Images by mumu
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa X. Parade Budaya
Pontianak, Selasa (20/9) Dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur, Drs. Christiandy Sanjaya, SE, MM. Parade Budaya berlangsung di Jalan Rahadi Oesman, Pontianak. Diikuti oleh Marching Band Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Tanjungpura dan peserta dari beberapa kabupaten dan kota di Kalimantan Barat seperti Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Landak, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Landak, Kabupaten Sambas, Kota Singkawang dan Kota Pontianak.
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) merupakan event utama Pariwisata Kalimantan Barat. Tahun 2011 merupakan tahun ke -10 diselenggarakannya FBBK. Sayang, pada penyelenggaraan tahun ini FBBK terkesan digarap tidak maksimal. Ini terlihat dari jumlah perserta dan pengunjung, tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. (mumu/21/9)
















BORNEO FRESH, “SELAMATKAN BUMI”
Borneo Fresh didirikan pada tahun 2006. Bersama-sama Borneo Photography (BoP), Rumah Belajar Teater Gelombang (RBTG), Kalimantan Komunitas Film (KAKAF) dan Pelangi Borneo (kelompok baca dan menulis) yang sama-sama terangkul di dalam KOMBI (Komunitas BIDAR).
OPERASI SEMUT (2006)
Dilatar belakangi keinginan untuk melihat lingkungan sekitar yang segar dan tindak tandus, kelompok peduli lingkungan ini mengadakan kegiatan OPERASI SEMUT pada tahun 2006. Kegiatan ini berupa membersihkan paku, tali dan bahkan kawat yang digunakan untuk memasang iklan di pohon. Karena pohon berfungsi untuk memperindah dan menyegarkan suasana kota. Pemasangan iklan di pohon tentu saja hanya membuatnya terlihat kotor dan tidak fresh
MENANAM MANGROVE (2009)
Borneo Fresh bersama kawan-kawan WWF, STKIP Jurusan Sejarah, POLAIR, PAPELING, SAKAWANA dan masyarakat setempat. Dalam rangka menyambut Hari Bumi, melakukan penanaman mangrove di sepanjang pesisir Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.
PAMERAN FOTOGRAFI “SELAMATKAN BUMI” (2010)
Dalam rangka menyambut Hari Bumi, Gedung Pancasila Jalan Apang Semangai, Kota Sintang menjadi lokasi Pameran Fotografi yang karya – karya di dalamnya bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk lebih peduli lingkungan.
EKSPEDISI POTRET TANAH KAYONG (27 APRIL – 2 MEI 2011)
Pontianak menuju Ketapang dengan menggunakan sepeda, menyebarkan pamflet sadar lingkungan dan mengajak kawan-kawan di Kota Ketapang konvoi sepeda keliling kota adalah agenda Borneo Fresh di Kota yang terkenal dengan kuliner Ale -alenya ini.
SELAMATKAN BUMI. 22 MEI 2011
mengadakan kegiatan Berkerete dengan rute Pontianak-Punggur-Pontianak.
BEKERETE YOK! (30 JULI 2011)
Kembali menggunakan sepeda sebagai media kampanye sadar lingkungan. Rute dari Kota Pontianak menuju Kota Singkawang. Agenda dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan 1432 H ini mengajak masyarakat untuk berpuasa selamanya merusak lingkungan.
SEMOGA APA YANG KAMI LAKUKAN INI DAPAT BERMANFAAT BAGI SIAPA SAJA. “SELAMATKAN BUMI”
Titik Kulminasi

Senin (21/3/11) momen kulminasi di tugu Khatulistiwa jatuh pada pukul 11.50 WIB di Tugu Khatulistiwa, Jalan Khatulistiwa, Pontianak. Dihadiri Walikota Pontianak, H. Sutarmidji, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjaya beserta istri, jajaran Muspida, perwakilan dari Istana Kadariyah,turis dan masyarakat Pontianak.
Ketupat Colet

Ketupat Colet memang bukan satu-satunya menu yang tersedia. Tetapi Ketupat Colet merupakan menu yang banyak dicari pelanggan di Rumah Makan Bu Rakiman, Jalan Haji Agus Salim, Ketapang. (mumu/12/12/10)
Rusak Parah

Kondisi jalan di Desa Tanah Merah, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang. Foto : Mumu
SOLEHUDIN TIBA DI KALBAR
Ketapang, BoP. Solehudin kelahiran Bunyuasin, 17 Mei 1985 akhirnya tiba di Kalimantan Barat melewati Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang.
Sabtu (20/11/10) tepatnya di Desa Tanah Merah, tim Photography Trip Borneo Photography tanpa sengaja berpapasan dengan petualang lintas nusantara asal Jawa Barat ini.
Sepeda Solehudin terlihat begitu ”semarak” karena banyak dihiasi atribut kampanye dan barang-barang bawaannya. Solehudin juga tak lupa mengabadikan lokasi-lokasi jelajahannya dengan kamera. Termasuk kondisi jalan di Kecamatan Nanga Tayap.(mumu/25/11/10)

Memulai berpetualang lintas nusantara pada tanggal 1 januari 2004. Pada saat itu orang tua Solehudin hanya membekalinya dengan uang sebesar Rp. 5000,00. Tujuan pertama adalah Kota Bandung yang ditempuh Solehudin dengan berjalan kaki. Foto : Indra Ae'

Tiba di Bandung, Solehudin bertemu dengan Gubernur Jawa Barat yang kemudian memberinya sebuah sepeda. Foto : Qnoi

Menderita polio pada usia 3 hingga 6 tahun membuat Solehudin bernazar (berjanji). Jika ia sembuh nanti, ia akan berkeliling Indonesia. Di dalam perjalanannya keliling Indonesia, Solehudin juga mengkampanyekan anti korupsi, anti narkoba dan miras, kampanye pemeliharaan lingkungan hidup dengan menggunakan sepeda roda dua ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi udara. Foto : Qnoi

Kalimantan Barat adalah Propinsi terakhir yang ditempuh oleh Solehudin. ”Saya kaget pas masuk perbatasan Kalteng-Kalbar. Kondisi jalan Kalbar begitu buruk. Sekian banyak daerah di Indonesia yang saya lalui, hanya Kalbar saja yang kondisi jalannya masih ada yang rusak parah.” Foto : Qnoi
Sotong Pangkong Jl. Jenderal Suprapto, Ketapang

Ketapang BoP. Kuliner yang lekat dengan nuansa Bulan Ramadhan ini ternyata tidak hanya bisa dijumpai penikmatnya di saat bulan puasa tiba saja. Di Jalan Jenderal Suprapto, Ketapang, Emy (34) biasa menggelar dagangannya hingga pukul 24.00 WIB. (mumu/20/11/10)
DIRGAHAYU TENTARA NASIONAL INDONESIA
Pontianak BoP. Upacara Peringatan Hari Lahirnya Tentara Nasional Indonesia ke 65 yang jatuh pada hari Selasa (05/10) telah dilangsungkan di depan Gedung Markas Komando Resort Militer (Makorem) 121/ABW, Jalan Rahadi Oesman Pontianak.
Tema pada peringatan hari jadi Tentara Nasional Indonesia tahun ini adalah ” TNI SEBAGAI BHAYANGKARI NEGARA BERSAMA SELURUH KOMPONEN BANGSA, SIAP MENEGAKKAN KEDAULATAN DAN MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN WILAYAH NKRI.”
Upacara memperingati Hari Ulang Tahun TNI dihadiri oleh Pemerintah Daerah Kalimantan Barat, para tokoh masyarakat dan antusias masyarakat untuk menyaksikan jalannya upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Tentara Republik Indonesia. (Mumu/05/10)
Tercatat dalam sejarah, bahwa Tentara Nasional Indonesia adalah tentara yang berasal dari rakyat yang berjuang dan membela kepentingan rakyat. Foto : Mumu
Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki peran di bidang pertahanan. Dimana di dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan negara. Foto : Mumu
Tentara Indonesia sebagai salah satu unsur bangsa memiliki tugas dasar yaitu, menjaga kedaulatan negara, mempertahankan utuhnya negara Indonesia dan melindungi seluruh bangsa dan tanah air Indonesia dari segala ancaman yang mengganggu keutuhan negara Indonesia. Foto : Mumu
Tentara Nasional Indonesia adalah perkembangan dari Badan Keamanan Rakyat (BKR). Pada tanggal 5 Oktober 1945 berlanjut menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). TKR kemudian menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), mengikuti dasar militer internasional. Kemudian Tentara Nasional Indonesia (TNI) disahkan dan resmi berdiri pada 3 Juni 1947. Foto : Mumu
Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki peran di bidang pertahanan. Dimana di dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan negara. Foto : Mumu
Bersama seluruh komponen bangsa siap menegakkan kedaulatan dan mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Foto : Mumu
Kerajinan Tangan dari Keladi Air
Tahun Liputan : 2009
Jalan Trans Kalimantan, Desa Kuala Ambawang, Gang Manunggal, no. 6, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Ibu Novita dan beberapa rekannya yang sama-sama ibu rumah tangga, secara swadaya membeli bahan baku, dan menganyamnya menjadi hiasan seperti kipas, gantungan kunci, piring, kotak tisu, cincin, vas bunga, tas, topi dan masih banyak lagi varian kreasi yang lain. Sayangnya, belum ada koperasi yang dapat membantu pemasaran hasil olah tangan ibu-ibu rumah tangga ini. (mumu/29/08)

Di saat senggang, ibu-ibu rumah tangga ini berkumpul membuat beraneka bentuk kreasi dari bahan keladi air. Foto : Eko S Daulay

Dapat dibuat tas, kipas, piring, tempat tisu, vas bunga, gantungan kunci, dan masih banyak yang lain. Foto : Eko S. Daulay

Sering dicari saat eksibisi di luar Kalbar. Sayangnya, belum ada koperasi yang bisa banyak membantu penjualan di pasar lokal. Foto : Eko S. Daulay
MERIAM KARBIT
Lokasi wawancara : Gang Kuantan dan Gang H Mursyid.
Lokasi foto : Gang H Mursyid dan Jalan Tanjung Raya 2, Gang Rizki
Tahun liputan : 2009
Jauh di masa teknologi tidak secanggih sekarang, meriam karbit digunakan sebagai alat untuk membangunkan orang sahur, penanda waktu untuk berbuka puasa dan imsyak. Konon, asal-usul berdirinya kota Pontianak juga di awali dengan dentuman meriam. Terlepas dari cerita-cerita itu, kini meriam karbit telah dianggap sebagai tradisi dan budaya oleh masyarakat Pontianak.
Masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas memiliki tradisi yang khas dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.
Secara gotong royong mereka mengangkat kembali meriam-meriam karbit yang mereka simpan di dalam sungai. Kegiatan ini biasanya mereka lakukan seminggu sebelum Ramadhan. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu kegiatan warga bersama keluarga saat hari pertama menyambut Ramadhan. Agar tidak mengganggu aktivitas warga yang bekerja di berbagai profesi, pengerjaan meriam karbit dilakukan pada malam hari setelah sholat terawih.

Terbuat dari kayu yang tergolong keras. Meriam-meriamkarbit seperti ini dapat dipakai selama 5 hingga 15 tahun. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Setelah meriam diangkat dari sungai, meriam dibongkar dan dibersihkan.Rotan digunakan untuk mengikat meriam yang bagian dalamnya telah dibersihkan. (Foto : Eko Suryanto Daulay)
Beberapa meriam karbit yang “tertidur” lebih kurang setahun lamanya, kini “dibangunkan” kembali. Karena terbuat dari kayu yang tergolong keras, meriam karbit dapat digunakan 5 hingga 15 tahun.
“Biar awet, kami menggunakan kayu meranti batu atau kayu mabang,” terang Tarmiji yang mendapat keahlian membuat meriam secara turun temurun dari keluarganya ini.Karena menggunakan “stok kemarin”, Tarmiji dan kawan-kawan tidak perlu repot-repot lagi mencari kayu log. Sekarang mereka hanya membongkar dan membersihkan meriam lama yang kemudian kembali mereka rakit dan simpai (ikat) dengan menggunakan rotan.
Penggunaan rotan dalam proses pembuatan meriam karbit juga tidak bisa dibilang sedikit. 1 ton rotan baru bisa digunakan untuk tujuh atau delapan meriam. Jika harga untuk 1 kilo rotan saja harus merogoh kocek sebesar Rp 2.500,00 itu sama saja mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.500.000,00 untuk 1 ton rotan. Belum lagi biaya yang wajib dikeluarkan untuk membeli karbit.
Salah satu sumber mengatakan, mereka tidak bisa menentukan berapa banyak karbit yang harus mereka beli karena harus disesuaikan dengan dana yang terkumpul dari hasil swadaya masyarakat setempat. Ditambah lagi harga karbit yang selalu naik setiap tahun. Kini harga kayu log bisa mencapai harga 3 hingga 5 Juta per buahnya.
Jika setiap menjelang Ramadhan semua pelaku meriam karbit diharuskan memakai kayu baru, bayangkan dampaknya bagi lingkungan. Di lain sisi Pemerintah tengah giat memberantas illegal logging, tapi di sisi yang lain lagi banyak pihak yang merasa tradisi dan budaya meriam karbit sangat perlu dijaga kelestariannya.

Masyarakat berkumpul dan beramai-ramai membedah meriam setelah usai mengerjakan sholat tarawih. (Foto :Eko Suryanto Daulay)
Ukuran meriam bervariasi. Terpendek 4 meter dan yang terpanjang ada yang mencapai 8 meter. Sedangkan diameternya 40 cm untuk meriam karbit yang kecil, dan 70-80 cm untuk meriam karbit yang berukuran besar.
Sejarah meriam karbit juga pernah mengalami masa suram. Karena suara dentuman meriam karbit dianggap mengganggu, di era 90-an pernah terjadi razia meriam karbit yang digencarkan oleh aparat hukum. Barang siapa yang terbukti tengah membuat meriam karbit atau bahkan ada yang membunyikannya, meriam karbit tersebut akan segera di musnahkan.
“Makanya pada saat itu banyak warga yang membuat meriam jauh dari sungai,” kenang Mochtar yang menjabat sebagai RT di Gang Kuantan.
Razia meriam karbit tentu saja memancing reaksi dari warga yang menganggap meriam karbit adalah salah satu aset budaya Pontianak yang harus dilestarikan. Dibentuklah Persatuan Meriam Karbit se- Kalimantan Barat yang melayangkan protes ke Walikota. Walaupun memakan waktu yang cukup lama, akhirnya keluarlah peraturan dari pemerintah yang memperbolehkan meriam karbit kembali aktif di tiga hari menjelang hari raya dan tiga hari setelah malam takbiran. Cukup membanggakan saat meriam karbit pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia tahun 2007 silam.
Puncaknya kawasan tepian Sungai Kapuas akan terlihat sesak dan padat saat malam takbiran tiba. Ribuan warga dari seluruh bagian kota Pontianak berduyun-duyun datang demi menyaksikan dentuman meriam dari dekat.
Bukan konser dangdut, bukan pula konser rock ‘n roll, tetapi budaya ini dapat menyedot perhatian ribuan warga Pontianak untuk datang ke tepian Sungai Kapuas. Sebuah tradisi yang telah mendarah daging, tradisi yang berbunga budaya yang semoga terus terlestarikan, terjaga dan dipatenkan agar tidak lagi diklaim bangsa lain yang mengaku serumpun. (mumu/22/08/)
Desa Radak 2, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya

Kecamatan Terentang merupakan salah satu Daerah Pemekaran Kabupaten Kubu Raya. Dengan luas wilayah 786,40 m², Terbagi atas 9 Desa yaitu, Desa Radak 1, Desa Radak 2, Desa Terentang Hilir, Desa Permata, Desa Teluk Empening, Desa Teluk Bayur, Desa Terentang Hulu, Desa Sungai Dungun, dan Desa Betuah. (mumu/9/8)













