Bookmark and Share

Pantai Batu Payung 18.10 wib

Batu_Payung_18.10.JPG

Pantai Batu Payung 18.10 wib (photo : fakhrozi daeriza,singkawang,2009)

Si Merah lahap 9 ruko

100_4137.JPGAksi si merah kembali terjadi di Jalan Drs. Sudarso tepatnya di komplek ruko bekas Terminal Sudarso. 9 ruko dinyatakan habis terbakar. (Photo : Triyanto, 2009)

Jejak Sejarah

100_3957.JPGJejak Sejarah. (Foto : Tri, Pontianak 2009)

Sintang Lautan Jilbab

jilbabku_10.JPGSintang Peringati Hari Jilbab Internasional
Sore itu tanggal 4 september 2009 kota Sintang, Kalimantan Barat dipenuhi oleh wanita-wanita muslimah berjilbab. Mereka hadir bukan hanya karena memperingati bulan suci ramadhan namun untuk memperingati pula hari jilbab internasional atau yang lebih dikenal dengan “International Hijab Solidarity”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Islam (IMI) Akademi Keperawatan Sintang ini berisi antara lain Sholat ashar berjamaah, Pawai Orasi di sepanjang jalan lintas melawi, Tausiyah,
Buka puasa, dan ditutup dengan sholat magrib berjamaah.
Menurut Suci Puji Ramdani yang dipercaya sebagai ketua panitia kegiatan Peringatan Hari Jilbab Internasional ini, tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk mengajak teman-teman dan saudara-saudara muslimah agar menggunakan jilbab, dan menggalang persatuan remaja-remaja muslim yang ada di sintang.
“Allah sudah menerangkan dalam surat Al Ahzab ayat ke 59, yang mana Allah memberikan perintah untuk wanita memakai jilbab agar jilbab itu bisa digunakan sebagai pelindung kemudian pembeda antara mana wanita yang muslimah dan mana yang bukan.
Dari segi positifnya dimana kita mensosialisasikan jilbab kepada saudari-saudari kita kemudian untuk memperingati hari jilbab internasional yang telah diperjuangkan oleh saudara-saudara kita yang ada di perancis, inggris” tutur suci ketika ditanya mengenai arti jilbab.
Acara ini dihadiri kurang lebih 700 orang peserta yang terdiri dari pelajar SMP, SMA, dan Mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Kota Sintang. Turut hadir pula dalam acara ini Sekda Kab. Sintang yang sekaligus melepas Pawai dan Orasi.
Dalam pawai orasi tersebut tampak pula di barisan depan seorang wanita berjilbab dan bercadar yang ditarik dengan rantai oleh seorang lelaki, menurut suci hal itu menyimbolkan ketidakberdayaan seorang pelajar yang belajar di suatu negara yang mana di negara tersebut melarang adanya penggunaan simbol-simbol keagamaan sehingga diadakanlah suatu konferensi yang diadakan di London sehingga tercetuslah bahwa tanggal 4 september sebagai hari jilbab internasional.

jilbabku_11.JPG

Sore itu tanggal 4 september 2009 kota Sintang, Kalimantan Barat dipenuhi oleh wanita-wanita muslimah berjilbab. Mereka hadir bukan hanya karena memperingati bulan suci ramadhan namun untuk memperingati pula hari jilbab internasional atau yang lebih dikenal dengan “International Hijab Solidarity”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Islam (IMI) Akademi Keperawatan Sintang ini berisi antara lain Sholat ashar berjamaah, Pawai Orasi di sepanjang jalan lintas melawi, Tausiyah, Buka puasa, dan ditutup dengan sholat magrib berjamaah.

jilbabku_9.JPG

Panitia kegiatan tengah memeriksa jumlah peserta (Foto: Dian Prawira)

jilbabku_1.jpg

Barisan Jilbab (Foto: Dian Prawira)

Menurut Suci Puji Ramdani yang dipercaya sebagai ketua panitia kegiatan Peringatan Hari Jilbab Internasional ini, tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk mengajak teman-teman dan saudara-saudara muslimah agar menggunakan jilbab, dan menggalang persatuan remaja-remaja muslim yang ada di sintang.

jilbabku_10.JPG

Kiri: Jilbab itu... (Foto: Iip Yulfahmi); Kanan: Bukan Topeng Dosa (Foto: Dian Prawira)

jilbabku_2.jpg

Tak Akan Luntur dan Hancur Meski digempur (Foto: Iip Yulfahmi)

“Allah sudah menerangkan dalam surat Al Ahzab ayat ke 59, yang mana Allah memberikan perintah untuk wanita memakai jilbab agar jilbab itu bisa digunakan sebagai pelindung kemudian pembeda antara mana wanita yang muslimah dan mana yang bukan. Dari segi positifnya dimana kita mensosialisasikan jilbab kepada saudari-saudari kita kemudian untuk memperingati hari jilbab internasional yang telah diperjuangkan oleh saudara-saudara kita yang ada di perancis, inggris” tutur suci ketika ditanya mengenai arti jilbab.

jilbabku_3.jpg

Lautan Jilbab (Foto: Iip Yulfahmi)

jilbabku_8.JPG

Jilbab-jilbab putih (Foto: Dian Prawira)

Acara ini dihadiri kurang lebih 700 orang peserta yang terdiri dari pelajar SMP, SMA, dan Mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Kota Sintang. Turut hadir pula dalam acara ini Sekda Kab. Sintang yang sekaligus melepas Pawai dan Orasi.

jilbabku_12.JPG

Mengapa (Foto: Dian Prawira)

jilbabku_7.JPG

Di Sini Aku Menjadi Saksi (Foto: Dian Prawira)

jilbabku_6.jpg

Yang Terbelenggu--Sebuah Aksi yang menyimbolkan ketidakberdayaan seorang pelajar yang belajar di suatu negara yang mana di negara tersebut melarang adanya penggunaan simbol-simbol keagamaan (Foto: Dian Prawira)

jilbabku_4.jpg

Peserta Aksi Teatrikal Yang Ditarik Sepanjang Jalan Lintas Melawi (Foto: Iip Yulfahmi)

Dalam pawai orasi tersebut tampak pula di barisan depan seorang wanita berjilbab dan bercadar yang ditarik dengan rantai oleh seorang lelaki, menurut Suci hal itu menyimbolkan ketidakberdayaan seorang pelajar yang belajar di suatu negara yang mana di negara tersebut melarang adanya penggunaan simbol-simbol keagamaan sehingga diadakanlah suatu konferensi yang diadakan di London sehingga tercetuslah bahwa tanggal 4 september sebagai hari jilbab internasional, sebab tidak ada satupun perusahaan, instansi, baik swasta maupun negeri yang berhak melarang seorang muslimah untuk tetap mengenakan jilbabnya.

(D!@N,04/09/2009)

Singkawang Berjuadah

Singkawang, BoP. Munculnya juadah memang telah menjadi sebuah tradisi  di setiap Bulan Ramadhan. Momen ini tentu saja dimanfaatkan oleh banyak pedagang kue dan minuman tradisional untuk menggelar dagangan mereka. Korket, es kelapa, risoles, lemper, bingke, ayam dan ikan bakar dan masih banyak lagi panganan yang ditawarkan oleh pedagang. Karena pilihan yang ditawarkan memang banyak, kita dapat memilih panganan atau minuman jenis apa saja untuk disantap saat berbuka puasa bersama keluarga di rumah.

DSC_1634.jpg

Masyarakat kota Singkawang yang membanjiri pasar juadah. (foto : Eko Daulay)

Kita dapat menemui area juadah di kawasan Jalan Merdeka dan Jalan Mesjid, Singkawang. Kawasan ini mulai dikunjungi pembeli sekitar pukul 16.30 dan puncak keramaian sekitar pukul 17.30. Untuk menertibkan dan menjaga lancarnya lalu lintas di kawasan ini, beberapa Polisi terlihat berjaga di depan Mesjid Raya.

Sayangnya, kawasan juadah ini kurang dikelola secara baik. Meski terlihat lumayan bersih, tetapi tidak demikian di sektor lalu lintas. Para pembeli masih banyak yang memarkirkan sepeda motornya tepat di depan kios-kios juadah yang memang berdiri di dua sisi jalan. Arus lalu lintas dirasakan cukup terganggu di kondisi seperti itu.

DSC_1641.jpg

Perlu disediakan tempat parkir. (Foto : Eko Daulay)

Alangkah baiknya jika pihak-pihak yang terkait dapat menyediakan tempat parkir untuk pelanggan juadah. Selain dapat memberikan rasa aman bagi pemilik kendaraan, dan tentu saja ketertiban di jalan raya tidak terganggu. (Mumu 4/9/09)

Buka Puasa Dengan Botok Mini (BONI)

Menjelang berbuka puasa, warga Pontianak memadati Taman Alun Kapuas untuk berbelanja keperluan berbuka puasa. Di antara sekian banyak pilihan yang di tersedia di tempat ini, kita dapat menemui salah satu jenis makanan unik yaitu botok mini (boni).

Disebut Botok mini karena bentuknya yang mungil.  Makanan ini memang cukup menggugah selera karena rasanyayang  sangat khas Pontianak, yaitu antara manis, pedas, asin, gurih dan sedikit rasa pahit. Semuanya menyatu menjadi sentuhan rasa yang enak.

100_4011.JPG

Hanya di temui di bulan Ramadhan, menjelang Idul Fitri dan Idul Adha. (Foto oleh : Tri)

Tidak hanya rasa yang menjadi daya tarik. Menurut kepercayaan masyarakat, boni berkhasiat mengobati maag dan darah tinggi. Makanan ini bisa dibilang hampir punah. Sebab bahannya  mulai sulit ditemukan seperti daun mengkudu, daun simpur, daun salam dan daun kunyit. Sedangkan untuk kelapa,  rempah, cumi, ikan tenggiri, pedak kembung dan santan kelapa masih bisa ditemukan dengan mudah. Dikarenakan  sulitnya mencari sebagian bahan tersebut, kini para pedagang  hanya menjual boni pada saat-saat tertentu saja seperti bulan Ramadhan, menjelang Idul Fitri dan Idul Adha.

Ernita, salah seorang pedagang boni mengatakan, untuk membuat boni harus mempunyai keahlian khusus dan kesabaran. Sehingga hasilnya betul-betul sempurna. Selain harus memberikan ramuan bumbu yang pas,  juga dibutuhkan kesabaran dalam pembuatannya. Dari meracik bumbu, mengikat dan merebus.

DSC_1459.JPG

Salah seorang warga Pontianak yang tengah bertransaksi membeli boni. (Foto : Eko Daulay)

“Untuk merebus Boni  butuh waktu sekitar dua jam. Karena kalau cuma sebentar, rasanya jadi kurang enak. Untuk mencampurkan kelapa dan rempah harus pas. Jangan sampai isi didalamnya ada yang keluar. Kesabaran juga menjadi satu hal yang sangat penting,” tutur Ernita.

Harga yang ditawarkan juga tidak mahal. Tergantung dari rasa dan isi botok.  Harga boni berkisar dari Rp 1000.00 hingga Rp 2500.00. Boni sangat wajib dicoba bagi anda yang gemar akan wisata kuliner lokal.  (Tri Yanto/4/9/09)

Pengenalan Kampus Bagi Mahasiswa Baru

DSC_0019.JPG
Gedung Ampli Teater Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura di padati oleh mahasiswa-mahasiswi baru dalam rangka pengenalan dunia kampus (Foto : Sabda Agung/31/08/09)

Sahur Murah ala Mahasiswa

Pukul 2.30 pagi, Ibu Sehrah terlihat sibuk menyiapkan makanan. Beberapa piring dilap dan kemudian disusun rapi di atas meja. Berbagai macam hidangan juga telah tersaji dengan berbagai macam pilihan.

DSC_0272.jpg

Ibu Sehrah sedang melayani sahur mahasiswa (foto oleh : mumu)

DSC_0287.jpg

Mahasiswa yang sedang sahur (foto oleh : mumu)

Terlihat beberapa pembeli mulai berdatangan ke rumah makan Ibu Sehrah. Beberapa pembeli ini adalah mahasiswa yang indekos di Jalan Sepakat II, AYani.

Didirikan sekitar 3 tahun yang lalu Ibu Sehrah menjual berbagai makanan murah yang pada umumnya memang di khususkan untuk mahasiswa-mahasiswi yang indekos di sekitar Universitas Tanjungpura.

Pada bulan Ramadahan ini merupakan suatu berkah bagi Ibu Sehrah karena biasanya keuntungan yang dihasilkan dari  rumah makan miliknya lebih besar.

“Alhamdulillah, keuntungan di bulan puasa ini rata-rata 300 ribu/hari,” ujarnya sambil melayani mahasiwa yang mulai memadati rumah makan beliau.

DSC_0271.jpg

Mahasiswi yang sedang memilih menu makanan ( foto oleh : mumu)

Adapun porsi makanan juga disiapkan lebih banyak. Selain itu menu makanan juga berbeda. Pada waktu berbuka puasa, menu yang biasa dijadikan pilihan adalah  nasi, sayur kacang, sayur nangka, ikan goreng, sop dan sayur asam Sedangkan menu yang disuguhkan pada saat sahur adalah tumis kangkung, mie goreng, telur  dadar, telur asin, ayam dan ikan tongkol goreng. Khusus di bulan Ramadhan, Ibu Sehrah menggelar dagangannya pada sore hari menjelang berbuka puasa hingga berakhir masa sahur.

Untuk minuman Ibu Sehrah memberikan air putih es gratis bagi pembeli di rumah makannya.

“Murah dan enak,” ujar Ardi 22 tahun mahasiswa Universitas Muhammadiyah Pontianak.yang saat itu tengah menyantap sahur bersama teman-temannya. Senada dengan Ibnu, mahasiswa STKIP Pontianak mengatakan, menu makanan yang disiapkan juga bervariasi dan masih hangat dan sesuai dengan kocek mahasiswa. (Zeinur, M/4/09/2009)

DSC_0206.jpg

Murah, meriah dan nikmat (foto oleh : mumu)

« Previous Page