Images by mumu
March 12, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Uncategorized
Dari Desa Suka Baru
January 28, 2010 | Oleh : mumu | Kategori : Klik...!!!

Hanya seorang diri dan masih menggunakan alat yang sederhana seperti kapak, gergaji dan bor tangan, M Yusa (63) mengerjakan sebuah kapal pencari ikan. Menghabiskan waktu lebih kurang 1 bulan untuk mengerjakan sebuah kapal. Kayu belian dan kayu bengkirai adalah bahan pokok yang digunakan M Yusa. Lokasi : Desa Suka Baru, Ketapang. (28/01)
Ketapang Trip 2010
Angin sore berhembus lembut dan matahari masih memberi sinarnya di sisa hari. Suara canda beberapa anak kecil yang bermain di pelabuhan seakan mengubur suara-suara bising kendaraan beroda empat yang dinaikkan ke atas feri tujuan Teluk Batang. usaha pencarian petugas loket hanya berbuah ruangan kosong yang ditambahi tulisan, Loket Tutup.
Kami memang terlambat dan pilihan terakhir menuju Ketapang adalah dengan menggunakan kapal kelotok. KM Melano Khatulistiwa memang masih menunggu penumpang. Beberapa pekerjanya terlihat sibuk menaikkan satu persatu sepeda motor ke atas kelotok. Penjaja makanan juga masih menggelar dagangannya, ditambah lagi dengan seorang pengamen wanita yang menjual suara di dalam KM Melano Khatulistiwa. Entah lagu apa yang dia nyanyikan. Yang pasti konser tunggalnya sore ini berhasil mempesona seorang anak kecil yang selalu memeluk erat sang ibu setiap kali pengamen itu menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Tenang arus Kapuas mengalir, sunset yang di tunggu-tunggu juga telah hadir. Bukit Ambawang yang seperempat tubuhnya pernah kami daki membagi pesonanya seakan ingin mengundang kami untuk mendakinya lagi. Empat ekor ikan kembung goreng, dua telur asin, empat bungkus nasi putih, paceri nenas, dan sambal yang dibeli dari rumah makan Lestari milik Ibu Syawal adalah menu kami malam ini. Sebenarnya Eko melarang kami makan sebelum pukul 19.00. Tentu saja amarannya kami langgar. Perut saya, Indra Ae’ dan Q-Noi tidak pernah terlatih mengikuti jam makan yang dianut Eko.
Bintang begitu indah dilihat dari sini. Tak ada satupun dari mereka yang enggan atau malu memamerkan sinarnya. Sedangkan di sisi kiri dan kanan kami hanya tersaji hutan bakau terbungkus gelap. Dari jauh terlihat lampu-lampu dari sampan atau kapal motor para pencari ikan. Eko dan Q-Noi tertidur lelap diantara tubuh-tubuh lelah penumpang KM Melano Khatulistiwa yang lain. Indra Ae’ terlibat dialog santai dengan seseorang penumpang yang hingga kini tidak saya ketahui namanya. Sedangkan saya…membuat tulisan ini sambil menghisap rokok dan menggenggam handphone yang dari tadi tidak ada sinyalnya.
Pelabuhan Teluk Batang kami jejaki pada pukul 04.00 pagi. Perlahan kami meninggalkan pelabuhan dan meluncur santai di awal fajar. Jalan Teluk Batang ternyata tidak seluruhnya mulus. Sekarang kami harus berhadapan dengan jalan tanah yang rusak parah dan piting yang menghisap rupiah demi rupiah benar-benar membuat saya dongkol. Kenapa kami harus membayar untuk berjalan di atas jalan yang rusak?
Tugu Ale-ale menjadi sasaran lensa pocket saya saat kami berada di tengah Kota Ketapang. Hingga kini telah ada enam Tugu Ale-ale yang saya abadikan. Di setiap perempatan, Tugu Ale-ale memang selalu ada. Hal ini sempat membuat saya berpikir, apakah kami berjalan di jalan yang sama? Dan saya yakin pikiran saya akan sama dengan orang-orang yang baru pertama kali datang ke Ketapang. Indra Ae’ mengusulkan untuk istirahat sejenak di sebuah warung kopi di Jalan Merdeka.
Tito P Indrawan, staf Yayasan Palung juga akhirnya bergabung dan mengajak kami ke kantornya. Orang yang di tempatkan di Program Perlindungan Satwa dan Habitat ini juga banyak bercerita tentang beberapa lokasi yang dapat kami gunakan untuk memotret burung. Di kantor Yayasan Palung juga kami bertemu dengan Dedeng, salah satu fotografer asal Ketapang yang namanya tercantum di daftar Ketapang Fotografer Community.
Kabupaten Ketapang memiliki pantai yang memanjang dari selatan ke utara dan sebagian pantai, yang merupakan muara sungai, berupa rawa – rawa terbentang mulai dari Kecamatan Teluk Batang, Simpang Hilir, Sukadana, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan dan Pulau Maya Karimata, Sedangkan daerah hulu umumnya berupa daratan yang berbukit – bukit dan diantaranya masih merupakan hutan. Ditambah lagi dengan pantai-pantai yang pada umumnya berlumpur, sehingga menjadi tempat persinggahan untuk burung lokal dan burung migran.
Di ruangannya, Yudo Sudarto, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga menyambut positif agenda Photography Trip Pengamatan Burung yang kami usung. Agenda yang bertujuan mensukseskan Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat 2010 ini akan sangat baik digelar mengingat Ketapang memiliki kawasan-kawasan dimana terdapat banyak jenis burung endemik.
HUTAN KOTA
Berjarak sekitar 2 Km dari pusat kota Ketapang, Lufti Faurusal Hasan dan seorang rekannya membawa kami ke hutan kota. Ada beberapa jenis tanaman hutan yang dilindungi disini seperti, mensira, bungor, ubah, pangal dan melinsum. Kami juga bertemu dengan orangutan. Kami sepakat memberinya nama Putri, karena orangutan tersebut berjenis kelamin betina. Putri sangat jinak sehingga memudahkan kami memotretnya.
PANTAI AIR MATI
Seperti yang telah direncanakan, setelah dari hutan kota dan istirahat makan siang, ditemani oleh Tito P Indrawan dan Dedeng, kami berangkat ke Pantai Air Mati. Di pantai yang berjarak 15 Km dari pusat Kota Ketapang ini, jenis burung seperti Kedidi, Dara Laut dan Gajahan banyak ditemui di sekitar pantai. Meski sore itu mendung, kami cukup puas menikmati pesona Pantai Air Mati yang berada di Desa Sungai Awan.
DESA SUNGAI PELANG
Desa Sungai Pelang adalah sebuah kawasan pertanian yang terletak di kecamatan Matan Hilir Selatan. Pada hari ketiga, saya, Indra Ae’, Q-Noi dan Eko sengaja bangun pagi dan pergi ke Desa Sungai Pelang setelah sebelumnya dikabari oleh Dedeng, kawasan ini tempat yang tepat untuk membuat karya landscape.
PANTAI CELINCING
Pantai ini terletak di Desa Suka Baru, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang. Berjarak kurang lebih 10 Km dari Kota Ketapang, selain potensi wisata pantai, Celincing juga berpotensi besar menjadi objek wisata mancing dan pengamatan burung.
Kabupaten Ketapang merupakan salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat yang terletak di antara garis 0º 19’00” – 3º 05’ 00” Lintang Selatan dan 108º 42’ 00” – 111º 16’ 00” Bujur Timur. Ketapang memiliki pantai yang memanjang dari Selatan ke Utara. Ditambah lagi Ketapang memiliki banyak jenis burung endemik. Dua potensi ini tentu sangat berdampak positif bagi perkembangan di sektor pariwisata. Dalam rangka mensukseskan Visit Kal-Bar 2010, Photography Trip Pengawasan Burung yang nantinya akan digelar tentunya akan menjadi media promosi pariwisata di Kabupaten Ketapang. (mumu/26/01)
Cap Go Meh 2010
Festival lampion dan atraksi tatung akan memeriahkan Cap Go Meh di Kota Singkawang pada tanggal 26 sampai 28 Februari 2010. Sedangkan di Kota Pontianak, akan banyak pula agenda yang akan digelar seperti :
1. 24-28 Februari 2010. Prosesi Cap Go Meh yang di pusatkan di Jalan Diponegoro, Pontianak.
2. 27 Februari 2010. Pemilihan Koko dan Mei Mei.
3. Festival Lampion. Jalan Diponegoro-Agus Salim-Tanjungpura-Pahlawan-Gajah Mada.
4. Festival barongsai.
5. Pagelaran tari nusantara.
6. Stand kuliner dan bazaar murah.
7. Fashion show.
8. Musik Mandarin.
9. Pertunjukan wushu.
Jadwal agenda Festival Cap Go Meh 2010 di Kota Singkawang :
13 Februari 2010, Stadion Kridasana. Pembukaan Malam Imlek 2561 dan Festival Cap Go Meh. Diramaikan oleh grup band Xin Meng, artis Jakarta, tarian multi etnis, pesta kembang.
14-27 Februari 2010, Stadion Kridasana. Pameran Foto Singkawang, Jade Of Equator, pentas budaya dan bazaar kuliner.
25-27 Februari 2010, Turnamen International Offroad Federation di Palm Beach, Singkawang dan Pertunjukkan CMAA dan LBA dari Serawak, Malaysia di Stadion Kridasana, Singkawang.
26 Februari 2010. Pawai lampion. Start : Stadion Kridasana-keliling Kota Singkawang.
27 Februari 2010. Pertunjukan 10 juara karaoke dari Jakarta, peragaan busana TIDAYU (Tionghoa, Dayak dan Melayu) di Stadion Kridasana.
28 Februari 2010. Puncak acara Cap Go Meh. Start : Stadion Kridasana-ruas jalan utama Kota Singkawang.
LAMS INTERNATIONAL BEDAR BOAT RACE 2009
December 24, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Wisata dan Budaya
Tidak seperti hari-hari biasa, Gertak Sabbo’ dan tepian Sungai Sambas dipenuhi umbul-umbul warna-warni bertuliskan “LAMS” dan baliho event berukuran besar terpajang rapi di dekat water front city. Pedagang-pedagang dadakan bermunculan memanfaatkan keramaian guna menoreh rejeki.
Keramaian ini bukan tanpa sebab. Sambas kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) International Bedar Race 2009. Olah raga tradisional yang telah ada sejak jaman kesultanan Sambas ke-1 kali ini diikuti oleh peserta dari Malaysia ( Sarawak, Kuala Lumpur, Sabah, Labuan, Johor dan Penang), Brunai Darussalam serta Indonesia (DKI Jakarta, Kabupaten Palalawan, Kabupaten Siak Sri Indrapura, Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Melawi dan Kabupaten Kubu Raya.)
Dengan mengusung motto “Kembangkan Budaya, Lestarikan Tradisi, Jelajahi Nusantara” diadakannya lomba sampan bedar ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar masyarakat Melayu dan memberikan input positif dalam pelaksanaan program Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat 2010. (mumu/24/12)

Kedatangan H. Morkes Effendi, SPd., MH sebagai Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Serantau beserta istri dan Dato Petinggi Abdi Nurkamil Mawardi selaku Ketua Pelaksana Lomba Sampan Nusantara disambut dengan tabuhan rebana. Foto : Sabda Agung

LAMS International Bedar Race pertama kali digelar pada tahun 2001. 2009 adalah tahun kedua penyelenggaraan lomba sampan yang diangkat dari olah raga rakyat yang kaya akan nuansa budaya. Foto : Ilham Chandra

Kesenian rebana salah satu agenda yang disajikan setelah para tamu dihibur dengan lagu-lagu tradisional Sambas. Foto : Sabda Agung

Tari Rumba, Jepin Redap dan Tanda' Sambas persembahan dari beberapa rumah budaya di Kabupaten Sambas. Foto : Sabda Agung

Pemukulan gong oleh Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Serantau yang menandakan LAMS International Bedar Race 2009 telah resmi dibuka. Foto : Q-Noi

Di masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim (Sultan Sambas ke- 15) sampan bedar pertama kali dilombakan pada tahun 1931. Foto : Ridwan A.

8 orang pendayung,, panjang sampan lebih kurang 13 meter dan lebar sampan 50 hingga 60 cm. Foto : Q-Noi

Bisa dijadikan agenda tetap wisata daerah, bahkan nasional mengingat 2010 adalah Tahun Kunjungan Wisata Kalimantan Barat. Foto : Ilham Chandra

LAMS International Bedar Race hanya mempertandingkan kategori sampan 8 orang pendayung. Foto : Cholid Nugraha

Agar tidak mengganggu jalan menuju tempat perlombaan, area Istana Alwatzikhoebillah dan Mesjid Jami' dibuka untuk tempat parkir kendaraan bermotor. Foto : Mumu
LAMS International Bedar Race 2009 menjadi pusat perhatian masyarakat Kota Sambas dan bahkan mampu menyedot perhatian masyarakat dari luar Kota Sambas. Foto : Kathian
KEANEKARAGAMAN HAYATI dan BUDAYA KALIMANTAN BARAT
Keanekaragaman Hayati dan Budaya Kalimantan Barat adalah tema yang diangkat dalam pameran foto yang digelar di Grand Mahkota Hotel, Jalan Sidas, Pontianak. Pameran foto yang telah berlangsung pada tanggal 19-21 Desember ini bertujuan menyampaikan informasi dan meningkatkan kepedulian masyarakat akan konservasi dan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi nilainya di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat.
Ada 200 karya foto yang terpajang manis di ruangan Ball Room. Karya-karya foto tersebut dibagi menjadi dua tempat yaitu, lantai 1 memuat karya-karya foto budaya dan flora, sedangkan lantai 2 didaulat menjadi ruangan yang menampung karya-karya foto flora dan fauna.
Untuk mengoptimalkan tersampaikannya informasi lingkungan hidup dan budaya ini ke masyarakat luas, WWF mengundang siswa-siswi hampir dari seluruh sekolah di Pontianak (tingkat SD, SMP dan SMA). Pemberitahuan lewat media cetak dan radio juga diberlakukan.
Sugeng Hendratno mengatakan, karya-karya foto yang dipamerkan di sini diambil dari lokasi Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum. Pontianak menjadi kota kedua setelah pameran yang sama telah digelar di Putusibau. Dalam rangka kampanye peduli orangutan, karya-karya foto hasil jepretan Sugeng Hendratno, Jimmy, Ngurah Pradnyana dan Albertus juga akan kembali dipamerkan di Bali 5 Mei 2010 mendatang.
“Kita punya banyak kekayaan alam, budaya, flora dan fauna yang belum banyak diketahui masyarakat. Sengaja dipilih foto dan film karena visual memiliki kekuatan yang memudahkan kita menyampaikan pesan bahwa Kalimantan Barat sangat kaya akan budaya, flora dan fauna. Dari kegiatan ini diharapkan akan tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk melindungi. Kami ingin menggugah hati yang paling dalam dan membuat banyak orang untuk peduli lingkungan,” ujar Jimmy yang juga salah satu fotografer yang karyanya dipamerkan.
KAMPANYE ORANGUTAN
Dalam acara ini World Wildlife Fund (WWF) juga mengkampanyekan penyelamatan dan kesadartahuan masyarakat terhadap orangutan. Kalimantan Barat memiliki dua sub spesies orangutan yaitu, Pongo Pygmaeus Wurmbil dan Pongo Pygmaeus Pygmaeus. Dari dua spesies tersebut Pongo Pygmaeus Pygmaeus lebih mengkhawatirkan. Karena hanya tersisa 1330-2000 individu di Taman Nasional Betung Kerihun dan 500-1090 individu di Taman Nasional Danau Sentarum. (mumu/21/12)

Pameran dimulai pada hari Sabtu 19 Desember dan berkhir pada hari Senin 21 Desember 2009. Foto oleh : Sabda Agung

200 buah karya foto yang dipamerkan. Karya -karya foto tersebut meliputi keanekaragaman budaya, flora dan fauna. Foto oleh : Sabda Agung

Pemasangan pin sebagai simbol partisipasi mendukung kelestarian lingkungan dan orangutan. Foto oleh : Sabda Agung

Sugeng Hendratno salah seorang fotografer yang karyanya di pamerkan di pameran ini. Foto oleh : Sabda Agung

“Kita punya banyak kekayaan alam, budaya, flora dan fauna yang belum banyak diketahui masyarakat. Sengaja dipilih foto dan film karena visual memiliki kekuatan yang memudahkan kita menyampaikan pesan bahwa Kalimantan Barat sangat kaya akan budaya, flora dan fauna. Dari kegiatan ini diharapkan akan tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk melindungi. Kami ingin menggugah hati yang paling dalam dan membuat banyak orang untuk peduli lingkungan,” ujar Jimmy yang juga salah satu fotografer yang karyanya dipamerkan. Foto oleh : Sabda Agung

Pengunjung yang merupakan murid-murid sekolah diberikan sebuah tantangan oleh penyelenggara pameran untuk menuliskan nama tumbuhan dari foto-foto yang dipamerkan. Salah satu bentuk edukasi pengenalan lingkungan. Foto oleh : Sabda Agung

Murid-murid sekolah akan selalu didampingi oleh seorang pemandu pameran. Karena sarat akan ilmu pengetahuan, banyak pihak sekolah yang menginginkan diadakannya workshop lingkungan hidup dan budaya di sekolah. Foto oleh : Sabda Agung

Pemutaran film tentang orangutan. Visual memiliki kekuatan untuk memudahkan menyampaikan informasi ke banyak orang. Foto oleh : Sabda Agung

Karya-karya foto di pameran ini akan kembali dipamerkan di Bali, 5 Mei 2010 mendatang. Foto oleh : Mumu
PAGELARAN TARI FESTIVAL BORNEO
November 15, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Sabtu (14/11) Pagelaran Tari Festival Borneo yang masih terangkum di dalam agenda Festival Budaya Bumi Khatulistiwa ke IX tahun 2009 dihelat apik di Gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Syarif Abdurrachman.Tanpa dikomando, penonton spontan membanjiri area depan panggung.
Mungkin lantaran malam Minggu, ledakan pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung Pagelaran Tari Festival Borneo benar-benar ramai. Hal ini membuat panitia tak henti-hentinya mengingatkan pengunjung agar selalu tertib demi kelancaran acara. Para juru rekam momen juga tak luput dari amaran tertib dari panitia.
Satu persatu peserta dari Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah silih berganti menguasai panggung. Penampilan mereka begitu memukau penonton terbukti dengan riuhnya tepuk tangan yang selalu mereka berikan kepada seluruh penampil.
Penonton terus dihibur dengan penampilan dari tamu asal Provinsi Jawa Tengah. Tari “Krida Tamtama” yang disajikan dengan bumbu jenaka kedua pelakunya, banyak mengundang tawa ratusan pasang mata yang tertuju ke arah panggung. (mumu/14/11)
Berikut hasil pengumuman para pemenang yang berhasil kami kumpulkan dari tempat berlangsungnya Pagelaran Tari Festival Borneo.
PENYAJI TERBAIK FESTIVAL BORNEO TARI PESISIR TANPA RANKING
1. Provinsi Kalimantan Barat
2. Provinsi Kalimantan Tengah
3. Provinsi Kalimantan Selatan
PENATA TARI PESISIR UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Barat
PENATA MUSIK TARI PESISIR UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Tengah
PENATA RIAS DAN BUSANA TARI PESISIR UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Tengah
PENYAJI TERBAIK FESTIVAL BORNEO TARI PEDALAMAN TANPA RANKING
1. Provinsi Kalimantan Barat
2. Provinsi Kalimantan Selatan
3. Provinsi kalimantan Tengah
PENATA TARI PEDALAMAN UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Barat
PENATA MUSIK TARI PEDALAMAN UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Barat
PENATA RIAS DAN BUSANA TARI PEDALAMAN UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kalimantan Tengah menampilkan tari kreasi pedalaman yang merupakan tari perang berjudul "Kinyah Tarung Duling" yang menceritakan gadis-gadis Dayak yang mahir memainkan mandau. Tarian kemenangan dan menyambut pahlawan perang. Foto : Indra Ae'
Tari dari pesisir yang disuguhkan kepada tamu terhormat yang datang berkunjung ke daerah Amuntai ini dibawakan oleh Provinsi Kalimantan Selatan. Tari ini berjudul "Japin Payung Kembang". Foto : Indra Ae'
Kalimantan Barat kembali tampil dan mengusung tari pesisir "Antar Ajong". Antar Ajong adalah upacara adat yang digelar sebagai ucapan syukur atas karunia Pencipta, sekaligus permohonan untuk selalu dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Tarian ini menggambarkan kebahagian masyarakat yang terlibat dalam ritual Antar Ajong. Foto : Indra Ae'
Remaja-remaja putri dalam sebuah pengajian yang memainkan rebana di dalam bulan Ramadhan adalah kisah dibalik tari pesisir "Japin Rebana" yang dibawakan oleh Provinsi Kalimantan Tengah. Foto : Indra Ae'
Joko Suwarno dan Wiranto asal Provinsi Jawa Tengah di daulat menjadi bintang tamu dalam Pagelaran Tari Festival Borneo. Orang tua atau guru harus membagi ilmunya kepada anak atau murid. Ini dimaksudkan agar ilmu tersebut terus beregenerasi dan berkembang adalah sekilas sinopsis yang terdapat di dalam tari "Krida Tamtama". Foto : Indra Ae'
FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA : PARADE LAGU MELAYU
November 14, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Hujan lebat yang menghiasi Pontianak sejak sore Jumat (13/11) akhirnya memindahkan Parade Lagu Melayu yang tadinya akan diselenggarakan di Pentas Terbuka Taman Budaya, Jalan A Yani ke Gedung Pontianak Convention Centre Jalan Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie, Pontianak.
Setelah Parade Tari Dayak digelar, Parade Lagu Melayu langsung didaulat menjadi suguhan yang pesertanya silih berganti menghiasi panggung. (mumu/14/11)
Berikut daftar peserta beserta lagu-lagu yang dibawakan
1. Kabupaten Kapuas Hulu membawakan tiga lagu berturut-turut : “Leja Lejong”, “Apang Aloy” ciptaan Rahmat Chumasin dan “Kerupuk Basah” ciptaan Rahmat Chumasin.
2. Kota Singkawang : “Si Kali Aok”. Menceritakan pahit getirnya anak manusia yang berjalan melewati Kali Aok (Sebuah gunung yang terletak di perbatasan Indonesia-Malaysia) walaupun berdagang produk yang tidak resmi, semuanya dilakukan semata-mata untuk menghidupi keluarga.
3. Kabupaten Landak : “Ae’ Besak”. Menceritakan Ae’ Besak yang merupakan nama lain Sungai Landak dan menjadi kebanggaan masyarakat Ngabang.
4. Kabupaten Pontianak : “Pesone Bestari Nusantara”
5. Kabupaten Sintang : “Dendang Anak Senentang” ciptaan Ananta Kupa.
6. Kabupaten Kubu Raya : “Ae’ Kapuas” ciptaan Paul Putra.
7. Kota Pontianak : “Bujang Labe”
8. Kabupaten Sekadau : “Teka-Teki Pelanok Napuh”
9. Kabupaten Ketapang : “Purname di Batang Pawan”. Bercerita tentang 3 orang pemuda yang bersenandung dan bergurau saat memancing. Mereka terkagum-kagum kepada seorang gadis cantik yang wajahnya disinari bulan Purnama saat mencuci kain di sungai.
Para Pemenang Parade Lagu Melayu
Pencipta Lagu Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kota Pontianak
2. Kabupaten Pontianak
3. Kabupaten ketapang
Penyaji Lagu Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Kubu Raya
2. Kabupaten Sintang
3. Kota Singkawang
4. Kabupaten Pontianak
5. kabupaten Bengkayang
Penata Musik Melayu Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Pontianak
2. Kota Pontianak
3.Kabupaten Sintang
Penyanyi Lagu Melayu Terbaik :
1. Kabupaten Pontianak
2. Kota Pontianak
3. Kabupaten Landak
Penyaji Terbaik Lagu Melayu : Kabupaten Pontianak
Penata Musik Terbaik : Kota Pontianak
Pencipta Lagu Melayu Terbaik : Kabupaten Pontianak
Penyanyi Lagu Melayu Terbaik : Kabupaten Bengkayang
Menggunakan alat musik tradisional seperti akordion, biola, gendang, tawak, beruas, gambus dan suling. Foto : ianimaru
Kabupaten Pontianak menyenandungkan "Pesone Bestari NUsantara". Lagu yang diciptakan oleh Yance ini bercerita tentang alam Kota Mempawah. Foto : ianimaru
Lagu "Dendang Anak Senentang" bercerita tentang keramah-tamahan, kegembiraan dan sukacita masyarakat Kota Senentang. Lagu ini dibawakan oleh peserta dari kabupaten Sintang. Foto : ianimaru
Lagu "Bujang Labe" persembahan dari peserta Kota Pontianak. Bercerita tentang sekelompok pemuda yang senang berkesenian dan berharap menjadi orang yang terkenal. Foto : ianimaru
Penampilan kolaborasi. Aam pemain biola asal Mempawah, Iwan pemain biola dari Kota Pontianak dan Wira vokalis asal Kabupaten Sintang. Membawakan lagu "Sakura" yang dipopulerkan oleh Fariz RM. foto : ianimaru
FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA HARI KE 3 : PARADE TARI DAYAK
November 14, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Hujan lebat yang turun pada hari Jumat (13/11) tak menyurutkan semangat para peserta Parade Tari Dayak untuk memperlihatkan kepiawaiannya di depan juri dan penonton yang telah memenuhi Gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Abdurrachman Alkadrie, Pontianak.
Tercatat ada 11 utusan Kabupaten/Kota yang mengikuti parade ini seperti, Kabupaten Sanggau dengan judul tari “Tayonkng”, Kabupaten Ketapang dengan tari “Batomu”, Kota Singkawang menampilkan tari “Aur Parindu”, tari “Putri Dara Ruai” oleh Kabupaten Melawi, Kabupaten Landak menyuguhkan tari “Nanam Pantak”, Kota Pontianak dengan tari “Jarai”, Kabupaten Pontianak turut andil dengan tari “Rinyuakng”, Kabupaten Kapuas Hulu dengan tari “Ngajat Ngambe’ Indok”, Kabupaten Bengkayang mempersembahkan tari “Pagama”, “Tari Tenun Ikat Lungsi” oleh Kabupaten Sintang, dan terakhir ada tari “Batu Kenyalo” yang dibawakan oleh Kabupaten Sekadau. (mumu/14/11)
Berikut pengumuman para pemenang Parade Tari Dayak :
Penata Rias dan Busana Terbaik : Kota Singkawang
Penata Musik Terbaik : Kota Singkawang
Penata Tari Terbaik : Kota Singkawang
Penyaji Terbaik : Kota Singkawang
Pemenang Parade Lagu Dayak :
Penata Lagu Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Kubu Raya
2. Kabupaten Bengkayang
3. Kota Singkawang
Pencipta Lagu Dayak Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Kubu Raya
2. Kabupaten Kapuas Hulu
3. Kabupaten Pontianak
Penyanyi Dayak Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Bengkayang
2. Kabupaten Kubu Raya
3. Kabupaten Pontianak
Penata Lagu Dayak Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Kubu Raya
2. kabupaten Bengkayang
3. Kota Singkawang
Penata Musik Dayak Terbaik : Kabupaten Kubu Raya
Pencipta Lagu Dayak Terbaik : Kabupaten Pontianak
Penyanyi Dayak Terbaik : Kabupaten Bengkayang
Tari Batu Kenyalo yang diangkat dari kisah rakyat Sekadau menjadi suguhan peserta dari Kabupaten Sekadau. Foto : mumu
Peserta dari Kabupaten Pontianak tengah menampilkan Tari Rinyuakng. Tarian ini menggambarkan seorang gadis yang mempunyai rambut panjang dan indah, dipuja oleh banyak pria dan memiliki kemampuan pengobatan. Foto : mumu
Tari Noser yang menggambarkan kegembiraan para gadis ditampilkan oleh penari Provinsi Jawa Barat sebagai hiburan untuk penonton dan menjadi suguhan penutup Parade Tari Dayak. Foto : mumu
FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA (FBBK) HARI KE DUA
November 13, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Masyarakat kembali meramaikan Gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie, Pontianak, Rabu (12/11). Parade Tari Melayu yang digelar di gedung tersebut terbukti menyedot perhatian masyarakat yang berhasil membuat sesak suasana di depan panggung.
Salah satu agenda yang diselenggarakan pada hari kedua Festival Budaya Bumi Khatulistiwa ini diikuti oleh beberapa peserta dari Kota Singkawang, Kabupaten Sintang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sanggau dan Kabupaten landak.
Kriteria penjurian meliputi penataan tari, penataan musik, penataan rias dan busana, penampilan umum (penyajian) dan kekuatan etnik (rasa kedaerahan). Sayangnya pengumuman pemenang akan diumumkan pada hari ketiga Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. (mumu/12/11)
Materi tarian adalah tari garapan baru yang berpijak pada tari daerah atau seni budaya daerah dan belum pernah ditampilkan dalam event tari sebelumnya. Peserta dari Kabupaten Sekadau menampilkan tari berjudul " Baqah". Foto : Eko Suryanto Daulay
"Jepin Lompat Galah Kreasi" menggambarkan kebahagian gadis-gadis muda Melayu dalam pergaulan sehari-hari. Tarian ini menggunakan 4 batang bambu sepanjang 2 meter. Disuguhkan oleh peserta dari Kabupaten Kapuas Hulu. Foto : Eko Suryanto Daulay
Berhias dengan menggunakan cermin agar menjadi perhatian abo'-abo' di kampung adalah sekilas sinopsis "Inak Bacoromin" yang menjadi andalan peserta dari Kabupaten Sanggau. Foto : Eko Suryanto Daulay
Peserta dari Kabupaten Landak menyuguhkan "Tari Colege Lempok Durian" yang menggambarkan gadis-gadis Melayu yang sangat mahir membuat lempok durian. Foto : Eko Suryanto Daulay
FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA : PARADE LAGU DAYAK
November 13, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Kamis (12/11) Bertempat di Pentas Terbuka Taman Budaya Jalan A Yani Pontianak, Parade Lagu Dayak digelar. Peserta merupakan kelompok utusan dari Kabupaten/Kota berjumlah maksimal 17 orang meliputi penyanyi, penari dan pemain musik.
Penyajian menggunakan iringan musik hidup (live) dengan menggunakan alat tradisional seperti sape’, kledik, suling, kolintang, kenong, gong dan alat musik yang diketahui seniman musik Kabupaten/Kota yang belum terinventarisir.
Peserta Parade Lagu Dayak diikuti oleh beberapa daerah seperti Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sintang, Kota Pontianak, Kabupaten Sekadau, Kota Singkawang, Kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Bengkayang.
Tema dan isi lagu, penataan musik, materi dan teknik vokal, penghayatan lagu oleh penyanyi, harmonisasi dan konsistensi di dalam menyajikan musik daerah adalah beberapa kriteria yang harus diperhatikan oleh setiap peserta.(mumu/12/11)
adapun pemenang Penyaji Barisan Budaya yang mendapat predikat terbaik sebagai berikut :
1. Kota Singkawang.
2. Kabupaten Sintang.
3. Kabupaten Kubu Raya.
Favorit Penyaji Barisan Budaya :
1. Kabupaten Bengkayang
Pemenang Barisan Multi Etnis :
1. Majelis Adat Budaya Melayu (MABD), Provinsi kalimantan Barat.
2. Paguyuban Jawa Barat dan banten.
3. Dewan Adat Dayak (DAD).
Favorit Barisan Multi Etnis :
1. Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT)

Materi lagu yang dibawakan merupakan lagu khas Dayak yang merupakan ciptaan seniman daerah setempat. Foto : Ianimaru

Tema lagu bebas namun bertendensi positif seperti percintaan, keindahan alam, reliji dan pesona seni budaya. Foto : Ianimaru

Penyaji terbaik lagu Dayak akan dikirim ke Parade Lagu Daerah di Taman Mini Nasional Indah, Jakarta. Foto : Ianimaru

Pengumaman pemenang Parade Lagu Dayak akan diumumkan pada hari ke 3 Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. Foto : Ianimaru

Peserta dari Kabupaten Bengkayang membawakan lagu yang berjudul "Sunge Banyuke" yang mengisahkan Sungai Banyuke yang dulunya jernih namun kini telah tercemar. Foto : Ianimaru
PEMILIHAN BUJANG DAN DARE WISATA KHATULISTIWA
November 12, 2009 | Oleh : mumu | Kategori : Photo dan Berita
Masih dalam rangkaian Festival Budaya Bumi Khatulistiwa, setelah resmi di buka pada sore harinya, Pemilihan Bujang dan dare Wisata Khatulistiwa digelar di gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie, Pontianak.
Peserta berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Barat seperti, Kabupaten Bengkayang, Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Singkawang, kabupaten Sekadau, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Landak dan Kabupaten Bengkayang.
Untuk menjadi Bujang dan Dare Wisata Khatulistiwa, peserta diwajibkan memiliki pengetahuan dalam bidang kehumasan, penguasaan Bahasa Inggris atau bahasa lainnya, menguasai salah satu kesenian daerah seperti tari, lagu, musik, olah raga tradisionil, dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, peserta juga harus menguasai pengetahuan umum kepariwisataan, politik, sosial, budaya, ekonomi, teknologi, informasi dan berkepribadian. Penampilan cat walk juga menjadi poin penting dalam penilaian juri. Busana dan tata rias pada saat grand final. Penilaian yang dilakukan tidaklah penilaian perorangan, tetapi berpasangan. Sehingga juara yang terpilih adalah juara per pasang yang mewakili kabupaten/kota. Oleh sebab itu kekompakan adalah harga yang tidak dapat ditawar. (mumu/12/11)
Peserta pemilihan Bujang dan Dare Wisata Khatulistiwa adalah utusan dari masing-masing kabupaten/kota se-Kalbar dan merupakan hasil seleksi. Foto : Ianimaru
Suasana Pemilihan Bujang Dare Wisata Khatulistiwa (Photo : ianimaru)
Seluruh kriteria penilaian Pemilihan Bujang dan Dare Wisata Khatulistiwa mengacu kepada syarat dan ketentuan pemilihan Duta Wisata Indonesia Tingkat Nasional. Foto : Ianimaru
Syarif Alwi Almutahar (Pontianak) dan Niasinta Nova Arizona (Kab. Sintang) akan mewakili Provinsi Kalimantan Barat menuju Maluku untuk mengikuti ajang Duta Pariwisata Tingkat Nasional. Foto : Ianimaru.
Jovinus Joni Jason (Kab. Bengkayang) dan Rina Kurnia Bhakti (Kota Pontianak) berhasil menjadi juara ke 3. foto : mumu

Para Pemenang Bujang Dare Wisata Khatulistiwa (Photo : ianimaru)
























