Kotor

Kendawangan, BoP. (30/6) Hampir disetiap dahan terendah dari pohon-pohon bakau di areal hutan bakau Pantai Jambat Kendawangan dicemari oleh sampah plastik, sehingga sedikit mengganggu keindahan hutan bakau ini. (Ande, 2010)
“Dirty”
Kendawangan, BoP. (June 30) Almost at every lowest branch of mangrove trees at the Jambat Beach Mangrove Forest Kendawangan polluted by plastic waste, it was a little bit distracting the beauty of this mangrove forest. (Ande, 2010)
Terus Diburu, Satu Demi Satu Orangutan Tewas
INDUK orangutan tengah asyik menggendong sang anak ketika sebuah peluru tiba-tiba menyasar tubuhnya. Ia tak dapat mengelak. Orangutan sub-spesies Pongo pygmaeus pygmaeus pun tewas akibat ulah tiga pemburu dari Dusun Ukit-Ukit, Desa Labian, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar).
Mengenaskan. Si induk primata ini tewas saat menggendong bayi yang masih berusia sekitar dua bulanan. Saat meregang nyawa, induk tersangkut di cabang pohon. Anaknya dilempar ke bawah dan terjerembab di tebing Sungai Jelia‘ yang berbatu. Beruntung, sang bayi orangutan masih dapat diselamatkan oleh pemburu lain.
Kini, bayi orangutan itu sudah berada di kediaman David Kiat (47), pemburu penyelamat itu, di Dusun Ukit-Ukit dalam keadaan memprihatinkan. Tangan kanannya terluka gores cukup parah. Di bagian paha hingga kaki kiri juga penuh luka. Ia hanya bisa meringis laiknya bayi manusia yang sedang menderita kesakitan.

David Kiat (47) berhasil menemukan anak orangutan di tubir jurang dan membawanya pulang. (foto : Andi Fachrizal)
Dalam suatu kesempatan berbincang, Jumat (11/6/2010) petang, David mengaku hanya berusaha menyelamatkan bayi orangutan itu. “Begitu mendengar informasi orangutan yang ditembak itu punya anak, saya langsung ke lokasi dan mencari anaknya. Sehari semalam saya baru bisa temukan di tubir jurang.”
Dia membawa dan memberikan pertolongan dengan obat kampung serta minuman susu sapi kental manis. “Rencananya saya pelihara sampai bisa cari makan sendiri. Kalau pemerintah atau LSM mau ambil, silakan. Biaya pemeliharaannya sangat tinggi,” ujar dia.

Untuk kepentingan konsumsi, perburuan orangutan masih lazim dilakukan oleh kelompok masyarakat yang gemar mengkonsumsi daging orangutan. (Foto : Andi Fachrizal)
David menjelaskan, pada 4 Juni lalu, dia bersama lima orang rekannya, masing-masing Zakariah, Fendi, Kaping, Jubang, dan Stave hendak berburu ke Sungai Jelia’. Ketika tiba di lokasi, mereka membagi diri dalam dua kelompok. “Saya bertiga dengan Zakariah dan Fendi. Sedangkan Kaping sekelompok dengan Jubang dan Stave.”
David telah mengingatkan rekan-rekannya agar tidak menembak orangutan. Namun peringatan itu tidak diindahkan. Mereka tetap menembaki hingga mati. Perburuan seperti ini lazim dilakukan warga untuk kepentingan konsumsi. Masih ada kelompok masyarakat yang gemar mengonsumsi daging orangutan.

Betung Kerihun dan Danau Sentarum adalah dua taman nasional yang merupakan kantong habitat utama orangutan sub-jenis pongo pygmaues pygmaeus. (Foto : Andi Fachrizal)
Koordinator Spesies WWF Indonesia Program Kalbar, Albertus Tjiu mengatakan, peristiwa yang terjadi di Sungai Jelia’ merupakan pelajaran berharga bagi semua pihak betapa terancamnya satwa dilindungi itu. “Sub-jenis Pongo pygmaeus pygmaeus ini paling terancam di Kalbar dan hanya tersisa 14 persen dari total keseluruhan di Pulau Kalimantan,” katanya Sabtu (12/6/2010).
Albert mengatakan, kantong habitat utama orangutan jenis ini ada di dua taman nasional di Kapuas Hulu, yakni Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. “Kampanye lingkungan hidup guna membangun kesadaran masyarakat telah dilaksanakan oleh WWF ID sejak tiga tahun lalu. Kita libatkan Balai KSDA, jajaran kepolisian, TNI, kecamatan, dan aparat desa,” jelasnya. (Andi Fachrizal)
Pulau Karimata dan Kekayaan Lautnya
Warga Desa Padang, kepulauan Karimata menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Kekayaan sumber daya alam hayati di kawasan ini dapat dilihat dari hamparan terumbu karangnya yang membentang luas. ikan Kerapuk adalah salah satu dari sekian banyak jenis ikan yang dijual nelayan Desa Padang hingga ke Belitung.
Proses penangkapan ikan pun masih menggunakan alat tradisional. Bubuh misalnya. Alat yang dipakai nelayan Desa Padang ini terbuat dari rotan yang dibentuk seperti kubus, diikat dengan menggunakan tali plastik dan setiap sisinya ditutupi kawat. (mumu/20/06)

Dalam sehari, Ugay yang dibantu beberapa anak buahnya, dapat menyelesaikan sekitar sepuluh buah bubuh. (Foto : Ian Imaru)
Duan Wu Jie di Sungai Kapuas
Pontianak Bop. Rabu (16/6) warga Tionghoa di Pontianak merayakan Hari Raya Duan Wu Jie, dengan mandi massal di Sungai Kapuas. Mandi massal ini di mulai dari pukul 12.00 hingga pukul 13.00 WIB.
Kegiatan ini diikuti oleh kaum tua dan muda. Sebagian dari mereka ada yang mandi di tangga gertak (jembatan panjang yang terbuat dari papan kayu) dan ada pula yang menggunakan perahu untuk pergi ke tengah sungai dan kemudian mandi disana.
Hari Raya Duan Wu Jie oleh warga Tionghoa lebih dikenal dengan Hari Raya Wu Shi Shu. Menurut kepercayaan warga Tionghoa, dengan mandi pada hari Wu Shi Shui, dapat menghilangkan segala kesialan dan membuang penyakit yang ada di dalam tubuh.
” Tradisi ini diwariskan dari nenek moyang kami yang setiap tahunnya dilaksanakan pada tanggal 5, bulan 5 tahun imlek,” ujar Apeng warga Jalan Tanjungpura.
Di negara lain, Duan Wu Jie atau Wu Shi Shu ini dijadikan festival yang sangat meriah dengan diadakannya perlombaan perahu naga. Meski dalam keadaan cuaca yang mendung dan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya warga Tionghoa Pontianak tetap menjalankan tradisi ini. (tri anto/16/6)

Wu Shi Shui merupakan tradisi turun temurun yang jatuh setiap tanggal 5, bulan 5, tahun imlek. (foto : Tri Anto)
Gerombolan Ikan

Pulau Sawi, BoP. Sabtu (12/6), Suasana bawah air menjadi daya tarik bagi orang-orang untuk datang ke Pulau Sawi yang berlokasi di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang.(Ande/2010)
“Fish Gang”
Sawi Island, BoP. Saturday (June 12), Underwater view become the magnet for peoples to come to the Sawi Island which located at Kendawangan Sub-district, Ketapang Regency.(Ande/2010)
Demam Piala Dunia
Pagelaran Piala Dunia yang telah lama ditunggu-tunggu oleh berjuta manusia di planet ini akhirnya datang juga. Afrika Selatan akan menyita seluruh perhatian dunia dengan adanya event besar ini.
Tidak berbeda dengan situasi di kota-kota lain di Indonesia, Jum’at (11/6) malam, warga Pontianak gencar menyesaki warung kopi atau cafe yang menyediakan fasilitas nonton bareng piala dunia. Bahkan saat pertandingan Afrika Selatan melawan Meksiko disiarkan, sebuah tempat cuci mobil di Jalan HM. Soewignyo disulap menjadi lokasi nonton bareng yang otomatis menyedot perhatian banyak warga.
Jalan Gajah Mada menjadi kawasan yang paling ramai dikunjungi warga untuk menyaksikan pertandingan Afrika Selatan kontra Meksiko. Fasilitas seperti televisi dan proyektor yang menggunakan layar besar memang telah dipersiapkan oleh pemilik warung kopi atau cafe yang tentu saja dapat mengundang banyak pelanggan. (mumu/11/06)

Agenda sepak bola terbesar ini menjadi acara yang paling banyak di tonton oleh semua orang di dunia. (Foto : Tri Anto)

Tempat-tempat hang out yang ditambahi fasilitas nonton bareng, diprediksi akan terus dibanjiri pengunjung hingga akhir piala dunia. (Foto : Tri Anto)
“Halo Matahari akibat Pembiasan Cahaya”
foto ( b_dal)
SIANG tadi, halo yang terlihat melingkari Matahari tersebut sebenarnya merupakan hasil pembelokan cahaya Matahari oleh partikel uap air di atmosfer.” Jadi, pada musim hujan ini partikel uap air ada yang naik hingga tinggi sekali di atmosfer. Partikel air memiliki kemampuan untuk membelokkan atau membiaskan cahaya Matahari Karena terjadi pada siang hari, Fenomena itu sebenarnya sama saja dengan proses terbentuknya pelangi pada pagi atau sore hari setelah hujan. Menurut Bambang, lengkungan pelangi sering terlihat di bagian bawah cakrawala karena partikel uap air yang membelokkan cahaya Matahari berkumpul di bagian bawah atmosfer. Di sisi lain, pada pagi atau sore hari Matahari pun masih berada pada sudut yang rendah.”Pada posisi yang miring ini, kemampuan partikel air membiaskan cahaya lebih besar, sehingga warna-warna yang muncul juga lebih lengkap,
Pada siang hari, saat Matahari pada posisi tegak lurus terhadap Bumi, kemampuan pembelokan cahaya menjadi rendah sehingga warna yang terlihat sangat terbatas. “Warnanya terlihat gelap karena pandangan ke arah Matahari juga terhalang debu. Kalau pada pagi hari, saat udara masih bersih, yang tampak adalah warna kemerahan,Tidak mengherankan bila fenomena halo ini juga hanya terlihat pada siang hari, sekitar pukul 12.00-1300. Selain itu, sama seperti pelangi, fenomena halo juga hanya bisa disaksikan pada musim hujan.(b_dal)

Foto ( Ianimaru)
Pekan Informasi Nasional
Riau,Bop. Menteri Komunikasi dan Informatika, Ir.H.Tifatul Sembiring mendengarkan penjelasan tentang perkembangan desa pusat informasi yang telah di launching di Sajingan Kab. Sambas pada tanggal 17 desember 2009, Oleh Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika DISHUBKOMINFO Prov. Kalbar Drs.Ruslizan Arief pada saat mengunjungi Stan Kalimantan Barat pada Pekan Informasi Nasional ke-2 pada tanggal 25 Mei 2010 di Pekanbaru, Riau. (Sy. Afdhal Ghalib)
“National Information Week”
Riau,Bop. Minister of Communications and Informatics, Ir.H.Tifatul Sembiring is listening to explanations about the progress of Village Information Center that have been launched at Sajingan, Sambas regency at date December 17, 2009, by Head Division of Communication and Informatics of West Kalimantan Province, Drs.Ruslizan Arief when he was visiting West Kalimantan Booth on the 2nd National Information Week at date May 25, 2010 at Pekanbaru, Riau. (Sy. Afdhal Ghalib)
Pulau Sawi, Pulau Bidadari
Pulau Sawi, Kab.Ketapang. Sabtu 5 Juni 2010 Ketapang Photography Community (KPC) melakukan hunting di Pantai Pulau Sawi, yang merupakan objek wisata yang berada dalam wilayah Desa Sungai Tengar Kecamatan Kendawangan. Dimana jarak dari Kota Ketapang ke Sungai Tengar ini dapat ditempuh ± 80 km dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat serta kendaraan bus.
Dari Sungai Tengar perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan air atau motor klotok milik nelayan menelusuri pantai Sungai Tengar dengan memakan waktu ± 30 menit s/d 1 jam perjalanan, tibalah di Pulau Sawi. Apabila air surut kapal dapat berlabuh di Steiger dan bila pasang dapat pula langsung ke tepi pantai. Perjalanan mengarungi laut tersebut sangat mengasikkan. Air laut yang biru dengan sesekali diselingi dengan ikan yang melompat dan batu-batu karang yang terlihat juga menambah indahnya perjalanan tersebut. Pasir putih membentang, air laut berwarna biru gemerlap, dan pohon kelapa yang berbaris-baris. Sangat wajar bila kemudian Pulau ini dijuluki Pulau Bidadari.
Saat kapal merapat didermaga kita sudah disambut dengan suasana senja dan sunset yang indah. Setelah mengambil beberapa ‘shoot’ dan foto bersama langsung menuju kerumah penduduk untuk bermalam. Suasana malam juga tidak kalah mengasikkan. Bulan sabit yang muncul tengah malam dan cahaya bintang yang berjumlah ribuan membuat mata tak mau terpejam. Hanya tidur 2 jam saja pagi sudah menyambut. Pemandangan pagi dengan sunrise yang indah serta aktivitas nelayan pergi kelaut juga asik diabadikan.
Minggu 6 Juni 2010 setelah seharian menjelajah pulau, kami melakukan perjalan pulang kembali ke Sungai Tengar dan dilanjutkan menuju Ketapang. (Dedeng)
Pameran Fotografi “Photo Borneo” & Sintang Photography Trip 2010
Sinar matahari pagi bersinar dan menembus jendela bis Pontianak-Sintang. AC dingin terus saja menyelimuti semua penumpang yang sebagian masih betah memejamkan mata. Photography Trip yang digelar bersamaan dengan Pameran Fotografi “Photo Borneo” dalam rangka menyambut Hari Bumi, tentunya bertujuan untuk menyebar kesadartahuan akan lingkungan dan salah satu wujud eksistensi kepedulian sebagai manusia.
Pameran Fotografi “Photo Borneo”
Gedung Pancasila yang terletak di Jalan Apang Semangai, Sintang dipilih menjadi tempat digelarnya pameran fotografi dari tanggal 24-26 April 2010.
- _MG_8540.JPG
- Gedung pancasila, Jalan Apang semangai sebagai tampat berlangsungnya pameran “Photo Borneo”. (foto : mumu)
"Photo Borneo" adalah tema besar yang merangkap menjadi program tahunan di tubuh Borneo Photography. (Foto : mumu)
Dwi Karunia Syaputri (10) tercatat sebagai fotografer termuda yang mengikutsertakan sebuah karyanya berjudul "Cerdas" di pameran Photo Borneo" (Foto : mumu)
Photography Trip
Hunting foto memang menjadi harga mati yang tidak dapat ditawar. disela-sela pameran, beberapa BoPhian menggelar hunting kecil. berjalan kaki dari Gedung Pancasila menuju tepian Sungai Kapuas, Pasar Inpres dan kembali lagi ke Gedung Pancasila.
Hunting dilanjutkan pada hari Minggu (24/04). Kali ini BoPhians dipandu oleh teman-teman dari Gemar Photography Sintang (GPS). Hutan Wisata Baning, Kobus, Kawasan Jinora dan pada sore harinya susur sungai mengitari Sungai Kapuas. Kehidupan masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Kapuas merupakan objek yang sungguh sayang jika tidak dibadikan.
Galeri tenun ikat. Sangat disayangkan tidak bisa memotret kain tenun, karena pada saat hunting, galeri ini tidak ada kegiatan. (Foto : mumu)
Borneo Photograophy mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada CERDAS Grup, Gemar Photography Sintang, seluruh masyarakat Sintang dan siapa saja, dimana saja atas doa dan dukungan yang telah diberikan. (mumu/16/05)
Fotografer-fotografer yang berpartisipasi dalam “Photo Borneo” Sintang 24-26 April 2010 :
Adi Sulistyanto
Afif Reffyandi
Agus Djuli Handoko
Agus Fitri Andri
Alberta Noviany
Anderi Purnomo
Andreas Cicco
Andy Saputra
Anton Widiarmo S.E
Apriansyah Firdaus
Aris Suhendra
Cholid Nugraha
Dwi Kurnia Syaputri
Eko Suryanto Daulay
Erwin Setiadi
Eru Ahmadia
Evy P. Susanti
Fami Hazdan
Gumay DBlur
Iip Yulfahmi
Indra Ae’
M. Firdaus
M. Mu’min
M. Alfian Nurzi
M. Zeinur Rasyikin
Lukas B. Wijanarko
Sabda Agung
Sinatrya Ananda
Suriansyah A.Md
Sy. Afdhal Ghalib
Teguh Panglima
Tri Anto
Vidi Sitarda
Motor Klasik
Pontianak. Jenis motor seperti Ariel, BSA, C70 sudah jarang untuk digunakan, namun tidak jarang motor seperti ini memiliki harga jual yang tinggi karena nilai sejarah motor (Photo : sabda)
Pontianak. Nowadays motorbike like Ariel, BSA, and C70 is rarely use, but sometimes this motorbike have a high selling price because of the historical value. (Photo: Sabda)














