Susur Galor ( Pameran Tunggal “Pelangi Khatulistiwa” 25-27 Oktober 2009 )
Namanya singkat, Bearing. Ia kelahiran Pontianak pada tanggal 29 Juli 1976. ia memiliki obsesi yang terus melekat di dalam dirinya, yaitu belajar dan terus belajar. Seorang Bearing teramat sulit dipisahkan dengan etos kerja yang digelutinya sampai sekarang. Ia menyelesaikan sekolah menengah atas pada tahun 1995 silam. Namun ia tak segera berpuas diri. Ia kemudian melanjutkan pendidikan formalnya di Universitas Widya Dharma. Sayangnya hanya bertahan hingga semester IV. Ia menyadari tuntutan hidup sangat tinggi sehingga ia memutuskan untuk kuliah sambil bekerja di Varia Foto Pontianak.

Total 30 karya foto yang ditampikan dalam Pameran Tunggal karya Bearing (Istimewa)
Berawal dari titik inilah seorang Bearing kemudian tertarik dengan dunia fotografi. Ia bertanya ke sana-kemari mengenai tempat belajar fotografi secara formal. Dan Kota Yogyakarta menjadi satu-satunya pilihan yang tepat untuk urusan itu. Ia berangkat ke Yogyakarta pada tahun 1998 dan mempelajari ilmu fotografi di Modern School of Design (MSD). Selama setahun mempelajari ilmu fotografi di MSD, Bearing merasa ilmu yang telah digenggamnya masih kurang. Ia pun melanjutkan perburuannya ke Akademi Desain Visi (ADV) Yogyakarta, Jurusan Desain Grafis, dan Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Jurusan Broadcasting. Pada tahun 2001 ia kembali ke kampung halaman dan melamar di Harian Pontianak Post. Awalnya ia diterima sebagai tenaga layouter (pracetak). Bearing kemudian dipindahkan ke Kapuas Post. Sebagai layouter yang notabene bekerja malam hari, ia mengaku punya banyak waktu luang di siang hari. Waktu luangnya dimanfaatkan untuk kembali menuntut ilmu di STIE Indonesia sambil berburu foto. Hasilnya kemudian ia perlihatkan kepada redaktur Kapuas Post. Pada saat itulah foto-foto Bearing sering menghiasi halaman Kapuas Post. Karena keterampilannya ini pula, Bearing diangkat menjadi fotografer di Pontianak Post Grup hingga saat ini. Berbagai pengalaman telah dilaluinya, baik mengikuti seminar maupun menjadi pembicara di berbagai pelatihan jurnalistik terutama foto jurnalistik. Pameran bersama sudah sering kali diikuti. Namun baru saat ini Bearing menggelar karyanya sendiri dalam sebuah pameran tunggal yang dibarengi dengan resepsi pernikahan.

Tim sedang mempersiapkan karya foto (foto oleh : Eko Suryanto Daulay)

Tim sedang mempersiapkan karya foto (foto oleh : Eko Suryanto Daulay)
Pameran yang dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2009 sampai tanggal 28 Oktober 2009 lalu, Bertempat di Selasar Museum Provinsi Kalimantan Barat. Tema yang dipilih adalah “Pelangi Khatulistiwa”. Sebuah foto pelangi menjadi latar belakang pemilihan tema ini, selain itu pelangi menurut Bearing sendiri memiliki makna yang berbeda dari orang pada umumnya. Ia membandingkan pelangi dengan Kalimantan Barat. Apakah persamaan yang ada di antara keduanya? Kalimantan Barat (Kalbar) adalah sebuah entitas dengan identitas yang penuh ragam. Sebuah tempat di mana orang dapat menyaksikan berbagai keindahan, baik alam maupun perilaku kehidupan manusia dengan segala kemapanan tradisi dan budayanya. Inilah yang membuat belahan barat Pulau Kalimantan tetap hidup dan mengalir. Kekuatan Kalbar berdiri di atas pilar kehidupan budaya yang sangat kukuh. Alam melengkapi kekuatan itu sebagai sebuah cakra kembarnya. Kolaborasi dua dimensi tersebut kemudian melahirkan berbagai varian, karakter, garis, corak, dan warna. Namun tak dimungkiri pula masih ada seribu satu macam persoalan yang membuat daerah ini seperti kehilangan cermin hidupnya, Infrastruktur, promosi, dan manajemen pengelolaan tata ruang yang tidak terintegrasi menyebabkan Kalbar hanya bisa merangkak setengah hati. Daya tariknya pun tidak bisa memancar keluar. Lewat media fotografi, keterpurukan itu diharapkan sedikit terobati.

Proses penyelesaian persiapan pameran tunggal di lakukan di Rumah Kombi (Foto oleh : Eko)
Ada 30 karya foto yang berhasil menangkap realita itu, dan mengomunikasikannya kepada publik dalam bahasa bisu. Penuh intuisi, dan rasional. Karya-karya ini kemudian dilebur dalam sebuah bingkai bernama Pelangi Khatulistiwa. Laiknya roda kehidupan yang penuh warna, demikianlah karya fotografi ini hendak menyampaikan sejumlah pesan. Lalu mengalir seperti air atau mengalun laksana tembang. Tak jarang pula ia menghentak keras, protes, bahkan demonstrasi. Ibarat pelangi dengan aneka warna yang terpancar indah, demikianlah karya-karya fotografi ini hadir dan bercerita dengan segala pesonanya. Gerak intuitif penyatuan berbagai macam warna yang berbeda, telah melahirkan sebuah mahakarya yang tiada tertandingi keindahannya. Mungkin, karya-karya fotografi ini sekadar lewat sebagai tamu, atau pisau lipat yang tergolek di sudut ruangan setelah habis digunakan. Tapi di sini pulalah sebuah sikap terpatri kuat: betapa besar makna dari kata beda.

Penyerahan secara simbolis kepada pembeli. (foto oleh : Mumu)
Selama Pameran tersebut,karya foto yang berhasil terjual sebanyak 3 karya foto.Foto dengan judul “Open gates” menjadi koleksi nya Sutarmidji (Walikota Pontianak), dan “Pulang” serta “Wajah Desa” menarik perhatian kolektor Hasjim Oesman untuk membeli foto tersebut.
(Rohani Syawaliah)
Pemenang Lomba Sampan Tradisional

Foto bersama pemenang lomba sampan tradisional, juara 1 dari tim Kijang Berantai (jaket kuning) dan juara 2 dari tim Elang HItam (baju merah oranye). (photo; eko suryanto daulay. pontianak, 2009)
Festival Layangan Memeriahkan HUT Kota Pontianak
Pontianak Bop,Sabtu (24/10) Festival layangan yang diselenggarakan dlm rangka memeriahkan hari jadi Kota Pontianak yang ke 238 ini baru diadakan tahun ini dan diikuti oleh 85 peserta yang terdiri dari 50 peserta layangan berkategori eksebisi serta 35 peserta berkategori layangan tradisonal. Tidak hanya peserta dari Kalimantan Barat saja yang turt berpartisipasi melainkan ada 8 peserta yang berasal dari negara Brunei maupun Malaysia. Panitia hanya melombakan layangan dengan kategori layangan tradisonal saja. Adapun penilaian dari perlombaan tersebut antara lain: keindahan bentuk dari layangan itu sendiri, kreativitas, tingkat kesulitan dalam hal pembuatan layangan dan tingkat keserasian antara pemain layangan dengan layangannya.
Pak Norman salah satu peserta yang berasal dari Johor, Malaysia ini berpendapat “saya datang kesini karena undangan pak walikota, dan even ini sangat bagus terutama salah satunya bisa menarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota Pontianak” (eko suryanto daulay, 2009).

dikarenakan cuaca tidak mendukung, layangan tersebut diturunkan (Photo : Eko Suryanto Daulay)

orang tua rela menggendong anaknya untuk menyaksikan festival layangan (Photo : Eko Suryanto Daulay)

peserta yang sedang berusaha memainkan layangannya (Photo : Eko Suryanto Daulay)

Layangan Merak milik Andre yang berasal dari Pontianak Timur ini mendapatkan juara pertama (Photo : Eko Suryanto Daulay)
Pontianak Utara Berbenah Diri

Dalam rangka mewujudkan keindahan kota, Senin (26/10) Aparatur Kecamatan Pontianak beserta Satpol PP Kota Pontianak dan Polisi mengadakan penertiban PKL yang melanggar Perda Pemerintah tentang pembangunan bangunan liar.(photo : sabda)
Selamat Ulang Tahun Pontianak
Ulang tahun mungkin memberikan makna yang sangat berarti, begitu juga bagi warga Pontianak pada tanggal 23 Oktober 2009 Kota Pontianak merayakan ulang tahun yang ke 238 tahun.
Ulang tahun Kota Pontianak kali ini bukan saja momen untuk berpesta pora dengan even-even yang diselenggarakan oleh pemerintah Kota Pontianak yang justru banyak masalah yang terabaikan, air bersih, sampah, jalan yang berlubang dan belum lagi banjir yang datang disetiap musim hujan serta tata kota yg agak semberaut yang mestinya hal tersebut telah dapat diatasi dengan usia Kota Pontianak yang sudah tua, seharusnya koreksi serta intrsopeksi yang harus dilakukan untuk melihat masalah-masalah yang di hadapi Kota Pontianak sebagai kota yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan, sehingga menjadikan kota ini tempat yang nyaman dan aman bagi warganya.

TPS Liar yang terdapat di dekat pasar siantan (Photo : Trie, Pontianak 2009)

Jalan becek dan berlubang di pasar puring siantan(Photo : Trie, Pontianak 2009)

anak-anak usia sekolah di jalan tanjung pura berkeliaran menjalankan aktifitas sebagai pengemis atau peminta-minta(Photo : Trie, Pontianak 2009)

trotoar di dalam kota telah berubah fungsi menjadi tempat berjualan oleh pedagang kaki lima(Photo : Trie, Pontianak 2009)

Pedangan kaki lima yang berjualan, hampir menutupi badan jalan di pasar tengah(Photo : Trie, Pontianak 2009)
Pontianak Tanpa Huruf “P”

Di hari jadi Kota Pontianak ke-238 masih saja kekurangan, salah satunya adalah hilangnya huruf “A” pada tulisan WALIKOTA dan “P” pada tulisan PONTIANAK yang terdapat di kantor Walikota Pontianak. Hal ini sungguh disayangkan, karena bertepatan dengan perayaan ae’ kapuas fest 2009 (photo : sabda, Pontianak 09).
Lomba Sampan Hias Meriahkan Hari Jadi Kota Pontianak Ke-238
Pontianak BoP, Masih dalam rangka memperingati hari jadi Kota Pontianak ke 238, sabtu malam (24/10) bertempat di Waterfront Taman Alun-alun Kapuas diadakan lomba perahu hias. Jumlah peserta terdaftar dalam perlombaan ini sebanyak 64 kelompok namun dalam pelaksanaannya diikuti hanya 23 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Kota Pontianak. Perlombaan perahu hias ini menurut Syf. Nurani selaku juri lomba, hal ini bertujuan untuk mengangkat kembali sejarah kebudayaan lancang kuning yang dibawa pertama kali oleh sultan Abdurrahman, disamping mengangkat wisata air yang ada di Kota Pontianak. Lebih lanjut menurut Ali (40) salah seorang peserta lomba, kegiatan ini memberikan nilai positif untuk mengenalkan sampan sebagai alat transportasi tradisional. Lomba yang dilaksanakan baru pertama kali di Kota Pontianak berhasil menyedot ribuan pengunjung yang sangat antusias untuk menonton meskipun hujan sempat mengguyur Kota Pontianak. Penilaian yang dilakukan oleh tiga juri yang berasal dari Dinas sosial, Dinas Pariwisata dan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) akhirnya mengantarkan Tim Keraton menjadi juara pertama yang menampilakan sampan Lancang Kuning beserta prajurit, diikuti oleh Tim Beting Permai sebagai juara dua dan Tim Tanjung Permai sebagai juara tiga. Banyaknya pengunjung membuat Maman Bangsawan selaku panitia pelaksana berharap kedepannya banyak warga turut serta dalam perlombaan ini (Sabda,25/10).
aksi peserta lomba perahu hias (photo : sabda)
antusias penonton menyaksikan lomba perahu hias (photo : sabda)
keindahan menjadi aspek pertama yang ditunjukan peserta lomba (photo : ian imaru)
salah satu penampilan peserta lomba menggunakan pakaian telok belangak (photo : sabda)
tugu katulistiwa tidak luput menjadi konsep mengikuti lomba perahu hias (photo : ian imaru)
Peserta lomba sedang menunggu hasil lomba di Waterfront taman Alun-Alun Kapuas (photo : Sabda)
Lomba Syair dan Berbalas Pantun
Masih dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kota Pontianak yang ke 238, Rabu (21/10) Lomba Syair dan Berbalas Pantun digelar di Gedung Pontianak Convention Centre, Jalan Sultan Syarif Abdurrachman, Pontanak.
Melalui lomba syair dan pantun diharapkan dapat melestarikan budaya Melayu Kota Pontianak. Selain lomba, salah satu cara yang sangat mungkin dilakukan adalah membangun pendidikan formal maupun non formal seni dan budaya untuk siswa-siswi di sekolah. (mumu/22/10)
Kualitas suara, artikulasi, intonasi, penjiwaan isi syair, busana dan tata tertib adalah kriteria yang harus dimiliki pemenang lomba syair. (Foto : Ianimaru)
Peserta lomba berbalas pantun hanya diikuti oleh SMA Negeri 1 Pontianak dan SMA Negeri 3 Pontianak. (Foto : Q-Noi)

Syair dan berbalas pantun juga menjadi suguhan di acara Festival Bumi Khatulistiwa yang akan diselenggarakan pada tanggal 11 November 2009. (Foto : Tri Anto)
BUJANG DARE PONTIANAK 2009
Pontianak BoP. Senin (19/10) Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kota Pontianak yang ke 238, pemilihan Bujang Dare Pontianak digelar di Gedung Pontianak Convention Centre di Jalan Sultan Syarif Abdurachman.
Peserta terdiri dari 17 Bujang dan 23 Dare. Kriteria pemilihan meliputi etika, kepribadian, bahasa Inggris, pengetahuan umum, pariwisata dan budaya. “Bujang Dare yang terpilih tahun ini harus mampu mempromosikan budaya dan objek-objek pariwisata yang ada di Kota Pontianak,” ujar Ir. Sunarto selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Pontianak. (mumu/20/10)
Penyerahan mahkota kepada Rina Kurnia Bakti yang terpilih sebagai Dare Pontianak 2009 (Foto : Ianimaru)
Syarif Alwi Almutahar juara I Bujang Pontianak, juara II jatuh pada Firmansyah, Frans Ajie M.A juara III, Dance Frans unggul di kategori Fotogenic. Rina Kurnia Bakti juara I Dare Pontianak, Rizka A. Edmanda sebagai juara II, juara ke III Dare berhasil dipangku oleh Ira Citra Dewi dan fotogenic Dare disandang oleh Siti Dexara Hachika (Foto : Ianimaru)
Penampilan secara keseluruhan, make up dan penguasaan panggung modal utama peserta untuk mencuri perhatian juri. (Foto : Q-Noi)
Suasana Gedung Pontianak Convention Centre saat Pemilihan Bujang Dare Pontianak 2009 sedang berlangsung. (Foto : Sabda Agung)
Sanggar Seni Akutansi menampilkan tarian sesembahan untuk menyambut para tamu. (Foto : Cholid Nugraha)
Mengemban tanggung jawab mempromosikan budaya dan objek-objek pariwisata yang ada di Kota Pontianak. (Foto : Cholid Nugraha)
Santai Sore di Taman Alun-alun Kapuas
Tempat bersantai,menghilangkan penat,atau sekedar menghabiskan sore di pinggiran sungai kapuas. Bermacam ragam jajanan murah,baju,permainan bagi anak-anak dsb.( Photo : Zeinur,M, Pontianak 2009 )
Penggalangan Dana Untuk Korban Bencana Alam
BoP Pontianak. Jumat (16/10) beberapa komunitas seni menyelenggarakan acara yang bertajuk Malam Solidaritas Peduli Gempa Padang di Gedung Teater Taman Budaya, Jalan Ahmad Yani, Pontianak. Acara ini bertujuan untuk menggalang dana bagi korban gempa bumi di Padang, Sumatera Barat dan korban puting beliung di Pontianak.
Terdapat 4 posko yang akan menjadi penyalur dana yaitu Sumatera Bangkit (bertempat di Bundaran Digulis), Forum Masyarakat Teater, sumbangan dari sanggar-sanggar sekolah. dan KBM STAIN.
“Acara yang diselanggarakan ini guna menggugah Pemerintah terhadap bencana-bencana yang sudah terjadi di berbagai daerah,” ujar Anton ketua panitia.
Bagi masyarakat yang ingin membantu saudara-sudara kita yang tertimpa musibah bisa menghubungi nomor Anton di 081345953037. (Eko Suryanto Daulay/16/10)


