Images by mumu
September 3, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Uncategorized
Kerajinan Tangan dari Keladi Air
Tahun Liputan : 2009
Jalan Trans Kalimantan, Desa Kuala Ambawang, Gang Manunggal, no. 6, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Ibu Novita dan beberapa rekannya yang sama-sama ibu rumah tangga, secara swadaya membeli bahan baku, dan menganyamnya menjadi hiasan seperti kipas, gantungan kunci, piring, kotak tisu, cincin, vas bunga, tas, topi dan masih banyak lagi varian kreasi yang lain. Sayangnya, belum ada koperasi yang dapat membantu pemasaran hasil olah tangan ibu-ibu rumah tangga ini. (mumu/29/08)

Di saat senggang, ibu-ibu rumah tangga ini berkumpul membuat beraneka bentuk kreasi dari bahan keladi air. Foto : Eko S Daulay

Dapat dibuat tas, kipas, piring, tempat tisu, vas bunga, gantungan kunci, dan masih banyak yang lain. Foto : Eko S. Daulay

Sering dicari saat eksibisi di luar Kalbar. Sayangnya, belum ada koperasi yang bisa banyak membantu penjualan di pasar lokal. Foto : Eko S. Daulay
MERIAM KARBIT
August 22, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Wisata dan Budaya
Lokasi wawancara : Gang Kuantan dan Gang H Mursyid.
Lokasi foto : Gang H Mursyid dan Jalan Tanjung Raya 2, Gang Rizki
Tahun liputan : 2009
Jauh di masa teknologi tidak secanggih sekarang, meriam karbit digunakan sebagai alat untuk membangunkan orang sahur, penanda waktu untuk berbuka puasa dan imsyak. Konon, asal-usul berdirinya kota Pontianak juga di awali dengan dentuman meriam. Terlepas dari cerita-cerita itu, kini meriam karbit telah dianggap sebagai tradisi dan budaya oleh masyarakat Pontianak.
Masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas memiliki tradisi yang khas dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.
Secara gotong royong mereka mengangkat kembali meriam-meriam karbit yang mereka simpan di dalam sungai. Kegiatan ini biasanya mereka lakukan seminggu sebelum Ramadhan. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu kegiatan warga bersama keluarga saat hari pertama menyambut Ramadhan. Agar tidak mengganggu aktivitas warga yang bekerja di berbagai profesi, pengerjaan meriam karbit dilakukan pada malam hari setelah sholat terawih.

Terbuat dari kayu yang tergolong keras. Meriam-meriamkarbit seperti ini dapat dipakai selama 5 hingga 15 tahun. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Setelah meriam diangkat dari sungai, meriam dibongkar dan dibersihkan.Rotan digunakan untuk mengikat meriam yang bagian dalamnya telah dibersihkan. (Foto : Eko Suryanto Daulay)
Beberapa meriam karbit yang “tertidur” lebih kurang setahun lamanya, kini “dibangunkan” kembali. Karena terbuat dari kayu yang tergolong keras, meriam karbit dapat digunakan 5 hingga 15 tahun.
“Biar awet, kami menggunakan kayu meranti batu atau kayu mabang,” terang Tarmiji yang mendapat keahlian membuat meriam secara turun temurun dari keluarganya ini.Karena menggunakan “stok kemarin”, Tarmiji dan kawan-kawan tidak perlu repot-repot lagi mencari kayu log. Sekarang mereka hanya membongkar dan membersihkan meriam lama yang kemudian kembali mereka rakit dan simpai (ikat) dengan menggunakan rotan.
Penggunaan rotan dalam proses pembuatan meriam karbit juga tidak bisa dibilang sedikit. 1 ton rotan baru bisa digunakan untuk tujuh atau delapan meriam. Jika harga untuk 1 kilo rotan saja harus merogoh kocek sebesar Rp 2.500,00 itu sama saja mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.500.000,00 untuk 1 ton rotan. Belum lagi biaya yang wajib dikeluarkan untuk membeli karbit.
Salah satu sumber mengatakan, mereka tidak bisa menentukan berapa banyak karbit yang harus mereka beli karena harus disesuaikan dengan dana yang terkumpul dari hasil swadaya masyarakat setempat. Ditambah lagi harga karbit yang selalu naik setiap tahun. Kini harga kayu log bisa mencapai harga 3 hingga 5 Juta per buahnya.
Jika setiap menjelang Ramadhan semua pelaku meriam karbit diharuskan memakai kayu baru, bayangkan dampaknya bagi lingkungan. Di lain sisi Pemerintah tengah giat memberantas illegal logging, tapi di sisi yang lain lagi banyak pihak yang merasa tradisi dan budaya meriam karbit sangat perlu dijaga kelestariannya.

Masyarakat berkumpul dan beramai-ramai membedah meriam setelah usai mengerjakan sholat tarawih. (Foto :Eko Suryanto Daulay)
Ukuran meriam bervariasi. Terpendek 4 meter dan yang terpanjang ada yang mencapai 8 meter. Sedangkan diameternya 40 cm untuk meriam karbit yang kecil, dan 70-80 cm untuk meriam karbit yang berukuran besar.
Sejarah meriam karbit juga pernah mengalami masa suram. Karena suara dentuman meriam karbit dianggap mengganggu, di era 90-an pernah terjadi razia meriam karbit yang digencarkan oleh aparat hukum. Barang siapa yang terbukti tengah membuat meriam karbit atau bahkan ada yang membunyikannya, meriam karbit tersebut akan segera di musnahkan.
“Makanya pada saat itu banyak warga yang membuat meriam jauh dari sungai,” kenang Mochtar yang menjabat sebagai RT di Gang Kuantan.
Razia meriam karbit tentu saja memancing reaksi dari warga yang menganggap meriam karbit adalah salah satu aset budaya Pontianak yang harus dilestarikan. Dibentuklah Persatuan Meriam Karbit se- Kalimantan Barat yang melayangkan protes ke Walikota. Walaupun memakan waktu yang cukup lama, akhirnya keluarlah peraturan dari pemerintah yang memperbolehkan meriam karbit kembali aktif di tiga hari menjelang hari raya dan tiga hari setelah malam takbiran. Cukup membanggakan saat meriam karbit pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia tahun 2007 silam.
Puncaknya kawasan tepian Sungai Kapuas akan terlihat sesak dan padat saat malam takbiran tiba. Ribuan warga dari seluruh bagian kota Pontianak berduyun-duyun datang demi menyaksikan dentuman meriam dari dekat.
Bukan konser dangdut, bukan pula konser rock ‘n roll, tetapi budaya ini dapat menyedot perhatian ribuan warga Pontianak untuk datang ke tepian Sungai Kapuas. Sebuah tradisi yang telah mendarah daging, tradisi yang berbunga budaya yang semoga terus terlestarikan, terjaga dan dipatenkan agar tidak lagi diklaim bangsa lain yang mengaku serumpun. (mumu/22/08/)
Desa Radak 2, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya
August 9, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Klik...!!!

Kecamatan Terentang merupakan salah satu Daerah Pemekaran Kabupaten Kubu Raya. Dengan luas wilayah 786,40 m², Terbagi atas 9 Desa yaitu, Desa Radak 1, Desa Radak 2, Desa Terentang Hilir, Desa Permata, Desa Teluk Empening, Desa Teluk Bayur, Desa Terentang Hulu, Desa Sungai Dungun, dan Desa Betuah. (mumu/9/8)
Masjid Abdullah
August 8, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Wisata dan Budaya
Diambil dari nama ayah Nabi Muhammad SAW, Masjid Abdullah didirikan pada tahun 2009 di Komplek Golf Permai, Siantan Hulu, Pontianak Utara. Sekilas mesjid yang dibangun dari dana swadaya masyarakat ini terlihat sangat kental arsitektur Tionghoa-nya. Sebagai perancang masjid, Maxie Andie Mendur (47) menerangkan beberapa bagian masjid memang terinspirasi dari bangunan Tionghoa seperti atap, jendela dan gerbang masjid. ”Warna hijau menggambarkan nuansa Islam dan warna kuning menandakan nuansa Melayu”.
Memakan waktu pembangunan selama 8 bulan, Masjid Abdullah dapat menampung kapasitas sebanyak 120 hingga 150 jemaat. “Dalam seminggu, biasanya kita mengadakan 2 hingga 3 kali takziyah untuk anak-anak. Setiap hari besar Islam juga diperingati di masjid ini. Dana pembangunan masjid berasal dari swadaya masyarakat baik yang muslim maupun non muslim,” ujar ayah dari Irene Natasha Mendur dan Grace Nathania Mendur ini. (mumu/8/8)

Minaret Masjid Abdullah ditopang oleh lima tiang yang menandakan sholat lima waktu yang merupakan tiang agama Islam. (Foto : Anton Kopisiti)

Dibangun dari hasil swadaya masyarakat baik yang muslim maupun non muslim. Dapat menampung 120 hingga lebih kurang 150 jemaat. Didominasi warna hijau yang menggambarkan nuansa Islam dan warna kuning yang menggambarkan nuansa Melayu.(Foto : Anton Kopisiti)

Pintu gerbang masjid yang berarsitektur Tionghoa ini menyimbolkan kekuatan dan kekokohan Islam. Karena umat Islam dari etnis apapun tidaklah berbeda. Semuanya menyembah Allah SWT. (Foto : Anton Kopisiti)

Jendela berlafaskan kalimah Allah. Ditengahnya ada lingkaran yang menggambarkan dunia. Di sekeliling lingkaran tersebut ada 17 lekukan. Ini adalah simbol bahwa seluruh umat Islam di dunia melaksanakan sholat wajib sebanyak 17 rakaat. Desain jendela ini merupakan masukan dari pemangku adat Kesultanan Sambas.(Foto : Anton Kopisiti).

Maxie Andie Mendur, "dalam seminggu, biasanya kita mengadakan 2 hingga 3 kali takziyah untuk anak-anak. Setiap hari besar Islam juga diperingati di masjid ini." (Foto : Anton Kopisiti)

Didirikan pada tahun 2009. Nama Masjid Abdullah diambil dari nama ayah Nabi Muhammad SAW. (Foto : Anton Kopisiti)
Panjat Dinding Putri PORPROV Kalbar
July 28, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Pontianak BoP. Rabu (28/7), di halaman Gedung Olah Raga Pangsuma tengah berlangsung pertandingan cabang olahraga panjat dinding perorangan putri. Cabang olahraga pada event Pekan Olahraga Propinsi ini diikuti oleh Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kota Pontianak, Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Melawi, Kabupaten Landak, kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau, Kota Singkawang dan Kabupaten Pontianak.
Kamis (29/7) akan dilanjutkan dengan final nomor Boulder (jalur pendek), final Lead (rintisan) dan kualifikasi Speed(kecepatan). (mumu/28/7)
Perolehan Medali Sementara
BOULDER (JALUR PENDEK) PUTRI PERORANGAN
Natalia (Kab.Bengkayang), medali emas.
Desi Tonita (Kab. Sambas), medali perak.
Eka (Kota Pontianak), medali perunggu.
BOULDER (JALUR PENDEK) PUTRA BEREGU
Adhari, M. Tabi’in dan Andy Anwar (Kab. Sambas), medali emas.
Rahmad, Hendra Cipta dan Sazha Ade Norman (Kota Singkawang), medali perak.
Putra Hakiki, Julianto dan Feliks (Kota Pontianak), medali perunggu.
LEAD (RINTISAN) PUTRI BEREGU
Leliyah, Reza dan Diana (Kota Pontianak), medali emas.
Sri W. Wulandari, Lilis Setiawati dan Diana (Kab. Kapuas Hulu), medali perak.
Theresia Noberta, Ria Septiana dan Ernawati (Kab. Pontianak), medali perunggu.
BOULDER (JALUR PENDEK) PUTRA PERORANGAN
Martholomeus (Kab. Kapuas Hulu), medali emas.
Angga (Kab. Pontianak), medali perak.
M.Tabi’in (Kab. Sambas), medali perunggu.
LEAD (RINTISAN) PUTRA BEREGU
Rifin, Ijul dan Taufik (Kab. Ketapang), medali emas.
Rahmad, Hendra dan Sazha (Kota Singkawang), medali perak.
P.Hakiki, Julianto dan Feliks (Kota Pontianak), medali perunggu.
LEAD (RINTISAN) PUTRI PERORANGAN
Vina Triyana (Kota Singklawang), medali emas.
Lilis Setiawati (Kab. Kapuas Hulu), medali perak.
Theresia Noberta (Kab. Pontianak), medali perunggu.

Kesuburannya tumbuh di banyak di daerah di Indonesia dikarenakan dinding panjat banyak didirikan di lingkungan kampus atau sekolah. (foto : mumu)

Meski dinilai lebih mudah jika dibandingkan dengan panjat tebing alam, setiap atlet dituntut untuk siap mental dan fisik. (foto : mumu)
Pelantikan Mayjen TNI Moeldoko S.Ip Menjadi Pangdam XII Tanjungpura
July 3, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Jum’at (02/07) dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis MH beserta istri, unsur Muspida, Pejabat TNI, veteran dan seluruh Pangdam, upacara pelantikan Mayjen TNI Moeldoko S.Ip menjadi Pangdam XII Tanjungpura berlangsung di depan Gedung Markas Komando Resort Militer (Makorem) 121/ABW, Jalan Rahadi Oesman Pontianak.
Setelah pelantikan usai digelar, acara kembali dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis seratus bola untuk pembinaan sepak bola KSAD Cup 2010. Berikutnya, para undangan upacara menyaksikan peletakan batu pertama di pembangunan gedung Markas Komando Daerah Militer (MAKODAM) yang letaknya tepat di belakang Gedung Makorem. (mumu/02/07)

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jendral TNI George Toisutta bertindak sebagai pemimpin upacara. Foto : Q-Noi

Peletakan baru pertama pembangunan gedung MAKODAM XII Tanjungpura oleh KSAD Jendral TNI George Toisutta. Foto : Sy. Afdhal Ghalib.
Pulau Karimata dan Kekayaan Lautnya
June 20, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Warga Desa Padang, kepulauan Karimata menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Kekayaan sumber daya alam hayati di kawasan ini dapat dilihat dari hamparan terumbu karangnya yang membentang luas. ikan Kerapuk adalah salah satu dari sekian banyak jenis ikan yang dijual nelayan Desa Padang hingga ke Belitung.
Proses penangkapan ikan pun masih menggunakan alat tradisional. Bubuh misalnya. Alat yang dipakai nelayan Desa Padang ini terbuat dari rotan yang dibentuk seperti kubus, diikat dengan menggunakan tali plastik dan setiap sisinya ditutupi kawat. (mumu/20/06)

Dalam sehari, Ugay yang dibantu beberapa anak buahnya, dapat menyelesaikan sekitar sepuluh buah bubuh. (Foto : Ian Imaru)
Demam Piala Dunia
June 12, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Pagelaran Piala Dunia yang telah lama ditunggu-tunggu oleh berjuta manusia di planet ini akhirnya datang juga. Afrika Selatan akan menyita seluruh perhatian dunia dengan adanya event besar ini.
Tidak berbeda dengan situasi di kota-kota lain di Indonesia, Jum’at (11/6) malam, warga Pontianak gencar menyesaki warung kopi atau cafe yang menyediakan fasilitas nonton bareng piala dunia. Bahkan saat pertandingan Afrika Selatan melawan Meksiko disiarkan, sebuah tempat cuci mobil di Jalan HM. Soewignyo disulap menjadi lokasi nonton bareng yang otomatis menyedot perhatian banyak warga.
Jalan Gajah Mada menjadi kawasan yang paling ramai dikunjungi warga untuk menyaksikan pertandingan Afrika Selatan kontra Meksiko. Fasilitas seperti televisi dan proyektor yang menggunakan layar besar memang telah dipersiapkan oleh pemilik warung kopi atau cafe yang tentu saja dapat mengundang banyak pelanggan. (mumu/11/06)

Agenda sepak bola terbesar ini menjadi acara yang paling banyak di tonton oleh semua orang di dunia. (Foto : Tri Anto)

Tempat-tempat hang out yang ditambahi fasilitas nonton bareng, diprediksi akan terus dibanjiri pengunjung hingga akhir piala dunia. (Foto : Tri Anto)
Pameran Fotografi “Photo Borneo” & Sintang Photography Trip 2010
Sinar matahari pagi bersinar dan menembus jendela bis Pontianak-Sintang. AC dingin terus saja menyelimuti semua penumpang yang sebagian masih betah memejamkan mata. Photography Trip yang digelar bersamaan dengan Pameran Fotografi “Photo Borneo” dalam rangka menyambut Hari Bumi, tentunya bertujuan untuk menyebar kesadartahuan akan lingkungan dan salah satu wujud eksistensi kepedulian sebagai manusia.
Pameran Fotografi “Photo Borneo”
Gedung Pancasila yang terletak di Jalan Apang Semangai, Sintang dipilih menjadi tempat digelarnya pameran fotografi dari tanggal 24-26 April 2010.
- _MG_8540.JPG
- Gedung pancasila, Jalan Apang semangai sebagai tampat berlangsungnya pameran “Photo Borneo”. (foto : mumu)
"Photo Borneo" adalah tema besar yang merangkap menjadi program tahunan di tubuh Borneo Photography. (Foto : mumu)
Dwi Karunia Syaputri (10) tercatat sebagai fotografer termuda yang mengikutsertakan sebuah karyanya berjudul "Cerdas" di pameran Photo Borneo" (Foto : mumu)
Photography Trip
Hunting foto memang menjadi harga mati yang tidak dapat ditawar. disela-sela pameran, beberapa BoPhian menggelar hunting kecil. berjalan kaki dari Gedung Pancasila menuju tepian Sungai Kapuas, Pasar Inpres dan kembali lagi ke Gedung Pancasila.
Hunting dilanjutkan pada hari Minggu (24/04). Kali ini BoPhians dipandu oleh teman-teman dari Gemar Photography Sintang (GPS). Hutan Wisata Baning, Kobus, Kawasan Jinora dan pada sore harinya susur sungai mengitari Sungai Kapuas. Kehidupan masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas merupakan objek yang sungguh sayang jika tidak dibadikan.
Galeri tenun ikat. Sangat disayangkan tidak bisa memotret kain tenun, karena pada saat hunting, galeri ini tidak ada kegiatan. (Foto : mumu)
Borneo Photograophy mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada CERDAS Grup, Gemar Photography Sintang, seluruh masyarakat Sintang dan siapa saja, dimana saja atas doa dan dukungan yang telah diberikan. (mumu/16/05)
Fotografer-fotografer yang berpartisipasi dalam “Photo Borneo” Sintang 24-26 April 2010 :
Adi Sulistyanto
Afif Reffyandi
Agus Djuli Handoko
Agus Fitri Andri
Alberta Noviany
Anderi Purnomo
Andreas Cicco
Andy Saputra
Anton Widiarmo S.E
Apriansyah Firdaus
Aris Suhendra
Cholid Nugraha
Dwi Kurnia Syaputri
Eko Suryanto Daulay
Erwin Setiadi
Eru Ahmadia
Evy P. Susanti
Fami Hazdan
Gumay DBlur
Iip Yulfahmi
Indra Ae’
M. Firdaus
M. Mu’min
M. Alfian Nurzi
M. Zeinur Rasyikin
Lukas B. Wijanarko
Sabda Agung
Sinatrya Ananda
Suriansyah A.Md
Sy. Afdhal Ghalib
Teguh Panglima
Tri Anto
Vidi Sitarda
Bandit Rangers
Pada tahun 70-an, olah raga atau permainan air soft pertama kali dimulai dari negara Jepang. Permainan ini menirukan kegiatan polisi atau bahkan militer dalam berperang.
Senjata yang digunakan tentu saja bukan senjata yang digunakan militer atau polisi, melainkan menggunakan senjata replika yang terbagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Jenis elektrik
2. Gas blow back
3. Bolt action (kokang)
Selain populer di Amerika dan Eropa, air soft juga populer di Asia. Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Macau, Korea Selatan, dan juga menyebar ke Filipina dan Indonesia.
Bandit Rangers
Bandit Rangers adalah tim air soft yang didirikan di Pontianak pada tahun 2008. Minimnya anggota pada saat itu kini telah berubah menjadi 43 orang (menurut data)
Anggotanya terdiri dari anak sekolah, mahasiswa, hingga karyawan. Semua anggotanya berpedomankan kepada kode etik airsoft dengan 3 acuan keselamatan :
1. Keselamatan Umum
2. Keselamatan Pribadi
3. Keselamatan Permainan
Singkawang, Pemangkat dan Sintang adalah beberapa nama kota yang pernah menjadi tur Bandit Rangers. Rencana untuk menggelar agenda air soft se-Kalimantan Barat juga tengah mereka persiapkan.(mumu/16/05)
Facebook : http://www.facebook.com/group.php?gid=110485991558
Peralatan yang paling penting dalam permainan airsoft adalah pelindung mata dan wajah. (foto : mumu)
Sportifitas yang tinggi merupakan prinsip utama ditanamkan pada seluruh anggota Bandit Rangers. (foto : mumu)

Selain pakaian, perlengkapan lain seperti rompi, helm, sepatu boot, dan sarung tangan juga diusahakan mirip dengan yang dipakai oleh militer dan kepolisian. Penggunaan replika seragam militer ini tidaklah bermaksud untuk meniru suatu kesatuan militer. (foto : mumu)

VISI MISI BANDIT RANGER Airsoft Team Pontianak – Kalimantan Barat V I S I : MELAWAN MUSUH DENGAN BERCERMIN SEBAGAI BANDIT LEBIH BAIK MATI DARI PADA PULANG TANPA KEMENANGAN DITANGAN MUNDUR DAN MENYERAH BUKAN SIFAT SEORANG BANDIT. M I S I : MENJADIKAN PERSONIL SEBAGAI MANUSIA YANG BERJIWA PATRIOT BERLANDASKAN KEPADA KETUHANAN YANG MAHA ESA DENGAN MEMEGANG TEGUH PRINSIP PANCASILA DAN MENJUNJUNG TINGGI SPORTIFITAS BERDASARKAN KODE ETIK AIRSOFT. (foto : mumu)
Peluru yang dipergunakan berbentuk bulat berbahan plastik padat dan biasa disebut BB (Ball Bearing). Ukuran butiran peluru berdiameter 6 mm dengan berat bervariasi dari 0.12 gram sampai 0.25 gram. (foto : mumu)

Kawasan Universitas Tanjungpura kerap menjadi lahan perang Bandit Rangers di akhir pekan. (foto : mumu)
Hidup Berdampingan Dalam Satu Bumi
May 10, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Pontianak BoP. Minggu (09/05) lomba gambar “Peta” untuk anak diselenggarakan di Fakultas Pertanian Unversitas Tanjungpura. Peserta dari lomba gambar yang mengangkat tema “Hidup Berdampingan Dalam Satu Bumi” ini merupakan agenda tetap Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). Dibagi menjadi dua kelompok umur, yaitu kelomok SD (umur 12 tahun) dan kelompok SMP (umur 13-14).
Sasaran pelaksanaan lomba gambar adalah seluruh anak (dibawah umur 15 tahun) di Indonesia tanpa terkecuali, baik di tingkat provinsi, Kabupaten/Kota dan seterusnya. Baik yang berada di bangku sekolah maupun yang tidak sekolah.
Agenda yang diselenggarakan dua tahun sekali ini pertama kali dilangsungkan pada tahun 2003. Pada tahun 2011 mendatang, akan diselenggarakan pada bulan Mei di Paris, Perancis. (mumu/09/05)

Lomba menggambar “PETA” untuk anak bertujuan memberikan gambaran sejak dini tentang peta bagi anak-anak sehingga menumbuhkan rasa cinta tanah air, meningkatkan pengetahuan, ide dan kreatifitas anak-anak tentang peta dan meningkatkan daya saing anak. (foto : mumu)

Dewan juri. (ka-ki) Saut Miduk (IKJ), Yanuar Ahadin (seniman Kalimantan Barat) dan Dr. Sri Handoyo M. App, Sc. (foto : mumu)

Gambar harus bisa menyampaikan pesan dari tema, kreatifitas dan teknik menggambar secara umum adalah tiga hal yang menjadi penilaian dari dewan juri. (foto : mumu)

Pemutaran film tentang peta oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). (foto : mumu)

Para pemenang dari kelompok SD. Alyurosa Taqwariva dari SD Al-Azhar (Juara Harapan I), Asfia Radhya Rahima dari SD Bawamai (Juara Harapan II), Veren dari SD Karya Yosef (Juara I), Karen dari SD Karya Yosef (Juara II) dan Bryan Jevoncia dari SD Suster (Juara III). (foto : mumu)

Para pemenang dari kelompok SMP. Ellen Claresta dari SMP Karya Yosef (Juara Harapan I), Hovela dari SMP Santo Petrus (Juara Harapan II), Ninne Nabila Aztari dari SMP Al-Azhar (Juara I), Chairunnisa Anindita Putri dari SMP Negeri 3 Pontianak (Juara II) dan Reinaldo Maulim dari SMP Tunas Bangsa (Juara III). (foto : mumu)






















