Masih Belum Sadar

Yogya, BoP. Minimnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan membuat larangan-larangan yang ada hanya sebatas hiasan semata. (Photo: Sabda, 3/10/2009)
Persipon 1, PSKS Cilegon 0

Persipon nyaris tertinggal 1 angka dari PSKS Cilegon, namun tendangan yang berbuah gol ini dianulir karena offside (photo: ande, 2009)
Pontianak, BoP. Minggu (4/10), Stadion Keboen Sajoek dipenuhi penonton yang menyaksikan pertandingan antara Persipon sebagai tuan rumah melawan PSKS Cilegon. Pertandingan berlangsung cukup seru walau terkadang bermain di tempo yang lambat. Di babak pertama ini Persipon nyaris saja kebobolan terlebih dahulu, namun gol tim lawan tersebut di anulir wasit karena terlebih dahulu berada dalam posisi offside. Menjelang menit-menit terakhir babak pertama, Persipon mendapat hadiah tendangan penalti dari wasit buah dari terjadinya pelanggaran di kotak penalti PSKS Cilegon. Sempat terjadi protes terhadap wasit karena pemberian tendangan penalti tersebut oleh pemain-pemain PSKS Cilegon, mereka beramai-ramai menghampiri wasit, namun hal tersebut kemudian dapat diredam begitu pula emosi penonton tuan rumah yang sempat memanas melihat tindakan para pemain PSKS Cilegon tadi. Tendangan penalti pun dilakukan, pemain Persipon dengan nomor punggung 5, Hidayat, sukses mengeksekusi tendangan penalty tersebut. “Gollllll………”, sorak penonton tuan rumah memenuhi seluruh stadion. Di menit ke 44 ini skor 1 – 0 untuk Persipon. Tidak lama kemudian peluit tanda usainya babak pertama pun dibunyikan wasit. Selang 15 menit kemudian, babak kedua pun dimulai. Permainan berlangsung cukup keras, namun Persipon lebih mendominasi permainan demi mempertahankan keunggulan skor mereka walaupun gawang Persipon sempat mendapat serangan-serangan dari PSKS Cilegon. Hingga babak kedua usai, skor tetap 1 – 0 untuk keunggulan tim Elang Khatulistiwa, Persipon.(ande, 2009)

Sebagian pemain PSKS Cilegon memprotes wasit karena memberikan penalti kepada Persipon (photo: M Zeinur, 2009)

Persipon unggul 1-0 melalui tendangan penalti yg dieksekusi Hidayat di menit 44 babak pertama. (photo: Eko Suryanto Daulay, 2009)
Semangat pendukung Persipon selama pertandingan berlangsung (photo: ianimaru, 2009)
Goresan Zul MS
Goresan-goresan alam menjadi kekuatan dalam karya-karyanya Zul MS.
Fotografi Sugeng Hendratno
Suka cita terhadap lingkungan menjadi sumber insprirasi yang terekam jelas dalam karya-karyanya Sugeng Hendratno.
Zul MS dan Alam Borneo

Zul MS dan Gallerynya (photo: ande, 2009)
Pontianak, BoP. Zulkiflie MS, atau yang biasa di sapa dengan Bang Zul ini merupakan salah satu dari sekian seniman lukis yang dimiliki Kalimantan Barat. Berkat hobinya mencorat-coret dinding sejak TK ini, ia pun didukung kedua orang tuanya hingga berkuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia Minat Utama Seni Lukis. Sebagai seorang seniman beragam pameran pun telah ia ikuti sehingga karya-karyanya telah dikenal luas. Saat dijumpai di Gallerynya yang berada di Jalan Camar no 48 ini, Pria kelahiran Pontianak yang berumur 37 tahun ini menyambut saya dengan dengan ramah. Tampak beragam jenis lukisan, sketsa, ilustrasi, dan foto terpampang di gallery yang bernama Zul MS Gallery ini. “Gallery ini sudah 2 tahun berjalan”, ujarnya. “saya juga pernah menerima tamu dari dalam dan luar negeri seperti Australia, Spanyol, Belanda, Prancis, dan Amerika untuk melihat gallery saya, karena gallery juga berfungsi sebagai suatu ruang publik sebagai perwakilan gambaran keadaan Kalimantan Barat jika orang belum sempat berkunjung ke suatu wilayah yang kemudian bisa memancing orang-orang tersebut untuk datang langsung melihat wilayah tersebut”. Saya pun mulai berbincang-bincang singkat bersama Bang Zul sambil sesekali menikmati kue lebaran yang ia suguhkan, sambil juga memandang karya-karya Beliau.

Zul MS dengan ruang kerja di gallerynya (photo: ande, 2009)
Lingkungan hidup menjadi topik yang kami perbincangkan di Gallery bang Zul karena menurut saya karya-karya beliau cukup banyak yang bersinggungan dengan hal tersebut, suatu isu yang selalu tak habis-habisnya diperbincangkan. “Lingkungan hidup itu sudah menjadi bom waktu bagi manusia karena banyaknya kerusakan yang telah terjadi. Sebagai seorang seniman saya berusaha membantu lingkungan hidup melalui kemampuan yang saya miliki melalui karya-karya saya, dan juga karena alam merupakan guru seniman”, begitulah yang Bang Zul ungkapkan. Karya-karya Bang Zul terinspirasi dari lingkungan dimana beliau melakukan perjalanan ke daerah-daerah. Taman Nasional Danau Sentarum, Betung Kerihin, Gunung Palung, Cagar Alam Selimpai, Karimata, Pulau Kabung, dan Gunung Schwanner merupakan tempat-tempat yang pernah beliau kunjungi yang juga menjadi inspirasi karya Bang Zul baik itu keindahan atau kerusakan yang ada di wilayah tersebut. Bang Zul berkata, “Jika dikelola dengan baik tempat-tempat tersebut dapat menjadi tujuan ekowisata, karena orang-orang senang dengan alam. Saya merasa miris jika melihat tempat-tempat indah tersebut mulai terganggu. Bahkan barusan ada wisatawan spanyol yang kecewa dengan rusaknya alam Kalimantan Barat ini. Ia pernah berkunjung disalah satu wilayah Kalimantan Barat yaitu di Ketapang sekitar dua tahun yang lalu, namun ketika ia berkunjung lagi, ia menemukan tempat tersebut telah berubah dibanding dua tahun lalu, karena adanya kerusakan”. Menurut bang Zul, dari sekian banyak lokasi yang pernah di kunjungi Bang Zul, Taman Nasional Danau Sentarum merupakan salah satu tempat yang membuatnya terenyuh karena adanya kegiatan-kegiatan yang merusak di dalam Taman Nasional tersebut. Mendengar cerita Bang Zul, saya pun ikut mendapatkan gambar-gambaran hasil perjalanannya dan saya pun berharap demikian karena alangkah baiknya lingkungan ini selalu terjaga keseimbanganya, karena kita sangat bergantung kepadanya. Karya visual itu sendiri akan menjadi rekaman sejarah terhadap apa yang pernah terjadi disuatu tempat. Untuk peduli terhadap lingkungan, “lakukanlah dengan kemampuan yang kita miliki, jika kita bisa melukis, sampaikanlah dengan lukisan, jika kita bisa memotret maka sampaikanlah melalui hasil foto”, ujar pelukis ini dengan semangat dan menjadi akhir perbincangan saya dengan beliau.(ande/4/10/09)
Zul MS Gallery
Jalan. Camar, No. 48, Pontianak
www.galleryborneozulms.blogspot.com
Sugeng Hendratno: Hijaukan Duniamu

Sugeng Hendratno (photo: ande, 2009)
Pontianak, BoP. Alam berserta isinya selalu menjadi inspirasi bagi seluruh orang baik dalam memanfaatkan dan mengolah hasil alam. Banyak aspek yang saling bersangkutan dan saling membutuhkan satu sama lainnya dalam alam ini, namun pemanfaatan alam yang jor-joran berdampak luas pada masyarakat juga lingkungan beserta isinya. Sugeng Hendratno adalah seorang fotografer yang telah banyak mengungkapkan kegundahannya terhadap keadaan lingkungan dan budaya dengan karya-karya fotonya, “Banyak terjadi perubahan lingkungan yang ada di Indonesia pada umumnya. Terlebih lagi di Kalimantan Barat khususnya. Sawit, Illegal Logging, dan PETI banyak merusak lingkungan. Cagar Alam, Monumen Sejarah, bahkan Taman Nasional pun menjadi korban, seakan-akan kegiatan tersebut tidak ada batas sampai munculnya kehancuran baik itu alam serta keragaman yang ada didalamnya, budaya, bahkan ekonomi masyarakat itu sendiri”. Ada dampak yang pelan-pelan mulai terlihat selain rusaknya alam akibat eksploitasi yang berlebihan, salah satunya mulai adanya perubahan budaya di masyarakat. Ada beberapa kebiasaan yang dahulu biasa dilakukan masyarakat tapi kini sudah jarang dilakukan. Seperti di daerah Semitau yang pernah beliau kunjungi, dahulu tradisi berburu babi sering dilakukan namun seiring dengan terganggunya habitat babi di hutan akibat ekploitasi alam, sehingga tradisi tersebut terancam punah. Begitu pula seperti suku Punan yang kehidupannya sangat bergantung terhadap hutan, jika hutan dieksploitasi habis-habisan bisa jadi suku tersebut akan punah. Tenun Ikat yang dahulu menggunakan pewarna alam namun pernah beliau lihat para penenun menggunakan pewarna kimia, para penenun beralasan sudah mulai sulit mencari bahan-bahan alami tersebut kalau pun ada, sangat jauh dari tempat mereka. Itu hanya sebagian contoh kecil dari dampak kerusakan lingkungan hidup terhadap masyarakat.
Sebagai seorang fotografer, Sugeng mengungkapkan ia lebih cenderung mengangkat dan mengabadikan tema budaya dan lingkungan, karena menurutnya di Kalimantan Barat khususnya masih minim yang mau mendokumentasikan secara intens tentang lingkungan dan budaya melalui media fotografi, sementara itu Kalimantan Barat memiliki keanekaragaman alam dan budaya yang selain perlu dilestarikan juga perlu diabadikan selain itu agar orang-orang mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi di alam Kalimantan Barat, baik itu yang indah atau yang sudah rusak. Minimnya hal ini bisa jadi dikarenakan faktor seperti biaya, waktu dan mental fotografer itu sendiri. “Foto lingkungan hidup dan budaya juga perlu investigasi yang mendalam dan ini harus dilakukan dengan benar. Kendala yang umum ditemui saat di lapangan salah satunya adalah kecurigaan warga sehingga menyulitkan investigasi, namun tidak semuanya seperti itu, ada masyarakat yang terbuka ada yang tertutup”, ujar Sugeng yang pernah menjadi Instruktur Photo Voices pada tahun 2008 di Kapuas Hulu ini. Sugeng juga memberikan sedikit gambaran kepada para pembaca yang ingin mendalami fotografi lingkungan hidup dan budaya yang dalam hal ini juga merupakan bagian dari Fotografi Travelling karena seorang fotografer melakukan perjalanan ketempat yang dituju kemudian mendokumentasikan apa yang ada di tempat tujuan. “Mental, riset terhadap tempat yang akan di kunjungi, membawa peralatan fotografi yang minimalis saat berada dilapangan dalam hal ini sesuai dengan apa yang akan di potret, pendekatan terhadap warga dan lingkungan, dan minta izinlah saat akan memotret”, ungkap pria yang sejauh ini sudah mengikuti empat pameran foto bertema lingkungan hidup ini. Sebagai akhir dari perbincangan singkat ini, beliau juga mengajak untuk mulai peduli dengan lingkungan dan budaya dengan segenap kemampuan yang kita miliki. “Hijaukan duniamu”, ujarnya.
Peringatan Hari Perdamaian Sedunia
katakan,"peace." (photo: sabda agung, 2009)
Yogyakarta, BoP. “Mari kita ucapkan PEACE”, ucap seorang koordinator parade mengomandani rekan-rekannya. Pastinya kita akan bertanya, ada apa?. Sekitar 100 orang berjalan dengan membawa berbagai atribut poster, spanduk, dan selebaran yang dibagi-bagikan karena 21 september ini adalah peringatan Hari Perdamaian Dunia (The International Day of Peace). Perayaan yang dilakukan oleh mahasiswa HI UGM diawali dengan melakukan jalan kaki (Track Peace) dikawasan Malioboro, disetiap waktu seluruh parade meneriakan kata damai kepada seluruh orang yang ada. Acara yang dipusatkan di kawasan Vredeburg fort diadakan berbagai acara antara lain terdapat Live Music, Traditional Art, Peace Gallery, dan Human Poster. Perayaan ini didasarkan atas masih kurangnya kesadaran manusia akan perdamaian, karena masih terjadinya konflik-konflik pertikaian dan peperangan di dunia ini dan yang muncul hanyalah kesengsaraan bagi manusia itu sendiri. pesan moral inilah yang dibawakan oleh peserta parade. (sabda agung, 2009)
Di Yogyakarta peringatan hari damai sedunia ini dipusatkan di Vredeburg Fort (photo: sabda agung, 2009)
Peace Gallery menjadi suatu hal yang menarik minat pengunjung pada kegiatan ini (photo: sabda agung, 2009)
Truk Amblas
Aparat membantu memperlancar arus lalu lintas (photo: M Zeinur, 2009)
Pontianak, BoP. Karena badan jalan yang tipis, truk bermuatan semangka amblas di tepi jalan Ahmad Yani tepatnya di dekat toko buah yang berada tak jauh dari Parit H. Husin 1. Beban angkut truk dengan plat nomor D 8000 PT ini diperkirakan mencapai 22 ton dan sempat menjadi perhatian warga yang kebetulan melintas. Amblasnya truk ini dirasakan sangat mengganggu pengguna jalan. (Tri Yanto/2/10)
Aparat membantu memperlancar arus lalu lintas (photo: M Zeinur, 2009)
Memancing

Suatu tradisi jika ada laut, identik dengan memancing. Para pemancing umumnya rela menghabiskan waktunya untuk mendapatkan ikan-ikan segar (photo: Apryandani, Batu Payung, 2009)


