalui kemampuan yang saya miliki melalui karya-karya saya, dan juga karena alam merupakan guru seniman”, begitulah yang Bang Zul ungkapkan. Karya-karya Bang Zul terinspirasi dari lingkungan dimana beliau melakukan perjalanan ke daerah-daerah. Taman Nasional Danau Sentarum, Betung Kerihin, Gunung Palung, Cagar Alam Selimpai, Karimata, Pulau Kabung, dan Gunung Schwanner merupakan tempat-tempat yang pernah beliau kunjungi yang juga menjadi inspirasi karya Bang Zul baik itu keindahan atau kerusakan yang ada di wilayah tersebut. Bang Zul berkata, “Jika dikelola dengan baik tempat-tempat tersebut dapat menjadi tujuan ekowisata, karena orang-orang senang dengan alam. Saya merasa miris jika melihat tempat-tempat indah tersebut mulai terganggu. Bahkan barusan ada wisatawan spanyol yang kecewa dengan rusaknya alam Kalimantan Barat ini. Ia pernah berkunjung disalah satu wilayah Kalimantan Barat yaitu di Ketapang sekitar dua tahun yang lalu, namun ketika ia berkunjung lagi, ia menemukan tempat tersebut telah berubah dibanding dua tahun lalu, karena adanya kerusakan”. Menurut bang Zul, dari sekian banyak lokasi yang pernah di kunjungi Bang Zul, Taman Nasional Danau Sentarum merupakan salah satu tempat yang membuatnya terenyuh karena adanya kegiatan-kegiatan yang merusak di dalam Taman Nasional tersebut. Mendengar cerita Bang Zul, saya pun ikut mendapatkan gambar-gambaran hasil perjalanannya dan saya pun berharap demikian karena alangkah baiknya lingkungan ini selalu terjaga keseimbanganya, karena kita sangat bergantung kepadanya. Karya visual itu sendiri akan menjadi rekaman sejarah terhadap apa yang pernah terjadi disuatu tempat. Untuk peduli terhadap lingkungan, “lakukanlah dengan kemampuan yang kita miliki, jika kita bisa melukis, sampaikanlah dengan lukisan, jika kita bisa memotret maka sampaikanlah melalui hasil foto”, ujar pelukis ini dengan semangat dan menjadi akhir perbincangan saya dengan beliau.(ande/4/10/09)
Zul MS Gallery
Jalan. Camar, No. 48, Pontianak
www.galleryborneozulms.blogspot.com
Sugeng Hendratno: Hijaukan Duniamu
October 4, 2009 | Oleh : ande anjang | Kategori : Gaya

Sugeng Hendratno (photo: ande, 2009)
Pontianak, BoP. Alam berserta isinya selalu menjadi inspirasi bagi seluruh orang baik dalam memanfaatkan dan mengolah hasil alam. Banyak aspek yang saling bersangkutan dan saling membutuhkan satu sama lainnya dalam alam ini, namun pemanfaatan alam yang jor-joran berdampak luas pada masyarakat juga lingkungan beserta isinya. Sugeng Hendratno adalah seorang fotografer yang telah banyak mengungkapkan kegundahannya terhadap keadaan lingkungan dan budaya dengan karya-karya fotonya, “Banyak terjadi perubahan lingkungan yang ada di Indonesia pada umumnya. Terlebih lagi di Kalimantan Barat khususnya. Sawit, Illegal Logging, dan PETI banyak merusak lingkungan. Cagar Alam, Monumen Sejarah, bahkan Taman Nasional pun menjadi korban, seakan-akan kegiatan tersebut tidak ada batas sampai munculnya kehancuran baik itu alam serta keragaman yang ada didalamnya, budaya, bahkan ekonomi masyarakat itu sendiri”. Ada dampak yang pelan-pelan mulai terlihat selain rusaknya alam akibat eksploitasi yang berlebihan, salah satunya mulai adanya perubahan budaya di masyarakat. Ada beberapa kebiasaan yang dahulu biasa dilakukan masyarakat tapi kini sudah jarang dilakukan. Seperti di daerah Semitau yang pernah beliau kunjungi, dahulu tradisi berburu babi sering dilakukan namun seiring dengan terganggunya habitat babi di hutan akibat ekploitasi alam, sehingga tradisi tersebut terancam punah. Begitu pula seperti suku Punan yang kehidupannya sangat bergantung terhadap hutan, jika hutan dieksploitasi habis-habisan bisa jadi suku tersebut akan punah. Tenun Ikat yang dahulu menggunakan pewarna alam namun pernah beliau lihat para penenun menggunakan pewarna kimia, para penenun beralasan sudah mulai sulit mencari bahan-bahan alami tersebut kalau pun ada, sangat jauh dari tempat mereka. Itu hanya sebagian contoh kecil dari dampak kerusakan lingkungan hidup terhadap masyarakat.
Sebagai seorang fotografer, Sugeng mengungkapkan ia lebih cenderung mengangkat dan mengabadikan tema budaya dan lingkungan, karena menurutnya di Kalimantan Barat khususnya masih minim yang mau mendokumentasikan secara intens tentang lingkungan dan budaya melalui media fotografi, sementara itu Kalimantan Barat memiliki keanekaragaman alam dan budaya yang selain perlu dilestarikan juga perlu diabadikan selain itu agar orang-orang mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi di alam Kalimantan Barat, baik itu yang indah atau yang sudah rusak. Minimnya hal ini bisa jadi dikarenakan faktor seperti biaya, waktu dan mental fotografer itu sendiri. “Foto lingkungan hidup dan budaya juga perlu investigasi yang mendalam dan ini harus dilakukan dengan benar. Kendala yang umum ditemui saat di lapangan salah satunya adalah kecurigaan warga sehingga menyulitkan investigasi, namun tidak semuanya seperti itu, ada masyarakat yang terbuka ada yang tertutup”, ujar Sugeng yang pernah menjadi Instruktur Photo Voices pada tahun 2008 di Kapuas Hulu ini. Sugeng juga memberikan sedikit gambaran kepada para pembaca yang ingin mendalami fotografi lingkungan hidup dan budaya yang dalam hal ini juga merupakan bagian dari Fotografi Travelling karena seorang fotografer melakukan perjalanan ketempat yang dituju kemudian mendokumentasikan apa yang ada di tempat tujuan. “Mental, riset terhadap tempat yang akan di kunjungi, membawa peralatan fotografi yang minimalis saat berada dilapangan dalam hal ini sesuai dengan apa yang akan di potret, pendekatan terhadap warga dan lingkungan, dan minta izinlah saat akan memotret”, ungkap pria yang sejauh ini sudah mengikuti empat pameran foto bertema lingkungan hidup ini. Sebagai akhir dari perbincangan singkat ini, beliau juga mengajak untuk mulai peduli dengan lingkungan dan budaya dengan segenap kemampuan yang kita miliki. “Hijaukan duniamu”, ujarnya.
Pameran Seni Visual “Indonesia Refleksi”
Pameran Seni Visual “Indonesia Refleksi Untuk Generasi…Indonesia Ku”
Catatan 7, 8 dan 9 Agusutus 2009 di Selasar Museum Prov. Kal-Bar
Oleh : mumu
Disamping ingin memotivasi para pelaku seni untuk tetap berkarya dengan apa saja yang mereka punya, Pameran Seni Visual juga ingin mengajak orang untuk berpikir dan berbuat lebih baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, seni, budaya, dan juga lingkungan.
Tema Indonesia Refleksi Untuk Generasi…Indonesia Ku dirasa sangat penting untuk di usung mengingat kita adalah bangsa yang besar dan sangat pintar membanggakan karya dan budaya bangsa lain. Indonesia banyak terdapat jenis makanan yang beraneka ragam, sampai-sampai hampir seluruh stasiun televisi di negara ini punya acara kuliner. Tetapi tetap saja Indonesia lapar. Derasnya arus informasi yang masuk nyaris tanpa filter perlahan melunturkan identitas ke-merah putih-an kita.
Persiapan selama lebih kurang 30 hari di rumah KOMBI (Komunitas BIDAR) akhirnya melahirkan sebuah event pameran seni yang memang sangat jarang diadakan di Kalimantan Barat. Karya-karya seperti lukisan, sketsa, desain grafis, karikatur, kartun, fotografi dan bahkan film indie di daulat menjadi tamu kehormatan selama tiga hari berturut-turut di selasar Museum Prov. Kalimantan Barat, jalan Ahmad Yani, Pontianak.
DAY 1
PEMBUKAAN PAMERAN SENI VISUAL YAYASAN BIDAR TAHUN KE SEPULUH
Asap rokok keluar dari mulutnya saat puluhan pasang mata menatap lekat 117 buah karya dari berbagai media yang terpajang rapi di selasar museum. Beberapa pelajar SMP yang baru pulang sekolah menyerbu salah satu panitia dengan banyak pertanyaan.
“Kak, lukisan yang ini bikinnya gimana?”
“Aku tahu tempat ini. Kakak motretnya di Singkawang khan?”
“Ada Mbah Surip! Kak! Yang bikin ini siapa? Trus bikinnya pake apa?”
“Kenapa mau lihat foto aja harus pake luv?”
“Ini pake crayon ya kak?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas banyak dilontarkan bahkan sebelum acara Pameran Seni Visual ini resmi dibuka. Setelah mendapatkan jawaban, mereka kembali mengamati karya-karya lain.
Benar-benar tidak disangka. Pada hari kedua pameran, pelajar-pelajar SMP itu kembali datang. Kali ini dalam jumlah yang lebih besar dan bahkan ada yang membawa orang tua mereka. Melihat banyaknya pelajar SMP yang memenuhi selasar museum, saya jadi ingat dulu saya juga pernah seperti mereka. Guru SMP saya pernah menyuruh kami membuat karya tulis tentang museum. Apa museum itu? Apa-apa saja yang ada di dalamnya? Hmmm…Sedikit kenangan putih biru yang kembali terangkat.

Suasana pembukaan pameran seni visual, foto 1: Muhammad Zeinur Rasyikin (Q-Noi), koordinator Pameran Seni Visual Yayasan BIDAR tahun ke sepuluh. 2: Indra Ae’, ketua Yayasan BIDAR. 3: H Halim AR, yang turut di undang dalam acara pembukaan pameran. 4.Penampilan kelompok paduan suara dari Rumah Belajar Teater Gelombang. 5. H Halim AR, Indra Ae’, beberapa seniman dan para undangan sedang menyaksikan penampilan dari kelompok paduan suara Rumah Belajar Teater Gelombang. 6. Para undangan yang hadir dalam acara pembukaan Pameran seni Visual. 7. Jamuan makan setelah Pameran Seni Visual resmi di buka. (foto.dok)
Para undangan telah menempati tempat yang telah di sediakan oleh panitia. Pelukis, fotografer, kartunis, dan pelaku-pelaku seni yang lain bercampur baur dengan para penikmat seni di selasar museum.
Jumat (7/8) pukul 16.00 WIB, Pameran Seni Visual Yayasan BIDAR tahun ke sepuluh resmi di buka. Penampilan paduan suara teman-teman dari Rumah Belajar Teater Gelombang (RBTG) menjadi suguhan pertama dalam acara pembukaan.
Muhammad Zeinur Rasyikin yang bertanggung jawab sebagai koordinator dalam Pameran Seni Visual tahun ini juga tampil sebagai pembicara yang menyampaikan laporan pameran. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura yang akrab di sapa Q-Noi dan sekaligus member dari Borneo Photography ini banyak mengisahkan kegiatan-kegiatan para panitia seperti membuat panel, mendesain baliho, katalog dan lain-lain.
H. Halim AR juga diundang sebagai pembuka acara. Tokoh seniman Kalimantan Barat yang pernah menjadi wartawan dan redaktur Harian Akcaya (kini Pontianak Post) ini dianggap sebagai senior oleh seniman-seniman seni rupa di Pontianak.
Acara kembali dilanjutkan dengan jamuan makan. Pisang rebus, singkong, dan ubi rambat yang dicampur dengan gula merah dan sambal ikan teri memang di jadikan menu utama dalam acara ini karena dinilai sebagai panganan yang sangat dikenal dan mudah di jumpai di sekian banyak daerah di Indonesia.
DAY 2
PERFORMANCE ART
Performance art menjadi agenda di hari kedua dalam Pameran Seni Visual. Sabtu malam (8/8) lima anak dari Yayasan BIDAR di dandani sesuai karakter yang mereka bawakan. Otoy yang bertanggung jawab penuh di sektor artistik pameran berdandan ala teroris yang membawa banyak bom di rompinya. Icha, Dani, Yaya dan Daoez kompak berdandan horor. Penampilan mereka berempat menggambarkan korban yang tewas akibat bom yang diledakkan teroris.
Karena dianggap memiliki make up yang paling menyeramkan, Daoez sempat membuat beberapa pengunjung pameran ketakutan. Tetapi setelah tahu ini hanya rangkaian kegiatan performance art, pengunjung-pengunjung tadi kembali tenang dan akhirnya ikut larut menikmati suguhan yang diberikan Daoez dan kawan-kawan.
DAY 3
PEMUTARAN FILM INDIE LOKAL
Q-Noi memarkirkan motor dan berlari menuju selasar museum guna mengontrol semua karya yang terpajang di sana. Eko Daulay dan Andre yang juga telah datang mempersiapkan buku tamu dan mengoperasikan video streaming.
Semuanya lancar. Pengunjung berdatangan, beberapa panitia yang berjaga terlibat obrolan ngalor-ngidul-ngetan. Beberapa yang lain lebih suka berjalan sambil melihat karya dan kadang-kadang menjadi pemandu pameran saat pengunjung menanyakan salah satu kaya yang terpajang di sana.
Salah seorang pengunjung pameran yang belakangan diketahui memiliki nama Dwi Syafrianti menanyakan adakah panitia yang bisa di wawancara? Mbak Dwi datang ke orang yang tepat. Karena yang ditanyainya adalah orang yang bertanggung jawab penuh di bagian display pameran dan data karya.
Ternyata Mbak Dwi tidak datang sendirian. Dia datang bersama dua orang temannya. Clarisse Annabelle J.S dan Christian Kleissle sengaja datang ke museum mengingat hari ini hari terakhir di gelarnya Pameran Seni Visual. Setelah mengeluarkan alat tulisnya, Clarisse banyak menanyakan hal-hal menyangkut pameran, Yayasan BIDAR beserta divisi-divisi yang ada di dalamnya.
Sayangnya, Christian yang ternyata menyukai Sungai Kapuas, dan Clarisse tidak bisa datang di acara pemutaran film indie lokal karena harus menghadiri acara di tempat lain.
Proyektor, DVD Player, laptop, dan sound system telah kami siapkan di salah satu sisi pelataran museum. Film-film dari teman-teman movie maker juga telah kami susun. Sekedar ingin mengecek kondisi peralatan, saya iseng memutar video konser Silverchair dan video dokumentasi Susur Sungai ke Pedalaman Sambas.
“OK Sip,” ujar Otoy. Semua memang sudah “OK Sip.” Hingga pada suatu saat kami merasa dongkol dan harus menerima kenyataan yang sangat jauh dari apa yang kami inginkan. Museum Prov. Kalimantan Barat ternyata masuk dalam daftar pemadaman listrik bergilir!
Kami jelas tidak ingin mengecewakan pengunjung pameran maupun para movie maker yang telah berpartisipasi dalam acara ini. Terima kasih super gede kami persembahkan kepada Cholid Nugraha. Mahasiswa Akutansi sekaligus fotografer yang ngepos di Borneo Photography inilah yang gensetnya berhasil kami “culik.”
Meski dalam keadaan yang terbatas dalam hal lighting, acara pemutaran film indie lokal sukses diselenggarakan. “Bukankah Aku Kapuas?” karya Tiga Kacamata, “Indonesia Refleksi” karya Kalimantan Komunitas Film (KAKAF), “Coklat Terasi”, “Cinta Chuwy”, “Ada Apa Dengan Kamek”, dan “Super Star” karya Chris Duamdes dinyatakan sukses menutup acara Pameran Seni Visual Yayasan BIDAR tahun ke sepuluh dengan manis.

Suasana pemutaran film di Pameran Seni Visual yang juga sekaligus menutup pameran seni visual (foto.dok)
Pameran Seni Visual “Indonesia Refleksi Untuk Generasi…Indonesia Ku” adalah wujud eksistensi kita sebagai pelaku seni. Mudah-mudahan dari apa yang kita suguhkan menjadi renungan kita bersama. Semoga apa yang kita cita-citakan dapat terwujud menuju makmur, adil, aman dan sejahtera untuk negara tercinta Indonesia. Terima kasih kepada seluruh seniman dari berbagai media karya yang telah berpartisipasi dan seluruh pihak yang telah membantu demi terselenggaranya acara Pameran Seni Visual ini. SALUT!
Spirit From Heaven, The 3rd Anniversary of Kebon Kopi
July 8, 2009 | Oleh : ande anjang | Kategori : Gaya

Setelah sukses pada Pentas Tunggal Musik Perkusi KAKIRIMBA di Taman Budaya Kalimantan Barat, kali ini Kebun Kopi menggelar Pentas Musik yang bertajuk Spirits From Heaven, dengan menampilkan tiga karya terbaru dan tiga karya yang telah dibawakan pada pementasan tunggal sebelumnya dengan genre musik perkusi, ethnic progresif, dan world music. Pementasan kali ini untuk membuktikan kreatifitas dan eksistensi para pekerja seni yang tergabung dalam Komunitas Kebun Kopi Pontianak, serta untuk melihat peluang perkembangan seni musik tradisi yang ada di Kalimantan Barat. Disamping itu pementasan ini untuk merayakan ulang tahun Kebun Kopi yang ke tiga. Diharapkan dengan bertambahnya usia Kebun Kopi bertambah pula kematangan untuk menuju komunitas yang kreatif, mandiri dan profesional sehingga dapat bersaing dengan musik-musik dari daerah dan negara lain dengan membawa khasanah budaya yang kita miliki.

para personil perkusi Kebon Kopi berlatih untuk pementasan Spirit Of Heaven (foto. dok)

permainan kenong saat latihan untuk persiapan acara Spirit Of Heaven (foto. dok)
Menurut Herfin Yulianto, SE, “Spirit adalah sebuah semangat untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu hal yang bermanfaat baik untuk diri pribadi maupun orang lain. Heaven adalah surga yang dapat di jangkau dengan segala tingkah laku dan amal sesuai dengan nilai-nilai agama yang di yakini”. Jadi, Spirit from Heaven sebuah semangat yang datang dari surga untuk berbuat dan berbagi sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan memandang nilai-nilai filosofis agamis yang kita yakini.
Aksi Personil Perkusi KebonKopi saat pementasan musik perkusi KAKI RIMBA (foto. dok)
aksi permainan bambu oleh personel KebonKopi saat pementasan musik perkusi KAKI RIMBA (foto. dok)
Ada 6 karya yang akan ditampilkan merupakan karya-karya dari Kebun Kopi, antara lain; Last Virgin, karya Ferdinan S.Sn; Rampak Serampak, karya Ridho dan Sigit; Andrenalism +, karya M Davi Yunan 128 dan Ferdinan Martin, SP; Lantang II, karya Ferdinan S.Sn; Gong Tendensis, karya Ferdinan S.Sn; Racun Bulanak., karya Ferdinan S.Sn; Kaki Rimba, karya Ferdinan S.Sn, ujar Herfin yang juga manajer sekaligus pendiri Kebon Kopi ini. Pelaksanaan kegiatan Tgl 10 – 11 Juli 2009, pukul 19.00 wib, di Gedung Taman Budaya, Pontianak HTM Rp. 10.000. Tiket dapat di beli di no HP 0811576459 (kebun kopi), 777889 (Tamasya Tour), 085245779957 (Jamal).
(ande anjang/08/07/09)
Left For Dead
Bicara tentang anak muda mau tidak mau kita akan menemui satu kata yang sangat universal, yaitu musik. Kita semua memang tidak bisa lepas dari satu hal yang satu ini. Jazz, Blues, Hip Hop, atau Pop adalah beberapa genre yang terdengar sangat “wajar” di telinga kabanyakan orang pada umumnya. Lalu bagaimana dengan Hard Core, Punk, atau Metal?
Bertempo cepat, mengusung distorsi yang “menyiksa telinga”, dan sarat akan tema sosial, humanis, dan bahkan politik yang dituangkan ke dalam lirik itulah sebagian hal kecil yang ditawarkan oleh musik metal. Jenis musik ini mungkin masih asing di pendengaran orang awam. Tapi bagi penikmatnya, metal seperti asupan gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh. “Musik metal itu bisa bikin semangat dan menghilangkan rasa sedih kalo aku lagi ada masalah,” jawab Iim (Mainstream Kiri) semangat. Indera pendengaran cowok yang berusia 16 tahun yang masih duduk di kelas 10 SMU Negeri 4 Pontianak ini memang selalu dihiasi dengan musik metal. Seringnya memutar musik metal saat di rumah, orang tua saya sering protes dan khawatir musik ini bisa “merusak” diri saya. Sebegitu hitamkah penilaian orang terhadap musik metal? Penilaian miring terhadap metal kerap membuat penikmat musik keras ini dinilai kurang baik. Tidak adil rasanya jika hanya menilai dari luar tanpa mengetahui isi dalamnya.

salah satu penampilan band di acara Left For Dead (photo: Mumu, Pontianak, 2009)

Suasana panggung acara Left For Dead (photo: Mumu, Pontianak, 2009)
Kreatifitas dan ekspresi adalah dua hal yang saya nilai sangat mahal. Kreatifitas seseorang bisa mati jika selalu dibenturkan dengan hal yang sifatnya komersil dan mengikuti selera pasar. Ekspresi juga tak berdaya dan hanya akan membohongi diri sendiri bila harus selalu menurut pada aturan-aturan baku yang sudah mapan. Di dalam hiruk pikuk dan bisingnya musik metal, tersedia ruangan luas tanpa sekat maupun batas untuk berkreatifitas dan berekspresi.

Para penonton yang menikmati acara serta penampilan band-band di Left For Dead (photo; Mumu, Pontianak, 2009)

Penonton yang bersemangat mendengarkan penampilan salah satu band di Left For Dead (photo: Mumu, Pontianak, 2009)
Left For Dead yang digelar di Gedung Teater Taman Budaya Pontianak pada hari Minggu (17/05/09) bisa dijadikan salah satu buktinya. Band-band seperi MFP, Martyrs Blood, Stupid Kids, Memory Of Tragedy, For People, Arch Theory, Amoth, BAOT, Hers Baby Doll, Mad Robbesy, Rebellious Voice, Gabriel, Morning Mist, Sabrina dan masih banyak lagi band-band yang lain silih berganti menghiasi panggung. “Kalo di festival pasti ada pressure-nya. Tapi di gigs kaya gini, mereka maen lepas, fun, bebas berekspresi dan nunjukin karakter mereka. We have something special,” ujar Jaco, salah satu panitia. Melanjutkan kalimat dari Jaco, Adi (Morning Mist) juga menyampaikan bahwa dengan adanya gigs ini selain menandakan eksistensi dari komunitas Metal Force, sekaligus juga ingin memberikan input positif bagi gerakan bawah tanah.

Bloody Act Of Terror (BAOT) salah satu band cadas yang tampil di Left For Dead (photo: Mumu, Pontianak, 2009)
Gigs yang juga didukung oleh Ice Cream Metal Podomoro, Distro Anathema, Anti Heroes, dan Distro Dixxxie ini spontan dibanjiri oleh anak-anak muda penikmat musik cadas. Bukan hanya penikmat musik cadas, mereka juga anak-anak muda yang ingin memajukan Pontianak dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Komunitas seperti Metal Force dan komunitas-komunitas musik bawah tanah Pontianak lainnya bila terorganisasi dengan baik, tentunya akan menghasilkan hal yang baik pula untuk daerah ini. Bayangkan jika event musik metal seperti Left For Dead tercantum sejajar dengan event-event budaya lainnya di kalender kunjungan wisata Kalimantan Barat. Selama ini saya meyakini hal yang besar berawal dari hal yang kecil, sesuatu yang membanggakan berawal dari hal yang tadinya disepelekan atau bahkan sama sekali tidak dipandang. Kerja keras, kerjasama yang baik, konsistensi dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait adalah satu resep yang diharapkan membuat sektor pariwisata di daerah ini tidak tidur. (mumu pocketmonster /18/05/09)
Wanita Perkasa
Dunia Off Road di Kalimantan Barat semakin di kenal oleh masyarakat. Sebuah olah raga bergengsi yang umumnya hanya di lakukan para kaum adam. Namun tidak demikian dengan WR, Cithara Nuansa Alam. Wanita muda yang berumur 19 tahun ini mengaku tertarik dengan olah raga yang umumnya di dominasi oleh kaum adam ini dan mulai menggeluti dunia offroad ini sejak akhir desember 2008 lalu.

Citha dengan kuda besi tunggangannya (photo : Meggi, Kuburaya, 2009
Wanita berkulit sawo matang yang akrab di panggil Citha ini adalah offroader wanita pertama di Kalimantan Barat. Dengan menggunakan mobil CJ-7 dengan mesin standard ia bisa masuk 10 besar dari 20 peserta saat kejuaraan offroad yang diadakan oleh Djarum Super pada Desember 2008 lalu di Pontianak. Padahal kejuaraan tersebut adalah pengalaman pertamanya bermain mobil di dalam lumpur.
“Awalnya karna dulu papa Citha mantan offroader makanya Citha mencoba ikut dalam olah raga ini dan di dukung oleh keluarga pula”, ungkap anak ke 2 dari 4 bersaudara oleh pasangan Ir. H. Werry Syahrial dan Ratna Iriani ini.

Citha bersama sang nafigator (photo : Meggi, Kuburaya, 2009
Sejauh ini Citha yang masih kuliah di jurusan Tekhnik Arsitek Untan ini sudah mengikuti 2 kejuaraan offroad. Yang pertama di GOR Pontianak pada bulan Desember 2008 dan mendapatkan peringkat ke 6 dari 20 peserta dan yang kedua di Kabupaten Kubu Raya yang di adakan oleh Djarum Super dan Indonesia Offroad Federation (IOF) pada tanggal 26-April-2009. Walaupun baru mengikuti 2 kejuaraan offroad tapi prestasi Citha patut kita banggakan karena ia adalah offroader wanita satu-satunya di Kalimantan Barat.

Citha saat melewati sebuah Special Stege (SCS) (photo : Meggi, Kuburaya, 2009)
Offroader wanita yang di navigatori oleh sepupunya Reza ini mengaku olah raga ini sangat menguji adrenalin sehingga menarik untuk di lakukan. “Bagi para wanita jangan takut lagi dengan mainan extreme ini. Karena wanita juga bisa melakukan kegiatan extreme seperti laki-laki pada olah raga ini”, pesan wanita kelahiran Pontianak 11 Sep 1989 ini.

Citha melewati rintangan (photo : Meggi, Kuburaya, 2009)

Citha Finish di sebuah SCS (photo : Meggi, Kuburaya, 2009)
Anggrek Douglas
Anggrek Douglas (photo: ian, Jln. Budi Utomo, 2009)
Anggrek jenis ini tidak jauh berbeda dengan jenis-jenis anggrek yang lain. Seperti yang dikatakan oleh pemilik Pondok Bunga di jalan Budi Utomo, no. A3, keistimewaan anggrek douglas ini dinilainya relatif. “Keistimewaan anggrek douglas justru terletak pada penikmat bunga itu sendiri,” ujarnya.
Perawatan anggrek douglas terhitung tidak terlalu rumit. Pagi dan sore cukup disiram. Bahkan air sisa dari pencucian beras juga bisa dipakai untuk menyiram. Di saat-saat tertentu anggrek douglas diberi asupan pupuk dan disemprot dengan anti hama.
Karena sifatnya yang universal, anggrek ini sering dipakai untuk keperluan dalam berbagai acara. Dari korsase pengantin, penghias kartu ucapan, hingga karangan bunga belasungkawa. Selain melayani pesanan dari dalam kota, usaha yang berawal dari sekedar hobi ini juga melayani pesanan dari Kota Singkawang, Sui. Pinyuh, dan juga Sintang. Tapi beberapa kendala juga bisa ditemui seperti faktor cuaca yang tak menentu ditambah lagi dengan krisis ekonomi global yang dirasakan sangat mengganggu kondisi kondusif usaha bunga hias. (mumu poket monster/12/04/09).
Anggrek Douglas yang telah disortir dan akan dirangkai (photo: ian, jln Budi Utomo, 2009)












