Lintas Suku

Lintas Suku (photo: Sugih, Pontianak, 2009)
Pontianak Insomnia
Pontianak, bukan sebuah kota metropolitan, tetapi seiring berjalannya waktu dan seiring makin meningkatnya kebutuhan orang akan materi serta hiburan maka beberapa sendi kehidupan Pontianak boleh dikatakan sebagai kota yang tak pernah tidur. Pontianak menggeliat didalam gelapnya langit malam. Sinar lampu, guratan garis cahaya kendaraan di jalan, orang-orang yang mencari hiburan demi melepas penat yang pada hari-hari biasanya sebagian dari mereka tersebut harus memeras otak dan otot, bahkan sisi lain Pontianak pada malam hingga pagi hari menjelang, putaran roda kehidupan itu tak pernah berhenti. Tetapi di sisi lain kota yang terus berkembang ini terdapat kesunyian dan ketenangan dari hiruk pikuk keramaiannya tenggelam dalam gelapnya malam yang membuat Pontianak tergambar tenang dan dinamis yang dapat terekam indah di setiap frame foto-foto ini.(sugih/25/05/09)
Dayak Melukis

Dayak Melukis (photo: Sugih, Pontianak, 2009)
Lawan
"Lawan" (Photo: Ianimaru, Pontianak, 2009)
Ritual Dange Kayaan Mendalam
 sebagai Imam ritual Dange.jpg)
Ana Havi (paling depan) sebagai imam ritual dange (photo: Eko Suryanto Daulay, Rumah Betang, Pontianak, 2009)
Pontianak, BoP. Gawai Dayak, upacara ini sudah seringkali dlaksanakan oleh masyarakat Dayak. Namun sebenarnya ada sebuah ritual upacara yang mempunyai makna sama dengan Upacara Gawai Dayak yaitu upacara tersebut adalah Dange yang dilakukan Dayak Kayaan. Dange merupakan upacara syukuran atas berkah dan rahmat dari Tipang Tenangaan (Tuhan Allah). Dange adalah upacara adat mengucap syukur kepada Tuhan atas hasil perladangan, juga untuk mengumpulkan saudara-saudara dalam sebuah keluarga yang masing-masing sibuk dengan pekerjaannya selama satu siklus perladangan. Sehingga Dange menyatukan keluarga agar saling meneguhkan, memaafkan dan saling berbagi pengalaman hidup

dari anak-anak hingga dewasa mengikuti upacara Dange (photo: Eko Suryanto Daulay, Rumah Betang, Pontianak, 2009)
Untuk kesekian kalinya masyarakat Dayak Kayaan melakukan Dange di Kota Pontianak. Bertempat di Rumah Betang Pontianak. Dalam prosesi tersebut pertama kali dilakukan adalah pendirian lepo dange (pondok dange). Sebelum mendirikan lepo dange, para peserta upacara diikuti mulai dari anak-anak sampai orang tua. Semua orang menggunakan adat kebanggaan Dayak Kayaan.

pernak-pernik suku Dayak untuk prosesi ritual Dange (photo: Eko Suryanto Daulay, Rumah Betang, Pontianak, 2009)
Tampak pakaian Dayung Aya’ menggunakan Lavung Usung (dikepalanya ada burung Enggang) dengan disertai Serayung (seperti kemban yang digunakan perempuan). Prosesi diawali dengan membersihkan jalan untuk mendirikan lepo dange yang dipimpin oleh dayung aya’ seorang imam adat yang memiliki peran utama, kegiatan ini dinamakan Mawaang Alaan Jak Dange. Pada prosesi adat Dange Kayaan Mendalam ini dipimpin oleh Imam Perempuan yang bernama Ana Havi.

prosesi penyembelihan babi pada upacara dange (photo: Eko Suryanto Daulay, Rumah Betang, Pontianak, 2009)
Kegiatan ini bertujuan untuk memberitahukan pada semua orang dan makhluk hidup di darat, sungai dan udara, bahwa dange akan segera dimulai. Setelah dua rentetan ritual ini usai, barulah orang-orang mendirikan lepo dange. Kemudian Mawaang Alaan Uting yakni masyarakat Dayak membersihkan jalan roh atau jiwa uting (babi piara) yang dipimpin oleh Dayung aya’, ritual bertujuan memberitahukan pada semua orang, terkhusus pada leluhur Kayaan bahwa uting akan menjadi kurban dan prosesi penyembelihan uting atau babi itu sendiri dilakukan di lepo dange.(eko suryanto daulay/25/05/09)
Melihat Hasil

Melihat Hasil (photo: Sugih, Pontianak, 2009)
Tradisi
Tradisi (Photo: Indra Ae, Pontianak, 2009)
Bersepeda Yuk…!
Dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya, Himpunan Mahasiswa Akutansi (HIMAS) menggelar acara Fun Bike yang bertempat di Plasa MTQ UNTAN Pontianak. Mengusung tema Back Nature, beberapa komunitas sepeda seperti Sepeda Ontel Kalimantan Barat (SEPOK), Temen Nunggu Temen (TNT), PCC Bike, dan Low Rider turut meramaikan acara HUT HIMASI kali ini.

Panitia menyambut kedatangan para peserta fun bike (photo: Mumu, Pontianak, 2009)
Seperti yang dikatakan oleh Bapak Fahmi (Dosen Akutansi Untan), melihat tingginya potensi masyarakat akan pentingnya sadar lingkungan, banyaknya orang yang menggunakan sepeda untuk berolah raga, dampak positif untuk sektor wisata, serta banyaknya komunitas sepeda yang lahir di Pontianak, maka dipilihlah Fun Bike yang juga dianggap sebagai salah satu media kampanye sadar lingkungan. “Selain Fun Bike, kita juga menyelenggarakan lomba mewarnai untuk anak-anak yang hasilnya seratus persen akan kami sumbangkan untuk kegiatan sunatan massal. Ini sebagai bentuk tanggung jawab sosial kami untuk masyarakat,” terang salah satu panitia, Riki. Fun Bike tidak hanya agenda lokal. Tapi juga nasional dan bahkan internasional yang diharapkan menjadi agenda tetap di Pontianak. “Kami siap menjadi penyelenggara event Fun Bike kapanpun. Tentunya kami akan berkoordinasi dengan KONI Kal-Bar, Bapora, Pemprop, Pemda, dan komunitas-komunitas sepeda yang ada di Pontianak,” ujar Bapak Fahmi semangat.

Beberapa Komunitas Sepeda yang ikut meramaikan, seperti TNT, Low Rider, PCC Bike, dan SEPOK (photo: Mumu, Pontianak, 2009)

Peserta beristirahta setelah menempuh rute yang telah ditetapkan panitia (photo: Mumu, Pontianak, 2009)

games sepeda lambat, salah satu games sepeda yang digelar panitia (photo: Mumu, Pontianak, 2009)
Rute yang ditetapkan dalam acara ini berjarak tempuh sejauh 17 km. Di mulai dari Plasa MTQ UNTAN, Taman Alun Kapuas, Tanjungpura, dan kembali lagi ke Plasa MTQ UNTAN. Beberapa games yang digelar oleh panitia juga turut memeriahkan acara. (mumu pocketmonster 24/05/09)
Sayur Organik
Dodi, Yuda, dan Andri begitu ramah melayani para pembeli yang silih berganti datang membeli dagangan mereka. Sayur organik yang bebas residu pestisida mungkin masih awam di telinga masyarakat kita. Tapi tahukah anda, sayuran yang menurut banyak ahli gizi dapat menjauhkan kita dari penyakit kanker ini, dapat ditemui di depan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak.
mahasiswa pondok pesantren MA'HAD LABBAIK menjual sayuran organik di depan Fakultas Pertanian UNTAN (photo: Mumu, Pontianak, 2009)
Karena dinilai baik, pihak Fakultas Pertanian mengizinkan beberapa santri dari Pondok Pesantren Mahasiswa MA’HAD LABBAIK menggelar dagangan sayur organik mereka di lingkungan kampus. “Kami diizinkan jualan di sini dangan syarat tetap menjaga kebersihan dan hanya berjualan pada hari Minggu saja,” jelas Yuda.

Dodi sedang menimbang sayuran yang akan dibeli oleh konsumen (photo : Mumu, Pontianak, 2009)
Sayuran organik yang dijual berasal dari hasil tanam dari Ponpes Mahasiswa Ma’had Labbaik dan juga dari Fakultas Pertanian Untan yang kini memang giat mengolah sayur organik. Apa sayur organik itu? Apa kelebihannya jika dibandingkan dengan sayur-sayuran lain yang sering kita jumpai di pasar?
Informasi yang berhasil Borneo Photography dapatkan dari Dodi, ternyata sayuran organik adalah sayuran yang terbebas dari pestisida. Dan menurut Bapak Budi Sutomo S.pd, sayur organik lebih renyah, enak, tahan lama, dan memiliki kandungan mineral lebih banyak, karena bebas dari residu pestisida dan bahan kimia berbahaya yang dapat menyebabkan kanker. (mumu pocketmonster 24/05/09)
Lomba Menyumpit

Lomba Menyumpit (photo: Sugih, Pontianak, 2009)
Perempuan Tua
Perempuan Tua (photo: Indra Ae, Pontianak, 2009)


