Kerajinan Tangan dari Keladi Air
Tahun Liputan : 2009
Jalan Trans Kalimantan, Desa Kuala Ambawang, Gang Manunggal, no. 6, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Ibu Novita dan beberapa rekannya yang sama-sama ibu rumah tangga, secara swadaya membeli bahan baku, dan menganyamnya menjadi hiasan seperti kipas, gantungan kunci, piring, kotak tisu, cincin, vas bunga, tas, topi dan masih banyak lagi varian kreasi yang lain. Sayangnya, belum ada koperasi yang dapat membantu pemasaran hasil olah tangan ibu-ibu rumah tangga ini. (mumu/29/08)

Di saat senggang, ibu-ibu rumah tangga ini berkumpul membuat beraneka bentuk kreasi dari bahan keladi air. Foto : Eko S Daulay

Dapat dibuat tas, kipas, piring, tempat tisu, vas bunga, gantungan kunci, dan masih banyak yang lain. Foto : Eko S. Daulay

Sering dicari saat eksibisi di luar Kalbar. Sayangnya, belum ada koperasi yang bisa banyak membantu penjualan di pasar lokal. Foto : Eko S. Daulay
Tewas Saat Bertugas
Pontianak BoP. Kebakaran yang menimpa salah satu rumah warga di Gang Kedah, Jalan Tanjungpura pada Selasa malam (23/8) ternyata menewaskan seorang petugas pemadam kebakaran. Ng Meng Kwang (54) meninggal dunia saat bertugas. Keterangan dari pihak Rumah Sakit, korban telah lama mengidap sakit jantung. Korban diantar ke Yayasan Budi Pekerti oleh Badan Pemadam Api Jungkat (BPAJ), Badan Pemadam Api Siantan (BPAS) dan Pemadam Kebakaran Mandiri. (Sy. Afdhal Ghalib/24/8)
MERIAM KARBIT
Lokasi wawancara : Gang Kuantan dan Gang H Mursyid.
Lokasi foto : Gang H Mursyid dan Jalan Tanjung Raya 2, Gang Rizki
Tahun liputan : 2009
Jauh di masa teknologi tidak secanggih sekarang, meriam karbit digunakan sebagai alat untuk membangunkan orang sahur, penanda waktu untuk berbuka puasa dan imsyak. Konon, asal-usul berdirinya kota Pontianak juga di awali dengan dentuman meriam. Terlepas dari cerita-cerita itu, kini meriam karbit telah dianggap sebagai tradisi dan budaya oleh masyarakat Pontianak.
Masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas memiliki tradisi yang khas dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.
Secara gotong royong mereka mengangkat kembali meriam-meriam karbit yang mereka simpan di dalam sungai. Kegiatan ini biasanya mereka lakukan seminggu sebelum Ramadhan. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu kegiatan warga bersama keluarga saat hari pertama menyambut Ramadhan. Agar tidak mengganggu aktivitas warga yang bekerja di berbagai profesi, pengerjaan meriam karbit dilakukan pada malam hari setelah sholat terawih.

Terbuat dari kayu yang tergolong keras. Meriam-meriamkarbit seperti ini dapat dipakai selama 5 hingga 15 tahun. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Setelah meriam diangkat dari sungai, meriam dibongkar dan dibersihkan.Rotan digunakan untuk mengikat meriam yang bagian dalamnya telah dibersihkan. (Foto : Eko Suryanto Daulay)
Beberapa meriam karbit yang “tertidur” lebih kurang setahun lamanya, kini “dibangunkan” kembali. Karena terbuat dari kayu yang tergolong keras, meriam karbit dapat digunakan 5 hingga 15 tahun.
“Biar awet, kami menggunakan kayu meranti batu atau kayu mabang,” terang Tarmiji yang mendapat keahlian membuat meriam secara turun temurun dari keluarganya ini.Karena menggunakan “stok kemarin”, Tarmiji dan kawan-kawan tidak perlu repot-repot lagi mencari kayu log. Sekarang mereka hanya membongkar dan membersihkan meriam lama yang kemudian kembali mereka rakit dan simpai (ikat) dengan menggunakan rotan.
Penggunaan rotan dalam proses pembuatan meriam karbit juga tidak bisa dibilang sedikit. 1 ton rotan baru bisa digunakan untuk tujuh atau delapan meriam. Jika harga untuk 1 kilo rotan saja harus merogoh kocek sebesar Rp 2.500,00 itu sama saja mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.500.000,00 untuk 1 ton rotan. Belum lagi biaya yang wajib dikeluarkan untuk membeli karbit.
Salah satu sumber mengatakan, mereka tidak bisa menentukan berapa banyak karbit yang harus mereka beli karena harus disesuaikan dengan dana yang terkumpul dari hasil swadaya masyarakat setempat. Ditambah lagi harga karbit yang selalu naik setiap tahun. Kini harga kayu log bisa mencapai harga 3 hingga 5 Juta per buahnya.
Jika setiap menjelang Ramadhan semua pelaku meriam karbit diharuskan memakai kayu baru, bayangkan dampaknya bagi lingkungan. Di lain sisi Pemerintah tengah giat memberantas illegal logging, tapi di sisi yang lain lagi banyak pihak yang merasa tradisi dan budaya meriam karbit sangat perlu dijaga kelestariannya.

Masyarakat berkumpul dan beramai-ramai membedah meriam setelah usai mengerjakan sholat tarawih. (Foto :Eko Suryanto Daulay)
Ukuran meriam bervariasi. Terpendek 4 meter dan yang terpanjang ada yang mencapai 8 meter. Sedangkan diameternya 40 cm untuk meriam karbit yang kecil, dan 70-80 cm untuk meriam karbit yang berukuran besar.
Sejarah meriam karbit juga pernah mengalami masa suram. Karena suara dentuman meriam karbit dianggap mengganggu, di era 90-an pernah terjadi razia meriam karbit yang digencarkan oleh aparat hukum. Barang siapa yang terbukti tengah membuat meriam karbit atau bahkan ada yang membunyikannya, meriam karbit tersebut akan segera di musnahkan.
“Makanya pada saat itu banyak warga yang membuat meriam jauh dari sungai,” kenang Mochtar yang menjabat sebagai RT di Gang Kuantan.
Razia meriam karbit tentu saja memancing reaksi dari warga yang menganggap meriam karbit adalah salah satu aset budaya Pontianak yang harus dilestarikan. Dibentuklah Persatuan Meriam Karbit se- Kalimantan Barat yang melayangkan protes ke Walikota. Walaupun memakan waktu yang cukup lama, akhirnya keluarlah peraturan dari pemerintah yang memperbolehkan meriam karbit kembali aktif di tiga hari menjelang hari raya dan tiga hari setelah malam takbiran. Cukup membanggakan saat meriam karbit pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia tahun 2007 silam.
Puncaknya kawasan tepian Sungai Kapuas akan terlihat sesak dan padat saat malam takbiran tiba. Ribuan warga dari seluruh bagian kota Pontianak berduyun-duyun datang demi menyaksikan dentuman meriam dari dekat.
Bukan konser dangdut, bukan pula konser rock ‘n roll, tetapi budaya ini dapat menyedot perhatian ribuan warga Pontianak untuk datang ke tepian Sungai Kapuas. Sebuah tradisi yang telah mendarah daging, tradisi yang berbunga budaya yang semoga terus terlestarikan, terjaga dan dipatenkan agar tidak lagi diklaim bangsa lain yang mengaku serumpun. (mumu/22/08/)
Rumah Betang Desa Lingga
Desa Lingga adalah salah satu desa di Kecamatan Ambawang. Di desa ini terdapat sebuah rumah adat betang Dayak Kanayatn yang terletak di dekat Lapangan Petir, Jalan Trans Kalimantan.
Rumah adat ini tidak berpenghuni. Masyarakat menggunakan rumah betang ini sebagai pusat pertemuan adat dan berkesenian. (Eko Suryanto Daulay/14/8)

Rumah Betang Desa Lingga. Berada di Jalan Trans Kalimantan, Desa Lingga, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Rumah Betang suku Dayak Kanayatn ini didirikan dari hasil swadaya masyarakat pada tahun 1991. Pada tahun 1992 Naik Dango pertama kali digelar di rumah adat ini. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Selain digunakan untuk pertemuan adat, rumah betang juga digunakan sebagai tempat berkesenian tari dan musik. (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Lumbung padi. Hasil panen warga dikumpulkan di lumbung ini. Jika ada salah satu warga yang berhajat, padi-padi di lumbung dapat digunakan yang nantinya dapat diganti di lain hari. (Foto : Eko Suryanto Daulay)
Gertak Tepian Sungai Kapuas
Tepian Sungai Kapuas sebagai potensi objek wisata, memiliki kekhasan dan keunikan. Dengan Menyelusuri gertak di tepian sungai kita dapat meyaksikan beragam aktifitas dan kegiatan masyarakat, pemukiman-pemukiman sepanjang tepian sungai kapuas yang begitu menarik. Beberapa waktu lalu Bophians (sebutan untuk anggota komunitas Borneo Photography), melakukan hunting meniti gertak dan mengabadikannya lewat lensa untuk dijadikan sebuah Galeri. (Borneo Photography)
Desa Radak 2, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya

Kecamatan Terentang merupakan salah satu Daerah Pemekaran Kabupaten Kubu Raya. Dengan luas wilayah 786,40 m², Terbagi atas 9 Desa yaitu, Desa Radak 1, Desa Radak 2, Desa Terentang Hilir, Desa Permata, Desa Teluk Empening, Desa Teluk Bayur, Desa Terentang Hulu, Desa Sungai Dungun, dan Desa Betuah. (mumu/9/8)
Tarung Derajat, Seni Bela Diri Anak Negeri
Pertahanan diri merupakan tindakan dari setiap individu dalam mempertahankan diri dari keadaan tertentu. Berbagai pengalaman hidup dalam tindakan untuk mempertahankan diri tersebut menjadikan Agus Drajat, pria asal Bandung, Indonesia, menciptakan seni pertahanan diri yang mulai dikenal pada tahun 1972 dengan nama Tarung Derajat.
Tingkatan dalam seni bela diri ini dimulai dari 8 Tingkatan :
1.Sabuk Putih
2. Sabuk Hijau 1 dan 2
3. Sabuk Biru 1 dan 2
3. Sabuk Merah 1 dan 2
4. Hitam ( Zat )
Untuk pelatih Tarung Derajat itu sendiri dikenal dengan sebutan Akang.

Tarung Derajat mulai masuk ke Pontianak Tahun 1989 oleh Dedi Indarto, S.sos ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Kini Tarung Derajat memiliki kurang lebih 1000 anggota yang tersebar diseluruh Kalimantan Barat ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Anggota Tarung Derajat Kalimantan Barat terdiri dari satuan militer,umum dan mahasiswa (Foto : Eko Suryanto Daulay)

Tahun 2005, atlet Tarung Derajat Kalimantan Barat berhasil meraih medali emas putra pada Kejuaraan Nasional ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Pada tahun 2007 atlet Tarung Derajat kembali meraih medali emas putra. ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Pada tahun berikutnya, atlet Tarung Derajat Kalimantan Barat mengumpulkan 1 Emas, 2 Perak, dan 2 Perunggu ( Foto : Eko Suryanto Daulay )

Pada Kejuaraan Piala Presiden 2009, atlet Tarung Derajat yang dikirim untuk mengikuti kompetisi tersebut berhasil mencatatkan prestasi yang gemilang yaitu memperoleh 2 emas, 1 perak dan 2 perunggu (Foto : Ianimaru)

Disiplin serta sikap rendah hati untuk tidak menggunakan kemampuan seni bela diri ini kepada hal-hal yang merugikan orang lain yang diajarkan dalam seni bela diri Tarung Derajat ( Foto : Ianimaru )

Jadwal Latihan Tarung Derajat untuk wilayah Pontianak dibagi menjadi 2 tempat yaitu, satuan Untan dan Komplek Masjid Mujahidin pada hari Rabu, Jumat dan Minggu ( Foto : Ianimaru )
Masjid Abdullah
Diambil dari nama ayah Nabi Muhammad SAW, Masjid Abdullah didirikan pada tahun 2009 di Komplek Golf Permai, Siantan Hulu, Pontianak Utara. Sekilas mesjid yang dibangun dari dana swadaya masyarakat ini terlihat sangat kental arsitektur Tionghoa-nya. Sebagai perancang masjid, Maxie Andie Mendur (47) menerangkan beberapa bagian masjid memang terinspirasi dari bangunan Tionghoa seperti atap, jendela dan gerbang masjid. ”Warna hijau menggambarkan nuansa Islam dan warna kuning menandakan nuansa Melayu”.
Memakan waktu pembangunan selama 8 bulan, Masjid Abdullah dapat menampung kapasitas sebanyak 120 hingga 150 jemaat. “Dalam seminggu, biasanya kita mengadakan 2 hingga 3 kali takziyah untuk anak-anak. Setiap hari besar Islam juga diperingati di masjid ini. Dana pembangunan masjid berasal dari swadaya masyarakat baik yang muslim maupun non muslim,” ujar ayah dari Irene Natasha Mendur dan Grace Nathania Mendur ini. (mumu/8/8)

Minaret Masjid Abdullah ditopang oleh lima tiang yang menandakan sholat lima waktu yang merupakan tiang agama Islam. (Foto : Anton Kopisiti)

Dibangun dari hasil swadaya masyarakat baik yang muslim maupun non muslim. Dapat menampung 120 hingga lebih kurang 150 jemaat. Didominasi warna hijau yang menggambarkan nuansa Islam dan warna kuning yang menggambarkan nuansa Melayu.(Foto : Anton Kopisiti)

Pintu gerbang masjid yang berarsitektur Tionghoa ini menyimbolkan kekuatan dan kekokohan Islam. Karena umat Islam dari etnis apapun tidaklah berbeda. Semuanya menyembah Allah SWT. (Foto : Anton Kopisiti)

Jendela berlafaskan kalimah Allah. Ditengahnya ada lingkaran yang menggambarkan dunia. Di sekeliling lingkaran tersebut ada 17 lekukan. Ini adalah simbol bahwa seluruh umat Islam di dunia melaksanakan sholat wajib sebanyak 17 rakaat. Desain jendela ini merupakan masukan dari pemangku adat Kesultanan Sambas.(Foto : Anton Kopisiti).

Maxie Andie Mendur, "dalam seminggu, biasanya kita mengadakan 2 hingga 3 kali takziyah untuk anak-anak. Setiap hari besar Islam juga diperingati di masjid ini." (Foto : Anton Kopisiti)

Didirikan pada tahun 2009. Nama Masjid Abdullah diambil dari nama ayah Nabi Muhammad SAW. (Foto : Anton Kopisiti)
PONTIANAK HATEFEST 2010

Sabtu malam (7/8) Gedung Anex Universitas Tanjungpura, Jalan A Yani, Pontianak Hatefest 2010 tengah digelar. Mandau, Evelyin Everyday dan masih banyak lagi penampilan dari band bawah tanah lain yang silih berganti “membakar panggung”. Ianimaru












