United

United (photo: felliandre, pontianak, 2009)
Senyum Segar

senyum segar (photo: ande anjang, pontianak, 2009)
Tim Kruiz 1 Juarai Lomba Sampan Bidar (LSB) di Sambas
SAMBAS.BoP. Tim Kruiz 1 pendayung Istana Alwatzkhubillah Sambas Desa Dalam Kaum Kecamatan Sambas berhasil keluar sebagai juara pertama pada Lomba Sampan Bidar (LSB) se Kabupaten Sambas dalam rangka memeriahkan HUT Perpindahan Ibukota Kabupaten Sambas dari Singkawang ke Sambas ke-10 dan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-64 di Sambas yang berlangsung Minggu (9/8) pagi. Kegiatan lomba yang diikuti 17 Club Sampan Bidar dilaksanakan disirkuit Muare Ulakan Warter Front City Sambas ini dibuka secara resmi oleh Bupati Sambas Ir.H.Burhanuddin A.Rasyid didampingi Ketua Umum Pengcab PODSI Kabupaten Sambas bersama Unsur yang mewakili Muspida serta beberapa Pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Sambas.

suasana pembukaan yang dibuka oleh bupati sambas (photo: suriawan, sambas , 2009)
Perlombaan yang dilaksanakan pada babak awal dengan sistim setengah kompetisi tersebut berlangsung meriah dan dipenuhi ribuan penonton dikiri-kanan sungai mengelu-elukan tim andalan mereka masing-masing, tampil sebagai Juara Pertama Tim Kruiz 1, Kedua Tim Arjuna 1 Desa Semberang, dan Ketiga Tim Kiber 1 Desa Dagang Timur, sedangkan Tim Todak 1 dan Todak 2 Dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sambas masing-masing memperoleh Juara 4 dan 5, sementara pendatang baru Tim Dayung Sekretariat Daerah Kab.Sambas yang dipimpin Drs.Sunaryo berhasil sebagai juara ke 6.
Keenam Tim yang telah menjuarai LSB ini dinyatakan telah lolos seleksi, menurut Drs. H. Dailami, M.Si. Ketua Pelaksana Lomba akan diutus mewakili Kabupaten Sambas mengikuti Kejuaraan Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) yang menurut informasi dari Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Sambas direncanakan akan dilaksanakan pada akhir Oktober 2009 mendatang. Lebih lanjut Dailami menyebutkan dalam laporannya 11 Tim lainnya yang belum beruntung masuk 6 besar tetap bisa mengikuti kejuaran LAMS atas nama klub masing-masing sebagai penantang tentunya dengan biaya masing-masing klub.
Bupati Sambas Ir.H.Burhanuddin A.Rasyid, dalam sambutan peresmian Lomba Sampan Bidar menyatakan, olahraga sebagai instrumen pembangunan dan pembentukan karakter bangsa menduduki posisi sangat penting di Negara kita tercinta ini, sehingga perlu mendapatkan perhatian dan penanganan dari semua pihak guna tercapainya tujuan pembangunan manusia seutuhnya. Olahraga menjadi alat untuk membentuk watak dan karakter yang sangat efektif untuk siap hidup dan bersaing dalam abad global sekarang ini. Olahraga juga merupakan bagian dari sistem pendidikan yang memberikan peluang berkembangnya Emotional Quotient (EQ) yang telah diyakini mempunyai pengaruh yang besar kepada keberhasilan seseorang, termasuk olahraga Lomba Sampan Bidar yang kita laksanakan pada hari ini. “Lomba Sampan Bidar termasuk sebagai salah satu Cabang Olahraga Dayung walaupun sifatnya masih tradisional namun sangat merakyat dibarbagai jenjang, mulai dari tingkat Desa, Kab/Kota, Propinsi, Nasional, Regional dan sampai ketingkat Internasional, bahkan menurut Bupati melalui event-evnt semacam ini telah banyak dilahirkan atlit-atlit handal dan berperestasi dicabang olahraga dayung, selain itu melalui event lomba sampan bidar akan dapat menjadi daya ungkit pengembangan kegiatan Pariwisata dan Budaya daerah”, tutur Bupati Sambas.

Ketua Pelaksana Lomba Sampan Bidar menyerahkan hadiah kepada para pemenang (photo: suriawan, sambas , 2009)
Selaku Ketua Pelaksana lomba, Drs.H.Dailami,M.Si yang juga Ketua Umum Pengcab PODSI Sambas mengharapkan, Lomba Sampan Bidar yang merupakan Budaya Sejarah dan sudah menjadi tradisi di Sambas patut dikembangkan sebagai pondasi sekaligus prestasi dalam Olahraga Air didaerah ini, LSB merupakan permainan rakyat yang berasaskan Adat dan Budaya sangat perlu kita lestarikan dan pertahankan bahkan kita tingkatkan diwaktu-waktu mendatang. Pada perlombaan tahun ini panitia menyediakan kepada Enam Tim Pemenang masing-masing Piala Tetap, Piagam Penghargaan dari Bupati Sambas, dan Uang Pembinaan secara total sebesar Rp.14 Juta dengan kisaran antara Rp.1 sampai Rp.4 Juta untuk setiap tingkatan juara. Selain itu Bupati Sambas juga memberikan hadiah uang tunai sebesar Rp.150.000,- setiap tim kepada 11 Tim yang ikut berlomba namun belum berhasil masuk dalam 6 besar.(Iwan,Fakhrozi,09/08/09).
Modern Dan Traditional

Modern dan Tradisional (photo: Fakhrozi, Sarawak, 2009)
Tim Dayung Istana Sambas Masih Berjaya Di Sarawak Regatta Kuching-Sarawak
Sarawak. BoP. Benar-benar tidak memperdulikan berbagai isu dan permasalahan disekelilingnya, para atlit dayung Istana Sambas 1 dan Istana Sambas 2 Kalbar mencurahkan focus perhatiannya pada pertandingan kategori SARAWAK REGATTA yang diperebutkannya di Sirkuit Tebingan Water Front City Kucing-Sarawak tgl 1-2 Agustus 2009 lalu. Dengan berbekal semangat dan mental tanding serta semangat dan mental juara yang tetap berkobar sejak meninggalkan Sambas-Kalimantan Barat Indonesia, yang menghantarkan Tim Dayung Istana Sambas 1 dan Istana Sambas 2 berhasil meraih Juara 1 dan Juara 3 Kategori Pendayung 15 Perahu Kenyalang Pelancong Terbuka dan Juara 1 dan Juara 3 Kategori Pendayung 20 Perahu Kenyalang Antar Bangsa serta keluar sebagai Juara 1 dan Juara 2 Kategori Pendayung 20 Perahu Kenyalang Antar Bangsa Final setelah menyisihkan lawan Tim Tangguh dari Negaranya sendiri yaitu Tim Lams Pertamina dan Lams Ketapang sebagai Juara 2 dan Juara 4 diajang lomba sampan bidar SARAWAK REGATTA Lewat keberhasilan ini, membuat nama Indonesia dikompetisi “Sarawak Regatta 2009” kembali berkibar seperti Tahun-tahun lalu (2006-2008).
"Tim Dayung Istana Sambas sesaat setelah masuk Finish" (Photo : Fakhrozi, Sarawak 2009)
Sementara di perlombaan-perlombaan local lainnya Tim Istana Sambas dengan Perahu Kuda Hitam (JANG Kampung Semarang) juga menyandang gelar Juara 1 Bidar Pendayung 30 Saringan B, Juara 1 Bidar Pendayung 20 Saringan B, Juara 1 Pendayung Balok 7 Saringan A, Juara 1 Pendayung Balok 7 Saringan B, dan Juara 1 Bidar Pendayung 20 Antar Agensi. Selain perolehan juara tersebut masih terdapat lagi 4 Kejuaraan yang di sandang oleh Tim Istana Sambas yaitu sebagai Juara 2 Pendayung Balok 7 Final, Juara 1 Bidar 30 Pendayung Perhotelan Terbuka, Juara 1 Bidar Pendayung 20 Final dan bahkan Finish di barisan terdepan Pada Kelas Bergengsi Bidar 30 Pendayung Raja Sungai yang di saksikan oleh lebih 50.000 penonton yang berada di sekitar Tebingan Kuching.

"Tim Dayung Istana Sambas membawa pulang Trophy yang mengharumkan nama Bangsa Indonesia di kancah Internasional" (Photo : Fakhrozi, Sarawak 2009)
Dari hasil selama 3 hari berlomba di kejuaraan SARAWAK REGATTA pada tanggal 31 Juli dan 1,2 Agustus Tim Dayung Istana Sambas secara keseluruhan memperoleh 16 kali Juara, meliputi 12 kali Juara 1, 2 kali Juara 2, dan 2 kali Juara 3. ini merupakan suatu perestasi yang luar biasa dan belum pernah di sandang oleh Tim Dayung Istana Sambas yang sejak Tahun 2006-2008 lalu selalu berpartisipasi pada kejuaraan ini. Tahun 2009 ini Para Pendayung menerima Trophy, Sijil juga membawa pulang Uang Tunai sejumlah RM 46.250 (Fakhrozi/04/08/09)

"Foto Bersama Tim Dayung Istana Sambas dan Tim Dayung Kuda Hitam JANG serta Official kedua Tim" (Photo : Fakhrozi, Sarawak 200)
Pengalaman Susur Sungai Ke Pedalaman Sambas
Agenda Borneo Photography kali ini banyak menorehkan kesan-kesan mendalam bagi semua anggota BoP yang mengikutinya. Mau tahu bagaimana komentar dan cerita mereka?
Cholid Nugraha.
Pengalaman hunting ke pedalaman sambas menyusuri sungai menggunakan Kapal Todak milik Dinas Kelautan dan Perikanan sangat menyenangkan. Ditambah huntingnya bersama rekan – rekan dari Borneo Photography. Walaupun yang bisa ikut hanya sekitar belasan orang saja, tetapi tidak menyurutkan niat kami untuk hunting. Selama hidup ku, baru kali ini menyusuri sungai sambas untuk hunting menggunakan kapal. Selama perjalanan, banyak sekali hal–hal menarik yang aku lihat. Mulai dari aktivitas masyarakat di pagi hari, jamban berjejer sampai dengan pemandangan alam yang indah yaitu Gunung Senujoh. Dibalik kesenangan ini, juga terdapat hal yang tidak menyenangkan. Pada saat di perjalanan menyusuri sungai, tiba2 kapal yang kami tumpangi ada sedikit masalah, sehingga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana. Untuk keseluruhan, Hunting ke pedalaman sambas Top Banget. Nyesal deh bagi yang tidak ikut. Salam BOP…!
Anton Kopisiti
Dari awal udah niat pergi, walaupun harus ijin dari kantor untuk kerja setengah hari. Begitu agenda ini tercetus, awalnya saya ragu. Karena tugas masih menumpuk di kantor. Tapi ujung-ujungnya pergi juga meski tidak bersama yang lain. Saya baru bisa menyusul pada sore harinya. Sekedar info nih, baru kali ini saya menunggangi motor selama 6 jam dari Pontianak menuju Sambas. Alhamdulillah tiba dengan selamat dan kegiatan yang dijalankan sangat berkesan. Ternyata Sambas memiliki potensi yang sangat luar biasa. Khususnya Gunung Senujoh yang menjadi tujuan kami.
Ianimaru
Akhirnya kami tiba di Sambas!!! Sebuah kota di ujung utara Kalimantan Barat. Sebelas tahun yang lalu adalah kali terakhir saya menginjakkan kaki di Sambas. Walaupun sedikit berbeda dengan sebelas tahun yang lalu, Kota Sambas tetap menyimpan beragam keunikan. Apalagi keunikan kehidupan di tepi sungai, yang kali ini menjadi misi saya untuk kembali ke Kota Sambas. Beruntungnya saya dapat menikmati kehidupan di tepian sungai. Dimulai dari Muara Ulakan, Istana Alwatzikhoebillah sampai ke Desa Semanga’ dan akhirnya melewati Gunung Senujoh. Benar-benar pemandangan yang masih alami yang tidak akan ditemukan setiap hari dant tidak akan terlupakan. Saat matahari mulai meninggi, kami pun beranjak pulang ke Muara Ulakan. Akhir kata, SAMBASSSS TOPPP BANGETTTZ..ZZZ…..!!!
Eko DAULAY
Bicara tentang Sambas, yang terlintas dikepala saya adalah jeruk. Berawal dari itu juga saya sangat terpikat untuk pergi ke sebuah kota di ujung Kal-Bar tersebut. Kebetulan saya sendiri bukan orang asli Kal-Bar yang yang terobsesi yang mengelilingi provinsi ini suatu hari nanti. Dengan modal hobii fotografi, ditambah lagi dengan saya bernaung di BoP yang mudah-mudahan bisa menjadi jalan menuju obsesi saya tersebut. Berawal dari rasa kecewa saya yang gagal hunting ke Ketapang, tidak membuat Borneo Photography berdiam diri. Kali ini kami memutuskan untuk pergi ke pedalaman Sambas, dan hal ini membuat saya bersemangat kembali. Setelah menempuh perjalanan darat lebih kurang 6 jam, akhirnya kami tiba di Sambas dan saya tidak merasa capek sama sekali. Terlebih lagi saat kami menyusuri sungai Sambas dengan menggunakan KM. Todak 01. Sungai, gertak, rumah Lanting, orang memancing dan anak-anak kecil yang berenang adalah pemandangan yang kami dapatkan dalam agenda “Susur sungai ke pedalaman Sambas”. Ada satu hal yang membuat mata hati ini berbicara dan bersyukur akan keindahan dan eksotisme panorama yang Tuhan berikan, yaitu Gunung Senujoh (kata Senujoh berasal dari kata tujuh). Asri, magis dan imajinasi berpadu di indera penglihatan saya yang akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan tentang asal usul gunung yang satu ini. Saya sangat terkesima dengan cerita yang diberikan oleh Bapak Arifuddin selaku Kepala Desa Semanga’. Takjub, satu kata ini cukup menggambarkan pengalaman saya dalam menyusuri pedalaman Sambas. Ternyata selain jeruk, Sambas masih menyimpan potensi wisata alam yang masih terjaga keasliannya. Ditambah lagi aktivitas warga disepanjang sungai. Benar-benar rugi bagi member Borneo Photography yang tidak turut serta. Menyedihkan………!
Mumu
Ini hunting luar kota pertama saya bareng BoP. Awesome!!! So excited and more than we expected!!! Capek, bokong panas dan ngantuk selama diperjalanan nggak jadi trouble. Terima kasih banyak atas sambutan dari Drs. Dailami MSi sekeluarga, Suriawan dan teman-teman dari Pramuka Saka Bahari Sambas. Buat Bapak / Ibu yang berada di dinas terkait, kita punya potensi maju di sektor pariwisata lho. Hingga tulisan ini anda baca, saya masih ingat dengan kegiatan-kegiatan kami di Sambas, Gunung Senujoh, masyarakat Desa Semanga’, pengrajin kain tenun Sambas di desa Jirak, kejadian-kejadian di hotel, bikin foto narsis di jembatan, nongkrong di warkop depan hotel, and many more. Sayangnya kita cuma tiga hari di Sambas. Coba kalau tiga minggu, bakal kita kupas habis Sambas dari hilir sampai ke hulunya. Biar kayak National Geographic Adventure gitu. Borneo Photography = kick ass!!!
Nabila
Kali ini kami mendapat kesempatan menelusuri Sungai Sambas. Ketika embun pagi masih menyelimuti perairan, kami pun langsung berangkat. Tak hanya melihat-lihat, kami juga mengabadikan pemandangan-pemandangan yang tersaji di tepian sungai.
Dengan menggunakan KM TODAK 01 milik Dinas Perikanan dan Kelautan Sambas, kami memasuki daerah pedalaman. Saya dan teman-teman BoP yang lain sungguh terkesan dengan kegiatan-kegiatan masyarakat yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah kami temui di Pontianak. Petani, nelayan, dan pengrajin kain tenun Sambas.
Disini kami juga terkesima akan cagar budaya Kalimantan Barat yang sangat beragam. Masyarakat di pedalaman Sambas mayoritas masih menggunakan sampan, speed boat, dan kapal motor sebagai sarana transportasi utama untuk berangkat ke sekolah dan bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Solidaritas mereka juga sangat tinggi. Terbukti dengan ditunjukkannya sikap ramah-tamah yang hangat menyapa kami.
Ridwan
Udara yang segar, pagi yang cerah dan ditemani dinginnya udara pagi menambah rasa kantuk saya. Tapi petualangan adalah petualangan. Hal inilah yang memacu saya untuk memompakan darah ke seluruh tubuh agar lebih bersemangat. Pedalaman Sambas…yang terlintas di kepala saya adalah, tempatnya indah, sejuk, sederhana, dan bla…bla…
Ada lima poin yang ingin saya ceritakan disini. Lima poin yang seru.
Pertama. Istana Alwatzikhoebillah Sambas terlihat begitu menyilaukan. Karena tepat di belakang istana, matahari memancarkan sinar kehidupannya. Keren!!! Seperti di film-film. Bedanya di film-film itu hanya fiksi. Tapi Borneo Photography Susur Sungai ke Pedalaman Sambas IS REAL!!!
Kedua. Melihat gertak/jembatan Sabbo’. Dulunya jembatan ini pernah hancur karena dihantam rumah lanting dari Simbarang. Urang Sabbo’ kebabangan. Nak bejalan kepayahan. Kini jembatan Sabbo’ sudah dapat digunakan. Beberapa kendaraan terlihat sedang melintas diatasnya.
Ketiga. Jamban yang banyak terdapat di tepian sungai, merangkai nada-nada indah yang tentu saja tidak saya lewatkan untuk mengabadikannya.
Keempat. Antusias anak-anak kecil yang menyaksikan tim petualangan Borneo Photography dengan perangkatnya masing-masing. Sudah seperti artis saja. Mereka melambai-lambaikan tangan dan ada yang langsung bergaya narsis saat kami memotret mereka. Yang saya rasa aneh adlah, tak satupun saya melihat ada anak gadis disini. Dari tadi yang terlihat hanya ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak kecil yang berenang di sungai.
Kelima. Hati saya benar-benar damai dan pikiran menjadi jernih saat kami tiba di Desa Semanga’. (Meskipun sebenarnya saya sangat meras haus dan letih)
Di desa ini ibu-ibunya sangat perkasa. Mereka membelah kayu bakar dalam jumlah yang sangat banyak sambil ditemani anak-anak mereka yang masih kecil. Sekian
Qnoi
Susur sungai pedalaman sambas merupakan perjalanan terjauh saya dengan borneophotography. Kota ini sebenarnya sudah sering saya kunjungi,tetapi menyusuri sungai sambas bersama tim,sangat berkesan.Sungai yang tenang,pemukiman yang masih sederhana,serta gagahnya gunung senujoh.
Hanya keinginan yang kuat membuat kami bersama menyusuri sungai sambas,disini kami belajar untuk selalu berdampingan,berbagi,dan tertawa bersama.12-13-14 juni 2009 catatan sejarah penting tertulis dalam kertas kehidupan saya.salam bophians!!.
Abeth
Jum’at, 12 Juni 2009
09.30 WIB. Pontianak
Nabila datang jemput aku dan kami memulai perjalan menuju Sambas dengan dihiasi kemacetan. Banyak kendaraan yang memadati jalan dari segala penjuru menuju jembatan tol. Dari arah Imam Bonjol macet, dari Pasar Flamboyan macet juga. Tanjungpura juga macet. Bahkan kemacetan tersebut juga melanda Jalan A. Yani tepatnya di depan Gedung Kartini.
Ok… Lalu aku dan Nabila memutuskan untuk melewati Warkop Winnie, dan melalui Pasar Flamboyan. Menghindar dari macet, ternyata tetap juga kena macet. Biasa… Rupanya karena proyek pemkot yang tak kunjung selesai yg menyebabkan kemacetan.
Dalam perjalanan, kecepatan kami di atas 80 km. Sampai-sampai, 2 kali kami hampir aja bersilahturahmi dengan mobil dari arah berlawanan. Lagian mobil-mobil itu juga sih yg o’on. Masa mereka mau melewati kendaraan di depan mereka tanpa memperhitungkan kendaraan dari arah berlawanan.
Dari Pontianak sampai Purun Kecil, Nabila yang membawa motor dan aku navigatornya. Kami singgah di Purun Kecil untuk beli air botol 1,5 ltr. Lalu kami pergi mengisi bensin. Dari situ kami bergantian membawa motor. Selanjutnya aku yang bawa motor. Trus melewati Sungai Pinyuh, trus masuk ke Gerbang Mempawah. Horeee..
Kami udah nyampai mempawah, soalnya tinggal melewati Sungai Duri, singgah di Singkawang, langsung lanjut ke Sambas. Pas kami di Mempawah, aku sebenarnya sudah merasakan ada yang aneh dengan ban belakang…Yippieee….
Akhirnya ban motor Nabila kempes. Kecepatan motor waktu itu sekitar 70 km/jam. Untungnya di belakang kami tidak ada kendaraan. Kalau ada, kami pasti udah di tabrak dari belakang. Pupus dong goes to Sambas. Tapi keberuntungan masih di pihak kami. Syukur ban motor bocor, motor oleng, sempat berhenti di tengah jalan, untung tidak ada kendaraan dari belakang, langsung menepi. Dan… kami kebingungan mencari tampat tambal ban…
“Oiya, Nabila ingat.. Setelah Masjid, ada tambal ban. Soalnya Nabila juga pernah bocor ban di sini,” ujar Nabila.
“Rupanya Nabila sudah 2 kali bocor ban di tempat yg sama,” aku bilang gitu.
Trus motor dihidupkan dan tetap dibawa Nabila dalam keadaan ban kempes ke tempat tambal ban itu. Dan… aku… JALAN KAKI. Serasa 2 matahari diatas kepala aku.. Asli! Panas cuiii…. Kira2 jauhnya ±500 meter. Lumayan menguras keringat, hmmm… Mungkin sekitar 5 ons lah lemak aku berkurang..
hehehee. Setelah selesai ganti ban bocor, kami melanjutkan perjalanan.
Akhirnya sampai juga di Sungai Duri. Itu berarti sebentar lagi tiba Singkawang. Pas sampai gerbang SELAMAT DATANG di Singkawang, hmmmppfff… Akhirnya kami sampai juga di Singkawang.
“Bil, ada di sini yang namanya Bukit Emas, dari atas sana, kamu bisa lihat kota Singkawang. Kata kakak aku sih keren. Aku sih belum pernah ke sana. Singgah di sana yok…” ajak ku.
Motor sambil aku bawa ke arah Bukit Emas. Sampai di pertengahan jalan menanjak Bukit Emas, Nabila bilang, “
“Kenapa nggak kita sama-sama anak-anak yang lain aja? Kita tanya dulu mereka di mana,”
Ok…
Aku menelfon Bang Ae’, menanyakan mereka dimana. Lalu kami nyusul mereka di rumah makan padang. Apa ya nama jalannya…. Pokoknya, dekat kelenteng dan Masjid Raya…
Jam 3 sore lewat, kami semua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Sambas. Tapi…. Sebelumnya singgah sebentar beli kue mochi… Uuhh…. My fav….Kalau aku ke Singkawang, pasti beli si mochi… Murah lho… Rp 1000,-/pcs ![]()
Jum’at, 12 Juni 2009
18.10 WIB. Sambas, A8 dan Udang.
Perjalanan menuju Sambas, cukup membuat lelah, menguras tenaga, menguras emosi, tapi… Semuanya lenyap begitu merebahkan badan di kamar A8 Hotel Wella. Ada 4 kamar yg ditawarkan sama Ozzy…
3 diantaranya letaknya di lantai 2, sisanya di lantai 1. Sebenarnya aku tahu, Nabila cukup menyesal kenapa aku memilih di kamar A8 itu. Karna letak kamar A8 itu di bawah, mojok, gelap, lembab, dan tidak ada teman-teman lain yang di bawah. Semuanya di lantai 2. Tapi… Ternyata asyik juga di kamar A8. Walaupun kamarnya cukup lembab, tapi banyak nilai plusnya dibanding kamar teman2 yg lain di atas.
1. AC-nya berfungsi dengan sangat baik dan membuat kamar kami diiingiiinnn.
2. Tempat tidurnya empuk.
3. TV-nya jernih walaupun channelnya cuma 1 aja, karena diparalel dari depan. Tapi jauh lebih jernih donk dibanding TV di kamar Bang Ae’ yang seperti kamera LOMO! Hahahahahahha
4. Di kamar mandinya memakai bak besar. Airnya mengalir deras jika dibandingkan dengan kamar Bang Eko. Di kamar mandinya cuma memakai ember kecil dan mandinya antri.
5. Cuma aku sama Nabila yang tidur. Jadi tempat tidurnya luas banget dibanding dengan kamar Kinoy yang 1 tempat tidur berbagi dengan 3 orang! Hehehehehehe
Aku sama Nabila pikir kami tidak kemana-mana lagi setelah sampai. Jadi kami sedikit berleha-leha. Menunda mandi, memilih mengemaskan barang-barang untuk disusun di lemari pakaian. Tapiiiii…. Tok.. tok.. tok..
“Bet, Bil, cepat!… Kita ke rumah Ozzy sekarang… Makan malam di sana..!!”
“Hah????!!!! Beneran Bang…???? Iya. Tunggu bentar yaaa……!!”
“Bil…. Cepat ganti baju, cuci muka, sikat gigi, pakai bedak, pakai parfum! (baca: gak mandi) teman-teman udah nuggu kita. Nggak enak lama-lama!”
Tahu nggak??? Aku sama Nabila sama-sama tidak membawa handuk lho, hahahaha…. Udah gitu sama-sama nggak bawa sikat gigi, odol, dan sabun. Kami ke mini market depan Hotel Eella untuk membeli sikat gigi, sabun, odol, cemilan dan air minum.
Ada yang mau bertanya kami habis mandi ngelapnya pakai apa??? Hehehheee…. Pakai kain Bali punya Nabila. Syukurnya dia bawa 2 kain Bali. Jadi pas lah satu-satu, hahahahahahaaa…..
Goes to Ozzy’s home…
Yang tak pernah terlupakan di Sambas, kami dijamu rang tua Ozzy. Wowww…. Lauknya ada Sop, Ikan, dan…. UDANG…. Wuiihh… udangnya gede2…. Kapan lagi makan udang segede itu… kalau di Pontianak, tunggu ada acara keluarga besar, baru makan udang segede itu… Dapat dipastikan anak-anak BOP yang tidak ikut, NYESSEL ABISSSS!!! (dibaca : hahahahahhahaaaaaaaaa)
Habis makan di rumah Ozzy, aku, Nabila dan Bang Ae’ pulang ke Hotel Wella. Yang lainnya pergi hunting. Sesampainya di A8, aku mandi, sikat gigi, ganti baju tidur, dan… TIDUR…
Sabtu, 13 Juni 2009
05.00am. Hotel Wella, Gunung Senujoh
Tok… Tok… Tok…Entah siapa yang mengetuk pintu membangunkan aku. Trus aku membangunkan Nabila untuk segera mandi. Kami pun bergegas sarapan di depan hotel ada Warkop Wella.
Lalu kami segera pergi. Karena Ozzy sudah menunggu kami. Kalau tidak salah, kami start menggunakan kapal KM.Todak 01 sekitar jam 07.00 WIB. Waktu itu aku memakai handycam. Jujur, cukup sedih. Karna aku tidak ada kamera. Tapi perjalanan air waktu itu membuat aku cukup menghilangkan segala kepenatan. Perkampungan, jamban-jamban yg berderet, rumah lanting, dan…. GUNUNG SENUJOH!! Wooooooow!!!! Speechless dan semua orang kota pasti kagum setelah melihat pemandangan yang ajib-ajib…
Kami melewati Gunung Senujoh lalu berbalik arah, dan nyinggah di rumah Kepala Desa…. Lupa nama Desanya…
Ya di sana banyak ngobrol-ngobrol dengan beliau, dan istirahat sebentar sebelum melanjutkan kembali ke Sambas.
Perjalanan pulang ke sambas cukup membuat aku letih, lemah, lesu…Dan aku duduk di samping kapal. Melihat-lihat perkampungan-perkampungan.
Lalu kami singgah di Kampung… Kampung apa ya namanya?… Mmmmm….. Jirak!!! Iya, Kampung Jirak tuw…. Ha’ah.. Benarrrr….. Di sana ada kerajinan kain sambas. Setelah melihat-lihat, kami melanjutkan kembali pertualangan kami menelusuri sungai, melewati kembali Gunung Senujoh, melewati kembali perkampungan-perkampungan, rumah lanting, jamban-jamban yang berderet-deret, walaupun sempat kapal Todak yang kami tumpangi beberapa kali mendapat kendala. Dan tak sebentar kemudian, kami sampai di Alun-alun Sambas.
Kami singgah di Istana “…..” >>> Lupa nama Istananya. Itulah pokoknya. Di depan Istana, ada banyak orang jualan makanan, minuman. Dari Es Sanghai, Es Buah, Es Teller, hingga Es Teh. Kami semua memesan gado-gado. Laparrrr….
Puji Tuhan, yang jualan gado-gadonya kehabisan stock… Itu artinya,jualan gado-gadonya laris manis dan kami bersantap ria gado-gado… Setelah kampung tengah terisi, kami bernarsis ria di depan Masjid yg dekat Istana itu… Seruuu…
Tepatnya di luar pagar Masjid, ada komunitas motor Sambas sedang berkumpul dengan banyak pohon di mobil pick up. Rupanya salah satu diantara mereka ada teman Bang Ae’…
Kami diajak ikut menanam pohon di beberapa sekolah dasar. Pertamanya Bang Ae’ meng-Iyakan, tapi… Bang Ae’ mungkin prihatin melihat muka kami yg lusuh, bau keringat, bau matahari, rambut sudah acak adul, berantakan mirip gembel pokoknya. Dan finally Bang Ae’ memutuskan untuk tidak mengikuti acara mereka. Jadi kami bisa pulang dengan tenang, karena aku merindukan kamar A8…
Tapi sebelum mereka pergi dan kami pulang ke Hotel Wella, kami sempatkan waktu bernarsis ria. Borneo Photography & Komunitas Motor Sambas (kalo tidak salah itu nama komunitas motornya) membuat sesi foto bareng.
Malamnya teman-teman pada pergi hunting, aku juga ikut. Sudah selesai hunting, pulang ke A8, dan…. Bobok…. ![]()
Minggu, 14 Juni 2009
09.00 WIB Sambas, Singkawang dan Pontianak.
Kami tiba di pertemuan dengan anak-anak SMA Sambas, anak-anak Pramuka Saka Bahari Sambas, fotografer Sambas, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Sambas.
Disana kami berdiskusi masalah perjalanan kami menuju Gunung Senujoh, tentang photografi, banyak hal lah yang kami bahas, dari tanya-jawab juga. Waktu menunjukkan pukul 11 lewat, diskusi itu pun disudahi.
Kami melanjutkan makan siang, uuhhh…Makanannya maknyus2 deh…Pasadap sekali kata orang Manado, hehehe…
Kami foto bersama, dan sekitar jam 13.00 WIB, kami memutuskan kembali ke Pontianak. Waktu itu agak gerimis, dan….. HUJAN!!!! Uhhhh.. Nabila tidak membawa mantel, jadi kami singgah di emperan toko, dan hanya bisa melihat Cholid dan Mumu lewat pake mantel, begitu pula dengan Bang Eko, Bang Ae’, Bang Anton…
Aku berdiskusi dengan Nabila. Bagaimana kalau kita terobos hujan, kita beli mantel??
“Ok,” kata Nabila..
Kami ke mini market di depan Hotel Wella dan melanjutkan perjalanan, dan… Pas sudah mau dekat rumah Ozzy, hujan lebat jadi gerimis yang mau mereda!!!! Benciiiii!!!! Uhhh…..
Ternyata teman-teman lagi makan udang dan mi gorang buatan Mama-nya Ozzy. Kenapa makan udang lagi??? Karena eh karena keinginan dari Bang Andre, Bang Anton dan Bang Ianimaru yang belum kebagian jatah makan udang,,,,Hihihihihi
Jam 14.00 WIB, kami berpamitan dengan Bapak Drs. Dailami MSi sekeluarga. Kami mengucapkan banyak terima kasih karena sudah di terima dengan baik di Sambas, dan sudah dijamu makan udang…
Waktu perjalanan keluar dari Sambas. Tahu nggak?? Aku sama Nabila ngeliat Gunung Senujoh dari kejauhan. Dan… Ternyata di sisi gunung itu ada berderetan anak gunung yang setelah aku sama Nabila hitung-hitung ada 7. Nah lho.. Berarti Gunung Senujoh itu berarti punya 7 anak gunung kalo gitu….Keren lhooo….
Kami singgah di Pemangkat, teman-teman mau motret kelenteng di sisi bukit. Ok… Lanjut…. Kami sampai di Taman Burung Singkawang.
Sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan, dan janjian bertemu dengan calon anggota BOP baru, seorang wanita dewasa, umurnya sekitar 30’an gitu deh…Beliau tertarik banget kayaknya ikutan gabung BOP.
Ehmmmm….. Kapan pulang??? Jam 4, Beth…Ho’oh, jam 4 mau jam 4.30 ternyata kami langsung cekedot.
Eiittt… Saya beli kue mochi dulu…
Aku beli 10 pcs, Nabila beli 20 pcs.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Aku ikut menemani teman-teman sholat di Masjid terdekat.
Lalu Nabila berinisiatif memberikan 10 mochi untuk dimakan bersama-sama sebelum melanjutkan perjalanan. Lanjut lagiiii…..
Mmmm… sekitar jam 20.00 WIB, kami tiba di Sungai Pinyuh, rehat sebentar di warkop sambil nonton GP… Ehhh.. Tak lama kemudian, kami tiba di Batu Layang.
Thx GoD…Akhirnya sampai di Pontianak. Tak terasa melewati 2 jembatan tol. Pas di tol 1, cowok aku nelpon. Aku minta jemput aja sama dia di depan batagor Imbon. Jadi Nabila bisa langsung pulang. Kasihan dia daripada bolak-balik mengantar aku. SPas di lampu merah, aku menegur Bang Ae’. Aku bilang, “Balek Bang..”
Lalu Bang Ae’ bilang “Kita ngopi dulu yuk.”
Waduh…. Tak sanggup aku mau ngopi lagi. Badan ini udah capek aaaaaaa….Aku juga udah bilang minta dijemput. Nabila mengantar aku di dekat batagor. Kami pun membagi kue mochi yg ada 20 buah.
Ehhh… Pas plastiknya dibuka, keadaan kue mochi sangat mengecewakan. Bentuk beserta isinya berantakan. Hahahhahaa…Kami bagi kue mochi dengan rata. Tak lama kemudian aku sudah di motor dan menuju rumah…
Habis simpan tas, aku langsung mandi biar tidurnya enak…
Tak banyak yang aku ucapkan selain kata terima kasih kepada Tuhan Yesus. Jika tanpa campur tangan-Nya, aku tidak bisa merasakan perjalanan di Sambas selama 3 hari 2 malam. Dan hanya karena perlindungan dan penyertaan-Nya lah aku bisa sampai kembali di Pontianak dengan selamat dan tanpa kekurangan satu apa pun. Thx a lot GoD…
Selain itu, tanpa ada dukungan dari Bapak Drs. Dailami MSi selaku orang tua Ozzy, mungkin perjalanan kami tidak seseru ini. Apa lagi dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan. Dan semua teman-teman yang menemani perjalanan expedisi Sambas ini. Dan.. orang tua yang telah mengizinkan kami pergi ke Sambas. Hmmmm…..Perjalanannya cukup membuat terkesan. Tapi kalau ada Expedisi Goes to Sambas episode yg ke-2, aku harus pegang kamera!!! Hihihihihiihiii……
Ande Anjang
Awalnya bête juga hunting ke sintang gak jadi, ke ketapang juga gak jadi, arrrrggghhhh. Akhirnya berunding dan berindung dengan para BoPhians tercetus ide ke sambas, kemudian kami pun menghubungi salah satu BoPhians, Fakhrozi Daeriza, taaaaaraaaaaaaaaaaa akhirnya sip sudah agenda hunting kesana. Menjelang hari H persiapan sudah kulakukan mulai dari check motor, nyiapin baju, kamera, laptop, n tentunya internet buat disana. Tepat hari jumat 13 Juni 2009, setelah ijin kerja dengan bos dikantor, lepas jumatan langsung pulang, ngecek barang-barang lagi, trus ke rumah KomBi, nungguin bang Anton n bang Ian, sementara yang lain sudah pergi duluan pada pagi harinya. Brummmmmmm, jam setengah 4 pun meluncur ke Sambas dari Pontianak, tiada halangan berarti kami bertiga kami pun sampai ke Pinyuh, ngisi bensin, trus ngisi kopi kedalam tenggorokan ini biar gak ngantuk, setelah selama kurang lebih 30 menit, kami bertiga pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di kota amoy, Singkawang kurang lebih jam 8.30 malam, aku pun mengisi minum motor ku yang berkurang selama perjalanan, kemudian menuju jalan Diponegoro untuk mengisi perut yang lapar selama perjalanan tadi sambil beristirahat sejenak. Ah..terisi sudah perut ini kemudian kami pun melanjutkan perjalanan ke Sambas, aduh sempat bingung juga keluar dari Singkawang karna sudah malam ditambah agak2 lupa jalan di Singkawang, hehehehehehehe. Akhirnya ketemu juga penunjuk jalan menuju pemangkat yang menuju ke sambas. Motor pun melaju menembus malam (mane dingin agik tu), yang membuat was was adalah sepanjang jalan ada beberapa yang tidak ada lampu di tambah gak ada marka, bingung juga liat arah jalan terutama tikungan. Akhirnya sampai sudah di Pemangkat, ahhhhh kejadian lagi seperti di Singkawang, bingung cari jalan ke Sambas, mana udah malam ditambah baru pertama kali ke Pemangkat, gak tau jalan lagi, di tambah peta GPS gak lengkap. Akhirnya mampir ke pos TNI, bang Ian pun bertanya ke penjaga pos, setelah dijelaskan, kami pun melanjutkan perjalanan kami, tapi…….ahhhhh masih bingung juga, sempat kelewatan tikungan yang dimaksud (maklum makin malam makin rabun). Yeahhh akhirnya ketemu juga penunjuk jalan menuju Sambas, motor pun di pacu kencang ke Sambas, sekitar jam 10 kurang kami pun sudah memasuki Kabupaten Sambas. Kami berhenti di dekat salah satu bank swasta di Sambas, sambil melepas lelah ditambah gak tau dimana hotel tempat kami menginap, kami pun menghubungi bang ae untuk menyusul kami dan kemudian setelah bang ae datang, kami pun menuju ke hotel. Senang rasanya melihat tempat tidur di tambah AC yang sejuk. Tapi temen2 yang lain mana ya? Rupanya mereka hunting memotret Sambas saat malam hari. Di hotel bang ae bikin hal, bikin iri dengan bilang dirumah ozy ada pesta udang. Huaaaaaaaaaaaaaa… tau gitu bakalan ngebut abis dari Singkawang, gila udang galah bo.., 3 piring gede lagi, bang ian n bang anton juga bête mendengarnya, kompor iri pun bertambah saat temen2 yang lain menunjukkan foto udang yang tadi ada dirumah ozy, asli dah ngences ngeliatnya. Tapi sudahlah, makin malam nih, esok musti bangun pagi buat hunting susur sungai, akhirnya mata ini pun terlelap. Jam 6 pagi kami semua pun berangkat dari hotel menuju Waterfront Muare Ullakan Sambas, KM Todak sudah menunggu disana. Para BoPhians naik ke KM Todak dan kapal pun mulai bergerak menyusuri sungai. Waahhh ternyata pagi di Sambas sungguh mengasikkan bagi saya apa lagi berada di atas kapal ini sambil menyusuri sungai, kamera pun terus merekam moment yang ada, kapal klotok yang penuh dengan penumpang, rumah lanting, tepian sungai sambas yang menurut saya masih alami. Kami pun berhenti di desa Semanga’, memotret dan berinteraksi dengan warga sekitar. Kami juga singgah dirumah Pak Kades. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai-sungai. Walau panas terik dan kantuk karna lelah menyerang mulai menyerang, tapi tetap tak henti memotret. Kami juga berhenti di desa Sejirak, dimana mayoritas masyarakatnya adalah penun kain tenun sambas, mereka menenun dengan alat yang tradisional. Setelah dari desa Sejirak, kami pun kembali ke Water Front City Muare Ullakan Sambas dan kemudian beristirahat kembali di hotel. Malam harinya kami semua bersantai menikmati suasana malam kota Sambas. Sungguh tenang di banding riuh ramai kota kelahiranku yang terkadang membuat ku penat. Pada hari minggu kami bertemu dengan para anggota pramuka Saka Bahari Sambas. Antusiasme mereka membuat saya senang, mereka tertarik untuk melihat foto-foto yang telah kami dapatkan sepanjang perjalanan. Tak terasa acara pun usai, kami pun berpamitan dan foto bersama. Saat akan pulang ke Pontianak, hujan turun memaksa kami untuk berhenti sejenak dirumah teman kami Fakhrozi, setelah hujan reda kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke Pontianak. Sambas, sungguh berkesan, suatu hari aku akan kesana lagi.
Mulya
Ini pertama kalinya aku bergabung dengan sebuah komunitas fotografi (Borneo Photography). Lebih kurang aku menunggu teman-teman dari Pontianak dari daerah asalku, Singkawang. Karena fantasiku sudah tidak sabar untuk menginjakkan kakiku ke Serambi Makkah, Sambas. Susur sungai ke pedalaman Sambas adalah pengalaman pertama kalinya bagiku. Niat dan mental kusiapkan walaupun aku harus meraba dan banyak bertanya dengan teman-teman BoP yang lain . Maklum, aku baru belajar motret. Pengalaman ini sangat membuatku terkesan dan tidak akan pernah terlupakan. Asyik, keren, indah dan LUAR BIASA. Terima kasih Borneo Photography yang telah menambah pengalamanku.
Indra Ae’
Religi, kuat akan tradisi yang menyatu dalam budaya khas sepanjang jalan yang aku rasakan. Masyarakat yang bersahabat dan senyum hangat yang membuat aku merasa betah untuk berlama-lama dalam perjalanan susur sungai ke pedalaman Sambas. Saying sekali momen di sepanjang jalan untuk aku lewatkan, tetap menjadi sasarn empuk di mata lensa untuk aku abadikan. Panas, letih tak menjadi halangan memeruskan perjalanan bersama teman-teman BoP. Canda dan tawa mungkin menjadi ciri khas teman-teman dalam perjalanan kali ini. Mungkin itu juga yang membuat kami tetap semangat , walaupun di sela-sela perjalanan tersebut selalu saja ada kekurangan. Mau itu perlengkapan yang kami bawa, atau konsep yang sudah kami susun dari awal tidaklah bisa diterapkan 100% ketika di lapangan. Ya, memang aku akui. Improvisasi adalah salah satu kunci utama untuk mengatasi segala permasalahan yang ada. Faktor keberuntungan hamper berpihak hampir ke seluruh peserta perjalanan. Ternyata potensi yang ada di Sambas sangatlah banyak. Khususnya pariwisata. Tapi sayang, potensi tersebut tidak tergarap dengan maksimal..Bahkan terkesan dibiarkan begitu saja. Ayo Sambas! Kapan lagi?! Manfaatkan potensi yang ada di daerahmu.
Berkesan! Sangat berkesan! Hal tersebut menjadi pengalaman yang menarik bagiku. Mungkin aku akan kembali untuk melakukan perjalanan yang sama. Tentunya dengan jalur yang berbeda. Tunggu kami Sambas! Dalam perjalanan susur sungai yang kedua.
Press Turtle Trip Paloh Bersama WWF
Paloh.BoP. Rabu, 29 Juli 2009, pukul 20.15 malam, rombongan peserta Press trip Turtle berangkat dari kantor WWF Pontianak, perjalanan yang ditempuh sekitar delapan jam ini di ikuti 13 wartawan dalam rombongan relawan dari WWF untuk mengunjungi habitat penyu di Pantai Temajok, suatu tempat habitat penyu yang mulai terganggu oleh aktivitas manusia.

persiapan saat akan berangkat menuju pulau Temajok dari desa Setinggak (photo: Tri, pontianak, 2009)
Perjalanan dimulai dari kecamatan Camar Bulan di Pulau Temajok yang menjadi tempat pemukiman masyarakat, disana para wartawan sempat bermalam bersama relawan WWF, disana wartawan melakukan wawancara terhadap masyarakat sekitar dan juga mewawancarai sekretaris desa, warga desa berpendapat habitat penyu memang menurun bahkan di daerah sekitar pantai desa sangat jarang sekali ditemukan penyu lagi, hilangnya habitat penyu di sekitar pantai Desa Camar Bulan disebabkan masyarakat mengunakan jalan pantai untuk menuju kota karena tidak adanya akses jalan selain pantai dan jalur laut, memang tidak dapat dipungkiri adanya oknum-oknum tertentu yang sengaja untuk mencuri telur penyu.
Siang harinya tim wartawan dan WWF kemudian sempat ke Malaysia, menuju sebuah desa di kawasan Sematan, dengan nama Teluk Melano, yang terletak di perbatasan antara Pulau Temajok dan Malaysia, disana wartawan singgah di sebuah rumah penduduk yang rupanya masih keturunan warga Indonesia walaupun sekarang telah menjadi warga negara Malaysia, bahasa indonesia yang mereka gunakan masih baik, bahkan mereka menggunakan bahasa sambas.
para wartawan saat diperbatasan (photo: Tri, Teluk Melano, 2009)
Sore hari tim wartawan dan WWF meninggalkan desa Camar Bulan menuju pantai untuk bermalam disana melihat penyu-punyu yang bertelur. Sekitar pukul 21.45, Rombongan wartawan mengemasi persiapan untuk turun ke pantai meyelusuri jejak penyu. Relawan WWF menginformasikan bawah mereka melihat seekor penyu, para wartawan bergegas berangkat menuju lokasi yang berjarak 3 kilometer, tapi sayangnya penyu tidak jadi untuk bertelur mungkin karena aktifitas dan sinar disekitarnya membuatnya batal untuk bertelur, akhirnya kami menemukan seekor penyu yang sedang bertelur walaupun proses bertelurnya tidak sempat kami lihat.

persiapan saat akan berangkat (photo: Tri, pontianak, 2009)
Pukul 08.00 pagi tim wartawan dan WWF pulang kembali kekantor WWF di Paloh dengan mengunakan kapal nelayan, dalam perjalan pulang tim WWF mengajak untuk singgah di penangkarang atau penetasan telur penyu yang berada di pantai selimpai yang kelola oleh KSDA. Di sana terdapat empat bak semen untuk tempat tukik atau anak penyu yang baru menetas. Menurut Drh.Suprapti dari tim Monitoring WWF penanggakaran penyu yang dikelola oleh KSDA, “tukik atau bayi penyu harus langsung dilepaskan kepantai, jangan terlalu lama berada di dalam bak penampungan, karena jika terlalu lama melakukan penyimpanan di dalam bak penampungan dapat menghilangkan naluri alami, untuk mereka bertahan hidup di alam”, ujarnya.

anak penyu saat berada di penangkaran (photo: Tri, Selimpai, 2009)












