Belanja Menyambut Lebaran
September 15, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Pontianak, BoP. Berbelanja menjelang lebaran memang telah menjadi tradisi bagi orang-orang Indonesia. Tidak terkecuali dengan warga Pontianak. Minggu (13/09), masyarakat berbondong-bondong membanjiri sebuah kawasan perbelanjaan di Jalan Diponegoro. Sesak, padat dan panas tak menyurutkan semangat ribuan masyarakat yang datang dari berbagai belahan Pontianak untuk berbelanja.

suasana pusat perbelanjaan di jalan Diponegoro, Sudirman, dan Kapuas Besar (photo: Qnoy, Eko Suryanto Daulay, 2009)
Pakaian, sendal, sepatu dan tas tentu saja menjadi incaran mereka. Karena hari Minggu, banyak pembeli yang membawa isteri dan anak-anak mereka ikut serta. Belum lagi anak-anak remaja yang datang secara berkelompok praktis membuat area perbelanjaan ini padat! Bagi yang pernah ada di sana, tentu saja tulisan ini tidak bisa di anggap berlebihan dan layak di percaya.
“Omset menjelang lebaran khusus hari Sabtu sama Minggu melambung! Hahaha…”terang putri, salah satu pedagang pakaian. Harga yang di patoknya pun tidak mengalami perubahan jika di bandingkan dengan hari-hari di luar Ramadhan. Pelanggan tetap di diskon 20% dan 50 % untuk pakaian obralan.
“Kalo lagi sepi, biasa dapat 1 Juta. Tapi kalo menjelang lebaran kaya gini bisa melambung sampe 4-5 Juta,” ujar cewek ramah ini. Selama 4 tahun berdagang, Putri selalu mendatangkan pakaian dari Jakarta. “Barang-barang yang di jual di sini, di datangkan dari Mangga Dua, dan Cempaka Putih.
Di lain pihak pedagang rata-rata mendapat omset yang tinggi, lain lagi dengan konsumen. Ibu As, warga gang Belibis bisa menghabiskan dana sebesar Rp 500.000.00 untuk sekali belanja. Noris, warga Siantan yang namanya terdaftar di STKIP sebagai mahasiswa mengaku bahwa, harga-harga yang di tawarkan di pusat perbelanjaan Jalan Diponegoro ini masih bisa terjangkau. “Cuma yang nggak enaknya, di sini terlalu padat,” ujar Noris.
Masih disekitar pusat perbelanjaan di jalan Diponegoro, Mahmud, seorang penjual peci menjajakan bermacam-macam model peci mulai dari model sablon, batik, hingga model maliki. Peci-peci tersebut ditawarkan mulai dari Rp 5.000.00 hingga Rp 25.000.00. Rata-rata peci-peci tersebut diambil dari penjual grosir yang ada di Kota Pontianak. ” tapi bang, dari 4 bulan puase yang saye dah jualan ni, puase taon ni la bang yang agak menuron penjualan ni bang.” ujar Mahmud.

Mahmud saat mencobakan ukuran peci yang akan dibeli konsumennya, Ragam peci-peci yang dijual oleh Mahmud (photo: ande anjang, Qnoy, 2009)
Sementara itu, suasana ramai, sesak dan padat juga melanda kawasan Pasar Sudirman. Pengguna-pengguna sepeda motor terpaksa harus mengantri hanya untuk melewati sebuah jalan yang saat itu kebetulan kami lewati. Secara jalannya kecil, sebagian malah “di makan” untuk di jadikan lahan parkir sepeda motor. Di tambah lagi ribuan orang yang sibuk wira-wiri berbelanja untuk keperluan lebaran. Bagi saya pribadi, pemandangan ini terlalu kacau. Terlalu kacau untuk kota yang “katanya” BERSINAR. Sebuah lukisan yang menggambarkan pola pikir pemimpin kota ini sekaligus rakyatnya. Tidak teratur dan asal-asalan adalah budaya kita.

Suasana belanja di beberapa tempat (photo: Eko Suryanto Daulay, Mumu, 2009)
Tedi, warga Parit Pangeran, Siantan juga tidak ingin melewatkan momen menjelang lebaran ini lepas begitu aja. Bersama seorang adiknya, Tedi berjualan bunga plastik. Harga yang di bandrol berawal dari Rp 25.000.00, Rp 190.000.00 dan yang paling mahal, Rp 250.000.00
Bunga-bunga plastik tiruan bunga mawar, melati dan bunga matahari tertata rapi di tempat dagangannya. Tedi memang kerap menggelar dagangannya saban bulan Ramadhan. “Memang sengaja memanfaatkan momen ini untuk berjualan. Saye pedagang musiman Bang,” terangnya. Hasil jualan terbilang lumayan. Tedi dan adiknya dapat mengumpulkan 2 hingga 3 Juta untuk hari Sabtu dan Minggu saja dan 1,5 Juta di hari biasa.
Pakaian muslim dan perangkat sholat juga tak luput dari serbuan pembeli. “Hari Sabtu sama Minggu pembeli selalu ramai. Kita bisa tetap buka sampai jam 8 malam. Omset yang terkumpul dapat mencapai 6 sampai 7 Juta. Namanya dagang, ada enaknya, ada nggak enaknya juga. Yang enaknya kalo pembeli ramai. Yang nggak enaknya, mereka selalu menawar di bawah harga,” ujar Ozy yang bekerja di sebuah toko pakaian muslim dan perlengkapan sholat di Pasar Sudirman.
Pemandangan ramai di Pasar Sudirman ternyata tidak menular ke kawasan perbelanjaan Kapuas Besar. Di sini, toko-toko yang menyediakan pakaian, aksesoris juga sepatu terlihat sepi. Hanya ada beberapa pembeli yang tengah terlibat urusan transaksi dengan pedagang. Dan di tempat ini juga, para pembeli tidak perlu merasa sesak dan panas. Apalagi terburu-buru dan berjalan cepat demi mendapatkan pakaian yang di inginkan. Karena mereka punya waktu seharian untuk mencari pakaian yang cocok dengan santai.
Bukan Pontianak jika tidak memiliki banyak tempat untuk di jadikan pilihan berbelanja. Di Jalan Prof. M Yamin, Kota Baru, bisa kita temui beberapa tempat yang menjual pakaian lelong.
Aang, warga Pal 9 yang telah 7 tahun berjualan pakaian lelong menuturkan, pakaian lelong biasanya di beli dari agen yang ada di Sungai Jawi dan beberapa tempat lain di Pontianak.
lelong yang notabene pakaian bekas layak pakai ber-merk interlokal dengan harga lokal, dapat menghasilkan keuntungan sebesar 1 Juta per harinya. Pakaian lelong juga menarik perhatian Bani. Cewek yang berprofesi sebagai marketing di salah satu perusahaan suplemen ini paling sensi melihat gambar di kaosnya ternyata sama dengan kaos milik orang lain. “Sengaja belanja di sini biar nggak ada yang nyamain. Nggak asyik banget kalo ketemu orang yang kaosnya sama dengan kaos kita punya,” jelas Bani.
Bagi teman-teman yang punya kesamaan pikiran dengan Bani, lelong memang bisa menjadi pilihan. Gaya nggak musti harus belanja di mal atau distro yang ujung-ujungnya bikin kantong seret. Karena dengan pakaian lelong, kamu bisa tetap gaya tanpa menganiaya isi dompet. Pilih mana? Bisa gaya tapi miskin? Atau duit OK , gaya pol? (mumu/14/09)



Tinggalkan komentar