Sang Juara
Fitriani (photo: meggi)

Atlet nasional andalan Kalbar ini tak mau ketinggalan di event tahunan yg diselenggarakan Bank Kalbar beberapa waktu yang lalu. Fitriani dare kelahahiran Mempawah 12 juni 1986, pada waktu yang lalu 15 Februari 2009 menyabet peringkat tiga event balap sepeda tingkat nasional di Sidoarjo. Dare yang 3 tahun terakhir mulai aktif di dunia balap sepeda ini mengaku bergabung dengan salah satu club sepeda Panther yang telah membesarkan namanya.
Anak bungsu dari 3 bersaudara dari pasangan Bapak Iskandar dan Ibu Nurmah ini berharap agar dunia balap sepeda di Kalbar kembali memperoleh kejayaannya dan lebih maju lagi, yang bukan hanya mengharumkan nama daerah tapi juga mengharumkan nama bangsa.”Untuk para pembalap di Kalbar agar lebih sering mengikuti kejuaran nasional dan latihan lebih giat jika ingin menjadi seorang atlet sejati” ungkap dare yang memiliki kulit sawo matang ini.

Dare yang biasa di sapa pipit ini juga mengharapkan pemerintah khususnya instansi terkait dapat lebih menghargai dan memperhatikan secara kuhusus para atlet maupun mantan atlet khususnya dibalap sepeda. Pipit mengaku memilih untuk lebih menekuni sebagai atlet balap sepeda dibandingkan harus melanjutkan studinya. Tentu hal itu dilakukan karena adanya semangat dan dukungan dari orangtua, keluarga serta teman dan sahabat yang setia menemani saya di setiap event balap sepeda demikianlah pipit menutup perbincangan ini. Good luck ya pit…! (meggi/17/03/09)
Bincang Santai

Pak Salim, Warga Sui Berembang (photo : eko suryanto daulay 2009)
Sui Berembang (26/03/09), perbincangan saya di mulai dengan sekedar beramah tamah dengan salah satu warga Sui Berembang sambil berniat melepaskan lelah setelah beberapa perjalanan menyusuri sungai dari arah Jeruju. Berawal dari situlah perbincangan saya dengan pak Salim ternyata begitu memberikan suatu cerita suatu keingintahuan saya akan kehidupan masyarakat Sui Berembang, mulai dari aktivitas warganya seperti apa hingga berkenaan dengan pemilu yang akan semakin dekat. Walaupun Sui Berembang ini kalau dilihat dari lokasi, tidak terlalu jauh dari kota Pontianak. Namun akses jalan menuju kesana cukup terkesan lama dan banyak jalan berlubang maupun yang tergenang air, hal ini disebabkan jalannya hanya jalan tanah. Padahal kalaupun jalan itu sudah beraspal, tentu ini dapat membangkitkan nadi kehidupan Sui Berembang.
Pak salim sendiri banyak bercerita mengenai politik khususnya pemilu, kalau kita menyusuri jalan Sui Berembang ini baik itu jalan masuk maupun jalan keluar, disitu terlihat atribut-atribut partai peserta pemilu. Bendera-bendera partai menghiasi tepi jalan, kadangkala beberapa bendera partai yang ukurannya agak besar tertancap di depan rumah warga. Bagaimana cara memilih itu sendiri juga banyak tetempel dirumah-rumah warga. Hal ini bisa terlihat bagaimana geliat pesta demokrasi tersebut juga tidak luput bagi partai-partai peserta pemilu yang masuk ke Sui Berembang.
Nah bagaimana dengan para calon legislatifnya itu sendiri?
Inilah salah satu cara para caleg untuk memikat hati warga Sui Berembang, mereka pada umumnya lebih sering memakai cara pendekatan secara langsung ke warga. Jadi para caleg ini bersosialisasi dengan warga dengan cara bersilahturahmi berkunjung kerumah-rumah warga sambil memberikan pamflet ataupun kalender yang berisi info program-program caleg itu sendiri. Dan bukan hanya itu saja, mereka juga memperkenalkan diri serta memberikan janji-janji kepada warga Sui Berembang guna mendapatkan suara di pemilihan nantinya.
Namun Pak Salim tidak terlalu memusingkan segala apapun cara mereka guna memikat hati warga, Pak Salim hanya berharap siapapun nantinya yang terpilih itu, bisa mewujudkan harapan cita-cita warga Sui Berembang. Contohnya perbaikan jalan, penambahan lampu-lampu guna menerangi pada malam hari, dan perwujudan fasilitas publik itu sendiri seperti sekolah, puskesmas, tempat ibadah.
Yah sebenarnya harapan cita-cita warga Sui Berembang juga tidak terlalu dibilang mewah. Tapi disitulah antusias warga Sui Berembang terhadap pemerintah.
Yah semoga saja itu bisa terwujud……..
Terimakasih untuk Pak Salim.
kerja sama

kerja sama (foto : yaya, singkawang, 2009)
Panen Padi

panen padi (photo : felliandre_m)
Sungai Nyirih, 2 kali dalam setahun ibu Ati memanen hasil sawahnya. umumnya ibu ati mendapatkan sekitar 500kg.hasil sawah biasanya digunakan untuk keperluan pribadi saja, terkadang pula di jual ke penampung beras.(felliandre/26/03/09)
Trisula

"Trisula" (photo: Anton Kopisiti, Pontianak 2009)
Bayangan

"Bayangan" (photo: Anton Kopisiti, Pontianak 2009)
Dermaga

"Dermaga" (Photo : Erru Ahmadia, Pontianak 2009)
Photo taken in “Hunting Cinta Kapuas” with KocaK
Ruang Publik Yang Multikultur

photo: Iyep 2009
Obrolan ketika itu kami mulai dengan bercanda saling ejek (Besakat kata orang Pontianak) banyak macam yang kami bicarakan dari hal Dunia dan akhirat sampai Negara, pembicaraan tersebut cukup seru dan asik tak ada yang mau mengalah dengan Argumennya masing-masing, wajar saja karena obrolan itu tak ada moderatornya, kami tetap asik obralan terus mengalir tanpa tema yang jelas, padahal meja tempat kami ngobrol tidaklah terlalu besar hanya seukuran 60×90 cm.
Cuaca cukup panas pada hari itu yang membuat kami semakin panas berargumen sepanas suhu politik ditanah air. Sangat bebas dan merdeka rasanya kita berbicara apa saja di warung kopi, bukan hanya satu atau dua warung kopi saja yang ada di Kota Pontianak mungkin ratusan jumlahnya bahkan ada warung kopi yang buka 24jam, kesemuanya itu mempunyai ciri khas yang hampir sama bebas-bebas saja.

photo: Anton 2009
Dulu orang-orang bilang warung kopi tempat kumpulan orang-orang penganggur yang isinya para kaum adam …itu kan dulu… Kini zaman telah berubah semuanya serba cepat ternyata di warung kopi sekarang banyak dikunjungi orang-orang dengan latar belakang dan profesi yang beragam (multikultur), para pengunjung di warung kopi tak pernah merasa risih atau gengsi, mereka tetap enjoy melakukan bermacam-macam aktivitas di warung kopi bukan itu saja, suasana yang tercipta pun memberikan kesan kekeluargaan, yang kenal jadi lebih akrab yang belum kenal jadi kenal, tanpa sengaja silahturahmi juga tercipta disini.
Warung kopi bukan hanya menjadi ciri khas daerah ini saja, tapi juga telah menjadi ruang publik yang komunikatif dan multikultur bagi masyarakat Kota Pontianak. (ae/24/03/09)
Jembatan Tol Kapuas

Jembatan Tol Kapuas (Foto:Muhammad Ihsan Alfikar/2008)
Bertolak belakang

Bertolak belakang (Foto:Muhammad Ihsan Alfikar/2008)
Untuk di lihat dunia
Ini nih aset kebanggaan warga Pontianak. Semua warga punya tanggung jawab menjaganya untuk bisa di lihat dunia. (Foto hasil Hunting Bersama di Sungai Kapuas)


