TPS Liar

Rabu (23/9). Kotor dan kumuh, sebagian ruas jalan arteri dari Jalan A. Yani II menuju Jembatan Kapuas II di Kabupaten Kubu Raya ini dipenuhi tumpukan sampah. Perlu perhatian dan pengawasan pihak terkait agar hal ini tidak terus menerus terjadi. (photo: Ande Anjang, 2009)
Rem Blong, Bis Naik Trotoar
Posisi Bis yang berhenti di trotoar pembatas jalan(photo: Sabda Agung, Yogyakarta, 2009)
Yogyakarta, BoP. Selasa (22/9), Terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Yogya-Solo. Dikarenakan rem blong, Bis mini dengan jumlah penumpang kurang lebih 25 orang berhenti dengan cara naik ke trotoar pembatas jalan. Dalam musibah ini tidak terdapat korban jiwa namun terdapat 1 korban luka ringan.(Photo: Sabda Agung, 2009)
tampak beberapa penumpang bis yang telah turun (photo: Sabda Agung, Yogyakarta, 2009)
Nanggok Malam Takbiran

Nanggo’, itulah salah satu bahasa Pontianak asli yang artinya menyaring dalam hal ini adalah menyaring uang atau salam tempel yang biasanya dilakukan oleh anak-anak di Pontianak pada saat malam menyambut hari perayaan umat Islam baik itu hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.(photo: Eko Suryanto Daulay, Pontianak, 2009)
Sholat Idul Fitri 1430 Hijriah
Kembali ke fitrah. Sebulan lamanya umat muslim melaksanakan ibadah puasa. Kini tibalah waktu yang ditunggu-tunggu yaitu hari Raya Idul fitri. Sholat Ied pun di laksanakan di banyak tempat. Berikut beberapa foto yang berhasil di tangkap oleh mata lensa Borneo Photography.
Beramai ramai Sholat Ied di Masjid Jami’
Idul fitri menjadi salah satu perayaan yang meriah bagi umat Islam khususnya di kota Pontianak, tak terkecuali di wilayah Pontianak Timur atau yang sering disebut ‘seberang’. Masjid Sultan Syarif Abdurrhaman (masjid Jami) ini menjadi pusat sholat Ied bagi warga Pontianak Timur tesebut terlebih lagi bagi mereka yang memiliki ikatan kuat akan masjid tertua di Pontianak itu.
parkir kendaraan membawa rejeki bagi warga setempat
Ratusan bahkan hampir ribuan masyarakat berdatangan, hingga ruangan yang disediakan masjid pun sangatlah kurang. Sehingga warga tumpah ruah ke halaman masjid sampai di pinggiran sungai Kapuas, bahkan ada anak-anak yang sholat di atas sebuah sampan.

warga berbondong-bondong memasuki wilayah halaman masjid

didepan sungai mereka sholat

sampan pun dijadikan tempat sholat
Pukul 06.45 tepat sholat Ied berjamaah dilaksanakan, setelah itu barulah ditutup dengan Khutbah (ceramah) yang berisikan makna kehidupan seseorang / manusia di dalam bulan Ramadhan.

sebagian warga memakai jasa kapal motor untuk pergi maupun pulang dari sholat Ied
Namun sangat disesalkan sampah koran yang dibawa warga guna dijadikan alas sajadah tersebut berhamburan setelah usainya sholat Ied. Beruntung masih ada orang yang mau peduli akan sampah koran tersebut, bu Sadiah namanya. Wanita yang berumur lebih dari 60 tahun ini mengumpulkan koran-koran bekas tersebut untuk dijadikan rupiah yang akan dijualnya di pasar Flamboyan sebesar Rp 600 per kilo. (Eko Suryanto Daulay/20/09).

ibu Saidah memungut koran bekas
Meriam 2009

(18/09) salah satu warga melakukan tes membunyikan meriam karbit untuk menyambut malam lebaran (photo: Apryandani, Pontianak, 2009)
DUG…DUG…BEDUG

Tabuh bedug, jumat malam (18/09) untuk menyambut hari kemenangan umat Islam, yaitu Hari Raya Idul Fitri salah satu kawasan pertokoan modern di Pontianak ini menyelenggarakan tabuh bedug. (Foto : Eko suryanto Daulay)
KETUPAT DATANG LAGI
Pontianak, BoP. Kita semua pasti tau banget sama jenis makanan yang satu ini. Meski begitu, salah satu makanan tradisionil Indonesia ini marak kita jumpai hanya pada hari-hari menjelang lebaran aja. Para pembaca yang budiman dan budiwati, let’s say hallo to ketupat.
Jika kebetulan anda melewati kawasan Sungai Jawi, anda pasti setuju jika kawasan ini menjadi pilihan pertama warga Pontianak yang ingin membeli ketupat.
Karena harga langsat yang semakin mahal, akhirnya Pak Ujang beralih menjual ketupat. Bapak asli Sunda ini sangat mahir menganyam daun kelapa menjadi ketupat. “Yang ngajarin mah orang tua saya,” ujarnya sambil khusu’ menganyam ketupat. Ternyata Pak Ujang baru hari ini menggelar dagangannya. “Abis Jum’atan, saya langsung jualan. Jadi baru inilah saya jualan ketupat.”
Bu Aisyah, warga Gang Kurnia II, Jeruju membandrol Rp 10.000.00 per 1 ikat ketupat. (Dalam 1 ikat, tersedia 10 buah ketupat yang siap pakai) “Pendapatan saya nggak tentu, kadang-kadang bisa dapat Rp 60.000.00 per hari, kadang-kadang juga nggak nyampe segitu,” terangnya. Bu Aisyah bersama seorang keponakannya baru berjualan 3 hari. mulai jam 6 pagi, hingga jam 5 sore.
Lain lagi dengan Ibu Maria. Ibu yang tinggal di Kakap ini ternyata lebih senior dibanding Pak Ujang dan Bu Aisyah. “Saye jualan ketupat dah belasan taon, dek. Tiap taon saye memang jualan di sinek,” terang Bu Maria dengan gaya bicaranya yang cepat dan khas Melayu buangeett.
Bulan Ramadhan emang banyak ‘ndatangin berkah bagi kita semua. Siapa pun anda, apa pun pangkatnya, anak pejabat mana pun anda, sempatkan sedikit waktu dalam hidup ini untuk mengucap kata syukur. Kita memang wajib bersyukur karena udah di temuin lagi sama Bulan Ramadhan dan Insya Allah Hari Raya Idul Fitri dan ketupat tentu saja. (mumu/18/09)
Kue Lebaran
Menjelang lebaran, agenda kaum ibu dan remaja putri memang nggak jauh-jauh dari kegiatan meramu telur, terigu dan gula pasir guna di jadikan kue. (Foto : Sabda Agung, 2009)
Bantuan Untuk Lembaga Pendidikan Islam dan Panti Asuhan Baitul Hikmah
Kakap, BoP. Insix Community yang kali ini bekerjasama dengan Borneo Photography berkunjung ke Lembaga Pendidikan Islam dan Panti Asuhan Baitul Hikmah guna memberikan bantuan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Lembaga Pendidikan Islam dan Panti Asuhan Baitul Hikmah ini terletak di Jalan Tanggul Laut, Desa Sungai Rengas, Kecamatan Kakap, Kabupaten Pontianak dan telah berdiri sejak tahun 2007. Dan sekarang, lembaga ini tengah menampung sebanyak 3o murid dari berbagai daerah seperti Dabong, Padang Tikar, Punggur dan Suka Lanting.
Beberapa anak panti asuhan yang di tampung di Lembaga Pendidikan dan Panti Asuhan Baitul Hikmah (Foto : Sabda Agung)
Anak-anak Indonesia yang tak luput dari hak untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik. (Foto : Sabda Agung)
Setelah berbuka puasa bersama yang di teruskan dengan sholat maghrib berjama’ah, barulah di gelar penyerahan bantuan secara simbolis. “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada kakak-kakak dan abang-abang yang telah datang dan memberikan bantuan kepada kami,” ujar salah satu murid.
“Sebelum memberikan bantuan, kami memang mengadakan riset untuk mencari tempat yang benar-benar berhak mendapat bantuan. lihat saja sekolahnya. Sangat memprihatinkan bukan?” terang Solihin, juru bicara Insix Community. Bantuan yang di serahkan berupa uang sebesar Rp 400.000.00, 25 Kg beras, pakaian layak pakai 2 dus dan mi instan sebanyak 8 dus. Menurut Solihin, Insya Allah agenda sosial seperti ini bisa terus di lakukan di luar bulan Ramadhan. (mumu/15/09)
Salah satu kelas yang ada di Lembaga Pendidikan Islam dan Panti Asuhan Baitul Hikmah (Foto : Sabda Agung)
Belanja Menyambut Lebaran
Pontianak, BoP. Berbelanja menjelang lebaran memang telah menjadi tradisi bagi orang-orang Indonesia. Tidak terkecuali dengan warga Pontianak. Minggu (13/09), masyarakat berbondong-bondong membanjiri sebuah kawasan perbelanjaan di Jalan Diponegoro. Sesak, padat dan panas tak menyurutkan semangat ribuan masyarakat yang datang dari berbagai belahan Pontianak untuk berbelanja.

suasana pusat perbelanjaan di jalan Diponegoro, Sudirman, dan Kapuas Besar (photo: Qnoy, Eko Suryanto Daulay, 2009)
Pakaian, sendal, sepatu dan tas tentu saja menjadi incaran mereka. Karena hari Minggu, banyak pembeli yang membawa isteri dan anak-anak mereka ikut serta. Belum lagi anak-anak remaja yang datang secara berkelompok praktis membuat area perbelanjaan ini padat! Bagi yang pernah ada di sana, tentu saja tulisan ini tidak bisa di anggap berlebihan dan layak di percaya.
“Omset menjelang lebaran khusus hari Sabtu sama Minggu melambung! Hahaha…”terang putri, salah satu pedagang pakaian. Harga yang di patoknya pun tidak mengalami perubahan jika di bandingkan dengan hari-hari di luar Ramadhan. Pelanggan tetap di diskon 20% dan 50 % untuk pakaian obralan.
“Kalo lagi sepi, biasa dapat 1 Juta. Tapi kalo menjelang lebaran kaya gini bisa melambung sampe 4-5 Juta,” ujar cewek ramah ini. Selama 4 tahun berdagang, Putri selalu mendatangkan pakaian dari Jakarta. “Barang-barang yang di jual di sini, di datangkan dari Mangga Dua, dan Cempaka Putih.
Di lain pihak pedagang rata-rata mendapat omset yang tinggi, lain lagi dengan konsumen. Ibu As, warga gang Belibis bisa menghabiskan dana sebesar Rp 500.000.00 untuk sekali belanja. Noris, warga Siantan yang namanya terdaftar di STKIP sebagai mahasiswa mengaku bahwa, harga-harga yang di tawarkan di pusat perbelanjaan Jalan Diponegoro ini masih bisa terjangkau. “Cuma yang nggak enaknya, di sini terlalu padat,” ujar Noris.
Masih disekitar pusat perbelanjaan di jalan Diponegoro, Mahmud, seorang penjual peci menjajakan bermacam-macam model peci mulai dari model sablon, batik, hingga model maliki. Peci-peci tersebut ditawarkan mulai dari Rp 5.000.00 hingga Rp 25.000.00. Rata-rata peci-peci tersebut diambil dari penjual grosir yang ada di Kota Pontianak. ” tapi bang, dari 4 bulan puase yang saye dah jualan ni, puase taon ni la bang yang agak menuron penjualan ni bang.” ujar Mahmud.

Mahmud saat mencobakan ukuran peci yang akan dibeli konsumennya, Ragam peci-peci yang dijual oleh Mahmud (photo: ande anjang, Qnoy, 2009)
Sementara itu, suasana ramai, sesak dan padat juga melanda kawasan Pasar Sudirman. Pengguna-pengguna sepeda motor terpaksa harus mengantri hanya untuk melewati sebuah jalan yang saat itu kebetulan kami lewati. Secara jalannya kecil, sebagian malah “di makan” untuk di jadikan lahan parkir sepeda motor. Di tambah lagi ribuan orang yang sibuk wira-wiri berbelanja untuk keperluan lebaran. Bagi saya pribadi, pemandangan ini terlalu kacau. Terlalu kacau untuk kota yang “katanya” BERSINAR. Sebuah lukisan yang menggambarkan pola pikir pemimpin kota ini sekaligus rakyatnya. Tidak teratur dan asal-asalan adalah budaya kita.

Suasana belanja di beberapa tempat (photo: Eko Suryanto Daulay, Mumu, 2009)
Tedi, warga Parit Pangeran, Siantan juga tidak ingin melewatkan momen menjelang lebaran ini lepas begitu aja. Bersama seorang adiknya, Tedi berjualan bunga plastik. Harga yang di bandrol berawal dari Rp 25.000.00, Rp 190.000.00 dan yang paling mahal, Rp 250.000.00
Bunga-bunga plastik tiruan bunga mawar, melati dan bunga matahari tertata rapi di tempat dagangannya. Tedi memang kerap menggelar dagangannya saban bulan Ramadhan. “Memang sengaja memanfaatkan momen ini untuk berjualan. Saye pedagang musiman Bang,” terangnya. Hasil jualan terbilang lumayan. Tedi dan adiknya dapat mengumpulkan 2 hingga 3 Juta untuk hari Sabtu dan Minggu saja dan 1,5 Juta di hari biasa.
Pakaian muslim dan perangkat sholat juga tak luput dari serbuan pembeli. “Hari Sabtu sama Minggu pembeli selalu ramai. Kita bisa tetap buka sampai jam 8 malam. Omset yang terkumpul dapat mencapai 6 sampai 7 Juta. Namanya dagang, ada enaknya, ada nggak enaknya juga. Yang enaknya kalo pembeli ramai. Yang nggak enaknya, mereka selalu menawar di bawah harga,” ujar Ozy yang bekerja di sebuah toko pakaian muslim dan perlengkapan sholat di Pasar Sudirman.
Pemandangan ramai di Pasar Sudirman ternyata tidak menular ke kawasan perbelanjaan Kapuas Besar. Di sini, toko-toko yang menyediakan pakaian, aksesoris juga sepatu terlihat sepi. Hanya ada beberapa pembeli yang tengah terlibat urusan transaksi dengan pedagang. Dan di tempat ini juga, para pembeli tidak perlu merasa sesak dan panas. Apalagi terburu-buru dan berjalan cepat demi mendapatkan pakaian yang di inginkan. Karena mereka punya waktu seharian untuk mencari pakaian yang cocok dengan santai.
Bukan Pontianak jika tidak memiliki banyak tempat untuk di jadikan pilihan berbelanja. Di Jalan Prof. M Yamin, Kota Baru, bisa kita temui beberapa tempat yang menjual pakaian lelong.
Aang, warga Pal 9 yang telah 7 tahun berjualan pakaian lelong menuturkan, pakaian lelong biasanya di beli dari agen yang ada di Sungai Jawi dan beberapa tempat lain di Pontianak.
lelong yang notabene pakaian bekas layak pakai ber-merk interlokal dengan harga lokal, dapat menghasilkan keuntungan sebesar 1 Juta per harinya. Pakaian lelong juga menarik perhatian Bani. Cewek yang berprofesi sebagai marketing di salah satu perusahaan suplemen ini paling sensi melihat gambar di kaosnya ternyata sama dengan kaos milik orang lain. “Sengaja belanja di sini biar nggak ada yang nyamain. Nggak asyik banget kalo ketemu orang yang kaosnya sama dengan kaos kita punya,” jelas Bani.
Bagi teman-teman yang punya kesamaan pikiran dengan Bani, lelong memang bisa menjadi pilihan. Gaya nggak musti harus belanja di mal atau distro yang ujung-ujungnya bikin kantong seret. Karena dengan pakaian lelong, kamu bisa tetap gaya tanpa menganiaya isi dompet. Pilih mana? Bisa gaya tapi miskin? Atau duit OK , gaya pol? (mumu/14/09)


