Bookmark and Share

Hari Pohon Sedunia

BoP.karimunting. Sakawana kalbar, wwf indonesia, borneo photography, papeling bengkayang, pol air, mahasiswa STKIP jurusan sejarah dan masyarakat sekitar mengadakan kegiatan penanaman Mangrove di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang. Menurut Adria Soe selaku ketua Sakawana kalbar kegiatan ini dilaksanakan untuk Memperingati hari pohon sedunia,yang jatuh pada tanggal 21 November dan kegiatan tersebut dilakukan rutin setiap tahun. Lokasi penanaman di pesisir pantai desa kalimunting kecamatan Sui raya kepulauan Sekitar 80 orang yang ikut dalam kegiatan ini.Mangrove yang di tanam kali ini sekitar 2000 pohon, bakau dan juga Api-api, ujar Dwi Suprapti, staf monitoring Wwf. Sebelum melaksanakan penanaman pohon dwi Suprapti melakukan briefing singkat tetang tatacara penanaman pohon mangrove. Setelah briefing, peserta lansung turun untuk melakukan penanaman pohon di lokasi yang telah di tentukan.

Andria Soe, ketua Sakawana kalbar terlihat sedang membawa bibit mangrove (photo M Zeinur, 2009).jpg

Andria Soe, ketua Sakawana kalbar terlihat sedang membawa bibit mangrove (photo M Zeinur, 2009)

Bibit mangrove diangkut menuju tepi pantai oleh peserta (photo M Zeinur, 2009).jpg

Bibit mangrove diangkut menuju tepi pantai oleh peserta (photo M Zeinur, 2009).jpg

Direktur WWF Indonesia Program Kalbar, Hermayani Putra, ikut penaman Bibit mangrove ( foto Eko Suryanto Daulay, 2009).jpg

Direktur WWF Indonesia Program Kalbar, Hermayani Putra, ikut penaman Bibit mangrove ( foto Eko Suryanto Daulay, 2009).jpg

Masyarakat desa Karimunting yang ikut dalam kegiatan penanaman pohon mangrove (Photo Sy. Afdhal, 2009).jpg

Masyarakat desa Karimunting yang ikut dalam kegiatan penanaman pohon mangrove (Photo Sy. Afdhal, 2009).jpg

antusias Mahasiswa STKI jurusan sejarah dalam kegiatan penanamn mangrove di desa karimunting (sinatrya ananda, 2009).jpg

antusias Mahasiswa STKI jurusan sejarah dalam kegiatan penanamn mangrove di desa karimunting (sinatrya ananda, 2009).jpg

briefing singkat,oleh Dwi Suprapti, tetang cara penanaman pohon mangrove (photo Muhammad Ihsan Alfikar, 2009 ).jpg

briefing singkat,oleh Dwi Suprapti, tetang cara penanaman pohon mangrove (photo Muhammad Ihsan Alfikar, 2009 ).jpg

breafing yang di berikan oleh anggota Sakawana (Foto Ilham Chandra,2009).jpg

breafing yang di berikan oleh anggota Sakawana (Foto Ilham Chandra,2009).jpg

mahasiswa STKIP Jurusan sejarah, sedang membawa bibit mangrove (photo Muhammad Ihsan Alfikar, 2009 ).jpg

mahasiswa STKIP Jurusan sejarah, sedang membawa bibit mangrove (photo Muhammad Ihsan Alfikar, 2009 ).jpg

tetap semangat, salah satu anggota sakana kalbar melakukan penanaman magrove (photo M Zeinur, 2009).jpg

tetap semangat, salah satu anggota sakana kalbar melakukan penanaman magrove (photo M Zeinur, 2009).jpg

anggota Pemuda Pecinta Lingkungan (Pepeling) Kabupaten Bengkayang terlihat sedang menancapkan batang penyanggah bibit mangrove.jpg

anggota Pemuda Pecinta Lingkungan (Pepeling) Kabupaten Bengkayang terlihat sedang menancapkan batang penyanggah bibit mangrove.jpg

salah satu anggota borneo photography yang ikut serta dalam kegiatan penanam pohon Bakau(foto sinatrya ananda, 2009).jpg

salah satu anggota borneo photography yang ikut serta dalam kegiatan penanam pohon Bakau(foto sinatrya ananda, 2009).jpg

Balon Idul Adha

balon idul adha_1.jpg
Pontianak, BoP. Mas Edi, penjual rujak ini beralih pekerjaan saat hari raya seperti idul adha ini, ia menjadi penjual balon di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Barat. Harga Balon perbuahnya dihargai Mas Edi Rp. 3000 rupiah. Pekerjaan menjual balon saat hari raya ini telah dilakoninya selama hampir 6 tahun dan selalu berpindah tempat.

Pelampung Nusantara

DSC_0080.jpg

Penyebrangan Angkutan Darat (Motor,Sepeda,Orang) antar Kabupaten Landak dengan Desa Kuala Mandor B. (foto : Zeinur,M Kuala Mandor B, 2009)

PAGELARAN TARI FESTIVAL BORNEO

Sabtu (14/11) Pagelaran Tari Festival Borneo yang masih terangkum di dalam agenda Festival Budaya Bumi Khatulistiwa ke IX tahun 2009 dihelat apik di Gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Syarif Abdurrachman.Tanpa dikomando, penonton spontan membanjiri area depan panggung.
Mungkin lantaran malam Minggu, ledakan pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung Pagelaran Tari Festival Borneo benar-benar ramai. Hal ini membuat panitia tak henti-hentinya mengingatkan pengunjung agar selalu tertib demi kelancaran acara. Para juru rekam momen juga tak luput dari amaran tertib dari panitia.
Satu persatu peserta dari Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah silih berganti menguasai panggung. Penampilan mereka begitu memukau penonton terbukti dengan riuhnya tepuk tangan yang selalu mereka berikan kepada seluruh penampil.
Penonton terus dihibur dengan penampilan dari tamu asal Provinsi Jawa Tengah. Tari “Krida Tamtama” yang disajikan dengan bumbu jenaka kedua pelakunya, banyak mengundang tawa ratusan pasang mata yang tertuju ke arah panggung. (mumu/14/11)

Berikut hasil pengumuman para pemenang yang berhasil kami kumpulkan dari tempat berlangsungnya Pagelaran Tari Festival Borneo.

PENYAJI TERBAIK FESTIVAL BORNEO TARI PESISIR TANPA RANKING
1. Provinsi Kalimantan Barat
2. Provinsi Kalimantan Tengah
3. Provinsi Kalimantan Selatan

PENATA TARI PESISIR UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Barat
PENATA MUSIK TARI PESISIR UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Tengah
PENATA RIAS DAN BUSANA TARI PESISIR UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Tengah

PENYAJI TERBAIK FESTIVAL BORNEO TARI PEDALAMAN TANPA RANKING
1. Provinsi Kalimantan Barat
2. Provinsi Kalimantan Selatan
3. Provinsi kalimantan Tengah

PENATA TARI PEDALAMAN UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Barat
PENATA MUSIK TARI PEDALAMAN UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Barat
PENATA RIAS DAN BUSANA TARI PEDALAMAN UNGGULAN : Provinsi Kalimantan Tengah

fb_foto_3.JPG

Provinsi Kalimantan Tengah menampilkan tari kreasi pedalaman yang merupakan tari perang berjudul "Kinyah Tarung Duling" yang menceritakan gadis-gadis Dayak yang mahir memainkan mandau. Tarian kemenangan dan menyambut pahlawan perang. Foto : Indra Ae'

fb_foto_4.JPG

Tari pedalaman "Jarai" ditampilkan oleh Provinsi Kalimantan Barat. Foto : Indra Ae'

fb_foto_5.JPG

Tari dari pesisir yang disuguhkan kepada tamu terhormat yang datang berkunjung ke daerah Amuntai ini dibawakan oleh Provinsi Kalimantan Selatan. Tari ini berjudul "Japin Payung Kembang". Foto : Indra Ae'

fb_foto_6.JPG

Kalimantan Barat kembali tampil dan mengusung tari pesisir "Antar Ajong". Antar Ajong adalah upacara adat yang digelar sebagai ucapan syukur atas karunia Pencipta, sekaligus permohonan untuk selalu dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Tarian ini menggambarkan kebahagian masyarakat yang terlibat dalam ritual Antar Ajong. Foto : Indra Ae'

fb_foto1.JPG

Remaja-remaja putri dalam sebuah pengajian yang memainkan rebana di dalam bulan Ramadhan adalah kisah dibalik tari pesisir "Japin Rebana" yang dibawakan oleh Provinsi Kalimantan Tengah. Foto : Indra Ae'

fb_foto_2.JPG

Joko Suwarno dan Wiranto asal Provinsi Jawa Tengah di daulat menjadi bintang tamu dalam Pagelaran Tari Festival Borneo. Orang tua atau guru harus membagi ilmunya kepada anak atau murid. Ini dimaksudkan agar ilmu tersebut terus beregenerasi dan berkembang adalah sekilas sinopsis yang terdapat di dalam tari "Krida Tamtama". Foto : Indra Ae'

fb_foto_7.JPG

Para pemenang Pagelaran Tari Festival Borneo. Foto : Ianimaru

FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA: LOMBA SUMPIT

Pontianak. BoP, Sabtu (14/11/09) Lomba sumpit yang diselenggarakan dalam rangka FBBK 2009 di Rumah Betang Jl. Sutoyo Pontianak ini diikuti sebanyak 80 peserta, dimana 36 orang kategori putri dan 53 orang kategori putra. Untuk kategori putri sendiri jarak menyumpit adalah 15 meter dan untuk kategori putra jarak menyumpit adalah sejauh 25 meter. Penilaiannya sendiri diukur berdasarkan angka pada sasaran sumpit tersebut, yaitu untuk warna biru nilainya 10, 20, 30. Untuk warna kuning nilainya 40, 50, 60. Untuk warna merah nilainya 70, 80, 90. Dan untuk warna hitam nilainya adalah 100. Untuk memperoleh hasil terbaik setiap peserta hanya diperbolehkan menyumpit 5 kali saja.

dibutuhkan teknik pernapasan yang baik guna jarum sumpit tepat sasaran (photo: Eko Suryanto Daulay, 2009)

inilah sasaran tembak para penyumpit dengan kriteria penilaian (photo: Eko Suryanto Daulay, 2009)

kosentrasi membidik sasaran (photo: Eko Suryanto Daulay, 2009)

maksimal hanya 5 buah jarum sumpit saja (photo: Eko Suryanto Daulay, 2009)

penggunaan kayu beliak bahan pembuatan sumpit banyak dilihat pada saat lomba (photo: Eko Suryanto Daulay)

persiapan Linyui sebelum menyumpit (photo: Eko Suryanto Daulay, 2009)

piala yang diperebutkan (photo: Eko Suryanto Daulay, 2009)

salah satu peserta muda (photo: Eko Suryanto Daulay, 2009)

FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA : PARADE LAGU MELAYU

Hujan lebat yang menghiasi Pontianak sejak sore Jumat (13/11) akhirnya memindahkan Parade Lagu Melayu yang tadinya akan diselenggarakan di Pentas Terbuka Taman Budaya, Jalan A Yani ke Gedung Pontianak Convention Centre Jalan Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie, Pontianak.

Setelah Parade Tari Dayak digelar, Parade Lagu Melayu langsung didaulat menjadi suguhan yang pesertanya silih berganti menghiasi panggung. (mumu/14/11)

Berikut daftar peserta beserta lagu-lagu yang dibawakan
1. Kabupaten Kapuas Hulu membawakan tiga lagu berturut-turut : “Leja Lejong”, “Apang Aloy” ciptaan Rahmat Chumasin dan “Kerupuk Basah” ciptaan Rahmat Chumasin.
2. Kota Singkawang : “Si Kali Aok”. Menceritakan pahit getirnya anak manusia yang berjalan melewati Kali Aok (Sebuah gunung yang terletak di perbatasan Indonesia-Malaysia) walaupun berdagang produk yang tidak resmi, semuanya dilakukan semata-mata untuk menghidupi keluarga.
3. Kabupaten Landak : “Ae’ Besak”. Menceritakan Ae’ Besak yang merupakan nama lain Sungai Landak dan menjadi kebanggaan masyarakat Ngabang.
4. Kabupaten Pontianak : “Pesone Bestari Nusantara”
5. Kabupaten Sintang : “Dendang Anak Senentang” ciptaan Ananta Kupa.
6. Kabupaten Kubu Raya : “Ae’ Kapuas” ciptaan Paul Putra.
7. Kota Pontianak : “Bujang Labe”
8. Kabupaten Sekadau : “Teka-Teki Pelanok Napuh”
9. Kabupaten Ketapang : “Purname di Batang Pawan”. Bercerita tentang 3 orang pemuda yang bersenandung dan bergurau saat memancing. Mereka terkagum-kagum kepada seorang gadis cantik yang wajahnya disinari bulan Purnama saat mencuci kain di sungai.

Para Pemenang Parade Lagu Melayu

Pencipta Lagu Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kota Pontianak
2. Kabupaten Pontianak
3. Kabupaten ketapang

Penyaji Lagu Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Kubu Raya
2. Kabupaten Sintang
3. Kota Singkawang
4. Kabupaten Pontianak
5. kabupaten Bengkayang

Penata Musik Melayu Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Pontianak
2. Kota Pontianak
3.Kabupaten Sintang

Penyanyi Lagu Melayu Terbaik :
1. Kabupaten Pontianak
2. Kota Pontianak
3. Kabupaten Landak

Penyaji Terbaik Lagu Melayu : Kabupaten Pontianak

Penata Musik Terbaik : Kota Pontianak

Pencipta Lagu Melayu Terbaik : Kabupaten Pontianak

Penyanyi Lagu Melayu Terbaik : Kabupaten Bengkayang

parade_tari_dayak_4.JPG

Menggunakan alat musik tradisional seperti akordion, biola, gendang, tawak, beruas, gambus dan suling. Foto : ianimaru

parade_tari_dayak_5.JPG

Kabupaten Pontianak menyenandungkan "Pesone Bestari NUsantara". Lagu yang diciptakan oleh Yance ini bercerita tentang alam Kota Mempawah. Foto : ianimaru

parade_tari_dayak_6.JPG

Lagu "Dendang Anak Senentang" bercerita tentang keramah-tamahan, kegembiraan dan sukacita masyarakat Kota Senentang. Lagu ini dibawakan oleh peserta dari kabupaten Sintang. Foto : ianimaru

parade_tari_dayak_7.JPG

Kabupaten Kubu Raya mendendangkan "Ae' Kapuas" ciptaan Paul Putra. Foto : ianimaru

parade_tari_dayak_8.JPG

Lagu "Bujang Labe" persembahan dari peserta Kota Pontianak. Bercerita tentang sekelompok pemuda yang senang berkesenian dan berharap menjadi orang yang terkenal. Foto : ianimaru

parade_tari_dayak_9.JPG

Penampilan kolaborasi. Aam pemain biola asal Mempawah, Iwan pemain biola dari Kota Pontianak dan Wira vokalis asal Kabupaten Sintang. Membawakan lagu "Sakura" yang dipopulerkan oleh Fariz RM. foto : ianimaru

parade_tari_dayak_2.JPG

Penerimaan piala untuk para pemenang. Foto : ianimaru

FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA HARI KE 3 : PARADE TARI DAYAK

Hujan lebat yang turun pada hari Jumat (13/11) tak menyurutkan semangat para peserta Parade Tari Dayak untuk memperlihatkan kepiawaiannya di depan juri dan penonton yang telah memenuhi Gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Abdurrachman Alkadrie, Pontianak.

Tercatat ada 11 utusan Kabupaten/Kota yang mengikuti parade ini seperti, Kabupaten Sanggau dengan judul tari “Tayonkng”, Kabupaten Ketapang dengan tari “Batomu”, Kota Singkawang menampilkan tari “Aur Parindu”, tari “Putri Dara Ruai” oleh Kabupaten Melawi, Kabupaten Landak menyuguhkan tari “Nanam Pantak”, Kota Pontianak dengan tari “Jarai”, Kabupaten Pontianak turut andil dengan tari “Rinyuakng”, Kabupaten Kapuas Hulu dengan tari “Ngajat Ngambe’ Indok”, Kabupaten Bengkayang mempersembahkan tari “Pagama”, “Tari Tenun Ikat Lungsi” oleh Kabupaten Sintang, dan terakhir ada tari “Batu Kenyalo” yang dibawakan oleh Kabupaten Sekadau. (mumu/14/11)

Berikut pengumuman para pemenang Parade Tari Dayak :

Penata Rias dan Busana Terbaik : Kota Singkawang
Penata Musik Terbaik : Kota Singkawang
Penata Tari Terbaik : Kota Singkawang
Penyaji Terbaik : Kota Singkawang

Pemenang Parade Lagu Dayak :
Penata Lagu Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Kubu Raya
2. Kabupaten Bengkayang
3. Kota Singkawang

Pencipta Lagu Dayak Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Kubu Raya
2. Kabupaten Kapuas Hulu
3. Kabupaten Pontianak

Penyanyi Dayak Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Bengkayang
2. Kabupaten Kubu Raya
3. Kabupaten Pontianak

Penata Lagu Dayak Terbaik Tanpa Ranking :
1. Kabupaten Kubu Raya
2. kabupaten Bengkayang
3. Kota Singkawang

Penata Musik Dayak Terbaik : Kabupaten Kubu Raya
Pencipta Lagu Dayak Terbaik : Kabupaten Pontianak
Penyanyi Dayak Terbaik : Kabupaten Bengkayang

parade_tari_dayak_1.JPG

Tari Carai dipersembahkan oleh peserta dari Kota Pontianak. Foto : mumu

parade_tari_dayak_10.JPG

Penampilan peserta dari Kabupaten Sintang yang menyuguhkan Tari Tenun Ikat Lungsi. Foto : mumu

parade_tari_dayak_11.JPG

Tari Batu Kenyalo yang diangkat dari kisah rakyat Sekadau menjadi suguhan peserta dari Kabupaten Sekadau. Foto : mumu

parade_tari_dayak_14.JPG

Peserta dari Kabupaten Pontianak tengah menampilkan Tari Rinyuakng. Tarian ini menggambarkan seorang gadis yang mempunyai rambut panjang dan indah, dipuja oleh banyak pria dan memiliki kemampuan pengobatan. Foto : mumu

parade_tari_dayak_12.JPG

Tari Noser yang menggambarkan kegembiraan para gadis ditampilkan oleh penari Provinsi Jawa Barat sebagai hiburan untuk penonton dan menjadi suguhan penutup Parade Tari Dayak. Foto : mumu

Kelindungan

IMG_3398.jpg

Digunakan untuk meminta perlindungan bagi para pendaki yang ingin mendaki gunung Ambawang. (Cholid Nugraha, 2009)

FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA (FBBK) HARI KE DUA

Masyarakat kembali meramaikan Gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie, Pontianak, Rabu (12/11). Parade Tari Melayu yang digelar di gedung tersebut terbukti menyedot perhatian masyarakat yang berhasil membuat sesak suasana di depan panggung.
Salah satu agenda yang diselenggarakan pada hari kedua Festival Budaya Bumi Khatulistiwa ini diikuti oleh beberapa peserta dari Kota Singkawang, Kabupaten Sintang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sanggau dan Kabupaten landak.
Kriteria penjurian meliputi penataan tari, penataan musik, penataan rias dan busana, penampilan umum (penyajian) dan kekuatan etnik (rasa kedaerahan). Sayangnya pengumuman pemenang akan diumumkan pada hari ketiga Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. (mumu/12/11)

Parade_tari_melayu_FFBK_1.JPG

Materi tarian adalah tari garapan baru yang berpijak pada tari daerah atau seni budaya daerah dan belum pernah ditampilkan dalam event tari sebelumnya. Peserta dari Kabupaten Sekadau menampilkan tari berjudul " Baqah". Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_2.JPG

"Jepin Lompat Galah Kreasi" menggambarkan kebahagian gadis-gadis muda Melayu dalam pergaulan sehari-hari. Tarian ini menggunakan 4 batang bambu sepanjang 2 meter. Disuguhkan oleh peserta dari Kabupaten Kapuas Hulu. Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_3.JPG

Berhias dengan menggunakan cermin agar menjadi perhatian abo'-abo' di kampung adalah sekilas sinopsis "Inak Bacoromin" yang menjadi andalan peserta dari Kabupaten Sanggau. Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_4.JPG

Penyajian menggunakan iringan musik hidup. Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_5.JPG

Suasana penonton yang memadati area di depan panggung. Foto : Eko Suryanto Daulay

Parade_tari_melayu_FFBK_6.JPG

Peserta dari Kabupaten Landak menyuguhkan "Tari Colege Lempok Durian" yang menggambarkan gadis-gadis Melayu yang sangat mahir membuat lempok durian. Foto : Eko Suryanto Daulay

FESTIVAL BUDAYA BUMI KHATULISTIWA : PARADE LAGU DAYAK

Kamis (12/11) Bertempat di Pentas Terbuka Taman Budaya Jalan A Yani Pontianak, Parade Lagu Dayak digelar. Peserta merupakan kelompok utusan dari Kabupaten/Kota berjumlah maksimal 17 orang meliputi penyanyi, penari dan pemain musik.
Penyajian menggunakan iringan musik hidup (live) dengan menggunakan alat tradisional seperti sape’, kledik, suling, kolintang, kenong, gong dan alat musik yang diketahui seniman musik Kabupaten/Kota yang belum terinventarisir.
Peserta Parade Lagu Dayak diikuti oleh beberapa daerah seperti Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sintang, Kota Pontianak, Kabupaten Sekadau, Kota Singkawang, Kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Bengkayang.
Tema dan isi lagu, penataan musik, materi dan teknik vokal, penghayatan lagu oleh penyanyi, harmonisasi dan konsistensi di dalam menyajikan musik daerah adalah beberapa kriteria yang harus diperhatikan oleh setiap peserta.(mumu/12/11)

adapun pemenang Penyaji Barisan Budaya yang mendapat predikat terbaik sebagai berikut :
1. Kota Singkawang.
2. Kabupaten Sintang.
3. Kabupaten Kubu Raya.

Favorit Penyaji Barisan Budaya :
1. Kabupaten Bengkayang

Pemenang Barisan Multi Etnis :
1. Majelis Adat Budaya Melayu (MABD), Provinsi kalimantan Barat.
2. Paguyuban Jawa Barat dan banten.
3. Dewan Adat Dayak (DAD).

Favorit Barisan Multi Etnis :
1. Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT)

FBBK Parade Lagu Dayak 1.jpg

Materi lagu yang dibawakan merupakan lagu khas Dayak yang merupakan ciptaan seniman daerah setempat. Foto : Ianimaru

FBBK Parade Lagu Dayak 2.jpg

Tema lagu bebas namun bertendensi positif seperti percintaan, keindahan alam, reliji dan pesona seni budaya. Foto : Ianimaru

FBBK Parade Lagu Dayak 3.jpg

Penyaji terbaik lagu Dayak akan dikirim ke Parade Lagu Daerah di Taman Mini Nasional Indah, Jakarta. Foto : Ianimaru

FBBK Parade Lagu Dayak 4.jpg

Pengumaman pemenang Parade Lagu Dayak akan diumumkan pada hari ke 3 Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. Foto : Ianimaru

FBBK Parade Lagu Dayak 5.jpg

Peserta dari Kabupaten Bengkayang membawakan lagu yang berjudul "Sunge Banyuke" yang mengisahkan Sungai Banyuke yang dulunya jernih namun kini telah tercemar. Foto : Ianimaru

sampek-menjadi-alat-utama-d.jpg

Harmonisasi menjadi salah satu kriteria yang diamati oleh juri. Foto : Sabda Agung.

PEMILIHAN BUJANG DAN DARE WISATA KHATULISTIWA

Masih dalam rangkaian Festival Budaya Bumi Khatulistiwa, setelah resmi di buka pada sore harinya, Pemilihan Bujang dan dare Wisata Khatulistiwa digelar di gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie, Pontianak.
Peserta berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Barat seperti, Kabupaten Bengkayang, Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Singkawang, kabupaten Sekadau, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Landak dan Kabupaten Bengkayang.
Untuk menjadi Bujang dan Dare Wisata Khatulistiwa, peserta diwajibkan memiliki pengetahuan dalam bidang kehumasan, penguasaan Bahasa Inggris atau bahasa lainnya, menguasai salah satu kesenian daerah seperti tari, lagu, musik, olah raga tradisionil, dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, peserta juga harus menguasai pengetahuan umum kepariwisataan, politik, sosial, budaya, ekonomi, teknologi, informasi dan berkepribadian. Penampilan cat walk juga menjadi poin penting dalam penilaian juri. Busana dan tata rias pada saat grand final. Penilaian yang dilakukan tidaklah penilaian perorangan, tetapi berpasangan. Sehingga juara yang terpilih adalah juara per pasang yang mewakili kabupaten/kota. Oleh sebab itu kekompakan adalah harga yang tidak dapat ditawar. (mumu/12/11)

Bujang_dare_FBBK_ian_5.JPG

Peserta pemilihan Bujang dan Dare Wisata Khatulistiwa adalah utusan dari masing-masing kabupaten/kota se-Kalbar dan merupakan hasil seleksi. Foto : Ianimaru

Bujang_dare_FBBK_4.JPG

Diikuti oleh 20 peserta. Masing-masing 20 Dare dan 20 Bujang. Foto : mumu

suasana.JPG

Suasana Pemilihan Bujang Dare Wisata Khatulistiwa (Photo : ianimaru)

Bujang_Dare_FBBK_1.JPG

Harus memiliki salah satu kesenian daerah. Foto : mumu

Bujang_Dare_FBBK_Ian_4.JPG

Seluruh kriteria penilaian Pemilihan Bujang dan Dare Wisata Khatulistiwa mengacu kepada syarat dan ketentuan pemilihan Duta Wisata Indonesia Tingkat Nasional. Foto : Ianimaru

Bujang_dare_FBBK_Ian_6.JPG

Syarif Alwi Almutahar (Pontianak) dan Niasinta Nova Arizona (Kab. Sintang) akan mewakili Provinsi Kalimantan Barat menuju Maluku untuk mengikuti ajang Duta Pariwisata Tingkat Nasional. Foto : Ianimaru.

Bujang_Dare_FBBK_3.JPG

Wilhelius (Kab.Ketapang) dan Esther (Kab. Sanggau) terpilih menjadi juara 2. Foto : mumu

Bujang_Dare_FBBK_2.JPG

Jovinus Joni Jason (Kab. Bengkayang) dan Rina Kurnia Bhakti (Kota Pontianak) berhasil menjadi juara ke 3. foto : mumu

para_peserta_budare_pariwisata.jpg

Para Pemenang Bujang Dare Wisata Khatulistiwa (Photo : ianimaru)

Next Page »